Sewa mobil malang RAMAH, MURAH dan NYAMAN

RSJ Lawang Malang WEDIODININGRAT RADJIMAN


RSJ Lawang Malang WEDIODININGRAT RADJIMAN

Oleh : Redhite Kurniawan

(Diambil dari Buku Lawang Kota Kenangan, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan)

RSJ Lawang Malang

Bagaimana sikap kalian terhadap orang dengan gangguan jiwa? Mengejek, merundung, atau menertawakan? Seandainya orang dengan gangguan jiwa tersebut adalah keluarga, maka apa yang akan kalian lakukan? Mengurung atau mengobatkannya?

Tentu kita juga ikut prihatin dengan orang dengan gangguan jiwa. Mereka juga manusia seperti kita. Hanya saja ada masalah dengan kejiwaan mereka yang harus mendapatkan perawatan.

Di Lawang, tepatnya di Desa Suberporong terdapat rumah sakit jiwa besar di Indonesia. Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Radjiman Wediodiningrat namanya. Terletak di Jalan Ahmad Yani, sedikit masuk ke arah Timur dari jalan poros Surabaya-Malang.

Sementara itu masyarakat lebih mengenal rumah sakit jiwa ini dengan nama RSJ Sumberporong atau RSJ Lawang karena letaknya berada di Desa Sumberporong, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

Rumah sakit ini termasuk juga yang tertua di Indonesia setelah rumah sakit jiwa yang ada di Bogor, Jawa Barat. RSJ Radjiman Wediodiningrat dibangun pada masa kolonial Belanda.

Seperti halnya bangunan Indis lainnya, rumah sakit jiwa ini juga berasitektur masa Hindia-Belanda. Bangunan yang tinggi, pintu dan jendela dengan teralis yang besar, halaman-halaman yang luas, serta pepohonan yang masih terawat. Meski ada beberapa tambahan bangunan di bagian depan untuk ruang IGD, fisioterapi, musala, dan ruang pendaftaran pasien, tetapi bangunan asli yang menandakan bangunan Indis masih terlihat jelas.

Untuk mengobati dan merawat orang-orang Belanda yang mengalami gangguan jiwa di masa pendudukan Hindia-Belanda, maka mulailah dibangun rumah sakit jiwa ini pada tahun 1884 berdasarkan Surat Keputusan Kerajaan Belanda tertanggal 20 Desember 1865 No.100. Perawatan pasien mental diserahkan kepada Dinas kesehatan Tentara (Militaire Gezondheids Dienst) sebelum adanya rumah sakit jiwa ini.

Rumah Sakit Jiwa Lawang dibuka secara resmi pada tanggal 23 Juni 1902 dengan direkturnya yang pertama bernama dr. S. Lykes. Nama resmi rumah sakit jiwa ini pada

masa itu adalah Krankzinigengesticht te Lawang. Kapasitasnya 500 tempat tidur dan bisa menampung hingga 1000 pasien.

J.P.G Hulshofftol, direktur rumah sakit jiwa yang ke – 3 kemudian mengajukan adanya perluasan rumah sakit kepada Departemen Van Onderwijs en Eeredienst karena adanya keadaan yang mendesak pada saat itu. Pada tahun 1909 saja sudah ada 1.171 pasien dengan gangguan jiwa utamanya orang-orang Belanda dan Tionghoa. Beberapa ratus orang diantaranya malah dititipkan ke penjara-penjara.

Pengajuan perluasan rumah sakit jiwa itu disetujui dan didirikanlah Rumah Sakit Jiwa Anex (bagian dari RSJ Lawang) yang terletak di Desa Suko dan Sempu, kurang lebih satu kilo meter ke arah Timur di lereng Gunung Bromo.

Antara tahun 1929–1935 RSJ Lawang dengan dua koloninya, yakni RSJ Annex Suko dan Sempu ditangani oleh 7 orang dokter dan seorang profesor wanita. Tercatat pasien terbanyak sejumlah 4.200 di tahun 1941. Pada waktu itu RSJ Lawang dikembangkan menjadi pusat penelitian otak.

Dr. KRT Radjiman Wediodiningrat adalah dokter Indonesia yang pernah ditempatkan di rumah sakit ini sekitar tahun 1905-1906. Seperti diketahui bahwa Dr. KRT Radjiman Wediodiningrat adalah tokoh pergerakan Indonesia. Bersama kawan-kawannya yang lain, dokter ini mendirikan Boedi Oetomo sebagai wadah perjuangan. Beliau juga menjadi ketua BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada masa pendudukan Jepang. Atas segala usaha dan pengorbanannya, maka nama rumah sakit ini menjadi RSJ Radjiman Wediodiningrat.

Namun, pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945 Rumah Sakit Jiwa Lawang mengalami penurunan pelayanan hingga 800 orang. Hal ini disebabkan karena kurangnya sarana perawatan dan adanya penyakit menular.

Pada masa revolusi Annex Sempu hancur total, sedangkan Annex Suko ditempati oleh Dinas Tentara Divisi Brawijaya. Pada tahun 1945 institusi yang jatuh ke tangan republik ini resmi disebut Rumah Sakit Jiwa Lawang.

Sekarang rumah sakit jiwa ini memberikan 2 pelayanan, yaitu pelayanan khusus jiwa tipe A dan pelayanan umum tipe 2. Fasilitas yang ada antara lain: klinik psikiatri, klinik non psikiatri, ruang perawatan, fasilitas penunjang, dan fasilitas umum. Jika masuk ke dalamnya maka akan kita jumpai beberapa pasien yang lalu lalang di area rumah sakit jiwa ini dengan seragam yang berbeda. Ada yang berseragam ungu tua, ungu muda, biru tua, biru muda, dan juga merah muda. Seragam ini menyesuaikan tempat rawat inap mereka. Ruang rawat inap yang bergaya bangunan Indis

memakai nama-nama burung dan bunga. Misalkan ruang perawatan cempaka, wijaya kusuma, mawar, dan anggrek Terdapat juga ruang perawatan parkit, perkutut, betet, dan camar. Tentu saja ruang perawatan ini dibedakan dengan diagnosis masing-masing pasien.

Apa yang bisa kita pelajari dari Rumah Sakit Jiwa Lawang ini? Bahwasanya orang dengan gangguan jiwa bukan untuk dikucilkan, dirundung, atau ditertawakan. Mereka memerlukan perhatian dan juga kasih sayang. Layaknya manusia biasa lainnya yang ingin bahagia.

RSJ Lawang Malang RSJ Lawang Malang RSJ Lawang Malang RSJ Lawang Malang RSJ Lawang Malang RSJ Lawang Malang RSJ Lawang Malang RSJ Lawang Malang RSJ Lawang Malang RSJ Lawang Malang RSJ Lawang Malang

Terimakasih telah mengunjungi website kami

salam TRANSNADA sewa mobil Malang

rental mobil malang sewa mobil di malang sewa mobil murah malang rental mobil malang sewa mobil di malang sewa mobil murah malang rental mobil malang sewa mobil di malang rental mobil malang murah rental mobil malang

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Call Now
WhatsApp chat WhatsApp kami