Sewa mobil malang RAMAH, MURAH dan NYAMAN

PINANGAN UNTUK PRIA CERITA BUDAYA


PINANGAN UNTUK PRIA

pinangan untuk pria

 Prolog

            Aku sengaja mencari tempat paling pojok, paling tersembunyi. Meski kutahu bahwa tempat ini mengharuskan semua orang untuk membungkam mulut. Aku tak peduli. Aku ingin menyelesaikan semua endapan yang ada di otakku. Semuanya harus kukutahui sebenar-benarnya pada hari ini. Di sini, di sebuah tempat yang bernama perpustakaan.

***

PINANGAN UNTUK PRIA PINANGAN UNTUK PRIA PINANGAN UNTUK PRIA

            Sorak sorai para lelaki dewasa bergemuruh dalam sebuah lingkaran besar. Tak jarang umpatan dan makian terselip di sela teriakan. Namun sebagian lagi malah tertawa terbahak dan menggenggam tangan, seolah sebuah kemenangan. Padahal kemenangan ini sejatinya bukan untuk mereka, melainkan untuk para ayam jantan yang tengah bertaruh nyawa. Dalam sebuah pagelaran sabung ayam penuh sesak di daerah Demangan, Lamongan.

Tak hanya rakyat jelata yang hadir di sana. Para petinggi kadipaten ini turut serta. Bahkan dua pangeran pun mengelus jago kesayangannya masing-masing. Mereka berharap memenangkan pertandingan dengan jago lawan yang berbulu hitam pekat. Itulah Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris. Putra dari Adipati Panji Puspokusumo, adipati Lamongan ketiga yang memerintah saat itu.

Dua orang pangeran kadipaten yang hadir dan larut dalam ”pesta kecil” pertandingan adu jago itu membuat suasana makin meriah. Seolah rakyat mendapat sebuah pengakuan bahwa sabung ayam direstui oleh pemerintah. Dan lagi, hadirnya dua pangeran kembar tampan nan gagah perkasa yang berbaur dengan kalangan jelata saat adu ayam tersebut memberikan warna tersendiri bagi rakyat.

“Bagaimana Kakang, dua jago kita kandas dalam peperangan. Lukanya parah dan aku tak berharap lagi dengan keduanya dapat menjadi petarung kembali bila sembuh. Ayo, kita pulang saja.” Panji Liris menepuk pundak kakaknya yang masih serius memandang dua jago yang tengah beraksi dalam sorak manusia di sekelilingnya.

”Baiklah, Adikku, kita pulang,” ujar Panji Laras sembari menengok sangkar-sangkar yang ada di belakang mereka. Jago-jago yang meringkuk penuh luka dengan darah yang berhambur di jengger dan kepala. Sedangkan empat orang abdi masih berjaga di kurungan masing-masing.

”Tapi, perlu kau ingat bahwa Bawor masih menjadi bintang. Tak ada yang bisa mengalahkannya. Biarlah dua ayam yang kalah itu dirawat. Sebab Bawor masih merajai di arena.” Panji Laras berkata dengan bangga.

”Benar Kakang, tiga hari lagi kita sudah berjanji akan bertanding dengan Akuwu Pamotan. Jadi sebaiknya kita persiapkan si Bawor dengan baik.” Panji Liris menimpali kakaknya.

Pada akhirnya di senja merah itu, Panji Laras dan Panji Liris diiringi dengan para abdinya meninggalkan arena adu ayam yang ramai. Adu ayam di halaman rumah Demang Noto itu masih belum bubar. Mereka masih menunggu gelap benar-benar menutup bumi.

Panji Laras dan Panji Liris mengerti betul bagaimana aturan main setelah pulang dari menyabung ayam. Mereka tidak akan melewati pendopo depan kadipaten untuk bisa masuk kediaman mereka yang ada di belakang pendopo besar tersebut. Tetapi mereka harus berbelok arah dan mengendap-endap untuk memasuki rumah dari arah belakang. Kurungan ayam ditinggalkan dan para abdi telah bubar. Kini hanya tinggal kedua pangeran yang beranjak dewasa itu yang membuka pintu belakang rumah.

PINANGAN UNTUK PRIA PINANGAN UNTUK PRIA PINANGAN UNTUK PRIA

            Namun belum sempat masuk ke dalam rumah, langkah keduanya terhenti. Sebuah sosok menunggu dengan berkacak pinggang. Raut mukanya pedas dengan sorot mata yang merah.

“Inikah yang dilakukan dua pangeran terhormat kadipaten ini? Menyabung ayam hampir tiap hari! Dan lupa belajar ilmu agama dan kanoragan[1]! Memalukan warga Lamongan.” Suara berat dari wanita anggun itu menggelegar. Dua pangeran kembar itu tak kuasa menatapnya. Dan hanya menunduk sambil mengatupkan dua tangan memohon ampun.

“Maafkan kami ibunda, kami berjanji tidak melakukan adu ayam lagi di Lamongan,” ucap Panji Laras dengan suara kerongkongan yang terjepit.

Ibu mereka tidak langsung menimpali perkataan. Wanita berkebaya dengan sanggul sederhana itu memandangi kedua putranya secara bergantian. Baju yang dipakai keduanya lusuh. Celananya bahkan terciprat kotoran ayam. Dan bau keringat keduanya amat tajam menusuk. Sedangkan Panji Laras dan Panji Liris tidak juga mau mendongakkan muka pada ibundanya yang telah murka.

“Kemarin dulu kalian juga sudah minta maaf. Pun juga berjanji untuk tidak melakukan sabung ayam lagi. Tapi nyatanya apa? Belum genap sepekan kalian dengan mudahnya mengingkari janji pada ibunda sendiri? Bagaimana jika kelak kalian menjadi pemimpin? Duh Gusti… diparingi[2] sabar.” Sang ibu mulai mengelus dada. Air matanya hampir tumpah.

Panji Laras dan Panji Liris diam seribu bahasa. Tidak juga mereka membantah, apalagi kemudian berlalu saja dari hadapan ibunda. Dan dalam kerisauan pikiran mereka, beruntunglah sang Ayah datang. Orang momor satu di kadipaten ini diiringi seorang abdi yang membawa pelita di tangan. Malam memang sudah datang.

”Ada apa ini? Kedengarannya ada masalah?” tanya Adipati Puspokusumo dengan nada suara yang berwibawa.

”Tanya saja kepada mereka berdua, Kangmas,” ujar ibunda kemudian berjalan pelan menuju ke arah depan. Ekspresi kesedihan masih membayang di raut wajahnya.

”Sudah, mandi sana!” Adipati tidak berkata banyak. Layaknya dia sudah tahu duduk permasalahan sehingga menyuruh dua pangeran kembar itu untuk segera pergi dari hadapannya.

***

PINANGAN UNTUK PRIA PINANGAN UNTUK PRIA PINANGAN UNTUK PRIA

            Dua hari berlalu. Dua hari yang membuat Panji Laras dan Panji Liris semakin dililit kegelisahan yang dalam. Benar, kini mereka tak lagi keluyuran. Dua pangeran tampan itu lebih memilih pergi ke masjid jami’ yang berada di sisi barat alun-alun. Atau pergi ke alun-alun untuk belajar ilmu kanoragan bersama panglima perang Sabilan. Tetapi tetap saja si Bawor, ayam jantan blorok bertaji panjang yang belum ada tandingan itu saja yang menjadi perhatian mereka berdua.

”Besok kita sudah ada janji dengan Awuku Pamotan. Jika kita tidak datang, kita dianggap kalah, Kakang. Percuma setiap hari kita beri pakan si Bawor dengan cindil[3].” Panji Liris mengingatkan kakaknya.

”Aku tahu, tetapi bagaimana caranya?” Panji Laras bepikir keras.

Kini rasanya sudah tidak mungkin lagi untuk melakukan adu ayam di daerah Lamongan bagi kedua pangeran tersebut. Rasanya sungguh berdosa bagi mereka berdua untuk kembali melanggar janji kepada ibunda. Bagaimanapun juga ibunda adalah orang yang paling harus dihormati di dunia ini. Terlebih adab agama dan tata krama kadipaten mewajibkannya.

Di tengah suara tokek yang terus menerus membuyarkan konsentrasi, serta tiupan angin yang membuat damar kian menari, tiba-tiba saja Panji Laras menepuk bahu adiknya. Senyumnya mengembang dan sorot matanya menajam. Tanda ada suatu gagasan cemerlang yang ada di wajah beralis tebal itu.

”Apakah engkau ingat janji yang kuucapkan pada ibunda tempo hari?” Panji Laras bertanya.

”Kakang hanya berkata kalau tidak akan adu ayam lagi di Kadipaten Lamongan,” Panji Liris berkata lirih.

”Nah, itulah yang kumaksudkan,” kata Panji Laras gembira.

”Aku hanya berkata bahwa kita tidak akan melakukan adu ayam di kadipaten ini. Artinya, kita masih bisa melakukannya di kadipaten lain. Bukan begitu?” kembali Panji Laras berbicara.

Adik kembarnya hanya diam. Baginya perkataan kakaknya tersebut tiada guna. Sekali berjanji tetap harus ditepati. Apalah artinya suatu daerah? Panji Liris nampak tidak terlalu setuju dengan kakaknya. Dia tahu arah pembicaraan kakaknya yang masih tetap ingin melaksanakan adu ayam di daerah yang jauh dari kadipaten tempat ayah mereka memerintah.

Namun Panji Laras tetap berkeras dan meyakinkan adiknya bahwa jika mereka melakukan adu ayam di daerah yang bukan termasuk Kadipaten Lamongan itu bukan termasuk merusak janji. Lama-kelamaan, Panji Liris luruh juga. Walau sebenarnya dia pun punya gagasan untuk tetap bertanding dengan ayam jantan milik Akuwu Pamotan hanya dengan mengirimkan jago mereka tanpa kehadiran pemiliknya.

Kini rencana disusun. Abdi yang dirasa tidak berkhianat lantas dipercaya untuk menyampaikan tantangan tanding ayam pada Akuwu Pamotan. Sedang abdi yang lain mereka percaya untuk membawa ayam jantan perkasa mereka secara sembunyi-sembunyi. Tempat yang mereka pilih sebagai arena adua adalah Kadipaten Wirosobo. Sebuah kadipaten yang berada jauh di selatan Lamongan. Daerah yang sudah tidak lagi masuk dalam tataran kekuasaan Kesultanan Mataram.

Banyak kabar terdengar bahwa Wirosobo adalah wilayah adu ayam paling ramai. Banyak jago-jago dengan mutu yang bagus bertebaran di sana. Dan lagi, semua penduduknya pun gemar menyabung ayam. Bahkan Adipati Wirosobo pun memiliki jago-jago aduan yang hebat. Maka tak salah bila kedua pangeran ini memilih wilayah tersebut untuk melakukan adu ayam.

Malam ini pangeran kembar tersebut dapat tidur dengan lelap. Mereka percaya bahwa besok adalah hari yang panjang yang harus dilalui karena harus melewati sungai dan pegunungan, serta hutan-hutan lebat untuk bisa sampai di Wirosobo.

***

Kerumunan manusia seperti semut. Tua dan muda hadir di pelataran depan kediaman Adipati Wirosobo. Ini sungguh hebat. Ternyata adu ayam jauh lebih ramai dari perayaan hari besar. Apalagi boleh dilakukan di pelataran rumah adipati sendiri.

Panji Laras dan Panji Liris tidak menyangka bahwa sambutan yang diberikan penduduk di daerah ini sangat besar kepada mereka berdua yang datang dari jauh di utara. Mungkinkah mereka tahu bahwa yang akan datang adalah dua pangeran dari kadipaten? Sehingga acara sabung ayam menjelma menjadi seperti acara pesta rakyat. Entahlah.

Namun yang jelas, Panji Laras dan Panji Liris duduk di kursi kehormatan. Bersama-sama dengan Adipati Wirosobo dan Akuwu Pamotan. Tumenggung dan Demang berada di dekat mereka. Sedang para penduduk berjubel dijaga oleh prajurit-prajurit kadipaten.

”Akulah yang mengatur pertandingan ini,” ucap Akuwu Pamotan dengan nada tinggi. Dia memang ingin memamerkan ayamnya itu pada semua orang, termasuk di daerah yang jauh sekali pun.

Sebelum acara utama pertandingan antara jago Panji Laras dan Panji Liris dengan jago Akuwu Pamotan dilakukan, pertandingan yang lain diselenggarakan. Ayam-ayam jantan dilepas dan saling serang. Saling terjang. Terjungkal. Terjerembab. Menggelepar. Dan ada yang langsung terkapar.

Ketika giliran si Bawor dilepas, sorak sorai penduduk tak tertahan. Inilah pertandingan utama yang ingin mereka saksikan. Memang, kedua ayam jantan sama-sama tangguh dan kuat. Si Bawor mematuk kepala jago akuwu. Namun jago hitam itu langsung menerjangkan tajinya ke dada Bawor. Bawor terjungkal dan mulai gelagapan. Tak tinggal diam, jago akuwu langsung menerjang ulang. Bawor gesit menghindar dan terbang. Ketika mendarat, sebuah taji kanannya langsung menghunjam ke mata si hitam. Hitam terkapar dan darah berhamburan. Keriuhan langsung membahana.

Panji Laras dan Panji Liris bangkit menghampiri jagonya. Mengelus-elus bulunya yang mengkilap walau rontok. Kali ini pun disambut dengan teriakan yang ramai. Sedangkan Akuwu Pamotan mengumpat, lantas membiarkan abdinya mengurus jagonya yang masih terkapar.

Ini adalah pengalaman yang paling indah bagi Panji Laras dan Panji Liris. Tidak rugi mereka berdua datang jauh-jauh ke Wirosobo untuk bertanding adu jago untuk menang. Bahkan Adipati Wirosobo sudah memesan anakan dari si Bawor dengan harga yang mahal. Ini adalah suatu kehormatan.

Namun di balik suasana yang meriah, nun di dalam rumah, dua pasang mata tak lepas memandangi dua pangeran tampan yang baru saja memenangkan acara perlombaan. Sejak awal mereka datang di di pelataran rumah adipati, dua pasang mata yang dibatasi oleh bagunan kokoh rumah kayu tersebut hanya dapat mengintip dari sela-sela lubang jendela.

Itulah Putri Andansari dan Putri Andanwangi. Dua putri Adipati Wirosobo yang juga menginjak dewasa dan tengah dalam masa pingitan. Tentu saja mereka tidak dibolehkan secara langsung bertemu muka dan berhadapan dengan banyak orang sampai suatu saat ada pemuda yang mempersuntingnya. Sehingga melalui celah jendela rumah saja mereka berdua dapat menatap indahnya dunia luar.

”Aduhai, Dinda, tidakkah yang lebih muda itu cocok denganmu?” Andansari menyenggol adiknya sambil terkekeh.

”Lalu maksudnya, yang satu lagi cocok sama Kakangmbok, hi…hi…,” Andanwangi tertawa kecil malu-malu.

Hingga Panji Laras dan Panji Liris hilang di antara kerumunan manusia dan kembali pulang ke kadipatennya, dua kakak beradik kembar ini masih terus membicarakannya. Rupanya, selama mereka dipingit di dalam rumah sering kali juga keduanya memerhatikan manusia yang singgah di pendopo dan pelataran rumah Adipati Wirosobo. Namun tidak ada satu pun pemuda yang begitu menarik perhatian mereka berdua kecuali Panji Laras dan Panji Liris yang juga sama kembar seperti mereka.

”Kapan lagi ya Kakangmbok, mereka berdua itu adu ayam di depan rumah kita?” Sambil menyisir rambut kakaknya yang panjang tergerai, Andanwangi berceloteh.

”Aku harap sesegera mungkin mereka berdua datang ke mari. Eh, Dinda, tidakkah kau tahu siapa nama kedua pemuda dari Kadipaten Lamongan tersebut?” Andansari menoleh pada adiknya.

”Aku mendengar dari emban, namanya Panji Laras dan Panji Liris,” jawab Andanwangi.

”Hmm. Mudah-mudahan kita segera dipertemukan kembali. Lalu mereka berdua meminang kita. Ah, aku selalu merindukan tatapan mata Panji Laras yang begitu teduh,” ungkap Andansari dengan pandangannya yang jauh menembus batas.

”Bagaimana jika dua orang pangeran dari Kediri itu yang lebih dahulu meminang kita, Kakangmbok?” tanya Andanwangi.

”Semoga ucapan ayahanda tidaklah benar mengenai berita pinangan itu, sehingga kita dapat memilih jodoh yang kita inginkan,” ujar Andansari dengan menundukkan kepala.

Memang, dua insan lembut dengan rambut panjang yang indak tergerai itu tengah dilanda mabuk asmara. Apakah gerangan magnet yang dapat membuat mereka amat tertarik dengan dua pangeran dari Kadipaten Lamongan tersebut? Rasanya perjumpaan yang hanya dilalui dengan tatapan mata dari balik jendela rumah itu mampu bertahan hingga lama.

Lalu pada akhirnya, karena tidak kuasa menahan rindu dan sakitnya perasaan, Andansari dan Andanwangi jatuh sakit. Beberapa hari tak kunjung sembuh demam di antara keduanya. Jejamuan sudah diminumkan. Dedaunan telah pula diborehkan. Namun sakit keduanya tidak berkurang.

Nyai Adipati Wirosobo, seorang ibu yang mengerti perasaan anaknya, mulanya tidak menyadari apa yang terjadi dengan dua putri kembarnya. Namun semua tersingkap manakala sang nyai menanyakan sejatinya apa yang menjadi buah pemikiran kedua putrinya hingga harus menanggung sakit yang tak terobati. Seorang ibu kerap kali sungguh peka dengan perasaan anaknya.

Betapa terkejutnya sang nyai ketika mengetahui bahwa kedua putrinya sakit karena rasa cinta yang terlalu mendalam pada dua pangeran dari Kadipaten Lamongan. Cinta rupanya dapat membuat orang menjadi sakit. Namun cinta juga yang akan menjadi penyembuh terhebat. Sang nyai paham bahwa dua putrinya bisa sembuh dari penyakit cinta bila dua pangeran dari utara itu menikahi mereka berdua.

Namun gagaimana mungkin perempuan terlebih dahulu yang meminang lelaki? Belum pernah ada dalam tatanan adat yang selama ini dipegangnya mengatakan yang sedemikian itu. Sang Nyai Adipati Wirosobo menolak tuntutan Andansari dan Andanwangi yang merengek-rengek untuk meminang pria pujaannya.

Andansari dan Andanwangi pun terdiam dalam sepi melihat sikap ibunya. Hanya tetes-tetes air mata itu saja yang dapat berbicara. Setegas-tegasnya Nyai Adipati Wirosobo mengatakan tidak pada kedua putrinya, masih saja rasa iba melingkupi hatinya. Dia pun memeluk kedua putrinya dan berkata, ”Baiklah putri-putriku, demi kebahagiaan kalian, aku akan membujuk ayahanda untuk meminang Panji Laras dan Panji Liris. Aku akan memperjuangkan cinta kalian sampai kapan juga.”

Senyum Andansari dan Andanwangi mengembang. Mereka pun merasa sehat dan bugar mendengar sang nyai adipati berkata demikian. Jalan untuk cinta mereka kini terbuka lebar.

***

Dua utusan itu disambut dengan penghormatan selayaknya. Diberikan sebuah pondokan kamar di sebelah ruang istal bangsal kadipaten. Mereka adalah utusan dari Wirosobo yang datang dengan hadiah-hadiah indah. Dua kulit harimau dan dua buah gading gajah, beserta dua jago aduan istimewa.

Namun berita yang mereka sampaikan jauh lebih istimewa. Dua utusan yang menyambung ucapan Adipati Wirosobo tersebut datang untuk meminang dua pangeran dari Kadipaten Lamongan. Suatu yang tak lazim, dimana putri-putri dari kadipaten sampai harus melamar pria.

Itu juga yang dirasakan oleh Adipati Puspokusumo dan juga ibunda Panji Laras dan Panji Liris. Kadipaten ini bahkan belum berhubungan secara baik dengan kadipaten-kadipaten yang berada di wilayah selatan. Tetapi putri Kadipaten Wirosobo bahkan sudah mau melamar.

”Bagaimana, putraku? Apakah kalian mau menerimanya? Para utusan itu akan kembali ke Wirosobo esok hari. Dan mereka meminta jawaban segera dari kita,” tanya Adipati Puspokusumo pada kedua putranya. Keduanya bungkam. Tidak ada yang mereka katakan. Kepala hanya ditundukkan dan mereka benar-benar diselimuti kerisauan.

”Darimana kalian bisa mengenal kedua putri tersebut?” Ibunda tiba-tiba saja menyela sebelum Panji Laras dan Panji Liris menjawab.

”Ampun, ayahanda dan ibunda, kami belum mengenal putri-putri tersebut. Melihat rupa dan wajahnya saja juga belum. Kami hanya pernah bertanding adu ayam di pelataran rumah Adipati Wirosobo.” Panji Laras menjawab dengan mata yang masih tertunduk dalam-dalam.

”Aku sudah menduganya. Beberapa waktu lalu saat kalian katakan ingin pergi menimba ilmu di pesantren ternyata hanya bermain sabung ayam?” Sang ibunda marah.

”Sudahlah istriku, lebih baik kita mencarikan jalan terbaik untuk mengatasi masalah ini. Bagaimana putraku, apakah kalian bersedia?” Adipati Puspokusumo berkata.

”Maafkah kami ayahanda. Kami juga merasa belum mengenal kedua putri tersebut. Lagi pula kami masih ingin belajar ilmu agama dan ilmu kanoragan terlebih dahulu di masa muda,” jawab Panji Laras.

”Pokoknya aku tidak setuju. Bagaimana mungkin kita merestui pinangan ini sedangkan kita belum kenal dengan besan dan mantu kita? Tidak ada tatakramanya perempuan meminang lelaki.” ucap sang ibunda dengan sengit.

Keputusan sang ibunda tidak segera diterima oleh beberapa tumenggung yang hadir di rumah Adipati Lamongan. Mereka menganjurkan untuk tidak langsung menolak secara mentah-mentah karena karena itu dapat menimbulkan masalah baru karena dianggap tidak beretika.

Sehingga atas saran beberapa tumenggung termasuk tumenggung Sabilan, pinangan dari Kadipaten Wirosobo itu hendaknya diterima dengan syarat yang berat. Sehingga apabila syarat yang ditentukan itu tidak dapat disanggupi, dengan sendirinya pinangan itu hanya berakhir sampai di sini.

Dan syarat itu adalah dua putri Adipati Wirosobo, Andansari dan Andanwangi harus membawakan gentong dan alasnya dari batu dengan kedua tangan mereka sendiri dari Wirosobo menuju Lamongan saat hari pernikahan mereka.

***

”Tenang saja, tidak mungkin sanggup dua putri Wirosobo itu memikul gentong batu besar dengan pengalasnya. Bagaimana mungkin perempuan dapat melakukannya?” Panji Laras berseloroh pada adiknya. Meski lelaki yang menunggang kuda itu harap-harap cemas di dalam hati.

Matahari sudah agak tinggi. Cahayanya memantul di Sungai Lamong. Tepat di tempat Panji Laras dan Panji Liris serta beberapa tumenggung kini berkumpul. Sebuah berita muncul dari seorang utusan yang mengatakan bahwa Panji Laras dan Panji Liris dipersilahkan untuk menjemput kehadiran Andansari dan Andanwangi serta rombongan peminang yang akan menyeberang Sungai Lamong. Sungai perbatasan daerah selatan kadipaten itu akan menjadi saksi dua putri yang telah lulus menunaikan syarat yang diajukan para pangeran untuk dijadikan sebagai istri.

Hal ini tentu saja mengganggu pikiran kedua pangeran tersebut. Antara percaya dan tidak percaya, keduanya masih saja menunggu kehadiran Andansari dan Andanwangi yang akan tiba di seberang sungai, kemudian menaiki rakit bambu hingga menuju ke daratan di mana kaki-kaki kuda mereka kini menginjak.

”Aku pulang saja! Dari tadi kita tunggu, junjunganmu belum juga tiba!” Seru Panji Liris kepada utusan yang mengabarkan bahwa sebentar lagi Andansari dan Andanwangi akan muncul di seberang sungai.

Namun belum sempat kuda Panji Liris dipacu untuk berlari, mereka yang hadir di tempat tersebut tercengang dengan pemandangan yang terlihat. Dua orang gadis remaja dengan riasan seorang putri lengkap dengan sanggul yang rapi mengusung gentong dan alasnya di atas kepala. Sungguh-sungguh tidak masuk akal dan sulit dipercaya. Betapa tidak terperangah, gentong batu kali besar utuh yang diameternya tidak bisa didekap lelaki dewasa beserta pengalasnya yang juga besar itu sanggup dibawa oleh para putri dengan mudah.

Rupanya kedua putri itu sangat sakti dan memiliki ajian angin-angin yang dapat membawa barang-barang berat tanpa merasa kelelahan sedikitpun. Kini Andansari dan Andanwangi melambaikan tangan dan menebarkan senyum terindah  mereka pada pangeran pujaan hati. Sedangkan Panji Laras dan Panji Liris bingung dengan semua ini. Mau tidak mau dua pangeran dari Kadipaten Lamongan tersebut harus menerima pinangan dua putri Wirosobo dengan lapang hati.

Air sungai tenang, rakit-rakit mulai merapat. Andansari dan Andanwangi mulai menaiki rakit-rakit yang disediakan dengan hati-hati. Mereka harus benar-benar menyeimbangkan badan agar gentong batu dan alasnya tersebut masih dapat bertengger di atas kepala. Ditambah dengan air sungai yang terkadang masuk ke atas rakit, membuat para putri harus menyingkap sebagian kain panjang bermotif batik indah itu sedikit ke atas. Mereka tidak ingin kain panjang yang melilit tubuh mereka itu basah saat berhadapan dengan dambaan hati yang kini menanti di seberang sungai.

Sementara itu Panji Laras dan Panji Liris nampak pasrah dengan keadaan. Jika memang ini kehendak Tuhan, semua akan dilakoninya dengan sabar. Dan para putri pun mulai memerlihatkan wujudnya yang selama ini tidak pernah diketahui oleh para pangeran. Semakin mendekat, semakin terlihat bahwa dua anak Adipati Wirosobo itu cantik dan anggun. Seperti halnya para putri keraton yang dipingit, kulit mereka juga kuning berkilau bersih.

Namun, lagi-lagi dua pangeran Lamongan itu dikejutkan dengan kedua kaki para putri yang berdiri tegak menyanggah keseimbangan. Kedua betis yang kainnya tersingkap itu ditumbuhi dengan bulu-bulu yang amat lebat. Saking lebatnya hingga terlampau menakutkan untuk dua wajah cantik jelita para pemiliknya. Kaki-kaki itu bahkan bukan nampak seperti kaki manusia yang wajar pada umumnya.

Panji Laras dan Panji Liris pun tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya tersebut. Dengan sekali hentak, dipacunya dua kuda itu lari menuju pendopo kadipaten. Meninggalkan Andansari dan Andanwangi yang berteriak memohon agar keduanya menunggu mereka hingga sampai ke daratan.

Hati Andansari dan Andanwangi terluka saat mengetahui pangeran pujaan hati itu tega menginggalkan mereka dan rombongan peminang jauh di belakang. Tetapi sudah kepalang tanggung, mereka sudah sampai di Lamongan dan syarat peminangan harus sampai ke pendopo kabupaten. Andansari dan Andanwangi juga harus menemui calon mertua mereka, Adipati Puspokusumo dan istrinya. Mereka pun tetap membawa persyaratan pinangan tersebut dengan berjalan kaki hingga ke pendopo kadipaten.

Penduduk mulai berkumpul di sekitar alun-alun dan pendopo kadipaten. Mereka juga ingin menyaksikan dua putri Wirosobo yang berhasil memenangkan sayembara. Gentong serta pengalasnya itu pun akhirnya sampai di pendopo kadipaten.

”Maafkan Putri Andansari dan Putri Andanwangi, kalian memang dapat memenuhi persyaratan untuk meminang putra-putraku. Namun para putraku masih belum mau menerima kalian menjadi istri-istri mereka. Bersabarlah, mungkin mereka bukan jodoh untuk kalian.” Demikian titah Adipati Lamongan yang membuat Andansari dan Andanwangi hampir pingsan di tempat.

Tentu saja mereka amat malu. Mereka sudah jauh-jauh datang membawa persyaratan, sudah dilihat berpasang-pasang mata di sepanjang jalan, tapi akhirnya hanya mendapat penolakan. Rombongan pun bertolak pulang ke Wirosobo saat itu juga, meski hari mulai mendekat senja. Semua perasaan terluka.

***

”Kurang ajar! Benar-benar Adipati Lamongan mempermalukan anak-anakku dan kadipaten ini! Ini tidak bisa diterima! Siapkan pasukan segera! Kita akan berperang!” Wajah Adipati Wirosobo merah padam mendengar penolakan pinangan para putrinya.

Tak ada yang sanggup menghalangi perintahnya jika dia sudah berucap akan berperang. Semua pasukan pun siaga. Bala bantuan dikerahkan. Kadipaten sahabat yakni Kediri dan Japanan sudah bersedia untuk mengirim pasukan bantuan.

Pada hari yang sama, dua pangeran Lamongan juga bermuram durja. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa penolakan pinangan dua putri Wirosobo itu berbuntut panjang. Kini pasukan sudah berlatih di alun-alun dengan Panglima Sabilan. Menunggu kepastian kabar tentang penyerangan.

”Andaikan saja kita turuti nasehat ibunda untuk tidak menyabung ayam, mungkin semua ini tidak akan terjadi,” ujar Panji Liris pelan.

”Tapi kita tidak bisa lari lagi kali ini. Kita harus membela kadipaten ini,” Panji Laras mencoba berkata lantang, meski kerongkongannya bergetar.

Hari-hari makin mencekam. Semua penduduk juga larut dalam luapan emosi peperangan. Sebagian ikut mempersiapkan diri dengan mengasah pedang dan parang, sebagian lagi mencoba untuk mengungsi dan menghindar.

Pasukan Lamongan dengan Panglima Sabilan sebagai pimpinan. Kini semuanya berjaga di perbatasan, Sungai Lamong. Turut serta juga Pangeran Panji Laras dan Panji Liris. Seolah mereka sudah bersedia mempertanggungjawabkan semua yang sudah mereka lakukan.

Saatnya pun tiba. Dari arah seberang, perahu-perahu berdatangan. Gendang ditabuh. Pedang diacungkan. Panah diterbangkan. Pasukan Wirosobo ditambah dengan bantuan dari Kadipaten Japanan dan Kadipaten Kediri terlihat banyak. Namun itu tak menyurutkan nyali pasukan Lamongan.

Kini manusia saling serbu. Bunyi pedang berdenting. Ringkik kuda bersahutan. Air sungai berubah warna kemerahan. Teriakan marah manusia berkumandang. Ini bukan teriakan lantang di pertandingan adu ayam. Ini adalah perang yang besar yang kadang membuat sifat kemanusiaan hilang.

Tak disangka Andansari dan Andanwangi juga ikut dalam pertempuran tersebut. Mereka ingin membalaskan kesumatnya, tetapi anak panah melesat cepat ke arah mereka dan gugurlah keduanya.

Melihat hal tersebut, Adipati Wirosobo makin membabi buta. Dia pun menerjang pada Panji Laras dan Panji Liris dengan pedang. Keduanya pun langsung gugur bersimbah darah.

Panglima Sabilan tidak bisa tinggal diam. Dua putra kadipaten gugur dan kini dia dengan sekuat tenaga yang dimiliki berusaha menghalau pasukan yang dari selatan tersebut agar mundur. Panglima ini tidak mau mereka semua masuk dan menduduki Lamongan. Melalui kekuatan pasukannya, semua pasukan gabungan Wirosobo, Japanan, dan Kediri berhasil dibuat kocar-kacir dan mundur dari Sungai Lamong. Sayangnya, Panglima Sabilan pun menjadi korban di peperangan tersebut.

***

 

Malam tanpa gemintang. Seluruh kadipaten dan alam tengah berduka karena perang telah membuat orang-orang tercinta berguguran. Dan semuanya telah menjadi babak sejarah yang tak mudak dilupakan.

Sang ibunda Panji Laras dan Panji Liris tepekur sendiri dengan air mata yang berlinang. Dua jasad putranya tidak diketemukan, walau dia mendapat kabar bahwa jasad para pangeran itu dihanyutkan ke Sungai Lamong oleh para musuh.

Sang ibunda bersimpuh di lantai tanah. Dipandanginya dua gentong batu serta pengalasnya yang ditinggalkan begitu saja oleh Andansari dan Andanwangi. Disentuhnya batu kali utuh tersebut. Dia tak lagi dapat menahan air matanya yang bercucuran.

”Mulai sekarang, tiada tabu lagi bagi perempuan meminang laki-laki di Kadipaten Lamongan. Cukuplah kisah putraku Panji Laras dan Panji Liris menjadi pengingat agar darah tak lagi tertumpah.”

***

Epilog

 

Aku tertegun sejenak. Menarik nafasku yang agak berat. Sebab sudah kuketahui jawabannya sekarang melalui buku cerita yang kugenggam. Aku juga tak peduli apakah kisah ini fiksi atau nyata. Namun yang kutahu rupanya cerita ini masih dipegang erat oleh leluhurku, nenekku dan bapakku. Hingga aku menjadi seorang perjaka tua yang menunggu seorang perempuan yang tiada tabu untuk meminang pria.

[1] Ilmu bela diri

[2] Berilah

[3] Anak tikus yang masih merah

PINANGAN UNTUK PRIA PINANGAN UNTUK PRIA PINANGAN UNTUK PRIA PINANGAN UNTUK PRIA PINANGAN UNTUK PRIA PINANGAN UNTUK PRIA PINANGAN UNTUK PRIA PINANGAN UNTUK PRIA PINANGAN UNTUK PRIA PINANGAN UNTUK PRIA PINANGAN UNTUK PRIA PINANGAN UNTUK PRIA PINANGAN UNTUK PRIA PINANGAN UNTUK PRIA PINANGAN UNTUK PRIA PINANGAN UNTUK PRIA PINANGAN UNTUK PRIA PINANGAN UNTUK PRIA PINANGAN UNTUK PRIA

 

Terimakasih telah mengunjungi website kami

salam TRANSNADA sewa mobil Malang

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Call Now
WhatsApp chat WhatsApp kami