Sewa mobil malang RAMAH, MURAH dan NYAMAN

PASAR AGROBUMI JOYOWINANGUN 


PASAR AGROBUMI JOYOWINANGUN   

Oleh : Redite kurniawan

            Sebagian orang pasti akan membenarkan sebuah istilah bahwa pasar adalah tempatnya setan. Meskipun semua orang yang menempati lapak-lapaknya akan marah jika mereka diceramahi tentang hal itu. Akim sendiri tak berkomentar banyak mengenai masalah ini. Mau tempatnya setan, mau tempatnya manusia, lelaki bertampang lugu yang suka memakai kemeja batik ini tak peduli. Banyak pedagang berkomentar sengit tatkala pada hari Jumat di masjid terdekat di Pasar Agrobumi Joyowinangun ini seorang kyai muda berkhotbah dengan tema: pasar adalah rumahnya setan.Banyak orang curang. Banyak pedagang bersumpah palsu. Karuan setelah itu komentar para pedagang beragam. Namun yang jelas banyak yang mencibir kyai muda ini sedikit menjengkelkan.

Ini adalah tamparan yang cukup menyakitkan bagi para pedagang, pembantunya, dan kuli yang ada di Pasar Agrobumi Joyowinangun. Maklum, sepanjang hidup mereka yang ada hanyalah penglihatan tentang pasar yang amburadul. Sampah yang menggunung. Lapak-lapak kayu yang berjamur. Lalu lalang pengunjung yang menawar dengan harga yang tak masuk akal. Padahal dengan barang yang sama, pengunjung tak kan berani menawar harga di supermarket manapun.

Akim penjual kentang yang tampangnya lebih lugu dari anak kencur lereng Gunung Merbabu itu hanya mendengar khotbah Jumat dengan penuh hari. Rupanya banyak kesalahan yang dia lakukan sebagai pedagang. Lalu itu semua tak pernah dia sadari hingga sang mulia kyai muda itu mengeluarkan nasehatnya.

Akim tahu persis semua pedagang dan penjual biasanya tertidur lelap saat khotbah berlangsung. Namun pada hari jumat itu mereka semua terjaga dengan mata yang tetap menyala. Akim yakin ini terjadi karena kata-kata yang dilontarkan oleh kyai muda yang memelihara jenggot tipis tersebut.

Pulang dari khotbah Jumat siang itu geger terjadi di halaman masjid. Rupanya sandal yang mulia khotib diembat orang tak dikenal. Bisik-bisik terjadi di antara kuli, inilah aksi dari orang-orang pasar. Namun mereka juga tak berani menuduh siapapun orang diantara mereka itu. Para kuli juga tidak mau lagi bersumpah. Sebab tadi dikatakan sang pengkhotbah tidak boleh bersumpah palsu.

Akim yang lugu itu seharusnya menambahi apa yang sudah dikatakan oleh yang mulia khotib muda itu. Yakni orang-orang di Pasar Agrobumi Joyowinangun ini tidak hanya suka memainkan takaran dan bersumpah palsu, tetapi omongan dan etikanya juga rusak bin kasar.Termasuk ketika mereka pada kasak kusuk membicarakan tentang khatib Jumat itu dengan kata-kata munafik. Bagi Akim itu keterlaluan. Khatib itu benar dan para pedagang tradisional ini saja yang telinganya sudah tersumbat setan.

Sebenarnya beberapa kali Akim pernah masuk ke pasar modern yang sangat besar. Lalu dia bandingkan omongan pembantu di sana yang bahasa kerennya sales promotion girl dansales promotion boy, SPG/SPB dengan pembantu atau buruh di Pasar Agrobumi Joyowinangun. Lalu inilah perbandingannya.

(Melihat perempuan muda)

SPG/SPB supermarket: Selamat siang, ada yang bisa dibantu?

Buruh Pasar Agrobumi Joyowinangun: suit…suit…

(Harga barang ditawar pembeli)

SPG/SPB supermarket: maaf, harga kami di sini sudah pas.

Buruh Pasar Agrobumi Joyowinangun: baca koran! Lihat harga-harga pada naik!    (Barang disenggol pembeli)

SPG/SPB supermarket : cuma tersenyum lalu membetulkan letaknya kembali.

Buruh Pasar AgrobumiJoyowinangun: matamupicak!

Begitulah perbandingannya. Orang-orang di pasar tradisional ini memang lugas, jujur, dan apa adanya. Namun di sinilah Akim mengadu peruntungan. Peruntungan yang didapatkannya turun temurun setelah bapak, kakak, dan pamannya juga menjadi pedagang kentang di pasar ini.

Pasar tradisional AgrobumiJoyowinangun ini sudah ada sejak zaman kala bendhu. Satu-satunya yang belum diratakan dengan tanah dan diganti dengan pasar modern yang wah dan mengkilat. Kekolotan pedagangnya mampu membuat pemerintah dan pengembang tak bisa menembus pembicaraan. Sebab slogan pedagang di sini sudah jelas. Pasar digusur, kami gempur.

Setahu Akim dulu pernah ada investor yang tertarik dengan tempat umum ini. Terjadilah pembicaraan sekali. Namun setelah itu kabarnya hanya kabur. Dari Parmin kuli panggulnya, Akimmendengar kalau  investor tionghoa itu mati terkena santet hanya selang sehari sepulang dari musyawarah dengan perwakilan pedagang pasar. Setelah itu tak ada investor lagi yang berniat untuk membeli pasar tradisional ini.

Jalanan becek dengan bau peceren yang menyengat. Ramai orang bertransaksi menambah jelas sebuah pasar yang seharusnya. Mengingatkan nostalgia Akim dengan mimpi yang indah. Meski tersandung dengan segala derita. Dulu seorang gadis penjual jamu yang sering mangkal di depan lapaknya kerap dia goda. Niatnya tidak kesampaian karena seorang tukang becak keburu meminangnya untuk dijadikan istri yang kedua.

Akim yang terlalu lugu kalah berani dengan seorang tukang becak yang mampu beristri dua. Kadang Akim membandingkan dirinya sendiri dengan tukang becak yang tega membunuh cintanya. Dia berbaju rapi dengan batik samudra. Sedang tukang becak hanya memakai kaos lengan panjang yang dicuci tiga hari sekali. Akim menunggu dalam lapak sehingga kulitnya lebih bersih. Sedang tukang becak itu berpanas-panas yang menjadikan kulitnya hitam mengkilat. Lalu uang, ya dengan uang seharusnya lebih mudah bagi Akim untuk membeli cinta. Namun nyatanya cinta tak dapat dibeli mudah. Mbak jamu itu lebih suka dengan bau kaos lengan panjang yang tak tercuci tiga hari. Hmm…kalah dalam percintaan membuat Akim memutar otak. Hingga dia sempat berkesimpulan bahwa bila ingin dicintai seorang gadis maka cucilah bajumu tiga hari sekali.

♥♥♥

 

Suit…suit….

Namun kemudian darah Akim berdesir. Lajang dengan baju batik motif jenggolo itu kaget bukan kepalang. Sebab yang dia sapa ini adalah seorang nenek-nenek yang pendengarannya masih hidup.

“Kurang ajar!Kau kira aku perempuan murahan,” ucap nenek tua itu dengan suara parau dan artikulasi yang tak jelas karena terlihat giginya hanya ada tiga di depan.

Parmin, kuli panggulnya mendekati Akim terpingkal-pingkal. Keringat masih membasahi dadanya selepas mengangkut 10 kuintal kentang. Namun Akim yakin semangatnya untuk mengangkut lebih banyak karung tak berkurang.

“Harusnya sampean berdehem, Mas, ehm…ehm…” ucapnya masih terguncang dalam tawa.

“Aku lupa,” jawab Akim singkat tak meladeninya.

Namun dalam hati Akim menyesal mengapa harus menggoda nenek tua dengan kerudung manja yang dia sapa. Sekali menggoda gadis malah nyasar ke mbah.

Akim menundukkan kepala. Melayangkan pandang pada tumpukan kentang yang ada di depannya. Dia berpura-pura sibuk menata dan menyortir kentang sesuai ukuran. Padahal perasaan malunya masih mengganjal dalam hati terdalamnya.

Parmin kembali datang dengan sekarung kentang di pundaknya. Akim juga heran dengan lelaki dengan otot yang menjulang di seluruh tubuhnya itu. Parmin yang bayarannya tak sebanding dengan tenaga itu sudah tiga kali berganti istri. Tiga kali! Hampir saja menelan ludah bila membayangkan betapa mudahnya Parmin yang tampangnya macam preman pasar itu juga mudah untuk menemukan cinta.

Rasanya jika Parmin sudah bosan dengan cinta yang satu. Maka cinta yang lain akan dia dapatkan segera. Bisa jadi setelah yang ketiga ini, lalu Parmin akan menemukan cinta yang keempat.

”Mas…mas…itu. Ayo suit…suit….,” Parmin mencoba membuat Akim memandang seorang gadis berkerudung putih yang berjalan di lorong lapak.

Akim terperanjat. Kentang yang ditatanya menjulang itu hampir jatuh berserakan ke tanah. Akim langsung menahan benda-benda berbentuk oval dan bulat berkulit setipis ari tersebut. Lalu dilihatnya si kerudung putih makin mendekat.

Hatinya berdebar kencang. Dia semakin bingung antara ingin menyapa seorang gadis dengan menahan kentang-kentang yang hampir jatuh.

”Ehem…ehem….,” Akim berdehem. Namun buru-buru Akim menutup mulutnya. Bodoh benar dirinya itu. Seharusnya dia bukan berdehem, tapi bersuit. Mengapa dia bisa sangat pelupa kalau kode menyapa untuk seorang gadis di pasar ini adalah bersuit dan bukan kebalikannya.

Gadis berwajah jernih itu menoleh kepadanya. Tepat di depan penglihatannya. Akim gelagapan dan tak sanggup lagi menahan kentang yang ada di jangkauannya. Kentang-kentang itu langsung berhamburan. Menuruni meja lapaknya. Menggelinding ke tanah becek beraroma khas pasar. Sampai dekat dengan kaki gadis berkerudung putih yang ternyata memakai kaos kaki.

Akim menatap sepatunya yang datar dan kaos kaki coklat menutupi kakinya. Padahal Akim ingin betul melihat kakinya. Dari kaki perempuan biasanya seseorang bisa terlihat tabiat mereka. Ini juga Parmin yang pernah memberikan penjelasan kepadanya.

Kaki perempuan yang lembab dan licin itu biasanya tukang matre. Menghabiskan dengan cepat sebotol pelembab kulitnya yang mahal agar terlihat menawan. Kaki perempuan yang kering biasanya pelit. Karena tidak mau membeli pelembab dan lebih mementingkan penampilan muka yang terlihat nyata di khalayak ramai. Sedangkan kaki yang bersisik menandakan perempuan yang jarang ke pasar. Sebab dia tidak pernah membeli sayur dan buah yang banyak mengandung vitamin A, B, dan E. Ada juga kaki perempuan yang korengan. Dan perempuan pemilik kaki jenis ini hanya diberi Akim julukan: kemproh.

Awalnya ekspresi gadis tertegun. Namun lalu dia dengan jemari yang lentik ikut membantu mengangkat kentang-kentang yang berserakan tersebut kembali ke atas meja lapak.

”Maaf, tadi bukan saya yang menyenggolnya,” ucap gadis dengan suara terlembut yang pernah didengar Akim. Mungkin gadis itu sudah paham dengan karakter orang-orang di pasar ini. Sebab siapapun yang menyenggol dagangan orang, terlebih sampai jatuh maka dia tak luput dengan makian, ”matamu picak!”

”Saya sendiri yang menjatuhkan, Mbak,” ujar Akim gemetar. Tangannya masih sigap mencari kentang yang ada di tanah. Lalu melapnya dengan kain gombal.

”Mau beli kentang, Mbak?” Parmin yang dari tadi menahan tawa ikut berbicara. Dari suaranya Akim tahu bahwa Parmin ingin meledakkan tawanya yang dia sumbat.

”Ya, sekilo,” ucap gadis itu tanpa menawar tanpa memilih-milih kentang.

Inilah tipe pembeli yang paling disukai seluruh pedagang di Pasar Agrobumi Joyowinagun. Sebab mereka bisa mendapatkan harga terbesar dan memilihkan dagangan yang terjelek. Toh belum tentu orang yang beli ini akan kembali ke pasar itu lagi.

Namun Akim si lugu itu tidak mau meniru mereka yang seperti itu. Meniru untuk berdehem dan bersuit saja sudah membuatnya menjadi orang paling bodoh sedunianya. Apalagi mau meniru semua gaya dan lagak orang-orang yang ada di sekitarnya.

Lalu dipilihkannya kentang yang paling bagus. Kentang yang baru saja turun dari gendongan Parmin, buruhnya. Terus menimbangnya dengan amat hati-hati hingga takarannya pas. Terakhir membungkusnya dengan plastik putih.

Plastik hitam tak layak dijadikan pembungkus sayur maupun buah. Plastik hitam terbuat dari daur ulang plastik beragam yang terus didaur ulang, dan lagi didaur ulang. Hingga warnanya kemudian menjadi hitam seperti arang. Penjelasan itu pun didapatkan Akim dari Parmin, kuli panggul kentangnya.

”Dua puluh ribu,” ucap Akim.

Si gadis menyerahkan uang pas dari dalam dompetnya yang tebal. Akim menjawab dengan terima kasih. Lalu menghilanglah sang gadis di tikungan los dagangannya yang ramai orang lalu lalang.

”Sudah Mas, jangan dilihat terus. Orangnya sudah pergi. Kenapa tadi tidak tanya nama, alamat,” kata Parmin mengibaskan tangan pada kedua mata Akim yang tak mau berhenti memandang gadis berkerudung putih itu.

”Aku, ehm…aku bingung mau ngomong apa,” ungkap Akim. Kini diraihnya lagi kentang-kentang untuk ditata lagi di meja sebelah.

”Lho, Mas Akim, mbak tadi kok diberi kentang yang baru datang. Nanti yang lama bagaimana?” tanya Parmin.

”Sudahlah Min, nanti kalau buruk yang disortir ulang,” ucap Akim tanpa beban.

♥♥♥

 

Sore masih jauh. Namun lapak Akim sunyi. Orang-orang hanya berdatangan satu atau dua orang. Mereka tidak ada yang melirik dagangannya. Meski kini di lapak Akim bukan hanya kentang-kentang yang dihadirkan, tetapi ada juga bawang putih dan bawang merah.

”Sepi banget hari ini, Min,” ucap Akim sambil membersihkan bawang merah dari kulitnya yang kering.

”Sabar Mas, orang jualan ya begitu. Kadang sepi, kadang ramai. Kehidupan orang juga begitu bukan? Kadang bahagia, kadang menderita,” ungkap Parmin sembari mengibaskan handuk kecilnya. Handuk yang mungkin dicucinya tiga hari sekali.

”Lha kamu bagaimana, Min? Jadi buruh kan menderita sepanjang hidup,” ujar Akim menolehkan wajah pada buruhnya.

”Siapa bilang saya menderita terus Mas? Bahagia dan menderita itu adanya di sini, di sini Mas,” jawab Parmin sembari menepuk dadanya yang bidang. Sekelas Mario Teguh lewat oleh kepiawaian Parmin bertutur kata.

Akim terdiam. Terserah apa yang kulinya itu katakan. Namun kalau dadanya yang Parmin maksud, mungkin kulinya tidak pernah memahami perasaannya. Akim menderita. Seluruh orang sepasar ini sudah mengoloknya. Olokan yang membuatnya sakit di dada. Mereka bilang dirinya perjaka tua yang tidak laku meski diobral. Sebuah kalimat amat sinis yang bagi banyak orang mungkin biasa dan amat membahagiakan bila dibuat olok-olokan. Namun bagi Akim sungguh teramat dalam menyiksanya.

”Kenapa, Mas?” tanya Akim.

Ndak apa-apa. Mungkin kamu benar,” jawab Akim.

Satu dua orang masih melewati lapaknya. Kini dua orang sudah berada tepat di depannya. Akim tak hirau dengan kehadiran mereka. Dia masih memikirkan kata-kata Parmin, kuli panggulnya yang mengalahkan pemikir paling jos dunia.

”Kentangnya masih ada? Seperti yang kemarin saya beli,” ucap seorang pembeli yang ada di depan Akim.

”Ini pedagang kentang yang aku ceritakan kemarin,” bisik pembeli itu pada orang di sebelahnya.

Gadis berkerudung putih itu lagi yang datang. Akim girang. Dia ingat persis dengan jernih wajah dan halus suaranya. Kali ini dia memakai kerudung krem. Benar-benar indah bila berbaur dengan kulitnya yang kuning. Di sampingnya seorang lelaki berjenggot tipis menyertai. Seperti bapaknya. Ah bukan seperti kakaknya. Umurnya agak jauh dengan si gadis ini.

Astaga, ketika Akim mengamati seksama dia tersadar. Bukankah laki-laki yang ada di samping gadis ini adalah pak ustadz yang kapan hari memberi khutbah Jumat di masjid dekat pasar. Lalu yang mengatakan bahwa pedagang itu harus jujur, tidak boleh mempermainkan takaran, dan tak boleh bersumpah palsu. Kemudian sandalnya diembat orang. Hingga dia pulang dengan kaki yang telanjang.

”Masih ada banyak kentang, perlu berapa?” Akim menyahut cepat. Senyum lebar dia persembahkan untuk gadis berkerudung krem yang berdiri di depannya. Bagaimana bila aku menjadi suaminya? Pasti seluruh penduduk pasar Agrobumi Joyowinangun gempar. Akim menikah dengan gadis cantik yang salehah. Sebuah bentuk waru besar mendadak muncul di kepalanya. Warna waru itu merah muda. Di dalamnya tersemat wajah dirinya dan gadis berkerudung krem itu.

”10 kilo mas. Mau ada acara selamatan,” ucap lelaki disampingnya.

Bapak atau kakaknya yang ustadz ini pasti mengajarinya dengan baik. Akim yakin gadis ini rajin sembahyang, rajin mengaji, menjaga kehormatan, dan mampu merawat suami dan anak-anaknya kelak.

Akim merasa inilah saatnya tangan Tuhan mulai ikut campur dalam kehidupannya. Dunia bisa terbolak-balik. Barangkali ini adalah anugerah Tuhan untuknya yang tempo hari menjual kentang terbaik dengan timbangan yang sempurna. Akhirnya gadis itu datang lagi memborong kentangnya. Disaksikan oleh kakak lelakinya yang akan menanyainya, ”maukah kamu menjadi suami adikku? Aku sudah jarang menemukan pedagang jujur di pasar ini!”

Tak lagi sumpek melanda hati Akim. Hanya ada kegembiraan yang datang tiba-tiba. Betul kata Parmin, kulinya itu. Hati dalam dada itulah yang merasakan gembira atau susah. Sekarang ini gembira rasanya menutupi seluruh ruang luas yang ada di dadanya. Sangatlah luas ruang itu melebihi samudera.

”Ini, semuanya 200 ribu,” ucap Akim dengan wajah berseri.

”Uangnya pas ya,” kata gadis itu dengan suara terhalus yang pernah Akim dengar.

Dua kantong plastik sudah mau diangkat oleh lelaki di sebelah gadis berkerudung krem tersebut. Namun buru-buru Akim sadar bahwa dia harus bertanya nama gadis dan alamatnya. Dia harus tahu itu. Kemudian kembali meminta saran Akim untuk menuju pada tahap berikutnya, yaitu meminang.

Akim beruntung benar punya kuli seperti Parmin yang tahu segala hal. Tentang cinta dan tentang kehidupan. Pasti kulinya itu juga paham cara-cara bertamu dan meminang perempuan. Sebab sudah  tiga kali dia menikah dengan perawan.

”Mbak, namanya dimana? Alamatnya siapa?” Akim bertanya. Gadis itu menahan tawa. Lalu Akim menepuk jidatnya dan kembali mengulang tanya, ”maaf, maksud saya nama mbak siapa dan alamatnya dimana?”

”Saya suaminya Mas. Maaf, permisi,” ucap lelaki itu ngeloyor pergi menarik tangan wanita yang ada di samping dirinya.

Akim melongo. Matanya terus menatap dua orang yang hilang di tikungan los lapaknya. Hidup ini dengan cepat berubah. Sedetik lalu dia gembira luar biasa, tapi detik ini dia amat nelangsa.

Sore muncul. Jingga sudah menyebar di Barat. Dada Akim yang lapang seluas samudera mendadak menjadi jingga dan menyempit. Lebih sempit dari selokan yang ada di pinggir los lapaknya di Pasar Agrobumi Joyowinangun.

”Lho kok menangis, Mas?” tanya Parmin yang membereskan kentang, bawang merah, dan bawang putih kembali pada tempat karung-karungnya.

Ndak Min, kena pedihnya bawang merah,” ujar Akim sesenggukan.

Parmin stress. Bagaimana mungkin bawang merah memedihkan mata bila tidak dikupas.

♥♥♥

  Terimakasih telah mengunjungi website kami

salam TRANSNADA

sewa mobil malang

 

 

 

 

 

 

 

 

Increase Page Rank

Have any Question or Comment?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Call Now
WhatsApp chat WhatsApp kami