Sewa mobil malang RAMAH, MURAH dan NYAMAN

KEN DEDES


KEN DEDES BERMATA BIRU

Oleh: Redite Kurniawan

KEN DEDES

Ken Dedes, sebuah nama yang tidak asing bagi masyarakat Jawa. Sebuah tradisi lokal menempatkannya sebagai seorang ratu yang kecantikannya mendekati sempurna. Dan tak hanya sebagai ratu di kerajaan semata, karena Ken Dedes adalah wanita yang dianggap menurunkan leluhur raja-raja di Jawa, nenek moyang Wangsa Rajasa, trah yang berkuasa dari Singhasari dan Majapahit hingga dikaitkan pada Kerajaan Demak hingga Mataram.

Begitu agungnya Ken Dedes hingga ia pun menjelma menjadi sebuah ikon tentang ratu terbesar tanah Jawa yang jelita dan menjadi sebuah legenda legitimasi tentang supremasi kekuasaan raja-raja Jawa (ibu para raja Jawa). Sebab ia adalah nareswari atau yang mempunyai tanda-tanda wanita paling utama. Itulah kemudian mengapa Ken Angrok berani untuk membunuh Tunggul Ametung yang merupakan atasannya sendiri agar dapat mengawini Ken Dedes.

Semua berawal dari sebuah kitab yang bernama Pararaton. Sebuah kitab yang tidak diketahui siapa pengarangnya dan diperkirakan berasal dari tahun 1535 Saka atau 1613 Masehi. Kitab Pararaton atau yang dalam Bahasa Jawa Kuno diartikan sebagai Kitab Para Raja tersebut berkisah tentang cikal bakal Kerajaan Singhasari dengan lakonnya yang amat terkenal yakni Ken Angrok. Sehingga Kitab Pararaton disebut juga Katuturanira Ken Angrok atau kisah yang berisi mengenai perjalanan hidup Ken Angrok.

Tersebutlah Ken Dedes, seorang gadis yang kecantikannya luar biasa dan dalam sekejap bisa memikat hati Tunggul Ametung, akuwu (pembesar) di Tumapel yang kebetulan singgah di rumahnya di Desa Panawijen. Tunggul ametung ingin segera menikah dengan Ken Dedes yang rupawan. Dan Ken Dedes yang tidak tahu harus berbuat apa hanya menyarankan pada Tunggul Ametung untuk menunggu ayahnya datang. Namun rupanya menunggu sang calon mertua, Mpu Purwa (seorang pendeta Buddha), yang masih berada di hutan, membuat hasrat Tunggul Ametung tidak tertahan. Kemudian diculiklah Ken Dedes dan diboyonglah ke Tumapel untuk dijadikan sebagai permaisuri.

Mendapati anaknya lenyap dan menurut laporan penduduk sekitar telah diculik oleh Tunggul Ametung, maka marahlah Mpu Purwa dan mengutuk akuwu Tumapel tersebut; barang siapa yang telah menculik putriku, maka ia akan mati akibat kecantikannya.

Cerita Ken Dedes kemudian bergulir dengan datangnya seorang punggawa kerajaan (prajurit) yang bernama Ken Angrok, bekas begal yang bertobat. Dan atas jasa gurunya Pendeta Lohgawe yang berasal dari India, Ken Angrok diterima bekerja di Kerajaan Tumapel.

Suatu hari yang cerah, Tunggul Ametung mengajak Ken Dedes, istrinya yang jelita yang tengah mengandung anak pertamanya itu berjalan-jalan di Hutan Baboji. Disertai dengan para pengawal, Raja dan ratu itu menikmati keindahan alam. Meskipun dalam beberapa pendapat tentu saja Ken Dedes merasa tidak nyaman tinggal bersama sang raja yang menikahinya secara paksa.

Lalu tanpa sengaja, angin menerbangkan kain Ken Dedes sehingga tersingkaplah auratnya yang membuat Ken Angrok melihat sebuah tanda. Di Pararaton disebutkan …kengkis wetisira, kengkab tekeng rahasyanica, nener katon murub denira Ken Angrok …(tersingkap betisnya, yang terbuka sampai rahasianya, lalu kelihatan bernyala oleh Ken Angrok).

Demi sebuah pengalaman yang membuat Ken Angrok tidak bisa tidur karena memikirkannya, maka berkonsultasilah dia kepada Pendeta Lohgawe. Lohgawe pun menafsirkan bahwa wanita yang auratnya bersinar adalah nareswari yang akan menurunkan raja-raja.

Mendengar penjelasan dari Lohgawe, Ken Angrok pun mulai berpikir bahwa dengan memperistri Ken Dedes berarti akan membuat diri dan keturunannya akan menjadi raja-raja. Maka disusunlah rencana untuk merebut Ken Dedes dari tangan Tunggul Ametung, sang Akuwu Tumapel.

Pertama dipesanlah sebuah keris sakti dari pembuat keris ternama Mpu Gandring. Malangnya keris yang dipesan itu tak kunjung selesai. Dan karena sudah tak sabar lagi, kemudian Ken Angrok membawa pergi keris itu meski harus menikam sang maestronya sendiri. Rencana berikutnya adalah meminjamkan keris yang sakti tersebut kepada Kebo Hijo yang dengan bangganya memamerkan keris tersebut pada khalayak ramai. Dan terakhir menghunuskan keris tersebut kepada Tunggul Ametung.

Dengan demikian Ken Dedes dapat diperistri oleh Ken Angrok, sementara Kebo Hijo yang sudah terlanjur diketahui orang banyak memiliki keris Mpu Gandring menjadi tertuduh. Ken Angrok pun menjadi Akuwu Tumapel.

Beberapa saat kemudian Ken Angrok pun melakukan penyerangan kepada Kerajaan Kediri dan melepaskan diri untuk mendirikan kerajaan baru yang bernama Singhasari, dia menjadi raja pertamanya dengan gelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi dan Ken Dedes yang tengah mengandung anak Tunggul Ametung menjadi permaisurinya.

Ken Dedes pun akhirnya mengantarkan anak keturunannya menjadi raja-raja. Kitab Pararaton banyak mengisahkan intrik, balas dendam, dan ambisi dari trah Rajasa. Suksesi dipenuhi dengan kudeta berdarah.

Tetapi kita tidak hendak menganalisa pergantian kekuasaan di jaman kuno Nusantara. Sebab tokoh perempuan yang paling menarik dan menjadi muara dari Kitab Pararaton adalah Ken Dedes. Ia pun tidak diketahui bagaimana rupa dan perwujudannya selama ratusan tahun.   Hingga sebuah laporan penemuan arkeologi di Negeri Belanda pada tanggal 28 Februari 1827 menyebutkan bahwa Nicolaus Engelheard menemukan Candi Singosari tahun 1803. Laporan tersebut menyebutkan adanya enam patung termasuk Durga dan Ganesha di Candi Singosari yang sekarang terletak di Kelurahan Candirenggo Kecamatan Singosari Kabupaten Malang Propinsi Jawa Timur.

Tujuh belas tahun kemudian atau tahun 1820, D. Monnereau menemukan 4 bangunan candi di sebelah selatan Candi Singosari termasuk patung Pradnyaparamitha atau yang sering disebut sebagai perwujudan Ken Dedes. Arca Ken Dedes terpahat sangat detail yang menandakan bahwa budaya pahatan sangat berkembang di zaman Singosari. Dan inilah arca paling bagus dan utuh yang pernah ditemukan sehingga dikirim untuk disimpan di Museum Leiden Belanda bersama patung Ganesha, Durga, dan Bhairawa. Hingga arca Ken Dedes dikembalikan kepada Pemerintah Indonesia di tahun 1978 dan sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta.

Ken Dedes yang diwujudkan dalam patung Pradnyaparamitha sesungguhnya adalah dewi kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan dalam versi agama Buddha. Patung dengan tinggi 1,26 meter, terbuat dari batu gunung atau andhesit, dan sepanjang arkeologi Indonesia ini adalah patung terhalus dan terindah yang pernah ditemukan.

Pradnyaparamitha duduk di atas bunga teratai, kedua tangannya membentuk sikap dharmacakramudra atau memutar roda dunia. Hiasan tangkai teratai melingkar di tangan kiri dan bunganya sebagai alas sebuah kitab, Pradnyaparamitha-Sutra atau Kitab Kebijaksanaan Utama. Pradnyaparamitha bersandar pada sebuah kursi kencana dan beralaskan teratai. Tubuhnya dipenuhi berbagai macam perhiasan yang berkilauan mulai dari gelang kaki, bagian perut, tangan, dada, leher, kuping, hingga ke mahkotanya. Sedangkan tubuh bagian bawahnya ditutupi kain panjang sebangsa batik (yang sekali lagi membuktikan bahwa batik adalah warisan leluhur bangsa Indonesia yang tidak bisa begitu saja diklaim oleh bangsa lain).

Masih belum dipastikan benar apakah patung Ken Dedes ini ditemukan di Candi Singosari yang bercorak Siwa atau Hindu, sebab Ken Dedes yang diwujudkan dalam Pradnyaparamitha ini bercorak dewi agama Buddha. Namun mungkin saja Ken Dedes didapatkan dari kompleks Candi Singosari yang yang menurut Engelheard merupakan tempat percandian yang luas. Walau kini hanya menyisakan Candi Singosari itu sendiri yang ditengarai sebagai persemayaman abu raja terakhir Singosari, Kertanegara.

Mengunjungi peninggalan Singhasari yang kini terletak di Kecamatan Singosari Kabupaten Malang, Jawa Timur akan selalu mengingatkan pada kebesaran kerajaan di nusantara. Meski tak semua peninggalan Singhasari terdapat di satu tempat di Kecamatan Singosari saja. Sebut saja Candi Jago yang berada di wilayah Kecamatan Tumpang dengan bentuknya yang khas dengan struktur punden berundak yang merupakan struktur khusus masyarakat Jawa kuno pra Hindu-Buddha. Atau ada juga Candi Jawi yang berada di wilayah Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan.

Sedangkan di Kecamatan Singosari sendiri selain terdapat Candi Singosari di Kelurahan Candirenggo, di sebelah selatan di daerah Sumberawan terdapat Candi Sumberawan. Candi ini sebenarnya adalah stupa agama Buddha, dan satu-satunya stupa yang ada di Jawa Timur. Terdapat pula arca raksasa Dwarapala yang bertaring dan menakutkan serta memegang senjata gadha. Arca ini menurut cerita adalah patung penjaga pintu masuk Kutaraja, ibukota kerajaan Singhasari yang ada dalam Kitab Negarakrtagama.

Bukan hanya situs-situs purbakala saja yang akan membuat orang tertarik untuk memasuki bumi Ken Dedes. Singhasari adalah daerah dataran tinggi berhawa sejuk yang dikepung oleh gunung-gunung besar di timur Jawa. Sebut saja Gunung Arjuna-Welirang di sebelah barat laut, Gunung Kawi dan Gunung Panderman (Kota Batu) di sebelah barat daya, Gunung Bromo di sebelah timur laut, dan Gunung Semeru di arah tenggara.

Semua gunung itu pun selain masih menyimpan sisa-sisa peradaban masa lampau juga tempat-tempat indah sekaligus menakjubkan yang bisa dikunjungi.

Bromo (ketinggian 2392 m dpl) misalnya yang sekarang masih menjadi destinasi utama Jawa Timur. Sisa peradaban Singhasari-Majapahit masih hidup di kawasan Tengger. Setiap bulan Kasada/ke-sepuluh (sekitar Oktober-November) ada festival Kasada dengan budaya unik masyarakat Tenggernya yang melemparkan sesajen ke kawah Gunung Bromo. Juga lautan pasir seluas 5.250 hektar yang dapat dinikmati dengan berkuda. Serta panorama spesial sun rise (matahari terbit) yang memikat dapat dilihat dari puncak gunung yang indah ini.

Gunung Arjuno-Welirang adalah kompleks gunung api kembar berjenis stratovolcano (ketinggian 3.339 m dpl) kawasan wisata agro dengan kebun teh yang dibangun Belanda dari arah timur (daerah Wonosari). Dari arah Lawang (poros Surabaya-Malang) para pendaki gunung biasanya akan melewatkan malam di pucak Arjuno untuk mendapat potret Kota Malang dan Surabaya yang berkelap-kelip di malam hari.

Gunung Semeru, dalam mitologi Jawa disebut puncak Mahameru atau tempat para dewa (ketinggian 3.676 m dpl) adalah gunung api aktif dengan kawah yang disebut Jonggring Saloko. Terdapat danau/ranu yang terbentuk akibat letusan gunung yang memesona, salah satunya Ranu Kumbolo. Dan nama Semeru kembali berkibar sejak novel serta film 5 CM dengan setting gunung ini menjadi box office. Menuju puncaknya bisa melewati rute Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Sementara Gunung Batu-Panderman masih menyimpan candi mistik Songgoriti yang dibangun pada masa Raja Sindok sebagai tempat peristirahatan yang juga dikatakan tempat pertemuan Ken Dedes-Ken Angrok. Namun lebih jauh lagi, sekarang ini Kota Batu (700-1100 m dpl) di kaki Gunung Panderman disulap menjadi kawasan wisata modern dengan berbagai fasilitas hotel bintang dan taman bermain terlengkap yang ada di Jawa Timur. Seperti Jatim Park 2, Secret Zoo, Pemandian dingin Selecta, Pemandian panas Cangar, Batu Night Spectacular, dan lainnya. Memang sejak abad ke-19 Pemerintah Hindia-Belanda mendapati Batu sebagai tempat peristirahatan karena hawanya yang sejuk dan pemandangannya yang mengagumkan. Dan berbondong-bondonglah mereka membangun vila-vila. Karenanya Batu disebut sebagai De Klein Switzerland atau Swiss kecil di Jawa.

Wilayah Kerajaan Ken Dedes pun kini berjaya sebagai obyek tujuan wisata utama di Jawa Timur. Tapi sekalipun zaman sudah jauh berputar, Ken Dedes rasanya akan selalu dikenang, di pintu masuk Kota Malang terdapat replika raksasa arca Ken Dedes yang berwarna keemasan, tepatnya di Kecamatan Arjosari sebelum flyover dan dekat dengan Terminal Arjosari. Setiap mata yang memandang pasti akan selalu mengingat kebesaran ratu Jawa tersebut, yang patungnya sangat bijaksana dan terkesan agamis namun di sisi lain melihatkan keduniawian dengan perhiasan keratuannya. Tak hanya itu, di daerah Singosari juga dibuat pemandian/kolam renang yang dinamai Kolam Renang Ken Dedes. Pemandian yang tak pernah sepi dari pengunjung itu juga meletakkan replika arca besar Ken Dedes di tengah-tengah pemandian dengan tiket masuk yang terjangkau untuk semua kalangan tersebut.

Satu hal yang patut mendapat apresiasi untuk kembali menghidupkan nama Ken Dedes adalah even yang digagas oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Malang yang mengadakan Festival Ken Dedes. Kota Malang yang cukup dikenal sebagai kota pendidikan menganggap bahwa Ken Dedes dapat menjadi alternatif ikon kota ini. Perwujudannya sebagai dewi ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan (Pradnyaparamitha) memang pas benar jika dikaitkan dengan Kota Malang yang berjuluk kota pendidikan.

Dengan memandang Ken Dedes dan arca perwujudannya, makna simbolik dan makna keteladanan yang ada dalam dirinya, maupun pesan yang dapat ditransformasikan darinya sangat beralasan untuk dijadikan sebagai ikon sejarah dan ikon Kota Malang dalam wujud figuratif dan sekaligus bersifat humanis.

Dimulai tahun 2011, pada Bulan Oktober Pemerintah Kota Malang menggelar Festival 1000 Ken Dedes yang diikuti oleh ribuan duplikasi Ken Dedes dari perwakilan kelurahan, sekolah, dan instansi di Kota Malang.

Atmosfer Jawa kuno zaman Singosari akan kembali terulang dengan gadis-gadis cantik dengan rambut berjuntai dan bermahkota runcing bertahtakan bebatuan mulia diarak di seputar Jalan Besar Ijen. Mengendarai kereta kencana atau ditandu pengawal-pengawal berbadan tegap dengan seragam prajurit keprabon. Atau beberapa di antara wanita cantik ini berjalan kaki beriringin dengan anggun dengan senyum yang tak henti-hentinya mekar.

Menariknya festival Ken Dedes pertama ini mengikutsertakan Chole, perempuan berkebangsaan Perancis yang menjadi dosen Bahasa Perancis di Universitas Brawijaya. Perempuan yang memakai kemben hijau dibalut kain batik khas Turen Malang ini mendapat perhatian yang cukup besar dari penonton. Dengan wajah Eropa dan mata birunya, Chole mencuri mata semua orang. Sebab Ken Dedes jelas tak bermata biru. Tetapi perempuan yang peduli untuk melestarikan budaya bangsa ini terlihat sangat antusias mengikuti prosesi acara hingga akhir.

Di tahun berikutnya, 2012, Festival Ken Dedes kembali dihelat dengan menambah pasangan Ken Dedes yakni Ken Arok yang diarak sepanjang jalan. Prajurit-prajurit yang ditambah, miniatur candi-candi, Istana-istana yang terbuat dari kayu ditampilkan lebih seru. Ditambah bunyi-bunyian musik gamelan, tari-tarian, dan pawai dari setiap kelurahan menambah kemeriahan festival di tahun ini. Untuk kedua kalinya festival yang mengusung tema “past of future” ini semakin memikat wisatawan yang datang. Sebab semua orang ingin menyaksikan pasangan paling fenomenal abad silam yang kembali ditransformasi ke masa kini.

Jika kemeriahan serta gemerlap Ken Dedes dan Ken Angrok kurang membuat mata terhibur. Jangan berpindah dan tetaplah berada di tempat sepanjang Jalan Ijen dan Simpang Balapan Kota Malang tempat acara berlangsung. Sebab akan muncul peragaan Ken Dedes yang lain dari biasanya. Inilah penampilan dari Ikatan Waria Malang yang dengan percaya diri dan gaya hebohnya mampu membuat semua penonton terpingkal karena kelewat attraktif. Sehingga tak heran jika untuk dua tahun berturut-turut 2011-2012 Iwama (Ikatan Waria Malang) mendapat penghargaan sebagai peserta paling menarik.

Pada tahun 2013 (September ini) puncak Festival Ken Dedes lebih ditekankan pada pemilihan Putri Ken Dedes yang diselenggarakan di Gedung Kesenian Gajayana Kota malang. ”Sosok Ken Dedes adalah tokoh yang melahirkan raja-raja Jawa. Tentu beliau adalah sosok yang kuat, berwibawa, dan cerdas. Sosok seperti itulah yang pantas untuk kita teladani,” begitulah ungkapan dari Dra. Ida Ayu Wahyuni, M.Si. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang.

Benar memang, Ken Dedes adalah wanita istemewa. Selain dia adalah leluhur raja-raja Singhasari dan Majapahit yang dalam pandangan masyarakat Jawa haruslah merupakan pilihan dari Sang Maha Kuasa, Ken Dedes juga penganut agama yang taat sehingga menguasai ilmu Karma Amamadang atau cara untuk lepas dari samsara (versi Pararaton).

Tapi yang paling istimewa sekarang ini, bumi Ken Dedes atau bagian dari Kerajaan Singhasari telah menjelma menjadi destinasi tujuan wisata paling memikat di Jawa Timur. Jika wisata alam akan memberikan kesan pada keagungan Tuhan, maka wisata sejarah akan membuat kita merasa bangga menjadi bangsa besar yang pernah mempunyai sejarah peradaban yang besar.

             Terimakasih telah mengunjungi website kami

salam TRANSNADA

Sumber

http://id.wikipedia.org/wiki/Ken_Dedes

http://www.malangkota.go.id/mlg_

http://malang-post.com/tribunngalam

http://sejarah-puri-pemecutan.blogspot.com/2010/01/arca-peninggalan-singhasari.html

http://www.indonesia.travel/id/destination/243/gunung-bromo

http://wisatagunung.wordpress.com/wisata-gunung

Have any Question or Comment?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Call Now
WhatsApp chat WhatsApp kami