Sewa mobil malang RAMAH, MURAH dan NYAMAN

GUNUNG ARJUNO BELUM MELETUS DUA KALI


GUNUNG ARJUNO BELUM MELETUS DUA KALI “cerpen”

gunung arjuno

Kau tahu bentuk paling indah di dunia ini? Kurasa bentuk paling indah di dunia ini adalah semacam kerucut. Karenanya sepanjang jalan menuju ke tempatku bekerja, selalu saja kupandang sebongkah kerucut besar yang menjulang ke awan. Hijau kebirauan. Terkadang hijau kekuningan. Kurasa matahari itu yang mempermainkan warna hingga dari hari ke hari gunung yang selalu kupandang itu berubah-ubah.

Aku tak henti memandang kerucut besar itu selama dalam perjalanan. Sebab hanya kerucut besar itu saja yang seolah memberi banyak petuah untukku. Untuk selalu tegar, untuk selalu sabar, dan untuk selalu berdiri kokoh tanpa lelah. Ketika banyak orang mengidolakan manusia lain sebagai panutan dan impian, aku malah mengidolakan sebuah kerucut besar yang tak pernah mengedipkan mata. Aku bahkan tidak tahu apakah kerucut besar tahu bila diriku ini sangat mengaguminya. Melebihi kekagumanku pada Elvie Sukaesih atau Titi Qadarsih.

Pagi ini seperti biasa aktifitas kulalui berulang. Dingin menjadi atmosfer di sini. Aku bekerja di sebuah sekolah menengah pertama di Bocek. Lereng Gunung Arjuno sebelah Timur. Jalan menanjak selalu kulalui. Kadang turunan juga kutempuh dengan riang. Hingga sebuah gang masuk ke kiri membuyarkan seluruh mataku karena di situ sekolah tempatku mengajar sudah menunggu.

Seluruh siswa memberi salam dan menyebut namaku ketika aku baru turun dari sepeda motor. Mereka berebut mencium tanganku hingga kadang aku merasa geli. Terkadang juga merasa sedikit takut, jangan-jangan ciuman mereka di tanganku itu mengandung virus yang membahayakan bagi kehidupanku.

Kau tahu kehidupanku itu apa? Kehidupanku adalah sesuatu yang ada di dalam perut ini. Sebuah penantian teramat panjang yang hampir membuatku harus menyerah dan masuk ke dalam sebuah sel di rumah sakit jiwa. Mengapa belum ada juga tanda kehidupan itu muncul di sana.

“Bu Ema nampak pucat? Ibu sakit?” seorang siswa berbadan bongsor menanyaiku. Lita namanya. Bapaknya buruh tani. Ibunya sibuk mencari pakan sapi. Orang-orang di sini hidup sekandang dengan sapi. Barangkali bila mereka bisa memilih, tentu lebih baik memelihara seorang sapi dari pada seorang gadis perempuan bongsor yang mampu makan melebihi kuli.

“Ibu sehat, tidak mengapa,” ujarku singkat.

Aku mengucapkan kalimat layaknya seorang guru yang lain. Intonasi sedikit tegas, mulut dijaga tak terlalu lebar tapi juga tak terlalu sempit. Mata harus bersinar saat berbicara. Kau tahu bahwa sorang guru itu harus menampakkan wibawa. Bahkan lewat suara mereka. Jika suaramu mirip boneka Susan yang cempreng itu, maka jangan harap kau bisa menjadi seorang guru yang disegani muridmu.

Aku buru-buru masuk kantor. Kulirik Lita tak lagi mengawasiku. Syukurlah dia tak mencercaku dengan berbagai pertanyaan yang kadang membuat darah tinggiku meninggi. Kemarin saat tanganku terluka, si bongsor ini langsung bertanya, “siapa yang melukai ibu? Kapan kecelakaan ini terjadi? Apakah tidak ada yang menolong ibu?” Benar-benar pertanyaan yang menyebalkan. Lukaku ini hanya serupa dengan sayatan pisau dapur saat mengiris bawang.

Kini aku bisa lega duduk di kursi ruang tamu kantor. Aku bisa bernafas lega karena tempat ini adalah restricted area. Tidak bisa sembarang anak masuk kecuali mereka yang mau membayar iuran sekolah atau ada masalah di kelasnya. Namun di tempat ini aku tak bisa menengok idolaku karena terhalang dinding. Ya, idolaku yang sebongkah kerucut besar hijau kebiruan di luar sana.

Pernah suatu saat aku mengatakan pada kepala sekolah untuk memberikan jendela tepat di arah Barat kantor ini. Namun bapak kepala sekolah tidak mengizinkan. Dia bilang ventilasi kantor ini sudah amat banyak. Jika ditambah lagi jendela, kantor ini seperti bukan kantor sekolah. Seperti pos ronda yang tanpa sekat.

Tiba-tiba telapak tangan kiri ini mengusap kehidupanku. Perutku. Kapankah masa itu datang? Ketika semua orang memberi selamat padaku untuk seorang anak yang akhirnya muncul di situ. Kau tahu betapa sakit hati perempuan yang sudah kawin selama sepuluh tahun tanpa pernah hamil. Jika ada dokter yang bisa memasukkan seorang bayi ke dalam perut, aku pasti akan mendatangi dokter itu meski hanya sebagai volunteer untuk percobaannya.

Bila bel itu tidak berbunyi, jelas pikiranku akan jauh mengembara ke mana-mana di ruang kantor ini. Syukurlah bel cepat dibunyikan pegawai TU yang hampir tak pernah tersenyum itu. Sehingga aku bisa langsung menuju kelasku. Jam dinding menunjukkan pukul 12.00 siang. Gila! Sudah dari kemarin aku bilang pada petugas TU bahwa jam dinding itu perlu diganti baterainya, tapi masih belum juga digantinya. Ini masih pagi. Jelas-jelas warna kerucut besar yang kulihat tadi biru kekuningan karena tertimpa matahari pagi.

Aku tanggalkan tas di meja. Hanya kuambil sebuah buku teks dengan spidol dan satu tempat pensilku. Sebelum keluar pintu masih sempat kuberi senyuman petugas TU sambil menunjuk ke arah jam dinding yang detiknya sudah tewas dari kemarin. Namun seperti biasa, petugas TU itu hanya diam saja. Tersenyum pun tidak. Apalagi memberi alasan basa-basi, “maaf Bu, saya lupa membeli baterai baru.”

Aku heran, apa yang ada di kepala bapak kepala sekolah saat mempekerjakan petugas TU perempuan setengah baya yang tak pernah tersenyum itu. Aku merasa jangan-jangan ada kedekatan antara keduanya yang sengaja dirahasiakan. Sehingga petugas TU itu bisa lolos saringan untuk masuk ke sekolah ini.

Aduh, sial, mengapa jam pertamaku harus berada di kelas Lita si bongsor itu. Aku benar-benar tidak menyukai dengan pertanyaan-pertanyaan yang dia lontarkan itu. Seolah dia itu orang dewasa yang menyaru di tubuh anak-anak usia sekolah menengah pertama yang masih belasan tahun. Lebih baik jika dia bertanya, “apakah menjadi presiden itu perlu keahlian khusus?” dari pada dia bertanya, “mengapa saya belum pernah melihat suami ibu mengantar ke sekolah?”

Aku masuk ke dalam kelas yang paling gaduh. Sembilan B. Kelas dengan dominasi laki-laki. Tak hentinya mereka berkelahi satu dan yang lain. Bahkan tak malu-malu mereka saling gampar di depanku, gurunya ini. Namun anehnya aku tak merasa risau berhadapan dengan anak laki-laki yang nakalnya masya Allah ini. Biarpun mereka tawuran sepanjang hari, aku bersikap seperti biasa. Kuanggap ini adalah tabiat laki-laki pada umumnya.

Akan tetapi jauh berbeda bila diriku sudah berhadapan dengan Lita, si bongsor ini. Entah mengapa dia seperti seorang ancaman bagiku. Lebih baik jika perempuan dengan kerudung yang jarang rapi ini dikeluarkan dari kelas dari pada selalu saja membuat batinku tertekan di dalam.

“Ibu, sepertinya ada bekas merah di pipi ibu, muka ibu pucat. Seharusnya ibu istirahat saja,” Lita yang menyambutku di pintu kelas langsung bermanuver.

Untungnya kelas ramai luar biasa. Para anak lelaki saling melempar kertas yang dibentuk menjadi bola. Sebagiannya lagi bicara dan tertawa keras menceritakan cerita-cerita lucu yang mereka dapat dari internet. Sedangkan beberapa anak perempuan yang jumlahnya sedikit itu bercanda satu dan yang lain sambil menunjuk anak lelaki yang berada di belakang barisan mereka. Aku tahu yang mereka bicarakan. Pasti tentang anak laki-laki idaman.

“Lita! Ibu peringatkan! Ibu tidak suka kamu berkomentar tentang diri ibu secara personal! Mau ibu jatuh, tengkurap, atau jungkir balik, tidak usah kamu bertanya-tanya lagi!” ucapku dengan tegas. Namun kuyakin suaraku tidak terdengar oleh temannya yang lain.

Lita beringsut. Kutatap matanya dan dia takut. Kulihat air liur dia telan lewat kerongkongannya. Itu pertanda jika dia bisa mematuhiku untuk tidak mengintervensi tentang diriku lagi. Lalu perempuan bongsor yang badannya lebih besar dari sapi di rumahnya itu kembali ke tempat duduknya semula. Persis berhadapan dengan tempat meja guru.

Dulu pernah kupindah tempat duduk Lita ke belakang. Aku beralasan supaya teman-temannya yang ada di di belakang bisa memandang tulisan di papan tulis itu dengan jelas. Sebab punggungnya yang sebesar almari itu bisa menghalangi pandangan beberapa orang. Lita menurutiku. Dia pindah ke belakang. Kurasa dia tidak marah saat itu. Namun sehari kemudian Lita kembali ke tempat duduknya semula. Kali ini semua anak serempak menyahut. Mereka tidak suka berada di barisan paling depan. Mereka enjoy di belakang. Padahal semua guru di dunia tahu persis alasan mengapa murid lebih senang duduk di belakang.

Pagi ini kembali berangkat kerja dari arah kota. Aku masih mengagumi idolaku yang berdiri tegak kokoh di Barat itu. Aku sengaja memperlambat jalan sepeda motorku. Bukan karena jalanan naik turun ini licin karena semalam hujan membasahi. Namun karena aku ingin berlama-lama menatap idolaku sebongkah kerucut besar yang tak pernah lekang dimakan waktu, tak pernah letih meski sendiri, dan tak pernah lelah walau terus berdiri. Aku menyukai warnanya yang hijau sedikit tua. Kabut yang turun dari puncaknya menjadikan warnanya agak pekat. Kembali dingin menggugat.

Aku tahu, ada yang perih di sekitar punggung tanganku. Namun tak kuhiraukan itu. Gunung Arjuno itu telah berkata dari jauh padaku, “Cah Ayu, lihatlah diriku, setiap hari puluhan pendaki menginjak-injakku, tetapi aku tak pernah mengeluh. Oh, gigiku ngilu.”

Mataku langsung berkaca-kaca mendengar petuahnya. Aku sebenarnya tak berharap dia akan membisikkan kata-kata itu dengan lembut di telingaku. Sebab dapat memandangnya berdiri tegak saja sudah membuatku girang bukan kepalang.

Kembali ingatanku kembali ke dunia nyata setelah gang arah kiri itu membimbingku masuk. Menerobos gerbang sekolah setinggi badanku. Lalu memarkir sepeda motorku di bawah pohon mangga yang amat rindang. Pohon yang sejak aku bertugas di sekolah ini tidak pernah sekalipun mengeluarkan buahnya, meski bunganya setiap tahun muncul seperti cendawan dalam kelembaban.

Apakah diriku ini seperti pohon mangga yang terlalu rindang ini? Hingga waktu sepuluh tahun pun belum cukup untuk menumbuhkan kehidupan kecil dalam perutku. Suatu hari harus kutanyakan pada idolaku yang berdiri tegak menghijau itu mengapa kehidupanku ini belum muncul juga. Kupikir idolaku yang tak pernah mengedipkan mata itu akan langsung bisa menghubungi Tuhan dan bertanya demikian. Sedang antara aku dan Tuhan sepertinya tertutup tirai setebal tujuh selimut langit.

“Bu guru? Astaghfirullah, ada apa dengan tangannya? Saya ambilkan revanol atau kompres air dingin Bu, atau perban?” Lita si bongsor itu mempersoalkan luka bakar yang ada di punggung tanganku. Aku menepisnya. Kututupi luka menganga itu dengan tas. Ini hanya luka bakar biasa. Seperti terkena tetes lilin cair. Namun oleh Lita sudah menjadikan seolah berita terheboh sepanjang minggu ini di sekolah.

“Lita, ini bukan luka apa-apa, tidak usah kamu bingung seperti itu. lebih baik segera kamu masuk dalam kelas!” ujarku seperti biasa. Intonasi sedikit tegas.

Lita tak segera menuruti perkataanku. Dia masih penasaran dengan luka bakar di punggung tangan kiriku. Selalu saja anak perempuan ini tahu betul seluk beluk tubuhku. Padahal yang dia cium tadi adalah tangan kananku, mengapa musti dia mengerti keadaan tangan kiriku yang terluka.

“Ibu, lukanya harus diobati supaya tidak infeksi,” ucapnya lagi. Ekspresinya cemas. Bibir bawahnya dia gigit. Lalu samar-samar aku dapat mencium bau sapi dan merang yang dibakar dari bajunya. Aku maklum dengan banyak aroma anak-anak di sini yang tinggal serumah dengan sapi.

“Lita, kamu tidak dengar! Ibu suruh kamu masuk kelas!” Aku sedikit menghardiknya.

Aku langsung pergi. Meninggalkan Lita dengan beberapa teman-temannya yang masih berdiri di bawah pohon mandul itu. Astaga, mengapa keluar ungkapan itu dari dalam hatiku. Aku paling tidak suka kata itu. Aku takut dengan kehidupanku. Amit-amit, aku mengelus berulang pada perutku yang kecil.

Kembali aku duduk di ruang tamu kantor. Beberapa rekan guru sudah datang. Wajah mereka sumringah. Kau tahu mengapa para guru berwajah sumringah dari biasanya? Ada dua alasan mereka berwajah seperti itu, yang pertama adalah tanggal muda, sedang yang kedua tunjangan akan segera cair. Selepas itu kau akan melihat mereka akan kembali berwajah kaku. Belum soal murid-murid sekarang yang nakalnya masya Allah, belum lagi masalah keluarga yang tiada habisnya bila dibahas.

Bel rutinitas kembali berbunyi. Petugas TU yang pelit senyuman itu menekannya dengan amat kuat. Dia seakan berkata, “lebih baik kalian semua meninggalkan ruang ini untuk mengajar! Tunjangan sudah mau cair tapi tidak pernah memberiku bagian.”

Aku bergegas. Kutengok jam di dinding di atas papan pengumuman. Tuhan! Sudah pukul 13.00, aku menggelengkan kepala. Berapa sih harga sebuah baterai kecil? Ini tak sebanding dengan informasi yang jam itu berikan kepada kami semua lewat angka-angkanya. Memang benar petugas TU itu memakai jam tangan di pergelangannya. Sehingga dia bisa melihat waktu sesering yang dia suka. Sedangkan banyak guru sepertiku yang enggan memakai jam tangan. Apa sebentar-sebentar harus melihat HP? Rasanya tak etis benar di hadapan para murid bila HP sering-sering dikeluarkan untuk melihat waktu.

“Bu TU jamnya mati,” aku memberanikan diri bicara pada orang yang pelit senyuman itu. Sengaja kubuat intonasi yang paling pelan. Aku tahu menghadapi orang semacam TU ini harus penuh ketenangan.

Tak kusangka alisnya langsung bertaut. Mulutnya makin terkatup. Namun sebentar kemudian dia mengambil bungkusan sesuatu dari laci, lalu ditunjukkan dua bungkus baterai kecil yang masih tersegel.

“Saya sudah dua belas kali mengganti dengan baterai baru! Tapi jam itu tetap tak mau bergerak! Itu jam sudah rusak!” ujarnya membentak.

Astaga! Jika aku punya penyakit jantung, tentu aku langsung kejang-kejang di tempat. Untungnya aku kuat, sekuat idolaku sebongkah kerucut besar di luar sana. Aku membalasnya dengan senyuman dan langsung berlalu dari hadapannya. Rasanya tak perlu kuladeni petugas TU itu dengan bersilat lidah. Jabatanku sebagai guru lebih mulia dari pada dia yang hanya duduk manis di depan meja menunggu murid membayar iuran sekolah.

Kali ini apa lagi yang akan kudapati setelah berjalan menyusuri selasar kelas. Lita sengaja menguntitku dari belakang. Padahal dia tahu benar kalau pagi ini aku tak ada jam mengajar di kelasnya. Namun kulihat dia berlari-lari kecil ke arahku. Hmm, tak bisa kubiarkan. Kalau kepada petugas TU itu aku memang masih bisa bertahan, tetapi tidak pada muridku. Dia harus mematuhi tata tertib, harus disiplin. Dia sudah harus berada di kelasnya menunggu guru di jamnya belajarnya sekarang.

Aku membalikkan badan begitu mengetahui si bongsor ini kian dekat. “Lita, ibu sudah peringatkan …,” Namun tidak jadi kuteruskan kata-kata ingin menceramahinya di pagi ini. Gadis remaja ini mengulurkan sesuatu padaku. Aku yang tadinya bernafsu ingin memarahinya jadi luruh.

“Ini saya beli di warung ujung gang sana. Di UKS habis Bu,” ungkapnya. Dia meletakkan plester itu di tanganku yang terluka. Luka yang dari tadi kucoba kusembunyikan darinya.

“Maaf Bu, saya harus masuk kelas,” ucapnya buru-buru membalikkan badan. Aku bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih padanya. Goncangan lantai karena badannya berat sempat kurasakan. Aku terdiam. Mataku masih menatapnya hingga masuk ke dalam kelasnya. Suara ramai di segala penjuru kelas. Namun aku masih senyap. Kutahan seluruh ekspresi agar tidak keluar batas.

***

sewa mobil Malang

Gunung arjuno Gunung arjuno Gunung arjuno Gunung arjuno Gunung arjuno Gunung arjuno 

 

 Pagi sedingin ini tak membuat tubuhku menjadi sejuk. Dadaku bergolak. Dari tadi ingus sudah berseliweran dari hidungku. Sedang mataku pedih dan panas. Air yang tergenang di mataku ini terus saja ingin jatuh. Aku sudah tidak ingin bercerita tentang masalahku pada idola kerucut besar itu. Dia juga diam membisu. Mungkin dia tengah tertidur dan lupa bahwa fans beratnya setiap pagi berkendara sepeda motor menatapnya lekat-lekat.

Namun kali ini deraian air mata yang selalu kuhapus luput dari pandangan kerucut besar itu. Benar saja, idolaku bahkan tak pernah mengedipkan mata. Aku baru tersadar inilah resikonya mengidolakan sebuah gunung. Jika dia sudah tertidur rasanya enggan memedulikanku. Ah, bukankah sama juga halnya jika seandainya aku mengidolakan manusia. Apakah Elvie Sukaesih ratu dangdut itu mau membalasa suratku andai kukirim sebuah?

Kembali aku masuk gerbang sekolah. Mataku pedih, hidungku pedih. Ini adalah efek terlampau menahan perasaan yang meluap-luap ini. Bahkan satu lagi, kehidupan di perutku ini sungguh pedih. Aku langsung memegang perut kecil ini saat turun dari sepeda motor. Inilah kehidupan yang terasa perih itu. Rasanya seperti tertusuk benda runcing dan orang yang menusuknya diluar peri kemanusiaan.

“Ibu, jika ibu sakit pergilah ke mushola.” Lita keterlaluan mengejutkanku. Aku ingin segera berkomentar pada ucapannya itu. Bagaimana mungkin muridku yang baru berusia 15 tahun itu berani menasehatiku. Terlebih salah lagi. Orang sakit harusnya diberi nasehat ke dokter, tetapi dia menyuruhku pergi ke mushola.

Belum sempat aku berkomentar dia sudah meluncur pergi. Aku masih bertahan untuk tidak mengeluarkan ekspresi apapun dari tubuhku. Meskipun rasa sakit ini begitu hebat menyerang. Perih hatiku, perih perutku. Rasanya aku ingin ambruk di bawah pohon mangga yang mandul itu.

Namun tidak ada salahnya bila sekali ini aku turuti apa kata Lita. Dengan masih memegang perut aku menuju mushola. Biarlah sejenak kulupakan ruang kantor guru dengan petugas TU yang pelit senyuman. Pagi ini menjelang bel berdering kubasuh muka dan tangan, lalu masuk ke pintu mushola sekolah yang mungil ini.

Air amat dingin menyentuh kulit, tetapi tidak dingin ketika menyentuh hati. Aku masuk ke dalam mushola mungil itu dengan perasaan panas. Panas yang terlampau panas, hingga ingin meledak.

Lalu apakah pandanganku tidak salah? Lita ada di situ. Menggunakan mukena yang lusuh. Aku tahu itu adalah tubuhnya yang sebesar peliharaan ibunya di rumah. Seakan dia memang menungguku saat kuketahui dia sudah mengucapkan salam dari dua rakaat pertamanya.

Aku sungguh tak bisa lagi menahan segala ekspresi ini. Mungkin inilah jawaban Arjuno yang selalu kutanyakan kepadanya. Lewat mulut Lita dia mengatakan untuk menuju ke mushola menumpahkan segala ekspresi yang ada. Aku tak kuasa lagi atas tubuhku. Aku limbung. Kuseruduk Lita yang tengah duduk bersila. Kukeluarkan seluruh ekspresi yang kutahan. Biarlah ia jebol di pangkuan anak perempuan sebesar sapi ini. Tangisanku menjadi-jadi. Aku sudah tak peduli. Aku sudah tidak peduli andai petugas TU pelit senyuman itu memergokiku menangis di pangkuan seorang murid perempuan.

Sebab inilah baru kali pertama dalam sejarah persekolahan, ada seorang guru yang menangis kencang dalam pelukan seorang muridnya. Sekali lagi biarlah. Kau tahu, aku baru sadar kalau Lita muridku yang bongsor ini sangat perhatian pada gurunya. Ketika tanganku teriris sebenarnya luka itu akibat cambukan suamiku. Ketika pipiku memerah itu karena tamparan tangan suamiku. Ketika punggung tanganku terbakar, itu karena sundutan rokok suamiku. Namun semuanya kusembunyikan dari semua orang. Aku masih ingin terlihat kuat sekuat idolaku sebongkah kerucut besar itu.

Pagi ini aku sudah tak bisa sekuat Arjuno. Sebab suamiku telah menendang kehidupan di dalam perutku. Aku sudah tak bisa lagi menerima perlakuan ini semua. Terlalu pedih jika kupaksakan diri tetap dijadikan keset pembersih kaki. Pemberontakan mulai menyerbu seluruh tubuh.  Aku sudah bersabar. Sudah terlalu amat bersabar. Arjuno yang berdiri tegak itu kuyakin juga sangat sabar. Tapi jangan pernah mengharap dia akan meletus untuk kedua kalinya di muka bumi ini.

***

sewa mobil Malang

Gunung arjuno Gunung arjuno Gunung arjuno Gunung arjuno Gunung arjuno Gunung arjuno 

Dua bulan kemudian.

Kusewa sebuah rumah dekat sekolahan. Juga dekat dengan rumah Lita. Kini perempuan remaja itu kuanggap anak sendiri. Dia lebih banyak berada di rumahku dari pada di rumah otang tua kandungnya. Aku juga mulai paham dengan selera makannya yang besar seperti kuli. Terkadang nasi yang sedianya untuk dua orang dia makan sendiri. Namun aku suka dengan perhatian dan sayangnya padaku. Seluruh sayuran hingga tomat dan cabe tak pernah kubeli. Lita selalu membawa dari kebunnya.

Aku juga sudah amat terbiasa dengan aroma sapi dengan jerami yang dibakar didalamnya untuk mengusir lalat yang mencoba mengganggu peliharaan mereka. Hal yang dulu terasa aneh. Sekarang begitu lazimnya aroma itu pada rumah di kiri dan kanan kediamanku.

Aku menempati sebuah rumah yang menghadap Barat sehingga idolaku yang menjulang ke angkasa dapat kulihat setiap saat. Aku masih sepertinya tegak berdiri tanpa ada keluh kesah.

Sudah kulakukan pemberontakan. Aku berpisah dengan suamiku. Kuutus seorang pengacara untuk mengurus semuanya sedangkan diriku berada damai di lereng Arjuno sebelah Timur ini untuk terus bertahan. Mungkin suamiku tidak menyangka bahwa aku pun bisa sangat marah. Biar letusannya menjadi catatan tersendiri baginya agar tak lagi memperlakukan orang seenaknya. 

Kau tahu, gunung Arjuno dianggap sebagai gunung paling sabar oleh banyak orang. Namun carilah di Wikipedia, kau akan menemukan bahwa gunung Arjuno pernah meletus entah di tahun berapa karena belum ada yang dapat memastikannya. Semoga dia tidak marah untuk kedua kalinya.

***

sewa mobil Malang

Gunung arjuno Gunung arjuno Gunung arjuno Gunung arjuno Gunung arjuno Gunung arjuno 

Gunung arjuno Gunung arjuno Gunung arjuno Gunung arjuno Gunung arjuno Gunung arjuno 

Terimakasih telah mengunjungi website kami

salam TRANSNADA sewa mobil Malang

 

 

 

 

 

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Call Now
WhatsApp chat WhatsApp kami