Sewa mobil malang RAMAH, MURAH dan NYAMAN

cerita unik indonesia “EKSEKUSI”


Cerita Unik Indonesia “EKSEKUSI”

Oleh : Redhite kurniawan

cerita unik indonesia

Jika ada hujan atau angin, tak ada yang boleh mundur. Begitulah yang koordinator lapangan pesan pada semua manusia yang hadir di mulut gang kecil ini. Kami yang berjumlah ratusan berdesakan memenuhi mulut gang sampai meluber ke jalanan. Semua manusia di kampung kecil ini (kecuali penghianat), anak-anak, ibu-ibu, dan orang-orang tua siap menghadang.

Kampung kami akan digusur. Tepatnya seluruh penduduk gang buntu yang ada di bantaran sungai yang airnya dangkal ini. Surat itu sudah tiba tiga hari lalu. Ultimatum diberikan dengan tanda seru besar bahwa kami harus pergi atau berhadapan dengan eksekutor. Pembicaraan tak menemui titik temu. Kami bertahan di sini. Di tanah nenek moyang kami. Moyang kami yang membangun kampung ini. Di pinggir sungai. Seperti halnya sejarah kota lain yang kebanyakan bermula dari sebuah pinggir sungai.

Hanya beberapa penghianat yang mau meninggalkan kampung ini. Mereka itu sudah punya pekerjaan yang bagus di luar sana. Meninggalkan kampung ini tidak masalah hanya dengan beberapa genggaman rupiah. Namun kami bertahan. Jika dipindah ke tempat yang lebih jauh kami seperti meninggalkan warisan terbesar yang diberikan moyang kami. Sungai dan kampung ini.

Kampung terpecah menjadi dua. Belahan kiri memutuskan menerima segala bentuk kompensasi, sedang kami yang ada di belahan kanan tetap bertahan. Sekali lagi kami tegaskan bertahan! untuk segala hak-hak kami.

Sebenarnya keluarga pak Luluk yang penghianat itu sudah membujukku untuk menuruti apa yang dikehendaki petugas. Dia menyuruhku untuk mengikutinya menandatangani surat itu. Lalu pindah ke tempat yang jauh dari kampung ini. Bapak beranak tiga yang bekerja sebagai buruh pabrik itu mengatakan tempat baru yang disediakan jauh lebih bagus. Lebih bersih, lebih nyaman.

Namun aku diam. Aku bimbang. Satu-satunya alasan aku bertahan hanya karena emak. Dia orang paling emosional yang paling kukenal. Belum apa-apa dia sudah mewek duluan. Dia bilang rumah kami ini bergelimang dengan keringat dan air mata nenek dan kakek. Pantang baginya untuk pergi dari sini.

Aku kembali sadar. Kulihat sekeliling. Wajah-wajah garang dan dibakar luapan emosi. Ditambah dengan orasi kepala kampung yang bergetar sembari menyebut nama Tuhan di atas sana untuk meminta pertolongan. Beberapa kali kepala kampung menyemprotkan ludahnya pada toa. Sesekali dia menangis. Tanah ini sudah dihuni nenek moyang kami selama seabad. Namun hari ini kami harus melepaskannya.

”Kamu seharusnya tidak berada di sini.” Guru mengajiku almarhum tiba-tiba muncul tanpa diundang. Seperti biasa dia memakai peci hitam dengan baju takwa lusuh putihnya.

Aku yang mulai tidak suka dengan suasana yang gaduh, semrawut, dan hiruk pikuk mulai membetulkan apa yang guruku katakan. Mungkin ada benarnya para petugas itu saat pertemuan. Mereka ingin agar sungai diperlebar. Supaya banjir di kota ini bisa dihentikan. Para petugas membujuk kami untuk pindah ke tempat yang mereka sediakan. Namun aku tak kuasa ajakan kelompok kanan yang terus menggelorakan penindasan. Mereka sangat bersemangat membakar amarah semua manusia yang hadir di tempat ini. Bahkan mendung yang terus bergelayut di angkasa itu tak mampu membuat hati mereka teduh.

Heranku lagi, dalam suasana yang ramai dan semrawut seperti ini guru mengajiku almarhum bisa hadir di dekatku dan berkata, ”pasrah kepada Allah kalau ini jalan yang terbaik. Tentu kamu tidak bisa menyaksikan ada korban yang berjatuhan. Kamu tidak akan bisa melihat darah bercucuran.”

Aku menutup kuping rapat-rapat. Aku tidak mau mendengar petuahnya. Walaupun tidak bisa kubayangkan para ibu berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Para bayi dalam gendongan berputus asa, dan para bapak digebuki hingga berdarah-darah. Mengapa aku tidak menyerah saja. Toh, kami masih dapat hidup damai dengan rumah baru yang mungkin lebih baik sari sebelumnya. Guru mengajiku dulu selalu benar. Kini kurasa dia juga benar.

Langkahku berat. Mungkin aku harus membelot. Menuju haluan kelompok kiri yang sudah menandatangani perjanjian dengan para petugas itu. Aku ingin hidup tenang.

”Mau kemana?” ucapnya sedikit berteriak. Aku menoleh kepada suara perempuan yang terdengar tidak asing. Betapa kagetnya saat mengetahui itu adalah Siti. Berhimpitan dengan orang-orang lainnya. Mencoba menarik tanganku untuk mendekatinya. Tentu saja aku menurutinya. Setruman dari sentuhan tangannya itu serasa lengket. Bukan hanya di tanganku tapi juga di hatiku. Jantungku yang dari tadi berdetak kencang semakin bertambah kencang. Apalagi Siti menggenggam pergelanganku erat dan menghentakku untuk semakin mendekatinya.

Siti anak kepala kampung. Dia gadis termanis di gang buntu ini. Beberapa waktu lalu aku menggoda untuk menikahinya. Dia menjawab dengan masam bahwa dirinya sudah ada yang punya. Namun aku masih bertahan untuk tetap menunggunya. Aku selalu bergetar melihat wajah dan senyum gadis berkerudung itu.

Dari jarak yang amat dekat, aku sanggup mencium harum parfum flora yang digunakannya. Aku sudah tak bisa lagi memikirkan orang-orang yang ribut di sekelilingku. Sebab jarakku dengan Siti yang memakai kaos lengan panjang biru dan balutan kerudungnya yang berwarna lebih cerah ini hanya 30 cm atau kurang dari itu.

”Mau kemana?” Perempuan ini mengulanginya. Namun aku tak seberapa jelas mendengarnya di antara teriakan-teriakan orasi yang bergantian membahana.

Tiba-tiba saja perempuan itu mencondongkan mukanya ke mukaku secara gerakan lambat. Perlahan-lahan dan makin merapatkan mukanya padaku. Ah, aku sudah mau pingsan. Kurasa mulutnya yang tipis mungil dan berwarna alami itu mau mendarat di pipiku atau di mana saja. Namun ternyata mulutnya mendekat ke telinga ini dan membisikkan sesuatu.

”Jangan kemana-mana, kami semua butuh bantuanmu untuk menghadang mereka yang mau merampas milik kita,” kata Siti.

Aku mematung diantara hiruk pikuk manusia. Bukan hanya terpaku dengan bisikannya namun juga jarak yang amat dekat bagi kami berdua.

”Bukan muhrim!” bayangan guru mengajiku sewaktu kecil almarhum itu membentakku berulang-ulang. Namun kukatakan dalam hati, ”Maaf Ustadz, ini urusan anak muda!”

Sekarang Siti membimbingku untuk maju ke depan. Hampir menuju pada orator yang terus meluncurkan kata-kata melengking mereka. Mengetahui ada Siti dan diriku, kepala kampung dan lainnya tersenyum. Namun orasi masih saja diteruskan. Mereka tetap dalam sorakan gegap gempita. Kali ini terkadang ada pekikan merdeka, bukan hanya takbir. Benar-benar semua orang ingin merdeka.

Saat yang paling mendebarkan tiba. Meskipun perasaan hatiku sudah berdebaran sejak Siti yang berada di antara kerumunan orang ini berani memperlakukan diriku secara istimewa. Biasanya dia hanya berwajah masam saat melihatku. Namun kini entah apa yang membuatnya begitu semanis madu.

Kini dari arah utara iring-iringan mobil mulai terlihat datang melambat. Sepasukan beratribut lengkap jalan tegap. Penuh semangat untuk membabat. Sebuah mobil penghancur tembok berada di barisan sepasukan beratribut tersebut.

Kampung ini rupanya mau diratakan. Ratusan pasang mata dari golongan penghadang yang akan mempertahankan kampung ini menatap mereka yang berbaris. Keadaan sunyi senyap saat pasukan bertameng itu menghentikan langkah dan membentuk formasi untuk perang. Tak ada teriakan dan sorakan. Tak ada takbir dan pekik merdeka. Mereka, para penghadang, terpana dengan musuh yang akan mereka halangi untuk masuk ke kampung.

Keadaan mencekam. Ditambah lagi dengan mendung yang sudah menggelayut lama itu pun akhirnya runtuh. Awalnya hanya satu dua titik. Tetapi dalam hitungan detik guyuran hujan bertambah parah. Sementara sepasukan yang datang melambat itu sudah hampir melangkahkan kakinya yang tegap untuk sampai di tujuan. Menjebol barikade barisan penghalang.

Ternyata bukannya golongan penghadang ini memacu adrenalin mereka untuk menggempur musuh. Namun mereka lari tunggang langgang meninggalkan area. Mereka mencair seperti garam yang terkena hujan. Mereka jadi lembek seperti kerupuk yang tersiram air dari atas. Plus ketakutan juga melihat pasukan yang beratribut lengkap. Semuanya kocar-kacir diiringi hujan deras yang mengguyur semua orang. Kepala kampung ikut lari menyelamatkan diri dengan menyeret toa, mikrophone dan alat pengeras suara yang berbentuk kubus hitam. Podium mereka tinggalkan begitu saja. Suasana makin lengang. Hanya kerasnya hujan yang berjatuhan ke tanah terdengar di telinga.

Hujan ini memang amat ditakutkan. Ini semacam hujan acid dari racun kota. Warnanya keruh dan jangan coba kau meminumnya. Ini hujan racun yang membuat lambung hancur. Polusi kota membuat hujan seperti ini menjadi lumrah setiap saat. Lalu kami memang harus menghindar.

Mereka semua telah lupa dengan perintah ketua koordinator lapangan yang mengatakan kalau ada hujan dan angin tak boleh ada yang mundur. Kalau pasukan datang, kami harus berani bertempur. Namun semua nyali telah menciut. Mereka semua mencari tempat berteduh di dalam kampung.

Kini eksekusi makin terbuka. Juru sita yang siap berhujan-hujan masih berbaris membentuk pola berjajar. Mereka basah oleh air hujan yang deras. Lalu menetes ke baju. Lalu membasahi celana. Namun tak ada satu pun sepasukan itu yang melap wajah mereka yang tersiram air hujan. Tak ada satupun yang menghiraukan hujan yang melanda. Semua tetap bergerak maju dengan wajah garang. Sedang dari dalam kampung, semua orang hanya mampu melihat tanpa ada perlawanan.

”Majulah sayang, lawan mereka sampai titik darah penghabisan, Aku mendukung perjuangan ini!” bisik Siti dari balik punggungku. Aku mendidih mendengar kalimat Siti. Dia bahkan menyebutku sayang.

Aku yang dari tadi bersembunyi dari hujan dan berteduh di emper depan warung kini menyadari kalau diriku benar-benar dibutuhkan. Harus ada seseorang dengan spirit heroik untuk menghentikan sepasukan ini. Apalagi semangat ini dinyalakan oleh perempuan yang membuatku istimewa pada hari ini.

Sementara sepasukan beratribut lengkap itu sekarang berganti formasi. Mereka mundur ke belakang dan mobil penghancur itu yang bergerak ke depan. Derunya yang masih terdengar nyata dalam guyuran hujan. Sedangkan tangan kendaraan besi itu yang siap mengambil papan nama kampung yang terletak di depan gang. Tangannya yang berbentuk seperti belalai panjang dari besi itu sudah mengangkat ke angkasa. Lalu dengan pelan tapi pasti akan menghunjam ke papan nama kampung. Kemudian akan mencabut papan nama itu sampai ke akar-akarnya. Maka akan hilanglah nama kampung ini.

Aku memberanikan nyali untuk melawan hujan dan menghadang kendaraan besar itu. Biarpun semua orang sudah ciut, aku tak boleh mengkerut. ”Merdeka!” kukepalkan tangan. Bibir bergetar dan gigi-gerigi saling berpadu menahan dinginnya hujan yang besar dan membekukan tulang. Aku tak peduli dengan segala dampak air hujan ini di tubuhku. Aku harus tetap menyambut mereka. Apalagi ketika saat menoleh ke belakang Siti bertepuk tangan, yang kemudian dilanjutkan oleh semua orang.

Jadi aku sekarang maju sendiri. Berdiri tepat di depan kendaraan penghancur. Aku berteriak agar mereka semua menghentikan langkah. Namun suaraku kalah dengan air hujan.

“Stop! Jangan mendekat lagi!” aku berteriak garang.

Rupanya kendaraan besar dengan tangan besinya yang sudah mau dihunjamkan pada papan nama kampung itu berhenti persis hanya satu langkah di depanku. Sepasukan beratribut kini menghalauku.

”Minggir! Minggir!” Beberapa orang menyeretku agar menyingkir dari jalan yang akan dilalui kendaraan besar itu.

”Tidak! Aku tak mau pergi! Kalian yang minggat dari sini!” aku tak mau beranjak walau empat orang yang posturnya lebih tinggi dariku itu menarikku paksa. Aku berontak. Dengan kekuatan yang kupaksakan aku berhasil lepas dari orang-orang ini.

Dan tanpa pikir panjang aku menaiki kendaraan besar itu dari arah depan. Meloncat. Bergelantungan. Meloncat lagi. Lalu sampailah aku berada di kap atas mobil ini.

”Bodoh ini orang! Mau mati rupanya dia!” Beberapa orang mencaciku.

Sudah terlanjur. Aku sudah naik ke atas mobil ini dan mengemban tugas suci untuk mempertahankan kampung. Aku mulai seperti orang kesetanan. Entah sudah berapa kali umpatan dan makian serta sumpah serapah apa yang kuucapkan pada mereka yang ada di bawahku itu. Aku hanya merasa darahku sudah di ubun-ubun.

”Kalau kalian tak mau pergi, aku akan telanjang!” tantangku. Aku pikir mereka semua akan berpikir ulang untuk meneruskan eksekusi kalau melihat seorang laki-laki telanjang di depan banyak orang di hari hujan macam ini. Namun aku hanya melihat sepasukan itu tertawa terbahak-bahak mendengar ancamanku.

Dadaku bergemuruh dibuatnya. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Dikiranya ini hanya gertak sambal untuk menakut-nakuti anak kecil. Aku tidak takut dengan apa yang akan kulakukan.

Dengan tenaga yang tersisa kusobek bajuku. Aku menggeram. Meraung-raung. Dan mereka belum juga mendengar ancamanku. Sekarang aku melucuti celana panjangku sambil tetap berteriak-teriak menyuruh mereka pergi. Tapi mereka tak juga beranjak.

Dalam keadaan hampir bugil, sebuah bayangan muncul di depanku. Aku melihat melihat guru mengajiku almarhum datang, dia mengomel tak karuan. Dan menunjuk-nunjuk badanku yang basah. ”Ustadz, aku mohon maaf. Aku harus melakukannya! Aku ingin mereka semua pergi!” aku memelas pada guru mengajiku almarhum sambil berurai air mata.

Lalu aku betul-betul kalap. Aku menggengam kuat celana dalamku. Aku mau merobek penutup auratku. Dalam sekilas penglihatanku, hujan rasanya mau berhenti. Semua orang bertepuk tangan menyemangati. Dan kulihat dari balik tetesan hujan Siti memberikan ciuman jauh sambil meniupkan cintanya ke arahku. Kurasa perjuanganku ini didukung oleh banyak orang. Namun mendadak sebuah pentungan melaju secepat peluru dan menghantam pelipisku. Aku ambruk.

***

cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia

 

Aku hanya ingat Siti dengan gerakan lambat. Cinta yang ia tiupkan dari kedua telapak tangannya yang terbuka itu menusuk dan bersarang di jantungku. Kenapa baru sekarang dia melakukan itu. Sedangkan dari dulu dia hanya tak acuh, diam, dan senyap di hari-hariku. Saat aku begitu merindu.

”Jo, Karjo…. bangun!” lengkingan suara itu mengejutkan diriku.

Aku terjaga. Oh, ini jangan hanya mimpi! Jangan hanya mimpi! Aku sudah menjadi pahlawan untuk semua orang, juga untuk Sitiku tercinta. Kukedip-kedipkan mata. Badanku yang terbaring di atas kasur rasanya remuk. Aku letih sekali hari ini.

”Mak, apa sudah subuh? Pagi ini aku tak mencari udang dulu di sungai. Rasanya badanku sakit semua,” ujarku tertatih-tatih.

”Siapa suruh kau telanjang di atas mobil, gendeng! Kamu sama tololnya dengan mobil itu! Lihat kepalamu sampai dibebat perban,” sambung emak.

Emakku orang paling emosional. Aku yakin saat melihatku tidak sadar dia pasti meraung-raung dalam tangisan. Namun sewaktu sadar dia malah memarahiku habis-habisan.

Aku terkejut dalam sadar. Siti yang memberikan cium jauh ternyata bukan mimpi. Berarti kemarin adalah hal paling luar biasa indah yang ada dalam hidupku. Aku memalingkan badan ke samping. Masih tetap dengan senyum terkembang. Namun kepalaku sakit. Aku merabanya. Ada perban yang membalut keningku.

”Sudah, hari ini pak mantri menyuruhmu untuk istirahat total. Kamu ini sempat pingsan kemarin siang,” ungkap ibu yang meninggalkanku sendirian.

Aku menghirup aroma segar kopi hitam di samping meja. Aku meraihnya. Dalam kehangatan kenikmatan sruputannya itu kubayangkan cinta. Kepalaku memang masih pening tetapi hatiku penuh dengan bunga mawar. Seikat bunga cintaku dulu boleh hancur berkeping-keping. Namun kini seikat bunga cintaku telah tertanam di hati. Akarnya kokoh menyebar. Daunnya lebat. Bunga-bunganya bermekaran dengan pesona yang teramat indah.

Aku ingin masuk ke rumah kepala kampung. Menemui cintaku. Bercerita tentang usaha heroikku yang tidak kuketahui kelanjutannya. Apakah kampung kini sudah rata dengan tanah. Ataukah papan nama kampung sudah diganti dengan tulisan; telah disegel negara.

Kepalaku ini memang berat. Tulang dan ototku juga lemas. Persendianku rasanya mau lepas. Bahkan jalanku terhuyung-huyung seperti orang mabuk saat kucoba melangkah keluar kamar. Apa memang seperti ini orang yang sedang dilanda mabuk asmara. Berjalan pun sempoyongan.

Siang itu tidak kusangka kedatangan tamu. Pak Luluk yang sibuk menggalang blok kirinya itu menjengukku. Membawakan satu plastik jeruk siam. Aku sebenarnya agak malas menemuinya. Paling dia datang menemuiku untuk sekali lagi membujuknya agar aku ikut hengkang dari kampung. Seharusnya dia tahu kalau aku sudah bergabung dengan blok kanan bersama Sitiku. Aku sudah melakukan aksi yang pantas dalam membela blok kanan.      ”Hai, bagaimana kabarmu? Kamu sudah baik?” Tanya lelaki sedikit beruban yang hari ini memakai baju panjang bermotif batik pesisiran itu sambil tersenyum.

”Baik,” jawabku singkat.

Pak Luluk memandangku dalam-dalam. Tapi aku mencoba menebak tatapannya yang aneh tersebut dengan bunyi dalam hati wanita itu kira-kira seperti ini; mengapa aku disuguhi kopi oleh emakmu padahal kau tahu aku tidak suka kopi jenis apapun dan merk apapun.

“Pak Luluk mau ganti minuman?” tanyaku.

”Tidak apa-apa,” jawab lelaki ini dengan cepat.

”Lalu?” tanyaku.

Pak Luluk menyodorkan surat kabar hari ini padaku. Dia menunjuk sebuah berita yang ada di situ. Dengan isyarat telunjuknya, aku disuruhnya membaca dengan cepat. Aku menerimanya dengan berbagai tanda tanya besar.

“Hai, apa kamu sudah kehilangan akal? Lihat foto di situ. Aku ini kasihan dengan dirimu. Siapa yang menyuruhmu untuk melakukan ini?” Tanya Pak Luluk penuh curiga.

Aku tak menjawab. Aku hanya memandang foto di koran itu. Seorang pria yang bertubuh pendek kecil berdiri di atap mobil petentang-petenteng. Dan yang lebih mengerikan dia bertelanjang dan hanya menggunakan celana dalam. Menjijikkan sekali. Mau muntah aku melihatnya.

“Itu kamu! Baca judulnya. Gara-gara orang tak waras, eksekusi gagal dilaksanakan!” Seru Pak Luluk. Aku terkesima. Rasanya sama sekali tidak dapat dipercaya bahwa itu adalah berita tentang kejadian di kampung kemarin. Aku malu. Malu sekali. Aku menutup mataku. Tapi kubuka lagi untuk membaca berita dari foto yang tertera itu.

Pak Luluk masih memandangku dengan tatapannya yang amat tajam. “Kubilang, pasti ada yang menyuruhmu untuk melakukannya? Benar?”

Aku menggeleng.

“Jangan bohong! Apakah Siti? Ayolah, aku ini sudah tahu kalau dirimu suka dengan anak kepala kampung itu,” selidik Pak Luluk.

“Tidak, Siti hanya menyuruhku untuk menghadang mereka yang mau menghancurkan kampung ketika semua orang berteduh di sana. Lalu aku maju ke depan dan pokoknya aku ingin agar mereka pergi. Itu saja!” Ungkapku terbata-bata.

“Kamu memang berhasil menghalau mereka. Namun kemungkinan satu bulan ke depan ada eksekusi lanjutan. Kamu sudah sukses diperalat oleh kepala kampung dan orang-orangnya.” Pak Luluk mengatakan dengan luapan nada yang tinggi.

Aku tertunduk. Aku tetap ingin menjadi diriku. Namun, ah, kurasa pak Luluk juga punya kepentingan. Dia ingin agar aku mengikutinya sebagai penghianat. Sedangkan kini aku di pihak yang berseberangan. Aku harus menutup rapat lubang telinga dengan kedua tanganku ini untuk tak mendengar subhat-subhat darinya.

”Hai, kamu tahu kalau Siti itu berkomplot dengan kepala kampung untuk menjadikanmu sebagai tameng. Dia sama sekali tak mencintaimu. Kuulangi sekali lagi, Siti sama sekali tak mencintaimu.” Pak Luluk tetap mengoceh. Tapi aku sudah membuat semacam pagar di hatiku bahwa apa yang dikatakan wanita beranak tiga itu tidak benar.

Hampir satu jam Pak Luluk bersamaku. Memberikan ceramahnya yang berputar-putar soal konspirasi. Lalu aku semakin pening dibuatnya. Lelaki berkumis ini benar-benar tak mengerti kalau pelipisku yang terluka ini cenut-cenut rasanya. Aku ingin tidur. Aku tak mau mendengar ocehannya. Senyuman Siti masih menari-nari di memoriku. Hanya itu saja yang ingin kuimpikan saat ini. Bukan luapan kejengkelan pak Luluk pada orang kampung yang menuduhnya sebagai penghianat. Padahal dia merasa apa yang diperbuatnya amat benar. Demi kemaslahatan umat. Kebaikan warga kampung dan anak-anak. Seharusnya kami mau menandatangani surat kompensasi itu.

Sampai akhirnya aku pun beralasan kalau pak mantri yang memeriksaku mengharuskanku untuk istirahat. Pak Luluk agaknya tahu juga keluhanku, kemudian pulang dengan tatapan anehnya. Sebuah petuah dia ucapkan sebelum pergi, ”Hai, kamu pegang kata-kataku ini. Selama masih ada waktu kamu tandatangani surat itu. Jangan lagi dekati Siti! Dia tak pernah benar-benar menginginkanmu!”

Mana mungkin aku menjauhi Siti kalau sekarang dia mendekat padaku. Tangannya yang menyentuh kulit pergelangan tanganku ini pun masih terasa demikian lembut. Aku benar-benar rindu ingin bertemu. Besok waktu yang kutunggu, namun jam rupanya tak cepat berputar seperti yang kuharapkan. Aku amat ingin menemui Sitiku.

***

cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia

 

Saat yang kunanti akhirnya tiba. Sosok Siti sudah kutemukan di depan pintu rumahnya. Memakai baju baru berwarna gading. Aksesoris bros berbentuk bunga dari logam menempel di dada kirinya itu yang menonjol dari seluruh penampilannya kali ini. Dia masih seperti saat aku bertemu dulu. Tetap cantik tak terkira.

Namun apa yang kuharapkan banyak darinya ternyata percuma. Sama seperti hari yang sudah-sudah. Siti hanya berwajah masam tanpa bicara. Tanpa menoleh atau memberikan senyum sedikit pun kepadaku. Apa sebenarnya yang terjadi dengan perempuan itu? Sementara dalam aksi kemarin dia berani memegang pergelangan tanganku dan memberikan ciuman jauhnya untukku.

Asmara yang bergolak ini membuat otakku kembali terbalik. Aku tak bisa bicara apa-apa di depannya. Aku gugup. Dadaku bergetar kencang. Lalu aku menyerah dengan ketidakberdayaanku di depannya. Aku juga kembali untuk memilih diam. Sudahlah, meski dia tak melihatku, tak menoleh ke arahku, dan tak tersenyum padaku, itu tak mengapa. Asalkan hari ini aku masih bisa menatapnya, aku sudah bisa merasakan kebahagiaan di sini, di dadaku.

Saat di warung kopi, semua pembicaraan masih sama. Semuanya seputar eksekusi yang tak jadi dilaksanakan. Semua tentangku yang dianggap pahlawan walaupun dengan embel-embel yang tak menyenangkan. Pahlawan kesurupan. Orang gila. Itu yang orang-orang katakan. Semua orang bercerita dan tertawa dengan terbahak-bahak, cekikikan, juga cemoohan. Lalu setelah berbincang semua mata memandangku. Setelahnya tertawa lagi. Apa yang sebenarnya mereka tertawakan. Lama-lama aku jengah sendiri melihat ulah mereka semua.

Nasib baik berpihak padaku. Siti datang ke warung itu untuk membeli gula dan teh. Aku masih memandangnya sama. Masam tanpa ekspresi. Namun aku tahu dia sedikit melirikku yang duduk dengan segelas kopi hitam yang sudah hampir hilang setengah.

”Siti, boleh kita bicara,” aku meyapanya. Aku sudah tak tahan lagi dengan pikiran dan letupan dada yang menyiksa ini. Aku ingin bicara pada Sitiku. Aku sudah amat rindu untuk melakukan hal yang sama seperti kejadian sebelum aksiku dulu.

”Siti…,” aku kembali berucap. Namun apa yang perempuan berhidung mancung itu lakukan. Dia tak menoleh ke arahku. Aku hanya dianggapnya sebongkah batu. Perempuan itu cepat-cepat berlalu. Aku mengejarnya.

”Siti….,” aku memegang tangan perempuan ini di tepi jalan. Gerakanku sama seperti saat tangannya memegang pergelanganku waktu peristiwa eksekusi tempo hari itu.

”Jangan sentuh tanganku lagi, atau aku akan berteriak kencang kalau di sini ada penjahat.” Hardik perempuan ini dengan matanya yang sedikit melotot dan alisnya yang bertaut. Sedangkan mulutnya geram.

Aku terkejut dan mundur ke belakang. Sebenarnya apa yang aku lakukan hingga dia tega menyamakanku dengan penjahat?

“Aku sayang sama kamu, Siti.” Aku memejamkan mata. Akhirnya kalimat yang susah sekali kukeluarkan itu meletus juga.

”Tapi aku tidak  suka denganmu, Karjo. Keluarga saya juga tidak suka denganmu, Jo. Kamu tidak menyadarinya?” Perempuan ini berkata tegas. Matanya menghadap lurus ke mataku.

”Lalu mengapa kamu me…me…,” aku bingung akan mengucapkan apa. Aku hanya bingung dengan ini semua.

”Ya, kami tidak mau pindah. Kami lihat kamu sudah dekat dengan Pak Luluk dan para penghianat itu. Kami hanya ingin bantuanmu agar eksekusi gagal. Kamu berhasil, Jo. Sayangnya hanya untuk sebulan saja. Kalau kamu mau menandatangani surat kompensasi, maka pergilah dengan emakmu dari kampung ini!” Sambung Siti cepat dan tegas.

Dalam beberapa detik setelah mata, mulut, dan kata-katanya yang berhamburan itu keluar, aku baru sadar kalau perempuan di depanku yang biasanya diam, lemah lembut, berhati bak malaikat ternyata seorang setan.

Siti yang selama ini diam telah berkata. Siti yang dalam hitungan hari kemarin masih membisikkan kata yang mampu membuatku merinding. Siti yang memberikan ciuman jauhnya. Siti yang kedatangannya seperti dewi kayangan. Ternyata Sitiku adalah seorang yang amat tega. Memperalat diriku yang baik hati ini demi kepentingannya.

Aku diam tegak di jalanan. Tak lagi mataku menatap Siti yang berlalu dengan cepat. Aku tak kan menangis meski hatiku teriris. Menjadi pecahan-pecahan yang amat lembut. Semacam pasir. Lalu pasir itu tertiup angin dan menghilang. Hatiku kini benar-benar menghilang.

Lamat-lamat suara guru mengajiku yang almarhum itu berkata, ”berjuang harus ikhlas!”

***

cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia cerita unik indonesia

Terimakasih telah mengunjungi website kami

salam TRANSNADA sewa mobil Malang

sewa mobil di malang sewa mobil murah malang rental mobil malang sewa mobil di malang sewa mobil murah malang rental mobil malang sewa mobil di malang rental mobil malang murah

 

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Call Now
WhatsApp chat WhatsApp kami