Sewa mobil malang RAMAH, MURAH dan NYAMAN

Cerita seru “BERDIRI MENGGAPAI HARI”


Cerita seru “BERDIRI MENGGAPAI HARI”

oleh : Redite Kurniawan

cerita seru

Lima hari di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soegiri Lamongan ini terasa bagai sudah dua bulan berjalan. Lantai, tembok, atap dan kamar mandinya sudah melekat dengan keseharian. Jam enam sampai delapan pagi seluruh ruangan dibersihkan. Semua pengantar diharuskan keluar. Pukul sembilan dokter mulai memeriksa pasiennya didampingi suster-susternya. Kabar lainnya hanya menunggu dari para perawat yang datang bergantian memeriksa denyut nadi dan tekanan darah, atau mengganti botol infuse yang akan habis.

Belum ada tanda-tanda bapak segera sadar. Matanya terpejam, sesekali terbuka. Tidak juga ada fonem yang dia keluarkan lewat mulutnya. Tangan dan kaki kanannya benar-benar hampir mati. Lalu aku pun memiliki perasaan yang sama. Hampir mati dengan semua ini.

Ketika akan mengambil obat di apotik aku berjumpa dengan Bu Parti, tetanggaku yang menjadi perawat di rumah sakit ini. Berbalut seragam putih-putih, ibu dua anak ini datang menghampiriku. Sesaat setelah aku keluar dari apotek untuk mengambil obat.

“Mas, yang sabar ya,” ucapnya lirih penuh perasaan dan penuh kehati-hatian. Aku mengangguk pelan. Sejak bapak dirawat kalimat itu yang paling sering aku dengar. Kira-kira sudah delapan puluh tujuh kali kata yang sama itu terlontar dari mulut yang satu ke mulut yang lain. Namun yang paling tidak suka dengan kata itu adalah ibuku. Ya, ibu bukan bertambah lapang saat banyak orang bilang sabar. Ibu malah merasakan keharuan. Sapu tangan yang dia pegang sudah beberapa kali ia peras.

“Pak Tik terkena stroke, kemungkinan kalau sudah sembuh juga tak akan bisa lagi sempurna seperti dulu,” lanjut Bu Parti. Rupanya tadi itu adalah kalimat pembuka. Dan sekarang ini adalah inti dari pembicaraannya. Tentu saja apa yang dikatakan oleh Bu Parti ini membuatku ternganga. Aku tak percaya, apa maksudnya bapak tidak bisa kembali pulih.

“Bagaimana, Bu?” aku mencoba mengoreksi tentang perkataan Bu Parti.

“Begini, Mas. Kelihatannya dari hasil pemeriksaan, Pak Tik akan lumpuh yang sebelah kanan. Kalaupun sembuh tidak akan sempurna jalannya, bicaranya atau cara berpikirnya seperti sebelumnya,” ungkap wanita tersebut menjelaskan kembali. Dipikirnya aku ini anak idiot yang butuh lebih dari sekali penjelasan. Namun aku memang ingin kepastian.

Aku kembali diam. Masak sampai seperti itu. Ketidakpercayaan masih meliputiku. Bapak akan lumpuh permanen? Itukah yang ingin disampaikan oleh Bu Parti. Aku tak percaya begitu saja.

Kemudian Bu Parti berlalu. Ia hanya menasehatiku supaya nanti melatih bapak dengan terapi agar dapat bicara, berjalan dan berpikir lagi. Aku hanya mengangguk saja. Tapi batin kecilku berkata kalau bapak masih bisa sembuh. Masih bisa sembuh. Karena masa kritisnya telah berlalu. Begitu kata dokter kemarin.

“Pak, Pak, ini aku, Wawan. Pak, Pak…” kutepuk-tepuk pipi bapak dengan lembut. Aku berusaha menyadarkan bapak yang tidak dapat bicara lagi. Tapi yang kulihat hanya wajah bapak yang aneh. Tatapan matanyapun juga kosong. Cuma kadang berkedip. Kadang juga meneteskan air mata sedikit. Dan bibirnya itu masih miring. Sedangkan bibir kanannya yang miring itu sering tanpa terasa sering mengeluarkan liur dengan sendiri.

Aku memandang kepada ibu yang tampak pasrah. Kelelahan tersirat di bening wajahnya. Seminggu ini ibu berada di rumah sakit terus menerus. Aku sekarang malah kawatir dengan keadaannya. Karena selama ini sebenarnya yang lebih sering kambuh penyakit darah tingginya adalah ibu, bukannya bapak. Malah yang terkena stroke adalah bapak.

“Ibu, pulang saja hari ini. Biar aku yang di sini. Nanti kalau ibu terlalu lelah, penyakit darah tingginya bisa kambuh.” Aku mencoba membujuk ibu untuk pulang saja hari itu.

Ibu diam, tidak mau. Rupanya ia tetap ingin di sisi bapak, bagaimanapun kondisinya. Tapi ini benar-benar malah akan menguras energi ibu. Seharusnya ia tak terus-terusan bermalam di rumah sakit yang dingin, dengan dengungan nyamuk yang mengelilingi kami tanpa henti, juga terkadang suara tangisan keluarga pasien yang menyesali kepergian keluarganya tuk selamanya.

Ah, semestinya ibu memang berada di rumah saja.

Aku mencoba ingin mengetahui tentang keadaan bapak. Seminggu ini telah membuatku akrab dengan banyak perawat. Rupanya kebanyakan mereka baru lulus dari sekolah perawat. Jadi masih muda-muda. Seorang perempuan perawat yang berwajah manis itu selalu tersenyum kepadaku jika memeriksa kondisi bapak. Mungkin dia tertarik kepada diriku. Rasa ge-erku kembali tumbuh. Tapi dalam keadaaan seperti sekarang ini apa aku masih sempat memikirkan hal macam begitu.

Ninuk nama perawat itu, aku tahu dari papan nama yang tersemat di baju putihnya. Kulihat dia sekarang ada di kantor yang tak jauh dari kamar rawat inap bapak. Kudekati perempuan yang sedang memegang buku catatan pasien. Kembali senyumannya mengembang mengetahui aku yang datang.

Sebetulnya yang paling aku sukai dari Ninuk ini adalah kain putih berbentuk kotak yang ditempelkan khusus bagi perawat wanita di atas kepala mereka. Bentuk yang dikenakan oleh Ninuk sama dengan perawat yang lain. Tapi kelihatannya berbeda. Kala aku pandang sekali lagi, oh memang berbeda. Sebab ternyata rambut Ninuk yang keriting kecil dan tebal itu membuat kain yang menempel di kepalanya seperti cocok dan serasi. Macam seekor bangau yang berada di sawah berlumpur yang tak berpenghuni.

“Mbak Ninuk, bisa tahu tentang kondisi bapak?” tanyaku dengan sopan kepada perempuan itu.

“Coba saya lihat di buku catatan ini.” Ujarnya ramah tetap dalam senyum manisnya yang indah. Jarinya yang lentik membolak-balik buku berhalaman tebal yang sekarang ada di tangannya.

“Di sini ada catatan CVA,” ucap Ninuk seraya memandangku.

“Apa itu CVA?” tanyaku lagi.

Cerebrovasculer Accident, pembuluh darah yang pecah, Mas.” Jawabnya lagi. Dia berkata kalau stroke secara umum dibagi dua macam. Stroke iskemik dan stroke perdarahan. Stroke iskemik disebabkan penyumbatan pembuluh darah yang ada di otak. Ini karena diabetes mellitus yang tak terkendali.

“Tapi bapak tidak punya riwayat kencing manis, Mbak? Terus bagaimana? Kenapa bisa seperti itu?” Aku yang awam tentang masalah itu dan baru kali pertama mempunyai pengalaman tentangnya tentu penasaran.

“Karena rendahnya kualitas pembuluh darah otak, mungkin ada kelainan anatomis pembuluh darah. Bisa karena tekanan darahnya tinggi, tapi tekanan darah bapak sepertinya tidak terlalu tinggi sekali. Jadi mungkin juga disebabkan kolesterol, mungkin stress,” ungkap Ninuk lagi. Aku hanya mendengarkan sambil sesekali melihat puncak rambutnya. Namun aku tetap serius.

“Lalu kapan bapak bisa sadar, menggerakkan tangan, kaki, dan juga bicara?” aku mulai kawatir dengan penjelasan dari perempuan itu. Ini masalah yang sangat berat.

Ninuk tak segera menjawab. Ia hanya melihat seluruh bola mataku dengan bergantian. Lalu melemparkan pandangannya dengan cepat ke bawah. Aku masih menunggu jawabannya. Dan tak perlu kuulang lagi pertanyaan itu, karena menurutku sudah sangat jelas.

“Tergantung, Mas. Soalnya ini kerusakan pembuluh syaraf otak. Tapi yang penting butuh perhatian dan dukungan dari seluruh keluarga untuk dapat segera sembuh. Namun untuk kembali seperti sedia kala nampaknya tidak bisa.” Kembali kata-kata itu kudengar. Tadi Bu Parti berkata seperti itu. Dan kini giliran Ninuk yang mengatakannya.

Aku menelan ludah. Sekadar membasahi tenggorokanku yang kering. Aku masih tak percaya bapak akan menjadi seperti yang perawat-perawat ini ucapkan. Bagaimana mungkin dapat berlaku seperti itu. Bapak itu berperawakan tegap. Gagah dan berwibawa walau tidak muda lagi. Lantas sekarang orang-orang ini mengatakan lain. Bapak akan lumpuh.

Seorang perawat senior datang dan langsung menutup buku catatan yang baru saja kami pegang. Dia melotot pada Ninuk seperti perempuan muda itu adalah anaknya sendiri yang baru saja mengambil permen tanpa izin.

Very confidential. Don’t you understand that?” Dia lalu melotot padaku sambil ngomong seperti itu.

“Ninuk, ke kantor sekarang juga!” perintahnya. Ninuk salah tingkah. Mungkin dia akan kena damprat habis-habisan setelah memberi data pasien kepadaku.

Orang tua di sebelah kamar bapak juga mempunyai penyakit yang sama. Ia menderita stroke dan lumpuh badannya. Mereka keluarga dari desa di Glagah, sebuah tempat di Lamongan yang terkenal akan tambak ikan. Kami dan keluarga mereka yang selalu menunggu jadi akrab dengan sekejap. Mungkin karena bapak kami mempunyai penderitaan yang sama. Sehingga kalau membeli obat aku dan anaknya sering sama-sama. Obat yang diminumkan ke bapak kita juga hampir sama, yakni aspilet. Sedangkan Obat yang lainnya berbeda sama sekali.

Dan anehnya, hanya selang beberapa hari, bapak mereka sudah bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Padahal waktu pertama datang orang itu juga tak dapat menggerakkan apa-apa dari tubuhnya yang lumpuh tersebut. Tentu, keluarga mereka bersyukur gembira. Dalam dua hari ke depan dokter sudah membolehkan keluarga dari Glagah ini pulang. Asalkan rutin kontrol di rumah sakit.

Mereka menyalamiku dan ibu ketika pamit pulang. Walaupun bapak mereka masih belum dapat berjalan tegak dan harus didorong di kursi. Rasa optimis terpancar di wajah mereka. Sempat keluarga ini mengatakan, “Mas, nanti kirim-kirim kabar ya.” Aku mengangguk.

Kulihat bapak yang sedang tidur. Ibu menatap ke arahku. Aku tahu maksudnya. Mengapa belum ada tanda-tanda perbaikan dari dalam diri bapak. Belum ada sama sekali gerakan dari anggota tubuhnya yang sebelah kanan. Bahkan otot-otot tubuhnya sebelah kanan jadi mengendur dan hilang. Sehingga kelihatan kalau tangan kirinya lebih besar dari tangan kanannya. Begitu pula kakinya.

“Apa karena obat yang dipakai oleh bapakmu ini memakai obat askes, sehingga belum ada tanda-tanda untuk sembuh?” tiba-tiba saja ibu bicara mengenai itu. Aku paham kalau ibu ingin agar bapak cepat sembuh dan segera pulang. Tapi entah kapan kita harus berada di tempat ini kalau sama sekali belum ada tanda bapak bisa menggerakkan tubuhnya. Berpikir dan bicara saja juga belum mampu.

Ibu rupanya iri melihat tetangga pasien yang sudah pulang lebih dulu. Sedangkan tadinya ketika pertama kali masuk, bapak tua itu juga lumpuh separuh badannya. Ibu pikir karena kita memakai askes, maka obta yang diberikan oleh dokter juga lain.

“Aku nggak tahu,” jawabku.  Aku kemudian masuk ke dalam kamar mandi, mengambil gayung dan tempat air. Mengambil air dingin untuk campuran air hangat yang akan diusapkan pada tubuh bapak sore itu.

Dokter yang memeriksa bapak masuk. Didampingi dua orang perawat yang memegang catatan. Kulihat Ninik bersama mereka. Seperti biasa, ia tersenyum kepadaku sebelum meletakkan tangannya di pergelangan tangan bapak. Diperiksanya  denyut nadi. Sesekali Ninuk masih melirik ke arahku.

“Dokter, tolong kasih obat yang bagus untuk bapak. Sudah seminggu ini belum tampak ada perubahan. Bagaimana ini, Dok?” ibu langsung saja mengutarakan niatnya pada dokter berkacamata tersebut. Dokter pun tersenyum.

“Ibu, sama saja obat yang saya berikan kepada bapak dengan pasien yang lain. Ibu sabar dulu.” Dokter hanya berkata seperti itu. Dan jawaban itu sebenarnya kurang diinginkan oleh ibu. Ibu mau bicara apakah obat yang memakai askes itu lain dengan obat yang dibeli tanpa kartu askes. Tapi karena jawabannya seperti itu, maka ibu pun diam saja.

***

Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru

Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru

Bulan Desember, hujan selalu datang bertubi-tubi. Menyisakan langit dengan mendung yang terus bergantung pekat. Mengiringi kerisauan hati ini. Pas sekali dengan cuaca yang tak bersahabat.

Bapak masih ada di ranjang. Sprei putihnya baru saja digantikan. Aku dan ibu juga sudah menyeka badan bapak. Punggung serta kedua kakinya. Kaki kanannya kujamah empuk tak ada tenaga. Sama sekali tak bisa digerakkan kaki itu. Perawat Ninuk menyuruh kami untuk memiringkan bapak tiap 30 menit. Agar punggungnya tidak terlampau lembab yang akan menyebabkan jamur.

Satu laporan yang mengejutkan dari Aang tentang keadaan di rumah. Tak hanya kembang wijayakusuma, tumbuhan kami itu yang layu. Satu-satunya pohon mangga yang ada di teras kecil kami meranggas, menggugurkan daunnya. Mengering dan lantas mati. Tak ketinggalan piaraan bapak di kandang belakang rumah. Sepuluh ekor ayam Bangkok kesayangan bapak ikut meregang nyawa. Seekor burung perkutut juga ikut ambruk.

Ada ada dengan semua itu? Tumbuh-tumbuhan dan juga binatang-binatang ikut sakit dan mati. Seperti ikut menangisi tuannya yang sekarang tak berdaya di atas seprei putih ini. Tuan yang selalu baik merawatnya, ataukah mereka semua rela lebih dulu dipanggil Ilahi.

Aku sendiri sangat lelah. Terkadang ketika maghrib menjelang tubuhku juga sepertinya harus beristirahat. Malam jam dua bisanya ada kontrol dari perawat-perawat itu. Kalau sudah terbangun, aku biasanya susah untuk tidur lagi. Inilah pertama kali aku harus menjaga pasien di rumah sakit untuk beberapa hari. Aku tidak tahu sampai kapan dibolehkan untuk pulang kembali.

Tubuh yang lelah dan pikiran yang kacau rupanya membuat mimpi-mimpi juga ikut bertambah buruk. Mungkin itulah mengapa banyak cerita-cerita hantu di seputar rumah sakit. Ya, itu betul. Semua orang dihantui kecemasan. Ketakutan untuk hari esok. Harapan tentang kesembuhan. Stress dengan biaya yang akan dikeluarkan. Hingga menimbulkan pikiran-pikiran yang buruk.

Malam itu aku sampai terbangun. Gara-gara ibu mengigau keras saat tidur. Dia mencoba menggerakkan tangannya menghalau sesuatu. Nada suaranya seperti orang yang sedang ketakutan. Dan sebelum mimpi buruknya itu berlanjut, aku yang lebih dulu membangunkannya.

“Ibu, bangun, Bu! Istighfar, Bu!” ucapku seraya menggoyangkan tubuh ibu sekuatnya. Lebih cepat ibu tersadar, itu mungkin lebih baik untuknya.

Ibu bangun. Dengan cepat ia duduk. Nafasnya naik turun. Pandangan matanya masih kosong. Mimpi buruknya seakan masih terekan jelas di memori.  Ia duduk di atas pengalas ini. Sebuah karpet merah yang kami bawa dari rumah menjadi alas yang sedikit menghangatkan. Di lantai Rumah Sakit yang dingin tak terkira ketika malam.

Pelan ibu mengedipkan mata. Aku mengambilkannya air putih dengan harapan ibu bisa sedikit lebih tenang. Air putih itu memang sangat mujarab. Apalagi sebelum diminum dibacakan dulu Nama Allah yang Maha Pemurah. Kini ibu mulai bangkit sadar dengan apa yang telah dilaluinya dalam alam mimpi.

“Serasa aku ini dikejar-kejar oleh orang yang tinggi besar sambil membawa pedang yang panjang.” Begitulah ungkapan ibu mendeskripsikan tentang cerita mimpinya. Ibu ketakutan dan berteriak minta tolong.

Namun jika mimpi seperti itu disebarluaskan, pasti orang sudah mengaitkan hal itu dengan kejadian seram di seputar rumah sakit. Belum lagi tentang cerita suster ngesot dan suster gepeng. Masyarakat kenapa senang sekali dengan cerita yang seperti itu.

Sama halnya dengan kondisi bapak sekarang. Keluargaku yang masih awam mencoba mencari kesembuhan lain. Dengan mendatangi orang-orang pintar. Mereka percaya kalau sakit bapak yang tiba-tiba dan langsung melumpuhkan badannya ini adalah bukan hal yang wajar.

Kemudian kesimpulan jawaban orang-orang ini tidak ada yang senada. Semuanya berbeda pendapat tentang kondisi bapak. Seorang perempuan tua yang selalu kesurupan bilang kalau bapak kesambet setan di jembatan. Aku bertanya pada bulik yang mengabarkan hal ini.

“Lik, jembatan yang mana. Banyak jembatan yang sehari-hari dilewati bapak?” ujarku dengan sedikit sinis. Walaupun akhirnya bungkusan obat semacam param kocok dari dukun prewangan itu ditaburkan lagi ke tubuh bapak.

Satu lagi paklik yang datang. Raut mukanya penuh kesungguhan. Dengan tergesa ia berkata kalau orang pintar yang didatangi mengabarkan jika seorang teman bapak yang punya rasa iri dengki telah mengguna-gunainya.

Hah, apa sampai sekejam itu. Aku yakin seyakin-yakinnya kalau bapak tidak pernah mempunyai musuh. Kalaupun pernah punya musuh, itu waktu dulu, sewaktu bapak masih menjadi prajurit TNI karena harus berhadapan secara frontal di medan perang.

Semua orang mencintai bapak. Aku ingat saat bapak mau memasuki masa  pensiun. Sebuah desa di Kecamatan Sugio yang bernama Desa Bedingin menginginkan bapak menjadi Kepala Desa di sana. Tokoh-tokoh masyarakat desa di sana menginginkan hal itu. Mereka menjamin kalau bapak mau ikut pemilihan Kepala Desa, kemenangan mutlak pasti akan diraih oleh bapak. Bahkan ada yang sudah mau mendanai untuk kampanye bapak segala.

Ibu yang waktu itu bersikukuh menolak. Selain tidak mau berspekulasi, kami tak mempunyai uang sama sekali. Sekalipun ada orang yang mau mendanai kampanye. Tetapi seandainya bapak menang nanti, pasti sebuah pesta akan dibuat tujuh hari tujuh malam. Itu adalah ciri khas kemenangan kepala desa di wilayah ini. Biaya besar yang harus dirogoh dari kocek sendiri.

Keputusan bapak yang batal untuk mencalonkan diri menjadi Kepala Desa Bedingin membuat masyarakat setempat kecewa. Apalagi diiringi kepergian kami semuanya untuk pindah ke pinggiran kota. Mereka semua sayang kepada bapak.

Namun sekarang. Siapa orang yang mau berbuat nekad mau mencelakai bapak dari belakang seperti penuturan dukun tersebut. Seandainya iri, apa yang dia irikan. Harta kami tak melimpah. Rumah kecil bertype 21, tanpa punya kendaraan. Jabatan apa yang diirikan, bapak cuma seorang satpam. Apakah ada orang iri karena tidak mempunyai anak sepertiku, yang berwajah seperti bintang film dari Korea. Aku jengkel sekali dalam hati dengan hal-hal seperti itu. Karena akan menimbulkan fitnah berkepanjangan. Tak jarang keluarga akan menebak-nebak siapa dalang yang telah mengirim sihir. Kenapa setan harus dipercaya. Mereka lupa, bapak juga seorang penyembuh. Tidak perlu ada orang pintar yang menyembuhkan.

Awan masih menggumpal di langit. Bulan dan bintang tertutup sinarnya. Malam pekat. Tapi kehidupan masihlah berjalan. Menyisakan pertanyaan sampai kapan kami harus menghuni ruang di rumah sakit ini. Sekarang adalah hari kesembilan kami di rumah sakit. Belum ada tanda-tanda bapak dapat bergerak.

“Uang ibu sudah menipis,” ujar ibu pelan.

“Tapi ibu sudah bicara dengan paklikmu untuk memberikan pinjaman,” ucap ibu lagi dengan sebening kristal beningnya yang menggantung yang tidak rela ia lepaskan menuruni pipinya.

Memang, askes sedikit membantu kami. Tapi rupanya ada beberapa obat yang tidak bisa ditukar dengan lembaran-lembaran fotocopy yang sudah ditandatangani oleh yang berwenang tersebut. Otomatis, uang juga tetap dikeluarkan untuk pengobatan.

Aku palingkan muka. Keluar pintu yang gelap dan pekat. Aku tak bisa memandang wajah ibu atau bapak lagi. Hanya membuat hatiku serasa hancur tertusuk duri. Aku sepertinya tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu keluarga ini. Seharusnya aku sudah bisa bekerja. Mencari uang yang halal. Sehingga dalam keadaan sakit seperti ini ibu tidak usah pinjam-pinjam ke saudara dan handai taulan. Malu aku rasanya. Seolah tiada yang dapat kuperbuat.

Aku masih memandang hitamnya malam. Tak juga mimik wajah kuubah. Aku tak mau terlihat cengeng. Meski hati ini rasanya sudah mau menumpahkan perasaan. Aku sudah tidak tahan lagi. Sedikit menyesal mengapa belum bisa kubalas kebaikan mereka berdua. Kebaikan kedua orang tua yang selalu menyayangiku sejak aku masih kecil. Seandainya saja aku sudah bekerja.

“Mudah, mudahan kamu cepat menjadi pegawai negeri.” Tiba-tiba ibu menghiburku, ia tersenyum. Sebuah hiburan yang menyejukkan kalbuku yang panas.  Apakah aku masih mempunyai sedikit asa itu? Sejauh ini aku masih lolos tes CPNS. Pengumuman resmi koran sudah ada. Surat pemberitahuan juga sudah kuterima. Mungkin itu akan menjadi jalan hidupku untuk bisa membantu kedua orang tuaku. Setelah tes pantau kir yang katanya sudah memastikan seseorang untuk masuk calon pegawai negeri. Kukira aku sudah melampau semua hingga terakhir di Surabaya.

Mendadak ada tamu yang datang menjenguk bapak. Suami istri itu masih kerabat dari pihak ibuku. Tumben mereka malam-malam begini datang. Biasanya kalau malam, sudah jarang orang yang berkunjung. Kebanyakan tamu datang siang atau sore hari.

Berbasa-basi sedikit sang tamu yang bekerja sebagai honorer pemerintah daerah itu mengatakan kalau ada pengumuman lanjutan tentang tes CPNS yang lalu.

“Saya lihat namanya Wawan sudah tidak ada di papan pengumuman. Ini pengumuman tes yang terakhir,” ujar tamu bapak itu.

“Tapi, Mas, aku sudah sampai tes terakhir di Surabaya kok, kenapa sampai nggak ada namaku,” langsung kusela pembicaraan orang tersebut. Aku sangat gusar. Ia menyebutkan jika namaku sudah tidak tercantum dalam papan pengumuman yang terpajang di depan kantor pemerintahan.

“Betul seperti itu?” tanyaku lagi.

Ia mengatakan, ya. Aku tahu ia jujur. Karena orang ini juga bekerja honorer di kantor pemerintahan daerah. Aku benar-benar ingin membuktikan dengan mata dan kepalaku sendiri tentang pengumuman tadi. Aku masih tak percaya kalau aku gagal. Rasanya selama ini tes yang telah kulalui terlalu mudah.

Malam itu juga aku berangkat ke sana untuk memastikan kebenaran berita tersebut. Tapi ibu melarang. Besok pagi masih ada hari. Bersabar dulu, begitu yang ia mau. Apalagi kalau malam ibu tak bisa sendirian menunggu bapak di ruang ini.

Malam rasanya tak bisa membuat mataku cepat terpejam. Aku masih menyangsikan kebenaran tentang hasil akhir pengumuman itu. Aku tak percaya kalau namaku terhapus. Sampai menjelang subuh aku hanya membolak-balikkan tubuh.

Lelah nian tubuh dan pikiranku ketika subuh membangunkan aku. Namun pagi-pagi sekali aku berangkat naik becak ke kantor pemerintahan daerah. Masih sangat pagi hingga bayangan jingga mentari belum memudar. Embun di rerumputan belum juga menguap. Dan dingin hawa udara masih menusuk tulang. Sebelum pamit, aku masih minta doa kepada ibuku. “Bu, doakan aku,” harapku.

Untung becak ini mengerti tentang keinginanku. Tanpa kuperintah ia kayuh pedal dengan cepat. Agar lekas dapat kupastikan semuanya. Gerbang kantor masih tutup. Tapi papan pengumuman itu berada di luar. Sehingga mataku ini langsung dapat menangkap tulisan.

Dengan cepat aku turun dari becak. Jantung ini bergetar hebat. Tuhan, apakah aku memang tak lolos kali ini. Mata ini mencoba membaca dengan metode scan, sreeetttt. Benar tidak ada namaku. Dadaku semakin bergerak kencang. Tapi kali ini aku membaca perlahan-lahan. Dan, memang tidak ada namaku di papan pengumuman itu. Hanya ada tujuh belas orang yang tercantum. Sedang tiga lagi menghilang. Termasuk aku dan teman SMAku yang perempuan. Dia kujumpai saat tes terakhir.

Masih tidak puas, aku ulang lagi membaca pengumuman tersebut. Dan memang benar-benar tidak ada namaku. Haahh…aku menghela nafas berat. Semuanya percuma. Percuma saja.

Memang orang-orang yang ada di dalam sana bajingan semua. Aku berteriak dalam hati. Sebuah batu besar yang ada di pinggir jalan kulemparkan ea rah papan pengumuman ini. Brraakkk….Sialan semuanya! Umpatku dalam hati bertubi-tubi. Kaca papan pengumuman pecah berhambur berkeping-keping.

Untungnya itu hanya khayalanku atas penolakan takdir ini. Tak mungkin aku senekad itu, sampai harus melempar papan pengumuman yang tak bersalah. Biarlah ia tetap berdiri di sana. Menggembirakan hati orang-orang yang telah lolos hingga mereka melompat tinggi-tinggi. Mengekspresikan suasana hati mereka. Menertawaiku yang lemas karena tak masuk dalam daftar. Sebab jalanku lurus sampai detik ini. Aku tak menyuap jutaan rupiah seperti halnya mereka. Semuanya bisa saja terjadi.

Jadi aku berasumsi kalau ternyata tiga orang yang tak lolos ini hanya dijadikan pelengkap saja. Seperti permainan dadu, begitukah? Lalu hasil akhirnya tetap ada di tangan mereka-mereka yang mempunyai uang dan mampu menyumpal mulut-mulut rakus pejabat penentu keputusan yang haus akan harta. Bukan haus harta, tapi haus darah.  Mudah-mudahan uang-uang haram itu akan menjadi api yang menyala-nyala di neraka kalau mereka semua tidak bertobat. Aku mengucap sumpah serapahku.

Siapa yang bilang bahwa suap telah hilang? Siapa yang bilang kalau pungli sudah bubar? Bodoh sekali ucapan-ucapan itu. Sebab semuanya masih ada. Di depan mataku sendiri. Saat ini. Di saat aku membutuhkan pekerjaan sebagai pengganti tulang punggung keluarga.

Harapan luruh. Anganku runtuh. Ya Allah, mengapa juga kedukaan untuk tidak lolos pegawai seperti ini harus kuketahui saat bapak sakit. Saat semua orang sedang menumpukan beban kepada diriku. Saat aku sangat berharap agar bisa bekerja. Saat aku mempunyai cita-cita mulia untuk membantu orang tua. Saat… aku tak tahu lagi. Hanya kelak aku yang akan menjadi pengganti ketika tulang punggung keluarga ini jatuh lumpuh. Hanya itu.

Kemarahanku mereda, yang tersisa hanya kesedihan yang bertambah. Ujian ini terasa sangat berat bagiku. Bukan karena aku gagal untuk menjadi pegawai negeri. Bukan itu. Tidak menjadi pegawai negeri juga gak patkek’en. Tapi yang aku sesalkan adalah ketika semua mata keluarga ini dan semua orang terdekatku menoleh kepadaku. Berharap sangat besar setelah bapak jatuh sakit aku yang akan menggantikannya sebagai penopang ekonomi. Aku ternyata tak bisa memenuhi semua itu.

Aku bersumpah tidak akan mau menjadi pegawai negeri. Sudah terlampau sakit hatiku ini. Tidak usah aku berbicara keras sambil mengumpat memaki. Macam sumpah Dewi Drupadi yang berteriak keras menangis menyalahkan langit. Dia mengatakan rambutnya tak akan pernah lagi dicuci. Sebelum ia berkeramas darah Dursasana yang telah mempermalukannya. Hanya karena permainan dadu antara Pandawa dan Kurawa. Ya, memang betul, diriku ini seperti dipermainkan dalam permainan dadu oleh orang-orang itu.

Biarlah kuucapkan sumpahku ini di dalam hati. Namun tetap akan aku genggam sampai nanti. Sampai kubuktikan kepada semua orang kalau aku masih bisa mencari makan tanpa harus menjadi seorang pegawai negeri.

Pulang ke rumah sakit bukanlah sebuah cerita yang menarik yang akan kukabarkan. Wajah ini juga murung di sepanjang jalan. Tapi kulihat ibu sudah menunggu di gerbang. Ia ingin tahu apakah anaknya ini bisa berhasil atau tidak di atas kertas papan pengumuman.

Aku mencoba mendongakkan wajah. Agar ibu juga merasa tabah. Sama seperti diriku ini, meski ekspresi ini kubuat-buat nyata. Ibu masih di situ. Berdiri menungguku. Ingin segera kuberitahu. Dan cukuplah isyarat ini. Kulambaikan tangan. Dan kukatakandengan gerak mulut lebar tapi tanpa suara, “tidak lolos.”

Sampai sangat dekat dengan ibu aku memberitahunya langsung kalau namaku tidak ada dalam daftar. Tanpa ada penyesalan. Tanpa ada kesedihan. Dan tanpa kelesuan. Kukatakan dengan badanku yang tegak berdiri. Dengan mulut yang pasti.

Benar, aku tak mau menambah beban pikiran ibuku. Kalau aku bercengeng-cengeng. Lemas dan lunglai tentu akan berpengaruh pada ibu dan juga pada yang lain. Kami sekarang sedang menggui kesembuhan seseorang. Jadi harus sabar dan lapang. Sesakit apapun hatiku ini.

Aku ingin mengatakan pada bapak bahwa orang-orang di pemerintahan daerah itu banyak yang seperti bajingan. Mereka mau makan uang. Mereka tega mencoret namaku dan memasukkan orang yang berani membayar. Apakah ini fitnah? Bahkan seorang teman yang lolos sudah mengatakan bahwa sepeda motor dan sawahnya dijual agar bisa masuk menjadi pegawai pemerintahan.

Bapak masih terdiam. Hancur sekali perasaanku. Tujuh belas orang masuk menjadi PNS dengan suka cita. Aku masih di rumah sakit ini memandang bapak yang lunglai pasrah.

***

Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru

Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru

Kurebahkan wajah di lantai yang dingin. Aku bersujud sepenuh hati di lantai masjid rumah sakit yang dingin. Angin malam yang menerpa tak kurasakan. Karena tubuhku sangat hangat. Air mata ini kubiarkan juga deras mengucur. Aku sudah tidak tahan lagi. Dan biarlah kutumpahkan semuanya malam ini.

Satu hal lagi yang menyakitkan tentang kegagalanku ini adalah kesalahan yang ditimpakan oleh keluarga besar kepadaku. Mereka mengatakan aku tak lolos PNS karena aku kurang berdoa kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Aku memang kurang berdoa sehingga Tuhan lupa tidak menjadikanku pegawai negeri. Namun aku yakin bukan karena itu.

Apakah ketika sholat aku selalu meminta untuk menjadi seorang pegawai negeri? Bukan, bahkan ketika berdoa pun aku hanya memasrahkan diri kepada Allah semata. Bukan meminta-minta yang lain untuk dunia. Hidup pada akhirnya tidak berhenti hanya di alam fana ini. Namun berujung pada keabadian.

Jadi kenapa aku yang disalahkan karena tidak berdoa, sehingga aku tidak masuk menjadi pegawai negeri. Aku sangat tertekan. Sakit sekali hatiku ini mendengarnya. Nanti ada lagi yang mengatakan kalau bapak sakit dan tak tahu kapan sembuhnya gara-gara aku tidak tekun berdoa. Sepertinya aku ini orang yang tidak pernah meminta kepada Robku. Padahal tanpa dimintapun Dia sudah tahu. Tanpa dimintapun, kalau Dia menghendaki pasti akan Dia beri.

Sudahlah, kupuaskan hatiku ini berkecamuk. Berbicara dengan Tuhanku Maha Tahu. Biarlah semua aku serahkan kembali pada Allah. Aku sudah tak peduli dengan siapapun. Dadaku serasa sesak. Mataku sudah terlampau bengkak. Sudah banyak lelehan dari kelopaknya berserak. Berjatuhan di atas lantai yang kurasakan tak dingin lagi. Kutumpahkan semuanya di hening malam sepi.

Kutengadahkan tangan. Sepenuh hati kupintakan. Saat ini aku hanya ingin bapak bisa sembuh. Aku mohon dikuatkan segala daya dan upayaku untuk membantu kesembuhan bapak. Setidaknya agar ia dapat lagi berpikir, bicara dan berjalan. Lantas siapa yang bisa membantunya dalam proses penyembuhannya kalau bukan aku.

Hanyalah keajaiban yang akan menolongnya. Keajaiban itu tentu milik Tuhan. Namun ikhtiar adalah milik manusia. Sudah hampir dua minggu bapak lumpuh. Aku tidak tahu sampai kapan bapak akan pulang. Lalu sampai kapan aku masih menjadi pengangguran. Besok kupersiapkan badan. Lebih baik aku menjadi kuli dari pada menjadi PNS dengan uang sogokan. Aku masih berdiri menggapai hari yang tak pasti.

***

Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru

Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru Cerita seru

 

Terimakasih telah mengunjungi website kami

salam TRANSNADA sewa mobil Malang

 

 

sewa mobil di malang sewa mobil murah malang rental mobil malang sewa mobil di malangsewa mobil murah malangrental mobil malangsewa mobil di malang rental mobil malang

 

 

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Call Now
WhatsApp chat WhatsApp kami