Sewa mobil malang RAMAH, MURAH dan NYAMAN

Cerita Seru Indonesia “SELAMAT SELAMET”


Cerita Seru Indonesia “SELAMAT SELAMET”

Oleh : Redite Kurniawan

Kimah sudah mengatakan empat kali pada kenek mobil yang orang pendatang itu untuk menurunkannya ke kilo meter sepuluh . Namun katanya perjalanan masih jauh. Kimah geleng-geleng kepala. Sejauh mana lagi. Dia mengira sudah berjam-jam di dalam mobil yang sesak, panas, dan baunya teramat apek ini. Hanya deretan pepohonan tinggi dan berjenis-jenis burung yang hinggap di rantingnya itu yang sempat menghibur perjalanan Kimah di siang terik ini.
Usia orang tak bisa berbohong dengan kondisi badannya. Kimah, 60 tahun. Kulitnya sudah tak lagi segar. Kisut wajahnya tak lagi bisa kencang meski dibalur dua kilogram tomat dan mentimun. Barangkali tembok dinding rumahnya itu lebih awet dari kecantikannya yang pudar.
Kini tak lagi masalah cantik. Sebab masalah pegal dan capek agaknya menjadi hal serius yang harus dipikirkannya. Perjalanan jauh. Dari Malang ke Timika, Papua. Hanya untuk bertemu dengan seseorang yang bukan sanak kadang, bukan saudara. Kimah, di masa tuanya menanggung beban yang teramat sarat. Menghidupi bocah lelaki yang bukan cucu kandungnya. Lalu kini harus pula mencari ibu kandung dari bocah yang amat dicintanya.
Kemudian mobil berhenti. Si kenek mempersilahkan Kimah turun dari mobil. Kimah bingung apakah ini tempat yang dinamakan kilo meter sepuluh itu? Mana papan namanya? Mana wisma-wismanya? Mana orang-orangnya? Sangat sepi. Hanya beberapa kios kecil yang ada di jalan. Bagaimana mungkin Kimah akan turun di tempat yang sepi seperti ini?
”Di sana, masuk ke timur lewat jalan itu,” begitu petunjuk si kenek.
”Betul itu kilo sepuluh?” Kimah mencoba mencari kebenaran dengan mencoba bertanya pada penumpang yang masih ada di dalam. Mereka semua mengangguk pada Kimah. Lalu berbisik-bisik lagi menggunakan bahasa daerah yang Kimah tak kenal.
Kini setelah mendapat persetujuan dari seluruh isi mobil angkutan kota tersebut, Kimah mulai masuk ke dalam tempat yang ia tuju untuk menemukan Cak Ri. Orang yang disebut oleh penghubungnya yang ada di Malang. Cak Ri, lelaki yang dari suara beratnya seperti berbentuk preman pasar itu sudah Kimah telepon saat dirinya masih di Malang. Sepertinya lelaki bersuara preman itu memang mau membantu Kimah untuk mencari Mei, perempuan yang dulu pernah ia kenal.
Sesaat setelah memasuki jalan yang lebarnya dua meter itu barulah tampak pada pandangan Kimah rumah-rumah yang bentuknya seragam. Apakah memang seperti ini kompleks lokalisasi yang diberitakan oleh penghubungnya. Tidak ada gang-gang lagi selain rumah-rumah yang bentuknya sama tersebut yang jumlahnya sekitar dua puluhan buah. Namun catnya berlainan satu dengan yang lain.
Semakin memasukinya, Kimah semakin merasakan atmosfer dunia malam walaupun sekarang ini siang dan lagi terik-teriknya. Warung-warung kecil berjajar di sebelah kanan. Dentuman musik dangdut koplo saling bersahutan. Rupanya dangdut koplo yang penyanyinya kebanyakan dari Jawa Timur itu favorit juga di sini. Bising di dalam kendang telinga. Harum parfum murahan atau pengharum ruangan juga tercium dari arah wisma-wisma. Di depannya ada semacam lapangan yang cukup luas. Mungkinkah itu tempat upacara atau senam masal bagi para penghuninya.
Beberapa perempuan keluar rumah. Belum ada yang berdandan. Mungkin karena ini masih siang. Namun mereka tak sungkan memamerkan pahanya yang mulus dan dadanya yang besar dengan hanya memakai singlet. Kimah mengernyitkan dahi. Dia membandingkan dengan dirinya yang tertutup rapat kain dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kimah merasa datang ke tempat yang salah. Ini seperti sarang penyamun, pabila seorang gadis memasukinya tak akan pernah dia memperoleh jalan keluar. Untungnya Kimah sudah tua. Anehnya, Kimah tak melihat seorang pun gadis asli Papua yang berkulit gelap dan berambut keriting. Semuanya pendatang.
”Mbak, tahu Wisma Apollo?” Kimah harus segera mencari orang yang ia ingin temui.
”Eh, di situ dang. Mau ketemu sapa ngana ?” tanya perempuan putih mirip Cina, tetapi logatnya nyata berasal dari utara pulau Sulawesi.
”Cak Ri yang dari Jawa Timur, malang” ujar Kimah medok.
”Oh, itu. Coba ngana tanya pe dorang di sana.” Perempuan cantik itu menunjuk rumah bercat kuning yang berada di tengah kompleks.
Meskipun dialeknya yang bercampur bahasa daerah terdengar tak lazim, tapi Kimah mengerti apa yang diucapkan perempuan itu. Dia pun menuju ke rumah kuning. Dari dekat dia bisa melihat kalau ada beberapa wanita yang merokok di teras rumah. Duduk di atas kursi plastik.
“Cak Ri tinggal di sini?” Kimah bertanya pada wanita seumuran dirinya yang merokok di teras rumah. Memakai celana pendek, singlet pink, dan rambut yang digelung ke atas berwarna merah tua. Kakinya mengangkang lebar. Dan kakinya itu masih tetap dalam posisi seperti itu walau ada Kimah yang bertandang.
”Dari mana Sampean?” perempuan bersuara berat itu bertanya.
Astaga, setua itu pun perempuan yang dilihat Kimah tersebut masih menjadi penghuni lokalisasi. Apa masih laku? Tapi sudahlah, tak perlu Kimah terus membatin. Andai dirinya tak mau mendekat pada keinsyafan, tentu sampai sekarang pun dirinya juga akan tetap di jalanan. Masa lalu tetap masa lalu. Namun masa lalu yang sering berkunjung padanya itu seolah mau membunuh.
”Saya tanya dari mana Sampean? Kok gak dijawab-jawab!” Seru perempuan dengan rokok di tangan itu ketus.
”Oh, Aku dari Malang, Mbak. Ada Cak Ri?” Kimah bangun dari lamunan.
”Cak Ri! Ada tamu!” Perempuan itu berteriak dari teras rumah dengan kencang. Suaranya seperti guntur di tengah hari. Namun jika ia tidak berteriak seperti itu, kemungkinan suaranya tidak didengar dari dalam rumah. Sebab musik dangdut koplo masih bersahut-sahutan dari wisma ke wisma lainnya. Satu mati lampu, satunya mandi madu.
Seorang lelaki kurus kerempeng nampak lebih tua dari Kimah mendatanginya dengan tergopoh-gopoh. Ia berpakaian sama dengan perempuan yang ada di teras tersebut. Hanya memakai celana pendek dan kaos singlet putih. Mungkin baju model begini yang paling cocok dikenakan di tempat yang panasnya seolah dapat mematangkan telur mentah tanpa api ini.
”Mbak Kimah dari Malang ya,” sapanya ramah. Kimah mengangguk dan tersenyum. Alangkah mudah mencari Cak Ri ini.
Lalu lelaki tua yang rambutnya banyak yang memutih itu menyuruh Kimah masuk ke teras. Dengan satu gerakan tangan, Cak Ri menyuruh perempuan setengah tua itu meninggalkan mereka berdua. Perempuan itu beranjak tapi mulutnya monyong sepuluh centi.
Kimah merasa ganjil juga dengan lelaki yang disebut Cak Ri ini. Biasanya mucikari itu pembawaannya keras, kejam, dan tanpa ampun. Cak Ri terlihat kurus, kalem, dan sopan. Lelaki yang berkeringat sekujur tubuhnya itu juga berbicara halus pada Kimah.
”Begini Mbak Kimah, di sini ada beberapa nama Mei. Tapi yang dari Jawa Timur hanya ada dua. Dan dua-duanya kurus. Bukan gemuk seperti yang sampean bilang.” Cak Ri mencoba mendeskripsikan tentang Mei yang ada di lokalisasi tersebut.
”Mungkin tidak di sini, Cak. Dulu di awal-awal telepon, Mei itu menjadi istrinya bule. Mungkin sekarang dia tinggal di kota.” Kata Kimah menyangsikan kalau Mei ada di tempat seperti ini.
“Siapa nama bulenya?” Cak Ri terdengar mengangkat alis saat Kimah menyebut bahwa Mei menjadi simpanan seorang ekspatriat.
“Kalau tidak salah namanya Paul dari Australia.” Ungkap Kimah sambil mengingat-ingat ketika pernah berbincang dengan Mei dulu.
Tiba-tiba saja lelaki kurus yang diajak berbincang dengan Kimah untuk menjentikkan jari. Kimah bingung dibuatnya. Lelaki yang rambutnya hampir memutih semua itu sedang tidak dalam proses penemuan mesin bersejarah. Mengapa seakan dia mendapat ide dengan menjentikkan telunjuk dan jempolnya hingga menimbulkan suara yang cukup keras. Jangan-jangan perkataan Kimah baru saja tadi memunculkan jawaban yang pasti. Mungkinkah Cak Ri kini sudah memegang kartu tentang keberadaan Mei.
”Tun…! Ambilkan minuman Tun!” Sama dengan perempuan yang tadi memanggil Cak Ri dari luar. Kini pun Cak Ri harus mengeraskan suaranya sampai full power agar bisa menjangkau ke belakang. Koplo masih bersahutan. Birunya Cinta dan Minyak Wangi.
Perempuan yang dipanggil Tun itu keluar. Dia adalah perempuan yang tadi sudah diusir Cak Ri untuk pergi. Bibirnya yang monyong dan mata pedasnya masih ditujukan pada Kimah. Tapi Kimah diam saja. Hal seperti ini dahulu juga sudah pernah dijumpainya kala masih akrab dengan dunia malam. Apalagi jika tidak rebutan mangsa. Namun apakah sekarang Kimah berpikir mau merebut mucikari tua yang bernama Cak Ri ini. Ah, tak sudi, kata batin Kimah.
”Mau minum apa? Bir?” Tanya Tun ini dengan kasar dan berkacak pinggang.
”Tun! Tak bisakah kau sopan sedikit! Mbak ini datang jauh-jauh mau mencari anaknya! Bawakan softdrink! Tidak lihat apa kalau mbak ini memakai jilbab! Ini tamu Tun, kau harus hormat! Rugi aku membawamu dari Jawa kalau sikapmu pada setiap tamu seperti itu!” Cak Ri menghardik Tun dan menggerutu. Namun anak buahnya yang sikapnya kurang ajar itu langsung kembali ke dalam tanpa tahu kalau tuannya sedang menggerutu.
Belum lagi Cak Ri meneruskan ceritanya. Tun sudah kembali dengan 2 softdrink. Tanpa baki dua minuman itu langsung diletakkan di depan Kimah dan tuannya.
”Sudah kukatakan berapa kali sih! Aku tidak minum minuman manis! Kau suka kalau diabetesku kambuh lalu aku cepat mati!” Cak Ri langsung membentak Tun. Perempuan gembrot yang rambutnya digelung ke atas itu kembali menyahut minuman yang tadinya sudah berada di depan Cak Ri.
”Cerewet! Ambil sendiri minumanmu!” Kini ganti Tun yang membentak tuannya.
Kimah merasa geli dengan adegan ini. Dalam pendangan Kimah belum ada anak buah yang berani dengan mucikari. Mungkin Cak Ri juga takut dengan perawakan Tun yang jumbo tersebut. Salah-salah sekali dibanting bisa tidak berdiri lagi lelaki kurus itu.
Dentuman musik kini kembali mengusik pendengaran Kimah. Dia sedang tidak dalam masa liburan sehingga harus mendengarkan irama musik dangdut koplo yang bersahutan. Dia hanya ingin segera tahu keberadaan Mei lalu membujuknya untuk pulang bersama. Demi Anton anaknya yang ingin sekali bertemu dengan ibunya. Pulang sehari saja untuk melihat cucunya itu sunat. Bila Mei tidak berkenan satu hari boleh satu jam. Jika masih keberatan satu menit saja. Asalkan sudah terpuaskan bagi Anton dapat memandang wajah ibunya yang selalu dicarinya di pasar dan pertokoan.
“Nah, itu sepertinya cocok dengan Mei yang ada di wisma sebelah. Dulu katanya pernah jadi gundiknya, eh jadi simpanannya bule Australia. Namanya Paul juga. Mungkin setahun saja dia tinggal sama bule itu. Lalu bulenya balik kampung. Mei kemudian kerja dari satu bar ke bar yang lain. Kota Timika itu banyak bar, Mbak. Jangan kaget! Terakhir dua tahun dia ada di kompleks sini.” seru Cak Ri.
Kimah melihat ke wisma sebelah. Sebuah bangunan yang depannya sama dengan tempat ia duduk sekarang. Hanya saja warmanya biru muda. Ada teras yang tak terlalu besar. Dua kursi plastik di depan. Di paling atas rumah terdapat plakat tulisan yang pojoknya disponsori produk minuman beralkohol. Namanya Wisma Selamet. Pengelolanya mungkin berharap tamu-tamu yang berkunjung ke sana pasti akan selamet.
”Bagaimana Cak Ri bisa tahu tentang kisah Mei yang ada di wisma sebelah,” selidik Kimah.
”Sstttt…” Sebelum meneruskan pembicaraan Cak Ri membuat kode supaya Kimah mendekat ke wajahnya. Ada rahasia yang hendak ia bagi dengan Kimah.
”Mei sangat terkenal di sini. Dia jadi bahan pembicaraan karena dia sudah terkena penyakit mematikan. Dia sangat kurus dan hanya bisa berbaring di tempat tidur. Orang-orang kompleks sini tak berani mendekatinya. Selama ini Wisma Selamet merahasiakannya. Kalau sampai tamu tahu, bubar sudah wisma mereka. Gulung tikar.” Ungkap Cak Ri.
”Itu mungkin bukan Mei!” Kimah langsung menyangkalnya. Dia tidak suka Mei dikatakan terkena penyakit berbahaya mematikan.
”Ayo, Saya antar ke sana untuk memastikan dulu. Dari pada kita nanti sudah keliling kota tapi hasilnya nol,” ucap Cak Ri.

Cerita Seru Indonesia Cerita Seru Indonesia Cerita Seru Indonesia Cerita Seru IndonesiaCerita Seru Indonesia Cerita Seru Indonesia Cerita Seru Indonesia Cerita Seru Indonesia Cerita Seru Indonesia

Karena hausnya Kimah harus meneguk minuman yang sudah terhidang. Ia sudah lupa dengan pesan pak ustadz, tempat mengajinya sekarang untuk memilah makanan minuman dari hasil pekerjaan yang benar. Pokoknya dia adalah tamu jauh dan disuguhi minuman. Maka yang terhidang itu diminumnya. Terlebih keringnya tenggorokan itu membawa pertanda jika tubuhnya hampir terkena dehidrasi.
Setelah itu Kimah menyembunyikan tas besarnya di bawah kursi plastik. Kimah beranjak pergi. Ini bukan persembunyian yang aman. Namun Kimah percaya kalau tidak ada yang mau dengan baju-bajunya yang panjang. Tidak enak rasanya menenteng tas yang berisi pakaian itu ke sana ke mari. Dan lagi, belum tentu juga benar Mei yang dimaksud oleh Cak Ri itu memang berada di wisma sebelah.
Cak Ri menangkap isyarat Kimah yang ragu-ragu dengan tas besarnya. Maka sekali lagi lelaki kurus itu berteriak memanggil Tun yang berada di dalam. Menyuruhnya untuk membawa tas itu masuk ke dalam. Kali ini Tun masih tetap menurut, namun bibirnya bertambah monyong lima centi.
Jam sebelas siang. Matahari serasa sejengkal ada di atas kepala. Itu sangat berpengaruh pada lapangan yang berada di depan wisma-wisma ini kelihatan amat tandus dan gersang. Bahkan mata Kimah terasa silau jika memandang lapangan kering yang memantulkan cahaya.
Tapi ia tak harus merasakan panasnya bumi ini. Sebab kakinya sudah melangkah ke wisma sebelah. Sebuah rumah bordil yang ditunjukkan Cak Ri sebagai tempat pertama mencari Mei. Kimah sadar perjuangan mencari Mei bisa jadi seperti mencari jarum di dalam jerami.
Tanpa permisi Cak Ri langsung memasuki Wisma Selamet. Kalau tadi Kimah belum sempat mengetahui keadaan wismanya Cak Ri, kini di bangunan sebelah ini Kimah tahu kalau di ruang tamu wisma ada seperti bar kecil. Lengkap dengan lemari pendingin besar yang tertata berbagai macam minuman beralkohol dan juga soft drink. Hanya ada empat kursi plastik dan sebuah bangku panjang. Meja panjang yang atasnya berserakan puntung rokok dan botol-botol minuman kosong.
Sementara sisi sebelahnya kosong. Uniknya tergantung sebuah lampu bundar warna-warni mirip di diskotek. Kimah mengira tempat yang dibiarkan kosong ini disediakan untuk tempat berjoget ria. Tidak ada gambar, lukisan, atau hiasan yang tertempel di tembok dalam rumah yang berukuran 5X4 tersebut. Namun sebuah poster peringatan besar ada di dinding masuk dengan tulisan, Kondom Dapat Mencegah Penularan AIDS. Lagi-lagi poster itu disponsori oleh produsen kondom juga.
Kimah masuk lebih ke dalam. Dia hanya mengekor pada Cak Ri yang terus melangkah tanpa permisi. Menyibak kelambu merah jambu yang sudah robek di bagian bawah. Serta bekas sundutan rokok ada di tengah. Kimah tak merasa risih dengan tatapan mata tiga perempuan pemuas birahi yang berpakaian sama; singlet dan celana pendek. Benar-benar jenis bisnis pakaian yang bagus di lokalisasi ini.
”Cak Ri, lapo ?” Seorang perempuan yang sedang menjajarkan kartu remi sendirian mencoba menyapa. Logatnya khas daerah Jawa sebelah timur.
Tapi lelaki berambut putih yang dipanggilnya itu tak membalasnya. Dia menyibakkan kelambu dengan maksud agar Kimah dapat leluasa memasukinya. Perpaduan harum yang jika tak biasa mencium akan segera mual. Antara pengharum ruangan aroma lemon bercampur dengan parfum-parfum keras juga bau kecut keringat yang amat apek.
Kini tidak ada pandangan lain kecuali kamar-kamar yang berhadap-hadapan. Jumlahnya ada dua puluh. Semua kamar dilengkapi selambu di bagian luar. Selambu murahan dari tenunan benang kasar yang berwarna hijau muda. Sebagian tertutup, sebagiannya lagi terbuka. Kimah juga tak berniat melongok apa yang ada di dalamnya. Toh, dulu dia juga sering menginap di penginapan melati seperti yang sekarang terlihat di matanya. Duh, sebenarnya Kimah ingin melepaskan sejarah hidupnya. Namun di tempat yang penuh dengan perangkap iblis ini, bagaimana mungkin memori Kimah tidak tersingkap ke belakang.
Cak Ri tetap melanjutkan langkah tanpa menoleh ke kiri atau ke kanan lagi. Kimah tanpa sengaja mendengar beberapa rintihan dari dalam kamar. Astaga, ini juga masih siang.
Hingga terakhir Cak Ri berdiri mematung di sebuah kamar paling ujung kanan. Kamar paling buncit yeng bersebelahan langsung dengan pintu keluar belakang. Kimah sempat menengok halaman belakang yang dipenuhi dengan tali-tali jemuran yang diatur.
”Ini kamar Mei seperti yang saya ceritakan tadi,” ucap Cak Ri sembari mengambil langkah dua kali mundur ke belakang. Lelaki itu kemudian menggerakkan tangannya seperti gerakan membuka pegangan pintu di udara.
Kimah mengerti maksudnya. Kimah disuruh sendiri untuk membuka pintu tersebut. Agak ragu Kimah maju ke depan. Ia sempat menoleh lagi pada Cak Ri. Lelaki itu menganggukkan kepala. Kini tangan Kimah sudah melekat ke pegangan pintu yang bulat. Tinggal memutar ke kanan dan pintu itu pun akan terbuka. Namun Kimah tak yakin benar kalau Mei anak angkatnya itu adalah manusia yang terbaring di sana.
”Eit…tunggu dulu, Mbak. Jangan pegang apa pun di dalam sana! Ingat, ini penyakit! Bahaya, sangat bahaya!” Cak Ri kembali mundur selangkah hingga punggungnya bersentuhan dengan pintu kamar di seberang pintu yang akan dibuka oleh Kimah.
Kimah tak menunggu instruksi lebih jauh lagi. Lebih baik ia memastikan dengan sesungguhnya siapa Mei yang ada di dalam. Pintu Kimah buka. Tiba-tiba saja bau dan udara yang berasal dari dalam itu menghambur ke hidungnya. Kimah hampir semaput dibuatnya. Amat busuk, anyir, pengap dan panas.
Namun Kimah mencoba tegar dan tak memedulikan lambungnya yang seakan terkocok hebat karena ingin muntah. Kini Kimah harus waspada dengan penglihatannya sebab ruangan yang baunya menyengat itu tidak diterangi cahaya.
”Ada tombol saklar di samping kiri atas,” ujar Cak Ri memandu. Lelaki kurus itu membungkam hidung dan mulutnya dengan kedua telapak tangan.
Kimah menggerayangi dinding dan segera menemukan saklar. Dipencetnya tombol itu dan terbitlah lampu pijar kekuningan yang tak terlalu terang. Namun cukup bagi Kimah untuk melihat apa yang ada di dalamnya itu.
Ada sebuah ranjang. Baju-baju kumal berserakan di lantai dan juga di ranjang. Sebuah meja kecil dengan piring dan gelas yang dikerubuti lalat. Seorang manusia yang terbaring di tempat tidurnya. Memakai daster kembang-kembang lusuh. Namun sekali lagi Kimah tak yakin itu Mei yang dicari. Karenanya Kimah memberanikan untuk mendekat. Meskipun Kimah harus merelakan penciumannya terganggu dengan bau-bau yang tak wajar.
Ada seorang perempuan dengan nafasnya yang berhembus satu-satu di atas ranjang. Badannya amat kurus. Hanya tulang yang terbungkus kulit. Semua wajahnya sudah tak berdaging dan hampir menyerupai tengkorak dengan tulang belulang yang menonjol. Di sekujur tubuhnya terdapat ruam-ruam biru kemerahan dengan bisul-bisul bernanah. Dari situlah tadi bau busuk dan anyir berasal. Perempuan itu menengok kepada Kimah. Mulutnya komat-kamit seperti ingin mengucapkan sesuatu. Perempuan yang rambutnya acak-acakan itu ingin bangkit, tapi tubuhnya terlalu rapuh untuk dapat bergerak.
Dan ketika Kimah mengamati dengan seksama, Kimah pun menjerit. Mulutnya bergetar dan kepalanya menggeleng-geleng. Kimah hampir tidak percaya bahwa perempuan yang tengah sakit parah itu adalah Mei. Dilihatnya lagi keadaannya yang penuh penderitaan. Nafasnya yang satu-satu, sudut mulutnya yang memborok dengan bibir yang berjamur. Kimah sedang tak bermimpi mendapati anak angkatnya dalam kondisi mengejutkan seperti itu di rantau. Antara mati dan hidup.
“Mei! Astaga Mei! Kau kenapa, Mei?” Kimah meraung-raung. Ia ingin memeluk Mei di atas ranjangnya. Namun Cak Ri mendadak sudah di belakang dan menghalangi dirinya untuk terlalu mendekat pada Mei. Benar-benar Mei tidak selamat di wisma Selamet.
Tiga orang perempuan langsung mendekat ke kamar Mei mendengar suara raungan Kimah. Namun mereka tak berani untuk memasukinya. Hanya cukup di luar pintu saja sambil menutup hidung mereka. Sementara Mei yang tak bisa berkata-kata cuma sanggup meneteskan air mata dengan bibirnya yang bergetar dan gerakan tangannya yang meraih ke arah Kimah.
”Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit! Dia sudah sangat parah!” Kimah terserang emosi. Air matanya mengalir tanpa henti.
”Antarkan aku dan Mei ke rumah sakit segera!” Ucap Kimah tegas pada Cak Ri.
“Hm, kita perlu mobil ambulans,” ucap Cak Ri.
”Kalau begitu cepat carikan!” Kimah berteriak keras pada lelaki berambut putih tersebut. Cak Ri merogoh kantong sakunya dan mengambil teleponnya dari sana.
Kimah sudah tak tahan melihat kondisi Mei yang seperti itu. Ia bergerak maju tak peduli apa kata Cak Ri. Diambilnya air putih yang ada di atas meja. Diangkatnya kepala Mei dan diminumkannya pada perempuan yang tiba-tiba menjadi sangat kering tersebut. Mei meneguk sambil terus menangis.
Rambut Mei tercium sangat kecut dan busuk. Namun Kimah tak peduli. Ia ingin anak angkatnya itu bisa mendapat perawatan yang layak. Bukan dibiarkan mati secara pelan-pelan di kamar paling belakang wisma ini.
”Tapi… tidak bisa seenak itu membawa Mei dari sini! Aku yang menanggung semua pengobatan, makan, dan tempat tinggalnya selama ini!” Suara parau laki-laki ada di depan pintu. Laki-laki bertampang sangar dengan kumisnya yang merajai wajahnya.
”Dia sakit, Pak. Dia anak saya!” Kimah hanya bisa berkata demikian. Suaranya bergetar, emosi masih melingkupi segala perasaannya.
”Tidak bisa begitu! Dia belum membayar apa-apa selama kebutuhannya kutanggung di wisma ini!” Lelaki seumuran Cak Ri itu menyalak seperti anjing galak.
“Dia sudah bekerja di sini lama. Apa masih kurang cukup jerih payahnya itu!” Kimah tak mau kalah.
“Wis, Mas, jarno ae wis dijupuk ,” ucap Cak Ri mencoba membujuk lelaki yang berdiri tegak seperti tentara.
“Kau diam! Tidak usah ikut campur! Kau tahu juga aturan di sini!” Lelaki itu mampu membuat Cak Ri tak bicara lagi.
“Pokoknya Mei tak boleh keluar dari sini!” Lelaki berkumis tebal itu menatap Kimah dengan tatapan sadisnya.
”Baiklah, Aku akan lapor polisi!” Kimah ganti menantangnya dengan pandangan yang sama sadisnya.
”Hm, polisi mana yang mau mendengar laporanmu?” lelaki itu merasa sudah punya beking yang kuat hingga sangat sombong terdengar.
”Aku akan laporkan ke Komnas Ham, ke DPR, ke presiden, ke Mahkamah Konstitusi. Mau apa?” Kimah juga nerocos terus.
Adu mulut itu berhenti saat suara sirene ambulan sudah tiba. Kimah meletakkan kepala Mei yang tadi dipangkunya itu dengan hati-hati di atas bantalnya. Ia beranjak keluar. Melewati pemilik wisma dengan sedikit mendorongnya ke pinggir. Dan langsung menuju ke mobil itu untuk mengatakan pasien yang akan dibawa.Sebuah ranjang dorong dikeluarkan dari dalam mobil oleh dua perawat yang berpakaian putih. Seorang diantaranya pemuda pribumi. Mereka dibimbing Kimah menuju ke dalam wisma, ke tempat Mei berada. Kini kerumunan makin memadati Wisma Selamet. Mereka saling berbisik dan berkomentar satu sama lain.
”Minggir! Kalau tidak ingin seluruh anak buahmu ketularan, lebih baik lepaskan Mei!” Kimah sepertinya memegang kunci. Dengan omongan seperti itu, pemilik wisma pun hanya pasrah saat Mei dibopong ke atas ranjang dorong.

Cerita Seru Indonesia Cerita Seru Indonesia Cerita Seru Indonesia Cerita Seru IndonesiaCerita Seru Indonesia Cerita Seru Indonesia Cerita Seru Indonesia Cerita Seru Indonesia Cerita Seru Indonesia

 

Rasanya perjalanan Kimah dipermudah untuk bisa menemukan Mei. Turun dari kapal, menemui penghubungnya di Timika, dan langsung menjumpai anak angkatnya itu persis di sebelah rumah lelaki yang ia tuju.
Namun perjumpaannya dengan Mei sama sekali bukanlah pertemuan yang indah. Kimah bahkan tidak percaya kalau manusia yang kini memakai masker oksigen dan selang infus di tangan kirinya itu adalah Mei. Di rumah sakit umum daerah ini Mei berbaring. Masih sangat lemah.
Kimah ingat benar saat tengah malam Mei pamit akan pergi jauh. Tubuhnya segar, atau bisa dibilang kegemukan. Pipinya tembem. Rambutnya hitam mengkilat. Meskipun tidak terlalu cantik Mei mempunyai pesona pikat seksualitas yang tinggi.
Kini, bagaimana Kimah tidak sering meneteskan air mata saat memandang Mei hanya tinggal kulit. Kemana semua dagingnya? Kimah heran dengan perubahan yang ada pada diri Mei. Belum lagi melihat nafasnya yang sesak. Hampir seperti orang sekarat. Lalu sekujur tubuhnya yang dipenuhi koreng dan nanah. Bibirnya yang berjamur. Dan semua itu hanya menjadi penyesalan bagi Kimah seumur-umur.
Akhirnya kesempatan untuk membujuk Mei pulang harus ditangguhkan sampai dirinya sudah agak baik. Walaupun dokter yang menangani Mei di rumah sakit umum daerah ini hanya diam saat Kimah bertanya apa sakit anaknya itu. Bagaimana kesempatannya untuk sembuh. Lalu seberapa lama dirinya harus menunggu Mei di rumah sakit itu.
”Saya sudah katakan pada ibu, kalau masuk ruang isolasi ini harus memakai penutup hidung dan sarung tangan. Jangan dilanggar lagi!” seru seorang perawat perempuan yang baru saja membersihkan tubuh Kimah.
Perawat itu nampak sangat hati-hati dengan perkakas kesehatannya. Sangat hati-hati pula menyentuh bagian tubuh Mei. Sedang Kimah hanya menonton. Dia sendiri juga tak tahu sebetulnya penyakit Mei itu apa? Semua orang merahasiakannya. Bahkan dokter dan perawat pun tak mau mengatakan pada Kimah sakit apakah Mei yang hanya bisa berbaring di kamar berwarna putih. Agak sedikit bagus bau di rumah sakit ini. Bau obat-obatan lebih nyaman di penciuman Kimah dari pada bau busuk nanah dan anyir saat kemarin Kimah baru tiba di kamar Mei.
”Ya, Mbak. Terima kasih,” kata Kimah pada perawat yang kemudian memasangkan masker dan sarung tangan pada Kimah.
Kimah mendekati Mei yang berbaring. Nafasnya masih naik turun satu per satu. Terlihat kesedihan di wajah Mei walau air mata sudah tidak turun lagi. Benar-benar tak tega Kimah melihatnya. Baginya, Mei adalah satu-satunya keluarga. Meski bukan kandung.
”Mak, Aku minta maaf.” Terdengar suara Mei yang sangat pelan. Kimah harus berkonsentrasi penuh saat Mei mengeluarkan kata-kata. Sebab suara gemericik tabung oksigen yang dipasang di hidung Mei itu lebih keras dari suara orangnya.
”Ya, semua sudah berlalu. Kini yang penting Kau pikirkan sembuh. Kita pulang sama-sama nanti,” ucap Kimah. Ia sengaja mengeraskan bicaranya yang terhalang juga oleh masker yang dikenakannya.
Mei hanya memandang langit-langit kamar ruang isolasi itu. Dia meneteskan air mata dengan pelan. Walau matanya yang menangis itu menyiratkan kepedihan dalam.
”Bagaimana kabar Anton, Mak?” Tanya Mei.
Ia berusaha menyeka air matanya, namun tangannya yang terlalu lemah itu agak kesusahan untuk menggapainya. Sehingga Kimah yang kemudian melap air mata Mei dengan tissu yang tersedia di atas meja.
”Anakmu baik-baik saja. Dia putih, tidak seperti kau ini. Sudah kelas satu. Pintar lagi. Anakmu itu patuh, pokoknya kalau ingat Anton maunya pulang saja.” Kimah mengatakan dengan senyum sumringah.
Namun Mei menanggapinya dengan deraian ar mata. Kimah tak tahu apakah itu air mata bahagia atau kekecewaan yang mendalam karena selama ini telah mengabaikan anaknya. Kimah kembali harus menyeka air mata yang berjatuhan di pipi Mei yang kempot.
”Dia juga pintar salat, pintar mengaji. Aku sekolahkan Anton di SD Islam yang mahal. Sudah mengaji Al-Qur’an dia. Juz satu katanya,” ungkap Kimah dengan mimik bangga.
“Jus apa, Mak? Mangga apa semangka?” Tanya Mei penasaran.
”Apa ya? Jus kurma mungkin. Di Arab kan buahnya kurma. Ah, sudahlah.” Kimah menjawab sembari membetulkan letak selimut putih di badan Mei.
”Mak, tadi malam Aku melihat cicak jatuh. Tanda alam apa itu, Mak?” Tanya Mei.
”Aku sudah lama tidak menghiraukan tanda alam. Aku lebih percaya pada yang menciptakan alam.” Ucap Kimah singkat. Kimah juga lebih senang memilih bicara tentang Anton dari pada pembicaraan yang lainnya.
”Anton ingin sunat. Makanya dia mau bertemu ibunya. Aku mau mengajakmu pulang Mei. Tolonglah Mei, kau pulang. Coba lihat anakmu! Sebentar saja! Kalau kau tidak mau bersamanya seminggu, cukup sehari saja, kalau tidak mau sehari, ya semenit saja. Mau kan Mei?” Kimah tidak bisa membujuk dengan baik. Hanya kalimat yang sudah dipikirkannya sejak berada di kapal yang membawanya berlayar itu yang diungkapkan agar Mei sudi bertemu anaknya.
Mei kembali meneteskan air mata. Dia hanya mengangguk berulang-ulang dan tak bisa berkata-kata. Kembali Kimah menyeka air mata Mei yang meleleh di pipinya.
”Mak, Aku sekarang sudah tidak punya apa-apa, tidak bisa lagi menelepon karena HP sudah kujual semenjak aku sakit-sakitan setahun yang lalu. Dulu perhiasanku banyak, Mak. Gelangku bersusun, kalungku dua puluh gram, semua jariku terpasang cincin. Namun semuanya kini telah hilang.” Nafas Mei yang pendek memaksa dirinya untuk menghentikan cerita.
”Buat apa kucari dengan susah payah kalau akhirnya hilang semua.” Mei melanjutkan bicara tapi disertai tangisannya yang menyayat. ”Aku menyesal Mak, menyesal sekali,” tangisnya makin menjadi. Namun dengan nafas tersengal, Mei seperti tak bisa menangis dengan lancar.
”Sudah Mei, jangan menangis lagi. Kukira kau gembira saat bisa bertemu denganku. Sekarang kau malah menangis terus,” ucap Kimah memandang Mei dengan tatapan sayang. Disekanya lagi air mata dari pipi Mei. Mei pun mengangguk. Dicobanya untuk tersenyum meskipun terhalang oleh masker di hidung dan mulutnya. Namun Kimah tahu kalau Mei sudah tersenyum untuknya lewat pandangan matanya.
”Aku cari makan dulu ya, sejak kemarin aku belum makan nasi,” ujar Kimah.
”Jangan, Mak. Aku takut sendirian. Aku takut, Mak.” Mei berkata terbata-bata.
”Kenapa harus takut. Kau sudah aman di sini. Kalau kau ingat sama penciptamu, kau tidak akan takut pada apa pun. Kemarin waktu masih di laut Mei, rasanya kapal yang kutumpangi sudah pecah dihantam gelombang. Aku hanya istighfar saja. Minta ampun pada Gusti Allah, astaghfirullah, astaghfirullah. Yakin kau diampuni. Nanti selamat,” ucap Kimah tegas, tetapi tetap tersenyum. Mei kembali menggangguk dan mengedipkan mata.
Ada kelegaan dari diri Kimah. Tanpa harus mendebatnya, Mei ternyata mau diajaknya pulang. Mempertemukan Mei dan Anton adalah kewajibannya. Kewajiban orang tualah yang harus mempersatukan tulang keturunan yang berserakan. Sehingga jika dirinya nanti berpulang kepada Sang Pencipta, dirinya akan melaporkan kalau ibu dan anak yang berpisah akhirnya kembali utuh juga.

Cerita Seru Indonesia Cerita Seru Indonesia Cerita Seru Indonesia Cerita Seru IndonesiaCerita Seru Indonesia Cerita Seru Indonesia Cerita Seru Indonesia Cerita Seru Indonesia Cerita Seru Indonesia

Ini memang bangsal rumah sakit daerah yang berada di paling belakang. Mungkin itulah kenapa dinamakan ruang isolasi. Ketika manusia yang tinggal di ruangannya harus diisolasi dari manusia yang lain. Sehingga Kimah harus menyusuri selasar yang panjang untuk bisa mencapai kantin rumah sakit yang berada di tengah. Ditilik dari bangunan dan catnya, rumah sakit ini tergolong baru atau sengaja diperbarui.
Kantin rumah sakit yang kecil itu dimasuki Kimah dengan perasaan tak menentu karena masih otaknya masih dipenuhi ketidakpastian tentang Mei. Memberi petuah untuk pertama kalinya pada anak angkatnya tanpa dibantah laksana anugerah. Inilah saatnya Tuhan membuka pintu hati Mei. Jadi sekarang tinggal berdoa untuk kesembuhannya. Kimah yakin doa akan dikabulkan. Kemarin saat di kapal dia berdoa agar bisa sampai ke daratan dengan selamat, dikabulkan. Ketika sampai di daratan Kimah berdoa agar dipermudah bertemu Mei, dikabulkan. Sekarang setelah berjumpa dengan Mei Kimah minta agar Mei diberi kesembuhan yang cepat, semoga juga dikabulkan.
“Itu ruang apa yang sebelahnya kamar mayat paling belakang?” Seorang ibu kaum pendatang berbincang dengan rekannya sesama ibu di samping Kimah. Mau tak mau Kimah dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka perbincangkan.
“Ruang isolasi. Khusus untuk AIDS. Di kota ini penyakit itu merajalela. Iihh…hati-hati kau punya suami.” Ibu yang memakai penutup kepala itu berkata. Logatnya jelas bukan Jawa.
”Eh, penyakit itu tidak bisa disembuhkan kah?” Ibu satunya menyela.
”Tidak bisa! Itu penyakit kutukan. Ditimpakan buat orang-orang yang ada di kilo sepuluh. Kalau orang sudah kena AIDS tinggal menghitung hari.” Ibu satunya lagi menyahut.
Kimah terperangah. Hampir tak bisa tertelan makanan yang sudah dikunyahnya. Namun tetap dipaksanya untuk tetap masuk. Kembali nalurinya yang liar ingin bertindak. Kimah tidak mau anak angkatnya diberi label dengan penyakit kutukan. Bagaimana ibu tadi bisa berkata demikian padahal dia tidak mengetahui pahitnya kehidupan Mei. Apakah kehidupannya yang pahit sejak awal mula ia lahir itu akibat kutukan juga? Tidak! Kimah marah. Tuhan tidak akan mengutuk hambanya. Hanya saja belum datang petunjuk Tuhan padanya agar ia berbakti kepada-Nya. Lalu orang yang seharusnya menyeret untuk menyelamatkan Mei dari jurang dalam itu adalah dirinya.
Kimah tak tahan dengan gejolak batinnya. Ia tiba-tiba saja meneteskan air mata. Ingin ditolaknya pernyataan dua ibu yang membicarakan tentang penyakit Mei. Ini penyakit biasa yang parah. Bukan kutukan. Ingin Kimah melayangkan piring nasinya itu ke arah dua ibu yang berbincang. Agar keduanya tidak lagi berbicara tentang penyakit Mei, anaknya.
Namun Kimah masih waras. Dia lebih baik mengakhiri makan di kantin ini. Dia hanya ingin segera bertemu dengan Mei. Membisikkan kata-kata yang bisa membuatnya tersenyum dan gembira. Mengabarinya tentang ajaran-ajaran agama yang selama didapatinya dari belajar pada pak ustadz dan buku-buku yang dipinjamnya. Akan dia katakan pada Mei kalau Tuhan yang menciptakannya itu Maha Pemurah. Maha menerima taubat.
Kimah berjalan dengan tergesa-gesa. Menyusuri selasar rumah sakit sangat tidak menyenangkan. Terutama jika orang terkasih yang sedang mendekam di salah satu bangsal. Bahkan langkah-langkah kakinya pun meninggalkan suara kesusahan.
”Pakai masker dan sarung tangannya!” Hardik dokter pada Kimah.
Tadinya Kimah mengira bahwa ini pemeriksaan rutin yang dilakukan oleh dokter dan perawat. Namun setelah mendekat Kimah melihat jika seorang perawat sudah melepas oksigen dari hidung Mei. Seorang lagi melepas infus dari tangan Kimah dengan amat hati-hati.
Mei terlihat pucat dan tak bergerak. Rohnya telah pergi. Mei telah menyelesaikan sisa hidupnya di rumah sakit ini. Semua sudah berakhir bagi Mei. Kimah tak bisa berkata-kata. Kemarin air matanya sudah tertumpah ruah. Telah habis semua. Sehingga ketika Mei sudah tak bernyawa, Kimah hanya bisa menatap kepergiannya dengan hati yang berkecamuk tak terhingga. Air matanya kering sudah. Sedangkan baru saja ia berdoa agar Mei diberi kesembuhan secepatnya, atau mohon diampuni dosanya. Selamat jalan, semoga selamet!

Cerita Seru Indonesia Cerita Seru Indonesia Cerita Seru Indonesia Cerita Seru IndonesiaCerita Seru Indonesia Cerita Seru Indonesia Cerita Seru Indonesia Cerita Seru Indonesia Cerita Seru Indonesia

 

Terimakasih telah mengunjungi website kami

salam TRANSNADA sewa mobil Malang

sewa mobil di malang sewa mobil murah malang rental mobil malang sewa mobil di malang sewa mobil murah malang rental mobil malang sewa mobil di malang rental mobil malang murah

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Call Now
WhatsApp chat WhatsApp kami