Sewa mobil malang RAMAH, MURAH dan NYAMAN

Cerita Seru Budaya Indonesia “LAKON INI ..


Cerita Seru Budaya Indonesia “LAKON INI SEPERTI TULISANMU”

cerita seru budaya indonesia

Angin malam menyapu pelan di permukaan wajah keriputnya. Tak mau diperlakukan demikian, Kusno mengikatkan sarung untuk menutup hidung. Dia tidak sudi serbuan angin itu akan merasuk ke lubang hidungnya yang besar. Lalu menelusuri lorong-lorong tenggorokan dan hinggap di paru-parunya. Orang bilang angin malam sangat jahat dan bisa membunuhnya secara cepat.

Kemarin, Sardimin tetangganya yang tinggi kurus macam tiang listrik itu ambruk pukul 12 malam tanpa sempat mengucap kata-kata perpisahan. Padahal lelaki berusia lima puluhan itu lagi asyik melempar gaple bersama sobat-sobatnya di pos ronda. Tidak ada tanda-tanda malaikat pencabut nyawa telah menguntitnya sejak sore. Namun kemudian dia terkapar sambil memegang dada kirinya dengan tubuh mengejang hebat. Lalu sekarat dan tamat.

Sobat-sobatnya sepakat bahwa angin duduk telah membunuhnya. Ditambah seram dengan kesimpulan bahwa angin duduk malam hari yang katanya lebih cepat menghilangkan nyawa dari pada angin duduk siang hari. Begitu kabar berhembus.

Para sobat Sardimin menanggapi beragam tentang kematian lelaki kurus yang mati saat bermain gaple. Sapri, sopir truk itu mengatakan bahwa Sardimin sepertinya sudah lama terkena tekanan darah tinggi tapi tak dirasakannya. Seperti dirinya yang harus taat pada kebijakan perusahaan untuk selalu cek-up kesehatan sebulan sekali. Nyatanya, sebagai sopir truk yang acap kali berkendara di malam hari, tekanan darahnya selalu tinggi. Dia akhirnya taat juga pada perintah dokter untuk minum obat dan tak lagi sering main gaple di malam hari. Entah mengapa malam naas itu dia kembali bermain gaple dan dengan seram mengetahui kematian Sardimin persis di depan matanya. Maka, dia pun bersumpah untuk lebih taat kepada perintah bos dan dokternya untuk tidak lagi menantang angin malam hari.

Lain lagi dengan Nyoto, sobat Sardimin yang juga hadir di malam kematian itu. Nyoto tak percaya dengan namanya angin malam atau angin siang. Semua itu takhayul yang sengaja disebar supaya acara gaple yang paling diminatinya itu bubar. Padahal kematian Sardimin bisa menjadi sebuah petunjuk tersendiri baginya untuk mengadu peruntungan. Nyoto, seorang berwajah keras dengan kumis melintang itu sempat melihat empat kartu tersisa yang ada di tangan Sardimin pada detik-detik terakhirnya. Dia memegang kartu 2-4-0-5. Bukankah itu petunjuk yang diberikan kepadanya? Seminggu lagi dia pasti akan menitip nomor ini untuk dionlinekan pada kawannya.

Paimo, anggota tertua dari perkumpulan para sobat yang kerap mangkal di pos ronda berpendapat beda. Dia yakin bila kematian Sardimin yang mendadak itu karena dia melanggar aturan nenek moyang. Pagi sebelum meninggal, Paimo yang berumur delapan puluh kurang satu bulan itu mendapati Sardimin menginjak bunga rampai yang ditabur orang di perempatan jalan. Kepercayaan orang sini, menabur bunga di pertigaan jalan di malam Selasa Wage adalah untuk menunjukkan jalan leluhurnya pulang. Pasti leluhurnya itu juga yang mengajak Sardimin menemaninya karena dia lupa jalan pulang ke alam baka setelah mampir ke rumah anak cucunya.

Namun Kusno beranggapan lain. Angin malam yang jahat itu benar adanya. Dia juga masih bisa membayangkan bagaimana bapaknya dulu meninggal cepat gara-gara sering keluar malam. Apa yang mau dia sesalkan? Bapaknya keluar malam bukan karena bermain gaple seperti Sardimin, Sapri, dan Noto. Bapaknya dulu keluar malam karena bekerja mencari kodok dan ular. Itulah satu-satunya harapan keluarganya dulu dapat meneruskan kehidupan. Meski terkadang kodok dan ular itu yang menjadi santapan bila emaknya tidak lagi bisa membeli ikan.

Kini di usianya yang lebih dari tujuh puluh, kisah angin malam jahat itu terulang kembali. Persis juga di depan mata Kusno sendiri. Di malam itu dia sedang tidak bergembira bermain gaple bersama orang-orang ini. Dia hanya kebetulan lewat di depan pos ronda desa. Lalu dilihatnya semua orang di ruang berukuran 2 kali 3 itu berteriak ramai. Membuatnya ingin mendekat dan dilihatnya Sardimin tak lagi menghembuskan nafas.

Kusno selalu lewat sekitar pukul 12.00 malam setiap hari di pos ronda tersebut. Ini karena pekerjaan yang dilakoninya. Sudah sepuluh tahun lamanya dia menjadi penjaga kandang bebek. Pukul dua belas malam dia harus pergi ke kandang bebek untuk memastikan semua bebek milik majikannya itu masih berada di tempatnya. Jika sudah berkeliling kandang selama sejam dan dirasanya aman, dia akan kembali pulang. Bukan menjaga terus-terusan dari sore hingga subuh menjelang.

Kendati demikian, rasanya kehidupan Kusno hanya berselimut malam. Sehabis maghrib ketika cahaya di langit hilang, mulailah Kusno bersiap ke kandang. Setelah isya’ dia sudah berjalan ke kandang bebek. Ketika malam makin larut dirinya bersahabat dengan bebek-bebek yang sudah mengantuk. Lalu pukul 12 malam, lelaki kurus kering ini pulang. Betapa aktifitas hidup tanpa cahaya yang amat membosankan.

Diusianya yang sekarang Kusno sering berkhayal. Seperti apakah akhir hidupnya kelak? Seperti Sardimin yang mati mendadak di malam hari ataukah seperti istrinya yang mati tenang di malam hari. Namun semua orang-orang dekatnya itu meninggal di malam hari, membuatnya sedikit membenci malam.

Karena itulah sapuan dingin angin yang membentur wajah keriputnya itu terburu-buru dia usir. Dia tidak mau mati di malam hari yang serba gelap. Dia tidak ingin melihat wajah malaikat pencabut nyawanya itu dalam malam yang pekat. Karena dia juga tidak bisa jelas melihat apakah malaikat yang menemuinya itu sedang tersenyum ramah atau menyeringai buas terhadapnya saat tangannya mulai memegang roh di jasadnya. Jadi malaikat itu sebesar apa? Sehingga tangannya bisa memegang rohnya. Begitu batinnya.

Mata Kusno berkedip-kedip cepat. Lantas sarung yang masih mengikat hidungnya itu diusapkannya ke mata. Lelaki berwajah kotak itu tidak sedang kelilipan. Namun dia ingin membubarkan semua angan-angan tentang kematian. Jangan jangan lagi sering bayangan kematian itu datang. Masih banyak yang harus dia lakukan. Masih banyak yang harus dia kerjakan untuk cucu lelaki satu-satunya yang kini menunggunya di rumah.

Kembali dia menutup hidung untuk menghentikan serbuan angin malam. Dia masih ingin hidup lebih panjang untuk menemani cucunya sampai dia tumbuh dewasa. Sampai cucunya bisa menjadi “orang”. Itu tekadnya. Tapi lagi-lagi dia juga harus pasrah bila bertemu dengan malaikat yang diutus untuk mencabut nyawanya. Usianya lebih dari tujuh puluh tahun.

Malam pekat. Rembulan sabit di akhir bulan tak mampu menjadi penerang jalanan setapak kandang tersebut. Kandang itu sepi. Bebek-bebek betina tak lagi bersahut-sahutan memperebutkan pejantan yang hanya ada satu di antara seratusan. Mata-matanya terpejam. Senter Kusno yang menerpa mata gerombolan bebek-bebek ini pun tidak serta merta dapat membangunkannya. Mereka tengah bermimpi. Berada di sebuah kali. Berenang kian kemari. Lalu selepas itu seorang tengkulak menggiring mereka ke dalam mobil box. Siap untuk disembelih. Inilah akhir yang membahagiakan bagi bebek-bebek itu di alam dunia ini.

Di kandang bebek ini, tak ada sesuatu yang paling khas kecuali baunya. Manusia mungkin tidak begitu peka dengan bau tainya. Mereka tak pernah menutup hidung mereka sendiri ketika berada di toilet dan disaat yang bersamaan kotorannya jatuh berhamburan di lubang pembuangan. Namun pada saat mereka berada di kandang bebek, percayalah, tak ada satu pun yang senang dengan bau  kotorannya.

Kusno merasa bila bau kandang ayam masih lebih baik dari pada kandang bebek. Bau kandang sapi juga masih agak lumayan karena pemiliknya suka membakar merang untuk mengusir lalat yang hinggap di ternaknya. Bahkan Kusno betah berlama-lama berada di wc umum tanpa terganggu dengan bau kotorannya. Namun bau kandang bebek entah mengapa sangat khas. Cucu lelakinya yang bersekolah SD kelas 3 itu hampir tak mau diajaknya ke kandang majikannya dengan alasan bau yang menjajah hidungnya.

Ketika mengingat cucu lelakinya, Kusno mempercepat langkah. Menutup kandang dengan sekali dorong, lantas menguncinya dengan gembok besar yang beratnya hampir setengah kilogram. Kandang ini tidak terlalu luas. Hanya berukuran 40 meter persegi. Bangunannya separuh tembok separuh gedhek. Namun majikan Kusno menggunakan gembok sebesar itu untuk mengunci pintunya yang terbuat dari kayu. Jika lukisan wajah cucunya yang ganteng itu tidak terlintas, pastilah Kusno masih akan satu kali lagi berkeliling di area kandang bebek itu.

Senter itu kini menjadi petunjuk jalan pulangnya. Sebuah tongkat panjang berukuran 2 meter menjadi senjata Kusno. Layaknya seorang penjaga dimanapun, Kusno juga memiliki senjata untuk berjaga. Bukan pistol, bukan pentungan, tapi sebuah tongkat panjang. Tongkat itu sebenarnya bukan dipakainya untuk menggebuk maling yang mengendap-endap di kandang bebek, tetapi lebih untuk menghalau agar bebek-bebek yang lepas dari kandang kembali lagi menuju tempat peraduannya.

Sudah terlanjur tongkat kecil panjang dari batang pohon bambu itu selalu dibawanya. Sehingga anak-anak di kampung ini pun menjulukinya pendekar bebek dari utara. Sedangkan para sobat Sardimin yang biasa mangkal di pos ronda menjulukinya si penghalau maling. Itu karena Kusno selalu membiarkan pokok tongkatnya menyentuh tanah saat diseret. Sehingga bunyinya yang krek, krek, bisa membuyarkan impian maling yang terjaga. Sudahlah, masih mending mereka tidak menjulukinya dengan si buta dari gua hantu. Sebab cucunya pasti tidak akan terima dengan itu.

Dua puluh tahun yang lalu Kusno tiba di kampung ini. Tubuhnya masih sangat kuat. Tangannya juga cekatan. Dia tiba di kampung Karyan ini bukan tanpa sebab. Bapak majikannya yang sekarang meminta dirinya untuk membuat rumah. Lantas membuat kantor. Membuat perumahan. Terakhir membuat kandang bebek. Kusno seorang tenaga ahli. Dia tukang bangunan yang tenaganya di zaman itu sungguh dibutuhkan. Sudah banyak rumah dia tangani, termasuk rumah bapak majikannya yang dulu.

Membuat sebuah bangunan memerlukan ketelitian. Meski tidak memakai sebuah rancangan, Kusno harus tahu benar bahwa pondasi harus bisa menopang rumah dengan kokoh, kuda-kuda harus presisi, dan adukan pasir plus semen harus sesuai takaran. Takaran yang waktu itu hanya dia perkirakan sendiri tanpa harus menunggu teori dari seorang insinyur bangunan.

Memang, membangun rumah tidaklah secepat membuat candi. Hanya dalam waktu semalam seribu candi bisa terwujud. Namun membangun rumah perlu waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Dulu untuk mendirikan rumah bapak majikannya yang sekarang, Kusno perlu waktu sebulan dengan asisten sebanyak 4 orang.

Bapak majikannya yang sekarang itu agaknya senang dengan pekerjaan Kusno, hingga dia pun menjadikan Kusno semacam pegawai tetap. Terlebih dia seorang pemborong yang perlu tenaga tukang ahli seperti Kusno untuk mewujudkan bangunan-bangunan. Kusno pun diberikan sebuah tempat kecil di samping rumahnya. Kala itu anak perempuannya sudah beranjak remaja. Sedang istrinya telah mendahuluinya pergi untuk pulang menuju Tuhan di malam hari yang tenang dengan hembusan terakhir yang tiada kelihatan.

Ketika Kusno menua dan tak sanggup lagi menjadi tukang, kini anak majikannya menjadikannya sebagai penjaga kandang bebek. Gajinya tidak seberapa. Namun Kusno masih bisa menerima beberapa rupiah di awal bulan.

Kusno masih menyeret tongkat panjangnya ditemani angin malam yang terus berjuang memasuki dua lubang hidung besarnya. Pendar sinar senter meliuk-liuk di jalanan. Kandang bebek menuju rumahnya hanya 500 meter, tapi terkadang sobat-sobar Sardimin yang ada di pos ronda sering menggodanya untuk mampir. Meneguk kopi hangat atau sekadar makan camilan kue beras kering yang keras. Saking kerasnya hingga geraham kiri bagian dalam Kusno retak saat mengeremusnya. Karena ewuh-pakewuh memuntahkannya, serpihan retakan gigi geraham Kusno pun ikut tertelan bersama kue beras kering yang hampir menyumbat kerongkongannya saking kerasnya.

Kini pos ronda sepi para sobat. Mereka masih menunggu empat puluh hari Sardimin terbenam dalam tanah, kemudian barulah aktifitas gaple-menggaple dilanjut. Mereka takut bila aktifitas penuh canda bermain gaple dilakukan lagi sebelum Sardimin melewati masa 40 harinya di dalam tanah. Jangan-jangan Sardimin tiba-tiba nongol untuk ikut bermain dalam lingkaran mereka. Apalagi dengan kartu 2-4-0-5 yang tersusun di tangan Sardimin, agaknya dia bisa memenangkan sesi itu.

Pos ronda sepi, Kusno cepat melangkah pergi. Lalu kembali Kusno memutar masa lalu. Tentang anak gadisnya yang tetiba berkenalan dengan seorang pria di kampung itu dan menghasilkan seorang anak lelaki yang kini diasuhnya. Tentang istrinya yang masih jelas tergambar raut wajah manisnya dan selalu dirindunya. Tentang kematian istrinya yang begitu tenang hingga lelaki yang masih menutup hidung dengan sarung itu menginginkan kematian yang sama. Di atas ranjang, tetapi di malam hari yang kelam.

Beginilah khayalan orang tua. Jika bukan tentang sejarah masa lalu, tentu masa depan yang dipikirkannya. Masa depan Kusno adalah memeluk kembali istrinya di alam sana. Itu saja.

Namun bergantian wajah cucu lelakinya menghadang. Kusno makin mempercepat langkah. Dia ingin tiba segera di rumah. Cucu lelakinya itu pasti masih duduk di ruang tamu, menggenggam sebuah buku. Lalu akan menceritakan kepadanya tulisan-tulisan yang dia buat untuknya.

Kusno geleng-geleng kepala jika memikirkan cucu lelaki satu-satunya itu. Gurunya, Pak Andri mengatakan kalau cucunya itu amat pintar. Membaca adalah kesukaannya. Menulis juga kesukaannya. Cucu lelakinya, Hasan, kerap menghabiskan waktu diperpustakaan. Tidak seperti kawan-kawannya yang lebih suka mengejar-ngejar bola bundar waktu istirahat di halaman sekolah, Hasan lebih suka menyendiri dengan buku.

Apakah banyak anak-anak sekarang yang lebih suka menghabiskan waktu dengan buku seperti cucunya? Ah, Kusno pun bukan guru dan tidak ada manfaatnya bila dia jawab pertanyaan yang menggelayut di otaknya. Menurutnya, anak laki-laki itu harus main panjat-panjatan, harus senang berkelahi, dan harus memiliki sebuah kelompok teman seperti perkumpulan sobat Sardimin.

Kadang Kusno takut kalau Hasan nanti tidak bisa berfungsi seperti layaknya lelaki dewasa pada umumnya. Setidaknya lelaki dewasa harus bisa membetulkan genteng, harus mampu menggebuk maling dan harus punya komunitas laki-laki. Pak guru Andri mungkin mewakili hal-hal yang dia pikirkan baru saja tadi. Jika genting rumahnya bocor bukan pak guru berkacamata itu yang naik ke atap rumah, melainkan istrinya yang menggunakan daster yang bentuknya morat-marit mancal atap rumah. Bagaimana seorang perempuan bisa naik ke atas genting dengan perkasa sedangkan suaminya hanya menunggu di bawah sambil memegangi anak tangga?

Tarikan nafas panjang Kusno mengakhiri semua lintasan-lintasa pikirannya. Dia sudah sampai tepat di depan pintu rumah. Dia stop dulu berpikir ini dan itu. Sudah banyak yang melintas di bioskopnya. Bisa jadi orang bosan dengan semua apa yang dipikirkannya sejak dari kandang hingga menuju ke rumahnya yang hanya berjarak 500 meter. Namun begitulah otak manusia. Bukankah ia akan selalu bekerja, berpikir, dan berbicara sendiri walau saat tidur sekalipun?

“Mbah, dengarkan ini! Sejarah penyebaran bebek di Indonesia sudah terjadi sejak abad ke-tujuh,” Hasan langsung menyeru di depan Kusno. Belum juga salam masuk rumah lelaki tua itu sebut, belum juga sarung penutup hidung dia buka, tetapi cucu lelakinya itu sudah siap dengan buku tulis di tangannya.

Kusno tersenyum tipis. Ditatapnya bocah kecil di depannya. Kulitnya yang gelap tak dapat disembunyikan dari cahaya lampu di ruang tamu. Matanya yang sendu dengan bulu mata penuh dan alis tebal lengkung tajam seakan ingin menunjukkan bahwa kantuk mulai ditahan. Namun Kusno yakin Hasan masih ingin bercakap dengan tulisan yang dibuatnya. Badannya kecil kurus, rambutnya lurus. Mengingatkan pada istri tercintanya dahulu.

“Mbah, duduk dulu, ayo, ini tulisan yang baru kubuat siang tadi di perpustakaan,” ucap bocah itu lagi merajuk.

Hati Kusno tidak bisa dibohongi. Dia ingin menyenangkan hati cucunya itu. Lalu berpura-puralah Kusno memicingkan mata, mendongkkan kepala, dan meluruskan telinganya. Biarlah dia menjadi pendengar setia dari tulisan yang dibuat oleh cucunya. Meski di akhir cerita Kusno pun harus membuat sedikit kesimpulan atas tulisan Hasan.

“Raja Syailendra meminta bantuan dari orang-orang India saat itu untuk membangun banyak candi di Tanah Jawa. Para ahli pembangun candi itu membawa serta bebek-bebek. Binatang itu selain untuk dijadikan binatang peliharaan, juga sebagai sesajian. Itulah awalnya bebek masuk ke Indonesia hingga sekarang.” Hasan terus membaca tulisan-tulisannya. Dia berkisah hingga tidak memerhatikan keadaan kakeknya yang baru pulang dari kandang bebek.

Sementara itu Kusno berganti-ganti posisi duduk. Sesekali dia mengempit sesuatu diantara selangkangannya. Angin malam mempercepat metabolisme kemihnya sampai rasanya kantung kemihnya itu hendak meledak. Namun cucunya belum juga selesai berkata-kata. Tentu dia tidak ingin menyanggahnya.

“Sudah Mbah, begitu,” ucap Hasan menutup buku tulis yang disampulnya dengan warna hijau.

“Tidak mungkin orang-orang India yang membangun candi-candi di Jawa. Bentuknya saja beda!” ujar Kusno mengemukakan pendapatnya.

“Bagaimana Mbah tahu?” Tanya Hasan.

“Kamu tahu Taj Mahal? Itu candi India. Masak sama dengan Borobudur, beda kan?” ungkap Kusno sambil berdiri. Hasan menganga. Bocah lelaki itu ingin segera membalas omongan kakeknya.

“Sudah, aku tidak mau berdebat. Lebih baik kamu tanyakan saja sama Pak Andri. Aku mau pergi ke kamar mandi.” Kusno bergegas.

***

 

Seminggu setelah kematian Sardimin pos ronda bagai kuburan di tengah malam. Tidak ada canda, umpatan, atau tawa. Para sobat Sardimin masih tetap menghormati arwahnya dengan tidak melakukan perkumpulan di pos ronda tersebut. Meski Kusno yakin jika para sobat sudah tak sabar ingin bertatap muka di bangunan kecil tanpa sekat yang nampak mirip panggung tersebut.

Sebenarnya mereka saban hari selalu bertemu sehabis maghrib di rumah mendiang Sardimin. Memakai baju yang pantas dengan kopyah hitam sebagai pelengkap. Mereka, para sobat mengirim doa untuk ketenangan Sardimin. Semoga dia tenang di alamnya dan tidak lagi penasaran ingin kembali ke dunia untuk memainkan kartu terakhirnya. Namun bertemu di acara kirim doa dengan bertemu di perkumpulan para sobat di pos ronda jelas berbeda. Mereka tentu tidak bisa dengan leluasa memuncratkan kata-kata kasar, umpatan, dan cacian. Apalagi ditambah tertawa yang keterlaluan. Mereka harus patuh kepada seorang imam yang memimpin doa meskipun kadang agak lama. Jika imam berlama-lama, Kusno mengira para sobat sudah tidak lagi berdoa untuk ketenangan Sardimin di alam baka. Melainkan mereka berdoa semoga nasi rawon dan teh manis itu yang segera keluar dari dapur keluarga Sardimin.

Kusno kembali pulang setelah memeriksa kandang mala mini. Dia tidak memakai jam tangan untuk memastikan waktu. Namun jika serangga bersungut panjang yang mirip dengan belalang itu sudah semakin banyak menggetarkan sayapnya di belakang kandang, itu pertanda waktu sudah menunjukkan tepat pukul 12.00 malam.

Malam ini Kusno mendapati sebuah bebek betina tewas. Sedangkan telur-telur yang dia kumpulkan mencapai 25 butir. Dia tidak bisa menebak mengapa seekor betina itu tewas. Jika bukan karena ular berbisa, betina itu mungkin bertengkar dengan madunya untuk mendapatkan cinta seekor pejantan. Hmm, betina memang pencemburu. Tidak hanya di dunia bebek, tapi juga di dunia manusia.

Lintasan bioskop di belakang kening Kusno kembali muncul. Dia ingat benar saat anak perempuannya yang beranjak dewasa mulai mengenal cinta. Cinta kepada lelaki yang berprofesi sebagai pelaut. Lelaki yang membuat Kusno gundah karena dia tidak paham dengan latar belakangnya. Tidak tahu kesungguhan hatinya, dan tidak tahu apakah lelaki pelaut itu cocok untuk putri tunggalnya.

Namun cinta berbicara lain. Putrinya nekad meminta restu pernikahan dan menikahlah mereka dengan sebuah acara kecil yang juga dihadiri oleh perkumpulan sobat Sardimin. Lantas singkat cerita seperti yang mudah ditebak dalam dunia nyata, 3 bulan setelah menikah kembalilah suami putrinya itu melaut. Tapi kali ini ia melaut untuk selama-lamanya. Dia tidak pernah kembali dan sebuah kabar mengejutkan putrinya bahwa suaminya itu menikah lagi.

Putrinya yang tengah hamil muda cemburu setengah mati. Begitulah betina, pencemburu nomor satu di dunia. Kusno sebenarnya berharap agar putrinya bisa melupakan suami brengseknya tersebut begitu saja. Dia akan menikahkan lagi putrinya itu dengan lelaki lain yang lebih setia. Seperti Kusno yang amat setia pada istrinya. Namun putrinya menolak. Lantas dengan bekal seadanya dia menyusul ke tempat suaminya berada.

Dua bulan kemudian putrinya kembali datang. Wajah anak gadisnya lesu. Tubuhnya hanya tinggal belulang. Namun perutnya itu yang makin membesar. Kusno merasa putrinya itu sudah tidak waras. Dia memegang dendam di dadanya. Dia bersumpah masih akan kembali ke tempat suaminya yang tinggal dengan istri kedua setelah isi di dalam perutnya dia keluarkan ke dunia. Mengapa perempuan menjadi gila hanya karena seorang lelaki brengsek? Tapi kini ketika Kusno menjadi penjaga kandang bebek, barulah dia mengerti bahwa betina memang bisa begitu gila apabila pejantannya berbagi cinta.

Putrinya melahirkan dengan teramat sulit. Lima hari lamanya dia mengedan dan bayi dalam perutnya tidak mau keluar. Setiap kali mengedan hanya nama suami brengseknya itu yang dia sebut. Hampir saja Kusno ingin menampar mulutnya karena jengkel dengan kelakuan putrinya yang tak wajar. Jika disakiti mengapa masih mau berharap kembali. Gila seorang betina yang tak bisa dijelaskan.

Lalu dihari ke lima cucu lelakinya itu lahir. Di sisa tenaga ibunya yang lunglai dan hampir saja mati. Didampingi dengan istrinya yang kala itu masih segar, Kusno menimang cucu harapannya itu dengan senyuman besar. Namun lain dengan putri perempuannya. Tetap dengan genggam erat dendam di dada, selang sebulan kemudian dia kembali minggat. Kali ini untuk selama-lamanya. Sebab setelah itu tiada lagi kabar dari putri atau suami brengseknya. Apakah mereka bersatu atau mendua? Kusno sudah tidak tahu lagi.

Dahulu Kusno masih sering sekali mencari kabar keberadaan putri tercintanya. Sampai-sampai semua impiannya untuk memiliki usaha sendiri kandas. Hingga akhirnya istri setianya itu wafat, Kusno tak lagi memikirkan putrinya. Dalam tangannya ada seorang bayi laki-laki harapannya. Cucunya itu saja yang kemudian hadir dalam kehidupannya setelah para wanita hilang di sisinya.

Setiap kali lintasan bioskop tentang para wanita di hidup Kusno itu hadir di belakang keningnya, kembali Kusno ingin menggugat Tuhan. Tapi tak kan pernah bisa dia menggugat Tuhan kecuali dia bertemu dengan-Nya secara langsung. Itu artinya Kusno harus mati terlebih dahulu. Dan jika dia mati maka bagaimana nasib bocah lelaki yang ada dalam buaian tangannya.

Pintu didorong dan dugaan Kusno masih betul. Hasan menulisi bukunya dan terlihat cerah di matanya mengetahui kehadiran dirinya. Seharusnya cucunya itu sudah tidur di malam sepekat ini seperti anak-anak kebanyakan. Namun memang cucunya ini berbeda, seperti gurunya yang mengatakan bahwa bocah lelaki yang berumur sepuluh tahun itu lebih suka bergaul dengan buku-buku dibanding dengan manusia.

“Mbah, ayo duduk, aku sudah menulis lagi tentang bebek,” kata Hasan dengan mata berbinar. Malam kian pekat, tetapi mata berbinar bocah lelaki itu melebihi rembulan.

“Aku ke kamar mandi dulu, kau masuklah ke kamar nanti kususul!” Begitu Kusno memberi perintah.

Bocah itu tertegun. Tapi kakeknya jarang ia bantah. Toh selama ini hanya dia seorang yang paling dekatnya. Seorang lagi adalah pak guru Andri, orang yang tak pernah naik ke atas atap bila rumahnya bocor. Namun selalu memberinya buku-buku bacaan yang menyenangkan.

Sudah lega rasanya Kusno menumpahkan air dari kantung kemihnya. Akhir-akhir ini sepertinya ada yang salah dengan organ itu. Meski kadang dia memaklumi mungkin orang seusianya itu sudah harus beraktifitas dekat dengan kamar mandi. Kusno tidak mau sembarangan membuang limbah tubuhnya di pinggir jalan atau di balik pohon besar. Bisa jadi ketika dia pipis seorang anak tuyul yang kasat mata mandi basah karena ulahnya.

“Ayo, kudengarkan! Mulailah membaca!” kini Kusno merebahkan diri di atas kasurnya yang padat. Kasur yang selama 10 tahun terakhir menemaninya tidur. Menjadi saksi bahagia dan dukanya.

Sementara itu hasan duduk bersila. Sebuah buku tulis bersampul hijau kembali dipegangnya. Dia berdehem sebentar, lalu membaca tulisan yang sudah dirangkainya dari awal. Dunia memang kadang terbalik bagi sebagian orang. Jika dulu para orang tua yang membacakan kisah sebelum tidur bagi anak atau cucunya, kini seorang cucu yang membacakan tulisan untuk kakeknya yang matanya mulai redup. Tarikan nafas hidungnya pelan dan teratur. Serta mulutnya yang sedikit demi sedikit terbuka. Pertanda kurang dari lima menit lagi suara dengkur seperti kereta api malam itu akan meluncur dari mulutnya yang menganga.

“Induk bebek tidak mengerami anak-anak mereka. Induk bebek akan bertelur di semak-semak atau jerami, lalu meninggalkannya begitu saja. Bila alam sedang bagus dan hangat, anak-anak bebek akan menetas dengan sendirinya selama 21 hari,” Hasan membacakan tulisannya.

Namun kemudian Hasan terisak. Makin lama makin tak terbendung air yang turun dari matanya. Hidungnya pun ikut meneteskan lendir. Lendir yang kemudian jatuh dan mengenai pipi Kusno. Akhirnya suara kereta api malam yang seharusnya keras terdengar itu berhenti mendadak. Kusno gelagapan bangun sambil mengusap lendir di pipinya.

Dia dapati cucu kesayangan itu terisak-isak. Sedih menyayat perasaan. “Ada apa Hasan?” Tanya Kusno. “Aku masih mendengar ceritamu, sudah jangan bersedih. Aku belum tidur,” ujar Kusno menyenangkan hati kesayangannya.

Hasan tak dapat lagi mengungkapkan perasaan lewat kata. Bocah lelaki itu langsung memeluk kakeknya. Pelukan erat yang membuat dada Kusno serasa terhimpit batu sebesar bukit. “Ada apa?” kembali Kusno bertanya. Jemarinya menyisir rambut lurus Hasan yang lembut.

“Aku seperti anak bebek ya Mbah? Aku dilahirkan untuk ditinggalkan?” ungkap Hasan masih terisak.

Kusno tercengang. Kenapa anak-anak sekarang terlalu terbawa perasaan? Dia yang menulis dan membacakan, tapi dia juga yang menangis. Nalar Kusno buntu. Dia tidak tahu akan berucap apa. Benar-benar menyesakkan. Bocah itu masih terlampau hijau untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ciut hati Kusno. Sakit sekali. Wajah ibunya pun tak sempat Hasan kenali, apalagi bapaknya yang tak punya hati.

Kusno bahkan tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya menenangkan cucunya itu seperti seorang bayi yang ingin sebotol susu. Cuma ditepuk-tepuk punggung cucunya sambil mendendangkan Lir ilir dengan lirih. Dibiarkan bocah lelaki itu tertidur merangsek kedalam dadanya yang tak lagi bidang. Sedangkan tangan mungilnya memeluk erat punggung Kusno seolah tak ingin dia lepaskan.

“Le, tole, lakon ini kok ya seperti tulisanmu.” Kusno berbisik amat pelan, tapi dia memastikan jika cucunya itu sudah terlelap dalam tenang.

***

 

Gara-gara sepuluh tahun berada di kandang bebek penciuman Kusno jadi tidak terlalu sensitif seperti dulu lagi. Bayangkan bau kandang bebek yang begitu menusuk. Aromanya campuran air got yang terkencingi orang sekampung ditambah sampah basah dapur yang dibiarkan terbuka 3 hari dan dikerubuti belatung. Terlebih jika musim hujan tiba. Kusno tidak tahu mengapa aromanya bisa bertambah tiga kali lipat dari biasanya.

Sebab itulah sekarang dia tidak terlampau hirau bila ada orang yang kentut. Bau kentut sebusuk apapun masih kalah dengan bau kandang bebek di musim hujan. Kusno mengira bahwa campuran makanan bebek yang dibeli majikannya itu terbuat dari bangkai berbagai binatang. Sehingga bau kotoran bebek-bebek majikannya itu tak ubahnya juga mirip bangkai binatang.

Sensitifitas hidung Kusno diuji sekarang. Kala dia duduk berdua dengan Paimo di pos ronda setelah memastikan semua bebeknya tidur dan pintu dengan gembok seberat setengah kilo itu tergantung di gagangnya. Malam bertabur bintang. Namun hanya dua orang itu saja yang ada di pos ronda. Anggota perkumpulan sobar Sardimin masih menghormati mendiang Sardimin dengan tidak kongkow di tempat dia meninggal.

Paimo, orang tertua di perkumpulan sobat Sardimin itu yang menariknya untuk duduk di situ. Setelah Paimo tahu bahwa Kusno telah menyelesaikan urusannya di kandang bebek semenit lalu. Lalu mulailah Kusno mencium sesuatu yang timbul tenggelam saat Paimo mengajaknya berbicara tentang perkumpulan para sobat setelah ketuanya, Sardimin tamat di tempat mereka duduk sekarang.

“Seharusnya kita mengadakan musyawarah untuk mengangkat ketua pada perkumpulan ini,” ucap Paimo. Suaranya mendesis-desis. Artikulasi suara melalui mulut tanpa gigi depan itu agaknya berbeda.

“Tidak usah ketua Cak, lha perkumpulan ini hanya untuk bersenang-senang. Bukan perkumpulan untuk suatu yang penting,” ujar Kusno datar.

Angin malam mendadak menyerbu dua lelaki tua di pos ronda. Paimo terburu-buru menyelimutkan sarung ke pundaknya. Sedang Kusno yang menarik restleting jeket dekat ke lehernya. Keduanya sadar bila angin malam bisa sangat jahat.

“Nah, itulah Kusno, aku mau perkumpulan ini tidak hanya punya kegiatan main gaple di malam hari. Perkumpulan ini harus bermanfaat bagi masyarakat,” kata Paimo hampir memuntahkan air liurnya saat berkata masyarakat. Namun secepat kilat ditelannya air liur itu masuk dalam kerongkongannya. Inilah efek artikulasi desis itu yang menjadikan semua yang ada di mulutnya hendak keluar bila berbicara.

“Terserah wis Cak,” ujar Kusno kembali datar. Dulu Sardimin juga bukan ketua. Dia hanya dianggap ketua karena paling sering membawakan kopi panas dan pisang goreng ke pos ronda.

Kini lagi-lagi penciuman Kusno diuji. Entah gara-gara angin malam yang banyak menyerbu pos ronda itu yang membuat bau mirip bangkai tikus jadi tersandung di hidungnya. Ataukah karena terlalu lama Kusno berada di dalam kandang bebek hingga bau busuk itu tertinggal dalam indra penciumannya.

“Tidak bisa terserah, Kusno! Kita ini harus jadi contoh buat yang muda!” Kata Paimo menjelaskan.

Hampir saja Kusno tidak fokus pada pendengaran, karena sibuk mencari bau bangkai tikus yang terus saja timbul tenggelam di hidungnya. Dipertegas lagi hidungnya ke kiri, ke kanan, ke bawah kolong bambu. Namun masih belum juga ada hasil dari penciumannya yang tak lagi peka.

“Terus mau buat apa, Cak? Mau buat senam manula? Mau bikin lawak? Bikin karang taruna untuk orang tua?” Tanya Kusno sedikit galak.

“Bukan! Aku belum tahu! Yang penting kumpul dulu pilih ketua perkumpulan! Kalau aku yang jadi ketua baru kupikirkan!” ungkap Paimo kesal.

“Sudah aku tak mau berdebat!” ujar Kusno. “Dari tadi aku mencium bau bangkai tikus tapi tidak tahu dimana berada.” Kata Kusno lagi.

“Makanya, kalau diajak diskusi itu yang serius!” Paimo, lelaki tua berambut putih itu menyahut kesal. Memonyongkan mulutnya persis ke muka Kusno.

“Aku tahu, aku tahu.” Mendadak Kusno manggut-manggut sembari melemparkan sarung yang bertengger di bahu itu menutup hidung dan mulutnya.

“Tahu apa? Kamu tahu apa kegiatan kita selain kumpul di malam hari? Kamu punya ide? Ayo katakan!” seru Paimo penuh harap.

“Aku tahu Cak, ternyata bau bangkai tikus yang kucari-cari dari tadi itu berasal dari mulutmu!” Kusno menyeringai.

“Asem!” Paimo mendesis. Hampir saja ludahnya muncrat.

***

Cerita Seru Budaya Indonesia Cerita Seru Budaya Indonesia Cerita Seru Budaya Indonesia 

Cerita Seru Budaya Indonesia Cerita Seru Budaya Indonesia Cerita Seru Budaya Indonesia

Tidak ada yang paling membahagiakan bagi Kusno selain membawa oleh-oleh bagi cucu kesayangan di malam hari setelah menjaga kandang selama beberapa jam. Oleh-oleh itu bukan pisang goreng, tahu berontak, atau gorengan lainnya. Oleh-oleh berharganya itu adalah bebek sekarat yang akan tutup usia 5 atau 8 jam ke depan. Benar, majikannya membolehkan atau bahkan menyuruh Kusno untuk membawa pulang bebek-bebek yang sakit dan mau mati. Sayang kalau dibuang atau dipendam begitu saja jika masih bisa dimakan.

Kusno bisa mengetahui jelas mana bebek yang akan mati dalam lima jam dan mana bebek yang akan mati delapan jam. Bebek yang mati dalam lima jam ingusnya sudah keluar banyak, tubuhnya terkapar, dan kotorannya berwarna hijau pekat. Sedang bebek yang akan mati delapan jam masih bisa berdiri sempoyongan, mencari-cari pejantannya, seperti ingin bercinta untuk yang terakhir kali. Kusno tidak tahu apakah pengetahuannya tentang kematian bebek yang akan mati itu benar atau salah. Tapi yang jelas tebakannya itu belum pernah meleset.

Dulu pernah ada orang-orang berseragam coklat bersepatu hitam mengkilat mendatangi kandang bebeknya. Mereka berkata-kata seolah-olah yang mengerti benar tentang urusan perbebekan. Toh mereka bukan dokter hewan. Katanya bila ada bebek dengam ciri-ciri sempoyongan, hidung mengeluarkan lendir, lalu tiba-tiba mati, bebek-bebek tersebut harus dibakar. Lalu dikubur dalam-dalam. Katanya itu virus yang bisa menular. Menular ke manusia.

Bagaimana Kusno bisa percaya? Lha bebek yang mau mati itu adalah rejekinya. Masak harus dibakar dan dipendam begitu saja. Selama sepuluh dia menyembelih dan makan bebek yang sekarat. Hasilnya, dia dan cucunya masih sehat hingga sekarang.

Pintu rumahnya dibuka dengan ucapan salam. Inilah Kusno, bila ada rejeki selalu dia ingat mengucap salam bila masuk rumah. Padahal cucunya telah mengingatkannya berkali-kali untuk mengucap salam.

“Apa tulisanmu sekarang?” Kusno menatap mata cucunya yang masih bersinar seperti rembulan.

“Dengar di sini atau di kamar tidur?” Tanya Hasan.

“Di sini saja,” kata Kusno. Setengah jam lalu dia memaksakan diri untuk mengeluarkan pipisnya di kandang, supaya dia bisa mendengarkan tulisan cucunya mala mini dengan tenang di ruang tamu. Baru sekarang Kusno ingat, jangan-jangan air seninya esok hari jadi rebutan para bebek betina. Sepertinya tadi dia mengencingi sebuah wadah yang biasanya dipakai tempat makan bebek. Semoga saja pekerja yang biasanya memberi makan bebek-bebek itu sempat membuangnya sebelum mengisi dengan dedak yang dicampur dengan makanan khusus penggemuk bebek.

“Ada berbagai jenis masakan bebek di Indonesia. Ada bebek betutu dari Bali, ada bebek sambal hijau dari Padang, dan ada bebek panggang madu dari Jawa. Meskipun daging bebek agak liat, tetapi dengan pengolahan yang tepat akan menghasilkan masakan yang lezat. Cara untuk menghilangkan anyir bebek adalah dengan mencampur dagingnya dengan kunyit, jahe, dan daun salam. Setelah itu bebek bisa diolah menjadi aneka santapan,” ucap Hasan menutup kalimat dengan mengatupkan sampul buku tulisnya.

“Lakon ini kok cocok sekali dengan tulisanmu, Le. Aku bawakan dua ekor bebek yang bisa kita masak malam ini, bagaimana?” Kusno mengangkat tinggi-tinggi dua bebek yang beberapa jam lagi akan menjadi bangkai bila tidak disembelih.

“Tapi aku besok sekolah. Sekarang sudah jam berapa? 12 malam lebih seperempat, Mbah,” ucap Hasan melirik jam dinding bundar besar di ruamg tamu mereka. Sebuah ruang tamu yang hanya berhias jam dinding dan lafadz Allah, Muhammad. Hasil karya Hasan dari sekolah.

“Sekali-sekali liburlah, besok aku yang akan minta izin ke Pak Andri,” ucap Kusno penuh harap.

“Baiklah, kita masak sekarang, tapi besok aku tetap sekolah.” Hasan tersenyum. Senyuman yang membuat Kusno amat damai. Menyenangkan hati cucunya semakin membuatnya tenang.

Malam makin pekat. Tapi dua orang, kakek dan cucu itu berjibaku dengan dua bebek yang tersembelih. Membuang bulu-bulu. Membelah dan mengeruk jeroan. Menaburi dengan beragam bumbu yang tadi sudah ditulis oleh Hasan.

“Tunggulah di ruang tamu, sebentar lagi siap,” ucap Kusno sembari mengelus rambut Hasan yang lembut. Hasan merangkul kakeknya. Bau-bauan kandang bebek yang tertinggal di jaket kakeknya tak dirasakan. Dia memang benar-benar ingin memeluk kakeknya. Satu-satunya orang di dunia ini yang masih ada di sisinya. Bagi Hasan, malam yang kelam seperti ini terasa terang dengan cahaya Kusno.

Berurutan Kusno membawa piring, sambal, nasi sisa sore tadi, air cuci tangan, dan terakhir bebek yang sudah diukep dan dibakarnya. Warnanya menghitam. Bara kayu yang terkena permukaan daging bebek meninggalkan jejak abu hitam. Namun warna hitam tidaklah mengubah harum daging bebek yang terpanggang. Kali ini, ketika bebek itu benar-benar telah matang sempurna, penciuman Kusno kembali normal sedia kala. Rasanya sedari tadi bagian tepi lidahnya sudah menghasilkan endapan saliva. Ditambah dengan sambal Lombok hijau yang dipetiknya tadi di dekat kandang. Aromanya beradu. Meski nasi tak lagi hangat.

“Masakan mbah yang satu ini segar,” ucap Hasan tersenyum senang. Tiada satu kebahagiaan seorang Kusno kecuali melihat senyuman bocah lelaki itu.

“Segar apanya? Lha wong yang kamu minum tadi air kobokan yang kuberi perasaan jeruk nipis,” gelak Kusno.

Malam yang tak mudah dilupakan bagi Hasan. Rasanya mala mini matahari menyala di atas rumah mereka. Sangat terang.

“Kalau jadi orang kaya bisa makan enak terus tiap hari ya Mbah?” Tanya Hasan mengunyah daging yang berminyak itu.

“Makanya harus jadi orang pintar,” ucap Kusno. Sambal hijau dicoleknya dari cobek.

“Tidak mau. Pak guru Andri orang pintar. Jadi tempat bertanya semua teman, tetapi sepeda motornya paling jelek sekampung. Lebih enak seperti majikan Mbah itu, tidak pintar tapi kaya. Dia jadi apa sih Mbah?” Tanya Hasan.

“Anggota DPRD dia itu,” jawab Kusno.

***

Cerita Seru Budaya Indonesia Cerita Seru Budaya Indonesia Cerita Seru Budaya Indonesia 

Cerita Seru Budaya Indonesia Cerita Seru Budaya Indonesia Cerita Seru Budaya Indonesia

Belum genap empat puluh hari Sardimin, tapi perkumpulan para sobat sudah memenuhi pos ronda di malam Sabtu. Semua orang rindu untuk bertemu. Mengapa harus berlama-lama memendam hasrat untuk bersua? Lebih baik mengikhlaskan kepergian Sardimin untuk selamanya sehingga perkumpulan para sobat orang tua ini masih eksis, ada.

Paimo, orang paling tua di perkumpulan para sobat itulah yang menghubungi semua anggotanya sejak pagi. Dia mengatakan bahwa perkumpulan harus kembali digalakkan. Dia menyatir kata-kata pak lurah bahwa kampung harus aman. Jaga lingkungan diteruskan. Jika mandek, sekumpulan maling mulai merasa aman. Enam orang termasuk Kusno hadir di sana.

Satu yang dilupakan oleh Paimo, bahwa mereka ini sebenarnya bukan ronda malam meski tempat begadangnya di pos ronda. Mereka hanya numpang untuk duduk-duduk saja. Selanjutnya mana pernah mereka berkeliling kampung untuk ronda malam.

“Setelah kepergian Sardimin, mari kita kembali bersatu. Kita harus membaktikan diri di tengah-tengah masyarakat,” Paimo mulai berapi-api, desisnya menjadi. Sudah sejak pagi dia menghafal kalimat itu. Kalimat yang selalu menempel di otaknya saat pak lurah membuka musyawarah di balai kampung.

“Sudah, pasang kartunya,” Sapri seakan membiarkan desis Paimo seperti angin malam yang berhembus berulang.

“Jangan main gaple dulu! Kita harus memilih ketua dulu di sini!” tegas Paimo. Kembali kata sini menjadi sangat berdesis.

“Alah, ketua apa? Dari dulu juga tidak ada ketua-ketuaan di sini. Siapa mau gabung monggo, mau pergi silahkan. Kok pakai ketua, memang pakdhe mau nyalon? Cari massa kayak majikan Cak Kusno?” Sapri sepertinya lupa bahwa orang yang dari tadi bicara berdesis-desis adalah orang tua yang terkadang gampang tersulut emosi.

“Ya, wis ayo main, rasanya tanganku sudah gatal lama tidak memegang kartu-kartu keberuntungan,” ujar Nyoto.

“Aku bilang jangan main dulu! Kita cari ketua yang bisa menjadikan perkumpulan ini berguna masyarakat! Mbok ya yang ngerti! Sudah pada tua!” Paimo kalap. Dia seperti dilecehkan oleh orang-orang yang usianya 10 atau 15 tahun lebih muda darinya.

“Terus yang mau jadi ketua siapa mbah Paimo?” Tanya Sapri nyinyir.

“Aku!” tegas Paimo.

“Ah, ngimpi! Kalau cari ketua itu yang muda, yang pintar.” Nyoto mencibir.

“Tapi aku ini kaya pengalaman!” Paimo berkata tinggi sambil menepuk dadanya yang tipis dengan rusuk-rusuk yang menonjol.

Kusno yang awalnya diam dan lebih ingin pulang untuk melihat cucunya, jadi melerai pertengkaran. Tapi kata-kata ‘sudah jangan bertengkar’ tak mempan bagi Paimo. Kakek tua itu makin kalap.

“Kalian ini tak menghargai aku! Aku ini yang membangun pos ronda! Aku ini sudah besar saat kalian masih telanjang main kejar-kejaran! Sekarang kalian nglamak, mbangkang! Asem!” Paimo meluapkan amarah. Matanya mendelik, dadanya turun naik. Dia berkata sambil menunjuk semua orang di pos ronda itu.

Malam kian pekat. Namun malaikat pencabut nyawa tak takut pekatnya malam. Paimo tak sempat berpamitan. Dia hanya mengucapkan asem. Itu kata terakhirnya. Lelaki tua kurus kering itu terus saja mendelik. Dia terpental ke belakang. Rebah dan hening tak ada suara. Mulutnya terbuka dan bau bangkai tikus menyeruak. Dia mati di pos jaga dalam keadaan yang tak tenang. Benar, dia mati di malam itu.

Semua anggota perkumpulan panik. Hingga ada seorang yang langsung semburat tunggang langgang meninggalkan sandal karet dan sarungnya. Nyoto dan Sapri yang dari tadi melawan Paimo menyesal tak terkira. Namun mereka hanya mematung dan linglung.

Seorang anggota perkumpulan mulai tersadar setelah beberapa detik seperti bingung. Diraihnya pemukul besi tumpul lalu dipukulkannya dengan sekuat tenaga yang dimilikinya. Kentongan besi yang tergantung di pos ronda bergetar. Berbunyi kencang. Seluruh kampung geger. Semua orang bermunculan dari balik pintu-pintu yang awalnya terkunci rapat.

Kusno masih memandang Paimo yang matanya terbelalak dan mulutnya terbuka. Mengapa banyak orang mati dalam keadaan yang sama. Kusno merinding. Dia sadar jika kematian bisa terjadi dimana saja. Termasuk di pos ronda untuk kedua kalinya. Pelan-pelan ditempelkan telapak tangannya ke mata Paimo, lantas dikatupkan kedua mulutnya meskipun tak bisa lagi menutup. Beberapa kali nama Tuhan Kusno sebut. Kelak ia jua akan menghadap-Nya. Wajah Paimo masih hangat, tetapi telapak tangannya amat dingin. Lebih dingin dari gedebok pisang.

Padahal dia menginginkan kematian yang berbeda. Dia ingin kelak mati berada di tempat tidurnya dengan kasur dan bantal yang sama. Mungkin mulut terbuka sedikit tak mengapa. Toh seperti orang yang tidur pulas kadang mulutnya juga terbuka. Namun dia ingin matanya tertutup rapat. Seperti orang yang pergi dengan kedamaian. Bukan seperti Kusno yang seperti dicabut paksa hingga matanya melotot ke atas.

***

Cerita Seru Budaya Indonesia Cerita Seru Budaya Indonesia Cerita Seru Budaya Indonesia 

Cerita Seru Budaya Indonesia Cerita Seru Budaya Indonesia Cerita Seru Budaya Indonesia

 

“Apa tulisanmu kali ini?” Tanya Kusno pada Hasan.

Setelah kematian Paimo, seluruh anggota perkumpulan menyatakan diri bubar. Pos ronda dari bambu itu seakan tak bertuan. Tiap malam Kusno yang melewatinya menatapnya dengan hampa. Kadang bulunya merinding juga. Bagaimana bila nanti malaikat pencabut nyawa meliriknya dan ingin pula mengambilnya di tempat yang sama, seperti Sardimin dan Paimo.

“Ini kubacakan ya Mbah, tentang penyakit bebek. Penyakit bebek beragam. Kebanyakan berasal dari bakteri yang bercampur dengan makanan yang masuk ke tubuhnya. Ada juga yang berasal dari virus. Virus flu burung yang pernah menyerang ke Indonesia juga berakibat pada peternakan bebek karena ribuan bebek mati dengan cepat setelah terkena virus tersebut,” ucap Hasan.

Hasan berhenti membaca. Matanya berair. Dia bukan mengantuk karena sudah kebiasaan menunggu kakeknya pulang dari kandang hingga pukul dua belas malam. Namun ada perasaan yang ingin dia tumpahkan.

“Sudah, itu saja? Ayo tidur sekarang!” seru Kusno membimbing Hasan. Bocah lelaki itu tak mau beranjak dari tempat duduknya. “Ada apa?” Tanya Kusno.

“Dulu mbah putri meninggal karena apa? Karena bakteri atau virus?” Hasan memberanikan diri mengungkapkan isi hati.

Kusno diam. Kembali bocah lelaki terbawa perasaan dari tulisannya sendiri. Apa benar kalau para penulis itu sering hanyut dengan tulisan yang mereka buat? Menangis sendiri, tersenyum sendiri. Sinting! Mudah-mudahan cucunya itu tidak menjadi penulis yang gila.

Pertanyaan Hasan begitu menamparnya. Lelaki tua itu bahkan tidak tahu apa penyakit Siti, istri terkasih. Dia tidak pernah membawa istrinya ke rumah sakit. Sedangkan istrinya juga selalu menolak diajaknya ke sana. Mengingat kematian Siti selalu membuatnya menjadi orang terbodoh yang ada di dunia. Bila takut biaya kenapa dia tidak bicara pada pak lurah. Tetangganya pun bisa mendapat ampunan dari rumah sakit setelah mendapat tandatangan dari pak lurah. Rasa sesalnya tak berkesudahan.

“Sudah, jangan bertanya tentang itu. Mbahmu meninggal dengan damai di malam hari seperti ini. Lebih baik kamu mendoakan, dari pada bertanya tentang kepergiannya,” ujar Kusno membelai kesayangan.

“Aku selalu berdoa untuk mbah putri, aku kadang masih ingat wajahnya. Aku ingin bertemu sekali lagi, aku rindu mbah putri,” terbata-bata Hasan berkata. Sesak kerongkongan dan dadanya. Kusno pedih. Bocah lelaki ini, ah Kusno tak bisa melukiskan perasaannya lagi.

***

Cerita Seru Budaya Indonesia Cerita Seru Budaya Indonesia Cerita Seru Budaya Indonesia 

Cerita Seru Budaya Indonesia Cerita Seru Budaya Indonesia Cerita Seru Budaya Indonesia

Seharusnya Kusno sudah datang malam ini. Udara panas di luar meski sekarang adalah malam. Gemintang bergelantungan dan angin sudah capek menyerbu mala mini. Mereka sepertinya rehat sejenak sambil mengumpulkan kekuatan dan bantuan. Bila musim berganti, serbuan angin malam dapat menumbangkan tiang listrik. Namun di malam yang tenang seperti ini Kusno tak kunjung membuka atau mengetuk pintu rumahnya.

Sementara itu Hasan diliputi kecemasan mendalam. Dia tidak tenang duduk. Lalu berdiri. Lalu duduk kembali. Detik jam dinding bulat besar di ruang tembok itu dapat didengarnya dengan jelas di malam yang sepi. Sudah hampir pukul 02.00 malam. Hasan mencoba menghibur dirinya dengan berbaring. Barangkali saja dia dapat tertidur, kemudian di subuh nanti dirinya sudah mendapati kakek harapan satu-satunya itu sudah mendekapnya di samping.

Namun bukan tertidur, hanya untuk memejamkan mata saja rasanya terlampau berat bagi bocah lelaki itu. Kasur yang biasanya mengajak untuk cepat terbang ke alam fantasi itu sepertinya terbuat dari duri. Sehingga sukar benar dia dapat tenang di pembaringan. Hasan berdiri lagi, pergi menuju ruang tamu. Duduk kembali di sana. Membuka kembali buku tulisan bersampul hijau. Lalu menutupnya lagi. Benar-benar menunggu dalam kecemasan membuatnya sungguh frustasi.

Mata bocah lelaki itu seterang purnama di luar sana. Mata itu lantas tertuju pada buku tulisan yang sejak siang tadi sudah ditulisnya. Entah kesetanan apa, tiba-tiba saja Hasan merobek tulisan terakhir bukunya. Tidak sampai di situ. Bocah berkulit gelap itu juga meremas-remasnya hingga tak berbentuk semula. Dibuangnya kertas itu di lantai. Kecemasannya makin menjadi. Tangisan cengengnya mulai lirih terdengar.

Lakon ini seperti tulisan-tulisanmu. Itu kata Kusno kepadanya. Baru saja ingatan itu menusuk jantungnya. Dulu ketika dia menulis tentang bebek yang tidak mengerami telurnya sama persis dengan yang kakeknya pikirkan tentang keadaannya yang yatim piatu. Ketika dia menulis tentang berbagai masakan bebek, di malam yang sama Kusno membawa dua bebek untuk dipanggang. Lalu kini apa yang telah ditulisnya? Mengapa di perpustakaan tadi dia membaca tentang tulisan itu.

Dengan gemetar Hasan mengambil kertas yang diremas-remasnya. Hasan membuka dengan pelan disertai air mata yang berjatuhan deras. Di situ dia tulis: cara paling baik dalam memotong bebek adalah dengan menyembelih pada pangkal leher. Sebab di situ terdapat pembuluh besar darah yang mengalir ke kepala dan bagian tubuh lainnya.

Rasanya ada bom meledak di tubuhnya. Hasan ingin sekali menangis kencang. Ingin sekali dia menabrak pintu rumah lalu berlari kencang menuju kandang bebek tempat kakeknya berada. Dia tidak ingin kakeknya berakhir tragis dengan leher terpotong seperti dalam tulisannya. Dia tidak mau kehilangan lagi.

Bagaimana jika kakeknya tiada? Bagaimana bila ada maling yang ingin mencuri bebek, lalu menebas leher kakeknya? Apakah orang-orang perkumpulan para sobat itu akan mengadopsinya? Tidak mungkin! Mereka hanyalah para orang tua yang juga menunggu detik-detik terakhirnya di muka dunia. Apakah pak Andri gurunya itu akan mengadopsinya? Pasti bukan! Beban pak Andri sudah berat. Anaknya tiga kecil-kecil. Sepeda motor kepunyaannya terjelek diantara sepeda motor kepunyaan anggota perkumpulan para sobat. Apakah majikan kakeknya mau menerimanya jadi anaknya? Bahkan seluruh orang kampung percaya jika dia bukan orang yang tulus.

Hasan masih berpikiran buruk. Namun dia punya inisiatif baru dengan mengambil penghapus karet dan menghapus seluruh tulisannya hari itu. Masih dengan derai air mata dia kembali menulis di atas kertas yang sudah tak berbentuk itu dengan tulisan: duckkeinstein adalah bebek mati yang dihidupkan kembali melalui percobaan ilmiah dengan pemicu petir. Petir itu didapatkan dengan menerbangkan layang-layang di musim penghujan. Sehingga bebek yang telah mati itu bisa hidup kembali.

Bebarengan dengan itu pintu rumahnya diketuk dua kali. Salam lirih terdengar. Hasan terdiam. Matanya nanar terjaga. Air mata diusapnya. Ingus ditelannya dalam-dalam.

“Siapa?” Tanya Hasan.

“Kucing. Ini jelas Mbahmu! Ayo buka pintu!” ucap orang di luar.

Setengah ragu Hasan mendekat pintu. Lakon ini seperti tulisanmu, kini adagium itu dibuangnya jauh. Tidak mungkin mbahnya menjadi Frankeinstein seperti yang telah ditulisnya. Namun tetap dibukanya juga pintu dengan mata tajam memandang. Tangan tetap gemetaran.

Sosok kakeknya berdiri dengan senyum. Disorot rembulan bundar malam. Dia masih seperti kakeknya yang dulu. Kurus kering dengan bahu setengah layu. Langsung ditubruknya sosok dengan rambut penuh uban itu. Hasan menggila. Dia menangis seperti anak TK yang kehilangan permen dua buah.

“Kenapa Mbah lama? Aku takut!” pekik Hasan dengan air mata yang tertumpah.

“Sudah diam dulu. Mbah tadi diajak ke rumah majikan. Ada yang harus dikerjakan di sana. Mbah harus pasang banyak spanduk dan banner. Dia mau nyalon lagi,” kata Kusno sambil menutup pintu. Kemudian dibimbingnya cucu lelakinya itu ke dalam kamar.

“Apa tulisanmu hari ini?” Tanya Kusno. Hasan menggeleng. Tangannya tak mau berpisah dari tubuh Kusno. Setiap kali Kusno ingin melepasnya, bertambah kuat cengkeraman Hasan pada tubuhnya.

“Aku tidak mau menulis lagi, aku takut,” ucap Hasan sembari menghapus ingusnya.

“Kenapa? Bagus kalau bisa menulis,” kata Kusno. Hasan diam.

“Sudah jangan nangis, aku punya berita baru. Majikan mau punya usaha sablon dan banner. Katanya lebih murah kalau punya usaha percetakan sendiri dari pada harus cetak kartu nama, banner, topi, kaos, payung, dan lainnya pada orang lain. Nah, nanti aku akan menjaga percetakannya. Kerjanya siang hari thok! Lebih anak kan?” Kusno bicara banyak. Namun Hasan tetap diam.

Kusno melirik bocah lelaki yang duduk disamping kirinya dengan tangan yang masih kuat merangkul pinggang kurusnya. Mata Hasan terkatup, mulutnya sedikit terbuka, dan nafasnya teratur. Dia tidak peduli apakah kakeknya punya pekerjaan baru, jabatan baru, atau uang segunung sekalipun. Bocah lelaki itu hanya peduli dengan kehadiran kakeknya di malam itu melebihi keinginan untuk mengetahui wajah ibunya. Hanya beberapa menit memeluk Kusno, ketenangan hati Hasan seperti subuh menjelang.

“Eh, sudah tidur,” Kusno berkata pelan.

Kusno tak sampai hati membangunkan anak yang beberapa saat lalu menubruknya dengan tangis karena cemas. Membopongnya juga masih dipikirkannya. Tubuhnya sudah tak mampu lagi menggendong anak seberat 27 kilogram ini. Namun atas nama kesayangan, Kusno mencoba membopong bocah itu ke atas ranjang di kamar. Anehnya, walau sudah terlelap tapi tangan mungil itu masih menggapai-gapai ke Kusno. Lalu dibiarkan tangan kecil itu meraih tubuhnya kembali. Seolah tak dibolehkan lagi kakeknya itu pergi dari sisinya.

Kusno menatap wajah cucu lelakinya itu. Bocah itu terlihat menawan. Alis tebal, hidung proporsional, dan mulut yang tipis. Bocah itu mungkin tak peduli dengan pekerjaan yang akan dilakoninya esok hari. Padahal pekerjaannya besok amatlah penting baginya. Dia sudah tidak akan berkutat dengan bebek di malam hari.

Kusno masih menyimpan keinginannya dalam-dalam. Sebab menceritakan kepada Hasan hanya akan membuat bocah itu tak kan bisa tidur tenang. Bukan gaji yang dia banggakan kini. Meski majikannya berjanji akan menambah honor setiap bulannya. Apa lagi yang ingin dia angankan di dunia ketika semua orang sibuk mencari penghidupan yang lebih bahagia. Namun dia berpikir sebaliknya, lelaki tua itu ingin suatu ketika menutup mata dengan bahagia.

“Kelak kamu tidak akan menulis tentang bebek lagi, tulislah tentang cahaya dan damai,” ujar Kusno mengecup kening cucunya.

Kusno masih memandang kembali bocah kesayangan. Dia berharap malam segera cepat menghilang dan pagi datang menjelma. Itulah sebenarnya yang membuat dirinya bahagia. Pagi dengan cahaya yang hangat. Dia bisa bekerja di siang hari dan tak lagi selalu bersahabat dengan malam yang gelap pekat.

Satu cita-cita Kusno, dia tidak ingin nyawanya diambil pada malam hari seperti istri dan dua sobatnya yang sudah mendahului. Dia ingin merangkul cahaya dan mengajak malaikatnya tersenyum.

***

Cerita Seru Budaya Indonesia Cerita Seru Budaya Indonesia Cerita Seru Budaya Indonesia 

Cerita Seru Budaya Indonesia Cerita Seru Budaya Indonesia Cerita Seru Budaya Indonesia

Cerita Seru Budaya Indonesia Cerita Seru Budaya Indonesia Cerita Seru Budaya Indonesia 

Cerita Seru Budaya Indonesia Cerita Seru Budaya Indonesia Cerita Seru Budaya Indonesia

Terimakasih telah mengunjungi website kami

salam TRANSNADA sewa mobil Malang

sewa mobil di malang sewa mobil murah malang rental mobil malang sewa mobil di malang sewa mobil murah malang rental mobil malang sewa mobil di malang rental mobil malang murah

 

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Call Now
WhatsApp chat WhatsApp kami