Sewa mobil malang RAMAH, MURAH dan NYAMAN

Cerita Khas Budaya Indonesia


Cerita Khas Budaya Indonesia ini kami persembahkan untuk sobat transnada semua yang setia mengunjungi website kami. semoga terhibur dengan membaca artikel-artikel kami

NAMAKU SUJONO

Tubuhnya sangat besar. Bahkan terlampau besar untuk ukuran anak kelas empat Sekolah Dasar. Rasanya dalam satu sekolah hanya dia yang paling gemuk diantara yang lain. Maka teman-temannya memanggilnya Endut.

Sebenarnya ia tidak suka dipanggil Endut. Bagaimanapun ia punya nama sendiri seperti teman-temannya yang lain. Tetapi terkadang bacah lelaki itu tidak terlalu menghiraukan gelar panggilannya. Ia sadar dengan keadaan besar tubuhnya yang di atas normal menjadikan ciri tersendiri. Sehingga orang lebih akrab dengan sosoknya yang dipanggil Endut.

Endut selalu berjalan kaki jika pergi atau pulang ke sekolah. Sebenarnya jarak rumah ke sekolahnya agak jauh. Namun ayah dan ibunya selalu menyuruhnya untuk selalu berjalan kaki saja. “Ini demi kebaikan kesehatanmu.” Itu kata mereka.

Siang itu setelah sekolah bubar, seperti biasa Endut pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Biasanya ia berjalan kaki pulang dengan Anton. Rumah Anton memang satu jalur perjalanan dengan Endut, meski mereka bukan tetangga dekat.

Tapi kali ini Anton tidak masuk sekolah karena sakit. Jadi sekarang Endut harus berjalan pulang ke rumah sendiri.

Sebentar berjalan membuat keringat mulai bercucuran di tubuh Endut. Ditambah lagi dengan cuaca yang panas. Rasanya haus juga sudah menyerang tenggorokan Endut.

Ketika akan melewati gang yang biasa Endut lewati ketika pulang, ternyata gan tersebut ditutup. Di situ terdapat papan dengan tulisan, maaf jalan anda diperbaiki.

Dan jadilan Endut harus memutar mencari jalan lain agar dapat sampai ke rumahnya. Jalan tembus yang memutar itu agak sepi. Tidak seperti jalan yang biasa ia pakai.

Keringat mulai membasahi baju putih si Endut. Tapi ia msih bersemangat berjalan.

Di tengah perjalanan ia melihat dua anak SMP yang duduk-duduk di bawah pohon. Mereka tampak mengawasi si Endut.

Endut juga menyadari bahwa ada dua anak remaja yang tengah melihatnya. Pikiran Endut sudah bermacam-macam. Dan yang paling dipikirkannya adalah jangan-jangan dua anak tersebut akan merampoknya.

Dan dugaan Endut memang benar. Dua anak remaja tersebut kemudian menghadang jalannya.

Endut masih terlihat tenang. Dua pelajar SMP itu tubuhnya lebih kurus dibandingkan dengan tubuh Endut yang besar.

“Hai, endut. Kasih kita uang. Baru kamu boleh lewat jalan ini.” Kata salah seorang diantara dua remaja tersebut dengan nada mengancam.

Endut agak keder juga mendengar ancaman mereka. Tapi ia berusaha agak tenang. Selama ini ia memang tidak pernah berkelahi. Sekalipun banyak anak mengolok-ngoloknya.

“Aku tidak punya uang.” Jawab Endut kemudian.

“Ah, coba digeledah tas dan sakunya.” Ujar remaja yang lain.

Kali ini Endut tidak bisa tinggal diam. Ia tidak mau tasnya diacak-acak oleh anak-anak remaja nakal itu. Dan sebelum mereka menggeledah tasnya, Endut lebih dulu mendorong dua anak tersebut hingga jatuh terjerembab ke belakang.

Endut kemudian mengikuti kata hatinya. Ia harus segera lari meninggalkan tempat itu. Namun dua anak tersebut langsung mengejarnya kembali. Mereka dengan cepat menyusul Endut. Karena dengan tubuh besarnya Endut memang tidak dapat berlari kencang. Mereka kemudian merebut tas Endut. Saling tarik menarik tas pun terjadi.

Endut mengerahkan segala kekuatannya agar tasnya tidak jatuh kepada dua anak nakal itu. Tapi dua anak itu juga tidak mau menyerah. Mereka juga menariknya dengan keras.

Namun tiba-tiba tali tas itu putus. Endut dan dua anak remaja itu sama-sama jatuh ke belakang.

Sekarang Endut kelihatan sangat marah. Karena pasti di rumah ibunya akan memarahinya jika tahu tasnya telah putus.

Dengan sangat geram ia bangkit. Dan lalu menuju dua anak remaja yang masih terbaring di jalan. Tanpa basa-basi Endut menindih dua anak itu dengan keras. Akibatnya dua anak itu tidak dapat bergerak.

Mereka lantas minta ampun pada Endut.

“Ampun endut. Jangan kamu tindih kami. Kami tidak dapat bernafas. Beratmu ini seperti gajah saja.” Teriak satu orang dengan nafas terengah-engah.

“Apa kamu bilang, saya seperti apa?” ujar Endut dengan marah.

“Tidak-tidak, ampun lepaskan kami.” Kata mereka lagi.

“Saya akan melepaskan kalian, tapi kalian harus berjanji untuk tidak minta-minta uang pada siapapun orang yang lewat jalan ini. Mengerti!” Dengan suara kencang Endut berkata.

“Iya, baik Endut. Kami berjanji.” Jawab kedua anak remaja itu hampir bersamaan.

“Awas kalau kalian berani mengancam teman-temanku lagi.” sahut Endut lagi.

“Iya, iya, ampun, ampun.” Mereka berdua berkata mengiyakan Endut.

“Dan satu lagi.” Kata Endut meneruskan pembicaraan. Sementara dua anak yang ditindihnya sudah tidak kuat menahan beban berat Endut.

“Apa, apa, kami akan turuti asalkan jangan ditindih seperti ini.” Pinta kedua anak itu.

“Jangan sekali lagi memanggilku Endut, mengerti!. Karena namaku adalah Sujono!!”

***

Cerita Khas Budaya Indonesia Cerita Khas Budaya Indonesia Cerita Khas Budaya Indonesia Cerita Khas Budaya Indonesia Cerita Khas Budaya Indonesia Cerita Khas Budaya Indonesia

Terimakasih telah mengunjungi website kami

Salam TRANSNADA sewa mobil Malang

rental mobil malang sewa mobil di malang sewa mobil murah malang rental mobil malang sewa mobil di malang sewa mobil murah malang rental mobil malang sewa mobil di malang rental mobil malang murah rental mobil malang

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Call Now
WhatsApp WhatsApp kami