Sewa mobil malang RAMAH, MURAH dan NYAMAN

Cerita budaya Malang”BANTENGAN DI BULAN SELO”


Cerita Budaya Malang “BANTENGAN DI BULAN SELO”

Oleh : Redite Kurniawan

Cerita Budaya Malang

Sampean tengok sendiri di dapur! Beras tinggal segenggam, gula tinggal sesendok, kopi kalau mau koret-koret. Semua habis! Makanya, ambil saja Cak tanggapannya! Ndak usah dipikir-pikir lagi!” Istri Karjono merajuk. Raut mukanya tak berbentuk.

Namun kali ini dia bukan sekadar merajuk. Perempuan dengan rambut panjang yang sering digelung di ubun-ubun itu protes. Mulutnya ngroweng tanpa jeda. Kadang mencep ke kiri kadang ke kanan. Kadang monyong ke depan dua centi. Intonasi suaranya sudah tak selembut ketika berada di ranjang. Malah bisa jadi suara Siti, istri Karjono itu lebih keras dari bledek.

Karjono menempeleng kepalanya sendiri. Puyeng. Seharian ini dia tidak bisa konsentrasi dengan tenang. Hari-hari yang biasa lelaki itu habiskan untuk mencari rumput dan rambanan untuk kambing-kambingnya, hilang begitu saja. Hingga sore ini dia masih duduk mengangkat kaki kanan di ruang tengah. Pada hadapan ada segelas kopi yang warnanya tak lagi pekat dengan rasa yang tidak ke utara, tidak juga ke selatan. Hambar.

Masih tangan kekar Karjono menempel di keningnya. Lelaki seluruh jagad ini pasti stres tingkat provinsi kalau istrinya sudah menggugat soal dapur. Kalau kompor tak bisa ngebul. Lalu keinginannya untuk makan nasi tidak lagi dapat terkabul. Rasanya ingin kabur.

Karjono kabur? Tak kan mungkin itu terjadi. Dia cucu Sudibyo, orang sakti sedusun Gadingan. Pada zamannya, Sudibyo tak lagi dikenal oleh orang-orang di dusun di bawah lereng pegunungan itu. Kakek berjenggot putih yang tergerai di dada itu banyak didatangi oleh para pejabat dari kecamatan, satu dua juga berasal dari kabupaten. Mereka semua meminta petuah dan nasehat supaya langgeng jadi pejabat.

Sudibyo, kakek sakti itulah yang kemudian mewarisakan semua ilmu pada Karjono. Dia mewarisi harta satu-satunya yang tertinggal dan menurutnya yang paling berkah. Sebelum Sudibyo menutup mata selamanya, sawah dan rumahnya sudah dia bagi rata pada sepuluh anaknya. Lebih baik mewariskan harta selagi masih hidup, dari pada ketika dirimu mati dan tanah kuburmu masih basah, anak-anakmu sudah bacokan rebutan warisan. Begitu yang pernah Sudibyo katakan pada Karjono, cucu lelaki pertamanya yang paling dia sayang.

Karjono tidak mendapat bagian tanah atau rumah, tetapi yang dia dapatkan adalah grup bantengan plus seluruh perlengkapannya termasuk kenong, bonang, angklung, gendang, dan dua sound system besar. Inilah warisan Karjono yang saat itu terlihat janggal. Namun dia terima dengan lapang dada warisannya. Plus embel-embel ilmu kesaktian yang secara otomatis menurun kepadanya dari Sudibyo si jenggot putih panjang.

Bantengan tak ubahnya dengan reog yang pada hari-hari tertentu akan lebih menghasilkan dari pada bercocok tanam di sawah. Tarifnya lumayan. Untuk sekali tampil dengan durasi antara 2 hingga 3 jam sudah jutaan rupiah di genggaman. Para pemain atraksi, penabuh, dan para perlengkapan umum dibayar secukupnya. Secukupnya artinya bisa untuk membeli rokok merk termurah ditambah gula 1 kg ditambah kopi bubuk ¼ kilo ditambah beras 2 kilo ditambah kacang sanghai 1 bungkus besar. Kalau diuangkan, itulah jumlah bayaran para pemain bantengan.

Namun jangan dikira bahwa pemain bantengan hanya dua atau tiga orang. Ini adalah kesenian besar yang melibatkan juga banyak orang. Bantengan Karjono memiliki 2 banteng, maka dalam satu banteng terdapat dua orang, jadi sudah empat orang. Pemain atraksi ada 4 orang. Dua orang pawang selain dirinya. Lalu ada penabuh 6 orang. Dua sinden perempuan. Seorang mc atau pembawa acara. Dua orang tukang angkat-angkat. Bahkan pengeluarannya bisa membengkak bila tanggapan berada di area yang jauh dari dusunnya karena dia harus menyewa satu mobil bak terbuka untuk mengangkut barang dan peralatan. Sedang anggota pemain biasa naik sepeda berboncengan 2 atau 3 orang.

Namun kali ini tanggapan yang selalu dimaknai berkah dan anugerah itu malah menjadi petaka bagi Karjono. Sebenarnya tanggapan ini tidak main-main. Sebab yang nanggap adalah pak kapolsek yang baru. Sudah barang tentu ajudannya yang kemarin datang ke rumah Karjono memberikan uang persekot yang lumayan banyak. Belum lagi dia mengatakan kalau selesai main, upahnya dua kali lipat dari hari biasa. “Ini yang mengundang pak kapolsek, Cak Jon. Bukan Pak Wo dusun,” kata ajudan polisi.

Karjono menelan ludah. Dia sadar bahwa yang dibanggakan para lelaki pada istri dan keluarganya adalah ketika bisa membuat mereka bahagia. Salah satunya tentu dengan lembaran-lembaran kertas yang bisa ditukar dengan aneka barang di warung.

Namun jawaban ajudan itulah yang membuat Karjono resah tak terkira. Saat lelaki dengan cambang yang lebat dan dahi kotak menonjol itu bertanya, “kapan Pak acaranya?” Ajudan itu menjawab dua minggu lagi. Lantas mata Karjono yang hitam itu bergerak ke kalender. Dia memicingkan mata lalu mendelik. Tak percaya dengan penglihatannya, dia berdiri dan menyambar kalender yang tergantung di dinding ruang tamu dengan cepat. Hingga paku kecil karatan untuk menopang kalender itu tercabut dari dasarnya.

Kembali menghitung hari dan tanggal yang telah ditetapkan oleh kliennya kali ini, yakni dua minggu dari sekarang. Sampai-sampai Karjono harus memastikan dengan jari telunjuknya untuk menghitung dua kali. Jawabannya pun masih sama. Itu sudah masuk dalam bulan Selo. “Ndak bisa, ndak bisa, itu bulan Selo!” Karjono menyerah.

“Bisa Pak ajudan, nanti kita kabari lagi,” Siti istrinya yang menyuguhkan kopi tiba-tiba saja ikut menimpali. Mukanya cerah. Secerah langit di luar sana.

Karjono terbelalak. Ingin sekali dia bekap mulut istrinya yang lancang ikut memutuskan tanggapan. Namun tangannya tak sampai hati melukai bibir istrinya yang kenyal.

“Baiklah, ini DPnya saya berikan. Saya tunggu jawabannya. Kalau perlu mobil tinggal bilang, nanti kita sediakan mobil patroli untuk mengangkut barang-barang,” ujar ajudan itu sembari menyeruput kopi panas yang terhidang.

Setelah ajudan itu pergi, Karjono sepi. Bahkan tidak disentuhnya amplop yang ditinggalkan ajudan itu di atas meja kayu berukirnya. Lelaki bercambang itu diliputi dilema yang tiada habis. Dia tahu betul jika area dapurnya butuh uang. Namun dia juga tahu betul bahwa melanggar sumpah akan menimbulkan petaka.

Sumpahnya pernah langsung dia lontarkan saat Sudibyo, kakeknya itu masih hidup dan tinggal di pembaringan dengan nafas yang tersengal-sengal. Karjono disumpah untuk tidak akan pernah melakukan tanggapan bantengan di bulan Selo. Itu pantangan besar bagi Sudibyo dan segala ilmu yang telah dia turunkan kepada Karjono. Bulan Selo bulan sakral, ketika para danyang yang diundang sedang semedi di Gunung Rawe. Mereka tidak mau diundang saat tanggapan di bulan itu. Mereka, para danyang akan ngamuk bila dipaksa turut. Sedangkan cemeti dan gamelan yang dibunyikan saja sudah membuat para danyang itu berhamburan dari semedi untuk ikut menari. Bos para danyang akan marah. Jika dia marah Sudibyo juga tidak tahu apa yang akan mereka lakukan pada keluarga ini. Karena itulah pantang untuk tanggapan di Bulan Selo.

Karjono menutup muka. Namun Siti, istrinya itu mencoba membukanya. “Cak, John Travolta seminggu lagi genap lima tahun. Aku mau mengundang teman-teman TKnya bancakan sego tumpeng di rumah. Kita perlu uang,” rayu istrinya dengan suara yang lembut. Suara yang membuat Karjono ingin membimbing tangan lembut itu segera menuju kasur.

John Travolta, itu nama anak Karjono yang bungsu. Anak termanis dari tiga anaknya yang lain. Karjono tidak tahu arti nama itu. Karjono hanya tahu bahwa suatu saat rombongan mahasiswa dari kota datang ke rumahnya. Anak-anak pintar itu mewawancarainya tentang bantengan dengan segala tetek bengeknya. Katanya mereka sedang ada tugas meliput budaya. Lalu ketika dia memperkenalkan diri sebagai Cak Jon, diantara mereka malah tersenyum dan berkomentar, “namapanggilannya bagus Cak Jon, kayak John Lennon atau John Travolta.” Padahal Jon itu kependekan dari Karjono.

Namun satu nama yang disebutkan oleh mahasiswa itu sungguh terngiang di telinganya. Hingga ketika anak lelaki bungsunya itu hadir ke dunia, langsung dia beri nama John Travolta. Siapapun orang itu, pesohor atau orang biasa, semoga dia orang baik lalu bisa menginspirasi anak bungsunya kelak dengan nama yang disandangnya.

***

Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang 

Udara panas, sumuk. Karjono jadi berpikir mengapa udara di pegunungan yang seharusnya dingin menusuk tulang itu kini panas di malam hari. Orang bilang itu tanda hujan mau turun. Namun dilihatnya gemintang semakin semarak di atas langit. Tidak ada tanda mendung berkejar-kejaran.

Hanya kipas dari anyaman bambu itu yang menemani dirinya bersama talas rebus. Istrinya itu benar-benar baik kepadanya. Meski seharian ngroweng tentang tanggapan bantengan yang tak kunjung diputuskan, tetapi istrinya masih juga menyajikan talas rebus sebagai camilan. Tanaman talas-talas itu dibiarkan liar di belakang rumahnya. Bersama- sama dengan tanaman singkong dan ubi jalar.

“Sudahlah Cak, kenapa harus bingung dengan bulan Selo. Semua bulan itu baik, semua hari itu baik, kalau diikhtiarkan untuk cari nafkah buat keluarga,” istrinya yang manja itu berkhotbah. Khotbah yang sama sekali tak membekas di hati Karjono.

Siti melepas sanggulnya yang awut-awutan. Ia gerai rambutnya yang panjang lalu di disisirnya dengan tangan. Sebentar kemudian dia kembali menggelung rambutnya tepat di ubun-ubun kepala. Kali ini lebih rapi dan teratur.

Perempuan gemuk berwajah bulat itu lalu mengambil air putih dalam mug besar. Ia kembali menyuguhkan air putih itu disamping talas yang belum juga disentuh oleh suaminya. Lantas diambilnya sebuah talas yang paling besar. Dikupas lalu dimasukkannya pada mulut Karjono yang sibuk mengipasi diri dengan kipas bambu di tangan.

Pelan mulut Karjono menerima uluran tangan dari Siti. Pelan juga dia menggigitpolopendhem berwarna putih kelabu itu masuk ke dalam mulutnya. Lelaki itu suka makan talas, tapi tentunya teman minumnya bukan air putih yang tawar. Lha wong talas sudah tawar, minumnya tawar juga. Seharusnya Siti membuatkan kopi atau teh manis.

Namun buat apa protes. Lelaki bercambang lebat itu yakin bila semua bahan-bahan makanan yang disebutkan Siti tempo hari memang betul kosong di dapur. Sekecap talas sudah lumat dalam mulutnya. Dia mengunyah lagi untuk beberapa saat dengan giginya yang sekuat baja.

Tiba-tiba saja mata Karjono berbinar seperti cahaya. Dia hampir melonjak dan memuntahkan mulutnya yang masih penuh dengan talas lumatnya. Namun buru-buru disahutnya air putuh dan diteguknya beberapa kali. Ada ide dan harapan yang muncul mendadak dalam kepala Karjono.

“Baik, aku terima tanggapannya,” ucap Karjono bulat.

Siti tersenyum bahagia. Tangannya kembali memilihkan talas terbesar yang tersisa. Dikupasnya kembali dan diulurkan pada tangan suaminya yang keras. Malam sumuk, tapi hati Siti sudah amat dingin. Melebihi air putih tawar yang diminumnya. Dari mug yang sama yang sudah disruput oleh suaminya.

***

Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang 

Seperti biasa, sebelum tanggapan ada semacam briefing antara Karjono dan para krunya. Dia mengumpulkan mereka di halaman rumahnya yang luas dengan menggelar tikar pandan. Semuanya melingkar. Karjono berada dalam barisan.

“Itu masuk bulan Selo, Cak Jon, yakin ta?” Tanya Suyanto, pawang yang selama ini menjadi tangan kanan Karjono.

Suyanto tentu tahu perihal pantangan bagi grup bantengan ini bermain di bulan Selo. Pantangan yang belum pasti ada di grup bantengan lainnya. Ada grup bantengan yang pawangnya pantang makan gula merah, ada yang pantang daun kelor, ada yang pantang ditanggap Jumat Kliwon. Tergantung guru, leluhur, dan danyangnya.

“Makanya sekarang ini aku kumpulkan kalian semua. Kita jadi tampil. Tapi ada beberapa yang harus kita ubah agar penampilan kita bisa berhasil,” ungkap Karjono.

Dengan suara yang sengaja dipelankan, Karjono mulai menjelaskan bahwa dia akan mencoba menyogok para danyang Gunung Rawe. Dia terinspirasi dari kupasan talas dari istrinya kemarin malam. Istrinya menyuapkan talas dan hatinya lumer seketika. Jadi dia akan memberi ubo rampe dan dupa yang banyak untuk para danyang supaya mereka tidak mengetahui kalau grup bantengan ini berangkat di bulan Selo.

“Apa para danyang bisa disogok, Cak Jon?” Tanya Suyanto mengerutkan dahinya yang selebar lapangan bola.

“Sekarang ini siapa yang tak bisa disogok? Mau guru, mau polisi, mau anggota DPR, semua tiarap kalau sudah disumpal uang. Apalagi para dedemit yang suka kembang. Makhluk yang tidak bisa disogok satu-satunya di bumi ini mungkin malaikat. Kalau besok waktunya nyawamu diambil, mau disogok berapapun dia tak mau ambil pusing. Matek koen!” ucap Karjono disambut tawa anak buahnya yang tertahan.

Ojo medeni aku Cak!” Suyanto cemberut.

“Jadi, sebelum hari H, aku akan membuat mereka sibuk dengan kesukaan mereka. Sehingga waktu tampil mereka tak akan mengganggu dan merasuki kita,” ujar Karjono.

“Lha terus atraksinya apa Cak kalau nggak ndadi? Kalau gak ada makan rumput, makan kembang, makan beling?” Tanya seorang anak buahnya yang sering “ndadi” alias kesurupan di pertunjukan bantengan.

“Kamu cuma pura-pura ndadi, nanti tak suruh orang buatkan jajan yang bentuknya kayak rumput, kembang sama beling. Sekarang banyak jajan model itu,” ungkap Karjono.

“Tapi Cak Jon, pecut suryodono dan bantengan yang ada di gudang itu sudah bisa dihirup dari jauh oleh para memedi bila dikeluarkan dari kamar, piye?” Kasmadi pawang kedua berbicara.

“Aku ngerti Mad, nanti kita buat bantengan baru dan pecut baru. Jadi tanggapan kita tidak terendus para danyang,” jawab Karjono.

Begitulah, malam itu rencana untuk mengelabui para danyang didiskusikan amat serius. Tak ada yang lebih serius dari briefing tanggapan bantengan grup Karjono selain pembicaraan di malam itu. Kemudian mereka akan kumpul lagi sehari sebelum acara tampil dimulai.

***

Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang 

Pagi itu Karjono ditemani oleh dua pawangnya pergi ke Gunung Rawe untuk memberikan sogokan pada para danyang. Sogokannya berupa ubo rampe kembang sebakul dan dupa dua kardus. Pasti para danyang lupa semedi dan berebut makan semua itu. Itu yang dilihat dari mata batin Karjono. Makan dengan amat rakus dan saling berebutan. Kecil besar, tua dan muda, semuanya makan lahap tak terkira. Hingga perutnya membesar seperti gentong. Lantas mereka rebahan dan tertidur kekenyangan. Semuanya.

Malamnya semua anak buah grup bantengan berkumpul bersama lagi di halaman rumah Karjono. Pecut sudah dibuat dari tali tambang. Ketika dipukulkan suaranya hanya cetar biasa. Padahal biasanya pecut suryodono bila dipukulkan ke tanah suaranya menggelegar. Sampai anak-anak kecil yang ada di dalam gendongan terkena sawan. Namun sengaja Karjono membuat tiruan agar timnya ini tidak diikuti oleh para danyang.

Karjono lalu menyuruh dua orang anak buahnya yang biasa masuk ke dalam banteng untuk mencoba banteng baru yang tidak diberi sajen itu. Kepala banteng itu terbuat dari streofoam, sedang tanduknya terbuat dari karton. Jelas, bila orang dewasa mengamati seksama akan tahu beda kepala banteng asli yang terbuat dari tanduk dan kepala banteng sungguhan yang mati dan banteng palsu yang terbuat dari sterefoam dan karton. Sedangkan kerangka badannya tetap terbuat dari bambu. Lalu sehelai kain hitam disarungkan pada kerangka badan bantengan itu. Lucunya, ekor bantengan dibuat dari tali raffia warna hitam yang dipilin. Seharusnya ekor bantengan terbuat dari ekor sapi sungguhan.

Semuanya serba palsu. Pokoknya niat Karjono untuk mengelabui para danyang dan memedi agar tidak ikut serta dalam tanggapan bantengan kali ini. Atau jika tidak, bos danyang akan mengerti bila dirinya telah merusak sumpah yang seharusnya tidak boleh dilanggar untuk tampil tanggapan di bulan Selo.

Begitu keluar dari bantengan baru yang palsu itu, dua anak buah Karjono tertawa kemekel. Semua orang memandang mereka heran. Beberapa orang menganggap dua orang yang sudah menjajal banteng baru itu kesurupan.

“Kenapa tertawa?” Tanya Karjono kencang. Dia tahu keduanya tidak kesurupan. Mata batinnya berkata demikian. Keduanya langsung mingkem.

“Anu Cak, enteng banget bantengan dari gabus ini. Kayaknya aku nggak bisa srudak-sruduk seperti biasa. Ringan sekali,” ucap seorang diantaranya sambil tersenyum.

“Kalian harus berpura-pura seperti biasa,” ucap Karjono tegas.

***

Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang 

Hari H tiba. Semua anggota grup sudah berpakaian layaknya bila akan tampil. Semua berkostum serba hitam. Baju lengan panjang tanpa kancing dengan celana komprang sebetis. Udeng bertengger di atas kepala. Sabuk besar melilit di perut. Sebagian anggota tak memakai alas kaki. Dua sinden juga sudah dandan. Jangan dikira mereka memakai sanggul dan kebaya seperti sinden wayang kulit. Mereka memakai kostum berwarna senada, hitam-hitam. Seorang memakai jilbab hitam seorang lagi hanya menguncir rambutnya ke belakang.

Karjono masih berada di dalam kamar, sedangkan anggotanya sudah bersiap dijemput mobil patrol dari kepolisian. Jantung Karjono berdegup kencang. Dia bingung dengan keadaan ini. Dilihatnya lagi kalender di dalam ruangan. Benar, ini bulan Selo. Dirinya sudah menabrak sumpah. Sungguh, dia ingin berubah pikiran. Membubarkan anggota grupnya untuk pulang dan mengganti uang DP dari ajudan yang sudah dibelikan istrinya untuk keperluan dapur mereka.

Jika tidak karena ingat ulang tahun John Travolta, pasti Karjono sudah membubarkan anggota yang sudah siap tempur. Karjono keluar kamar. Dia hanya berdoa dengan kekhusukan tiada tara agar grup bantengannya tampil dengan lancar. Semua orang terlindungi termasuk seluruh keluarganya yang kini tersenyum di rumah.

Melihat Karjono keluar dengan tenang, perasaan anggota yang lain juga tenang. Mereka yakin kalau pimpinan mereka sanggup menanggung resiko bila ternyata atraksi bantengan yang akan ditampilkan akan berakibat petaka.

Mendung-mendung mendadak berdatangan. Karjono kembali sedikit was-was. Namun saat dilihatnya John Travolta yang digendong istrinya itu melambaikan tangan, lagi-lagi Karjono berusaha menyingkirkan hal buruk yang berputar di kepalanya. Peralatan sudah naik ke mobil patrol dan Karyono naik sepeda dengan membonceng dua pawangnya.

“Aman Cak?” Tanya Suyanto.

“Wis, aman. Bismillah ae,” ucap Karjono menenangkan dua orang yang diboncengnya.

Di perjalanan yang beriring-iringan itu, Karjono mencoba sekuat tenaga menepis hal-hal buruk tentang pantangan yang baru saja akan dilanggarnya. Bermacam bayangan hadir di kepalanya. Dari kakeknya Sudibyo hingga ubo rampe yang pagi kemarin dia jadikan sogokan ke atas Gunung Rawe yang tak terlalu tinggi itu.

Hingga dia tak menyadari bahwa rombongan sudah sampai. Ramai orang berdatangan di jalanan kantor polisi. Mereka tersibak dengan sendirinya saat rombongan bantengan datang. Inilah atraksi yang ditunggu-tunggu orang-orang yang berkerumun dari tadi.

Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang 

Semua anggota Karjono bersiap. Pukulan tabuhan pertama dilantunkan, suaranya bersahutan merdu tetapi menimbulkan bunyi magis yang bisa mendatangkan prewangan. Karjono berdiri tegap. Mata batinnya tetap awas. Dia takut jika pukulan kendang, bonang, dan kempul, serta angklung yang terus bersahutan itu membangunkan para danyang yang tidur karena kekenyangan akibat makan banyak sekali ubo rampe dengan rakus kemarin.

“Cak Jon,” kata orang di belakang menyentuh pundaknya. Karjono melonjak kaget. Hampir saja Karjono memasang jurus kepalan tangan dan langsung melayangkan ke muka orang yang membuatnya terkejut sangat.

“Pak Kapolsek menyuruh untuk memberikan uang sisa tanggapan sekarang. Mumpung belum tampil saya kasihkan,” kata ajudan yang dulu ke rumahnya sembari menyodorkan amplop berwarna coklat.

“Baik Pak, matur nuwun,” ujar Karjono yang langsung menyelipkan amplop besar itu ke dalam sabuknya yang besar.

Sekarang bukan masalah uang dalam amplop itu. Namun masalahnya adalah pantangan yang dia langgar yang membuatnya terus berpikir kencang. Karjono tetap berdiri memandang atraksi yang segera mereka mainkan. Diliriknya para anggota sudah bermain seperti biasa, seperti sudah takada beban.

Orang masih ramai berkerumun. Mereka bertepuk tangan saat pembawa acara sudah mengenalkan bantengan mereka. Sinden membuka dengan tembang sholawatan. Disusul dengan atraksi kebal dengan pedang yang tidak tajam. Lalu makan kue rumput dan beling. Semua berjalan sesuai dengan rencana. Tidak ada yang terluka, tidak ada halangan. Hingga semua penampilan usai. Meskipun ini adalah penampilan palsu pertama mereka tanpa para danyang.

Karjono dan rombongan pulang dengan kawalan mobil patroli polisi. Semua orang lega walau keringat bercucuran dan kelelahan nampak dalam guratan wajah. Namun mereka masih tersenyum gembira saat Karjono membagi-bagikan upah. Lumayan untuk oleh-oleh yang ada di rumah. Di bulan Selo yang paceklik tanggapan, mereka masih bisa memberikan sedikit rezeki untuk keluarga.

Karjono kembali mengasah batin. Dilihatnya para danyang masih tertidur tak bergerak. Sogokannya berhasil seperti dugaannya. Zaman sudah berubah. Bahkan para danyang dan dedemit juga tiarap jika mulut mereka disumpal suap sekarang.

Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang 

Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang 

Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang 

Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang Cerita Budaya Malang 

sewa mobil malang  sewa mobil malang sewa mobil malang sewa mobil malang

  Terimakasih telah mengunjungi website kami

salam TRANSNADA sewa mobil Malang

 

 

 

 

 

 

Have any Question or Comment?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Call Now
WhatsApp chat WhatsApp kami