Sewa mobil malang RAMAH, MURAH dan NYAMAN

Cerita Budaya Lokal Indonesia”titip bidadari”


Cerita Budaya Lokal Indonesia “titip bidadari”

Oleh : Redite Kurniawan

cerita budaya lokal indonesia

Ada yang ingin dia sampaikan lewat lagu itu. Rasanya lolongan makhluk kasat mata tersebut mau menembus langit. Ingin keluar dari bumi ini. Benar-benar mau terbang ke langit. Lalu jauh meninggalkan dunia untuk selama-selamanya. Namun sedetik kemudian dia terhenti. Mendadak mengganti lagunya dengan intonasi yang berbeda sama sekali. Sayu mendayu-dayu. Pilu dan mengharu biru. Sampai-sampai akupun merasakan bulu romaku merinding tegak. Sebab suara itu bergetar. Sesenggukan, kadang bersemangat dan kadang tak bergairah sama sekali.

Kemudian inilah pemandangan yang terekam di penglihatanku. Meskipun aku bersembunyi di balik tembok teras depan rumah, tetapi dengan jelas dapat kusaksikan. Sang penyanyi yang sepintas lalu kupuji karena dengan kerasnya berbintang kecil (lagu kegemaranku waktu itu) bergulung-gulung di jalanan. Dia jambak sendiri rambutnya. Dia sobek baju yang dikenakannya. Lalu dia meraung-raung macam orang kesurupan. Sejadi-jadinya dan sepuas-puasnya.

Makhluk yang mencengangkan dan mampu membuat jantungku berdegup itu adalah Bik Yah. Sosok yang paling ditakuti oleh anak-anak di seluruh desa ini. Begitu mendengar nama Bik Yah disebut setiap anak pasti akan bungkam. Aku yakin semua ibu akan menggunakan nama besar Bik Yah sebagai senjata otomatis bagi anak-anak balita mereka. Disertai dengan cerita seram, tingkahnya yang di luar kebiasaan, serta sepak terjangnya yang melegenda.

Anehnya, para ibu juga senang dengan nama besar Bik Yah yang jadi legenda hidup ini lestari. Bayangkan saja jika ada anaknya yang rewel tak mau makan, maka setelah disebut nama Bik Yah, anak yang bersangkutan itu langsung mau menelan bulat-bulat makanannya. Bahkan hampir tak dikunyah apalagi sempat dirasainya terlebih dahulu manis asinnya. Anak yang susah tidur siang pun langsung lena dengan dua matanya yang tertutup rapat jika nama legenda hidup itu disebut. Ada untungnya juga buat para ibu di desa ini. Namun tetap harus disertai sedikit gertakan, ”awas ibu panggilkan Bik Yah nanti.”

Bik Yah adalah wanita setengah tua. Usianya melebihi usia ibu atau ayahku. Tapi masih sedikit agak muda dibandingkan dengan nenekku. Badan Bik Yah besar, namun bukan gembrot yang keterlaluan. Tingginya serupa dengan tinggi wanita desa lainnya. Jalannya agak miring ke kiri. Kukira kakinya yang kiri itu ada masalah. Kulit kaki dan tangannya terlihat kasar. Ada luka-luka sedikit basah yang menjadi pemikat serangga. Aku yakin begitu karena ada binatang-binatang kecil terbang yang hinggap berebut tempat ternyaman di antara luka-luka di kakinya.

♥ Cerita Budaya Lokal Indonesia Cerita Budaya Lokal Indonesia Cerita Budaya Lokal Indonesia

♥ Cerita Budaya Lokal Indonesia Cerita Budaya Lokal Indonesia Cerita Budaya Lokal Indonesia

♥ Cerita Budaya Lokal Indonesia Cerita Budaya Lokal Indonesia Cerita Budaya Lokal Indonesia

♥ Cerita Budaya Lokal Indonesia Cerita Budaya Lokal Indonesia Cerita Budaya Lokal Indonesia

Betul apa yang kukira, pagi ini setiap anak sibuk berkomentar tentang gaya Bik Yah yang kemarin ngamuk. Sebetulnya satu anak saja yang paling sibuk berceloteh. Ergi namanya. Jagoan kelas yang paling suka dengan robot. Jagoan robot, begitu namanya kusebut. ”Pokoknya seru, dia berguling-guling di jalan…” ungkap Ergi antusias dan berapi-api, atau entah apa namanya untuk mengungkapkan orang yang bercerita dengan sepenuh jiwa raganya. Karena yang jelas dia sangat semangat berkata-kata. Buktinya bibir Ergi maju dan matanya mendelik mengenang peristiwa yang diingatnya. Tak hanya itu, aku dan tiga teman lain yang mengerubutinya sesekali mendapatkan muntahan rintikan hujan segar yang berasal dari mulutnya. Baunya khas. Tapi cepat-cepat kulap dengan tangan sebelum kucium tambahan baunya yang melekat. Walau begitu, kami enggan beranjak dari tempat Ergi duduk. Sayang jika cerita tentang Bik Yah yang sedang mengamuk dibiarkan begitu saja lewat.

Ternyata benar apa yang kuimajinasikan. Pasti Bik Yah meraung-raung, menjambak rambutnya, menyobek bajunya dan bergulingan di jalanan. Seharusnya aku diberi kesempatan untuk merekam adegan itu.

”Lho, kejadiannya kan ada di dekat rumahmu, Kamil?” Tiba-tiba Ergi bertanya padaku. Sekarang semua mata tertuju ke arahku. Aku kikuk dan serba salah. Seharusnya sedari tadi aku ikut menambahi cerita Ergi agar semua temanku tahu kalau aku kemarin juga menyaksikan Bik Yah. Walau hanya sampai ketika dia membawakan lagu favorit ”Bintang Kecil”.

”Ah, kau penakut sekali. Kau tidak berani melihat Bik Yah beraksi. Huh, katanya anak pemberani.” Ergi memvonisku. Kesombongan terlihat jelas dari nada suaranya.

”Siapa bilang?! Aku melihatnya dari balik tembok. Kalau saja ibu tidak menyeretku masuk rumah, pasti aku juga akan tahu kalau Bik Yah kemarin itu bergulingan di jalan.” Bantahku jujur.

”Bohong! Pasti kamu takut beldili di situ, ya kan?!” Pekik Lucky. Cadel anak ini belum juga hilang meski usianya terus bertambah. Konon ibunya sudah mengerik lidah anak ini dengan sendok emas agar anaknya cepat bisa menyebut konsonan R dengan tepat. Meniru cara kolektor burung beo agar bisa cepat menirukan logat manusia. Tapi sayang beribu sayang, lidah Lucky memang sulit digetarkan.

”Tidak, aku tidak takut,” jawabku singkat.

”Bilang saja kalau kamu takut.” Jihan juga sekarang ikut-ikutan menuduhku. Aku memandang anak perempuan mungil berambut poni ini lekat-lekat. Dalam keadaan terjepit seperti ini dia malah tidak berpihak kepadaku.

”Kalian lihat saja nanti,” ujarku bersungut-sungut sambil meremas seragam sekolahku bagian bawah.

”Nanti kapan?” Tanya Ergi mengejek.

”Nanti kalau kita bertemu dengan Bik Yah di perempatan sial. Akan kutunjukkan kalau aku tak akan berlari terbirit-birit lagi seperti kalian semua.” Jawabku menepuk dada. Perempatan sial adalah tempat tikungan menuju rumah kami berlima.

”Mana mungkin?! Ha…ha….” Ergi dan Lucky tertawa keras.

”Kamil penakut! Kamil penakut!” Tiba-tiba saja mereka serempak mengataiku. Rasanya panas dadaku. Suatu saat akan kubuktikan kalau aku tidak pernah takut dengan Bik Yah. Ibuku saja selalu bilang kalau kita harus juga menghargai orang-orang seperti Bik Yah. Mereka juga manusia. Mereka akan mengerti kalau kita baik sama mereka.

Ting, ting………….

Suara yang kutunggu akhirnya datang juga. Dari pada aku jengkel dengan ucapan teman-temanku, lebih baik aku masuk kelas. Kalau aku jengkel bisa kutinju mereka semua. Untung bel berbunyi dan bisa menyembunyikan kemurkaanku. Aku sekarang bisa sedikit tenang di atas karpet hijau kumal ini. Tak masalah walau dengan meja seadanya. Dengan kelas berukuran empat kali lima meter. Sekolah yang amat sederhana. Tapi tak separah sekolah yang ada di film hitam putih kala itu. Waktu kutanya pada nenek apakah betul zaman sekarang ini ada sekolah yang mau ambruk dan ditopang oleh dua batang kayu seperti di film, nenekku lalu menjawab, ”Aih, itu kan hanya film.” Sama juga saat kutanya nenek betulkah cara pembuatan tempe itu apakah harus diinjak-injak seperti yang kutonton di tv, nenek lantas menjawab, ”Aih, itu kan hanya film. Kalau diinjak begitu mana mau aku memakannya dari dulu.”

Sudahlah, nenekku memang tak suka pada semua jenis film. Satu-satunya film yang pernah ditontonnya dan membuatnya phobia berkepanjangan adalah Beranak dalam Kubur. Waktu itu katanya nenek lagi mengandung ibuku. Setelah menonton film itu di layar tancap nenek tak bisa tidur selama seminggu. Orang desa bilang nenek girap-girap terkena sawan. Tapi ketakutan nenek bisa hilang ketika mantri desa menyuntiknya dengan serum yang konon katanya bisa menghilangkan traumanya. Juga dengan sebuah kalimat hipnotherapy yang memengaruhi otaknya, ”masukkan dalam pikiran, bahwasanya semua film itu hanyalah kebohongan.” Sejak saat itu nenek tak lagi pernah mau menonton film, meski yang ada di tv sekalipun.

Sekarang coba kugambarkan dulu tentang kelasku itu sejenak. Di sebelah depan ada papan tulis putih. Sebenarnya bukan putih sekali. Kehitaman barang kali. Beberapa kali Bu Indriani, guruku itu lupa menorehkan spidol permanen di situ. Bisa-bisanya dia sering lupa. Sehingga sukar sekali dibersihkan segera. Orang tuanya Jihan menyarankan untuk menggosoknya dengan minyak tanah, namun alamak, sekarang noda hitamnya malah meluber tak karuan. Dan bau kelasku seperti dapur yang kompornya habis meledak.

Di atas papan tulis ada gambar burung yang menengok ke arah kanan. Dia diapit oleh foto dua bapak-bapak berpeci hitam yang selalu tersenyum saat kutatap dalam-dalam. Sebab bukan soal aku sering menatap foto keduanya. Ruangan kelasku acap kali bocor jika hujan datang. Rembesan airnya mengalirkan cat tembok warna biru muda ke dua foto bapak-bapak tadi. Lalu memudarlah foto keduanya. Hingga jika kuamati sepertinya kulit wajah di foto itu tidak seperti muka orang kebanyakan. Biru semua.

Kami tidak memakai kursi saat belajar. Hanya ada karpet hijau yang bulukan digelar. Meja-meja dibuat dari kayu seadanya. Kalau ingin meja yang sedikit bagus, boleh juga untuk membelinya sendiri meja lipat yang dijual di pasar. Ergi saja membawa meja lipat dengan gambar robot. Setiap kali dia melihat ke mejanya, tangan temanku yang tak bisa diam ini langsung terangkat ke samping. Lalu ditekuknya ke muka menyilang. Kemudian dengan lantang dia berkata, ”Berubah!” Bagiku kelakuannya yang sok jagoan itu betul-betul membosankan.

Di sebelah kanan ada gambar-gambar kami. Bu Indriani sengaja menempelnya di situ. Bagus-bagus juga lukisan temanku. Tak satupun yang dicibir oleh guruku. Meski jika giliranku mengumpulkan gambar Bu Indriani, dia selalu menghela nafas panjang lalu mengatupkan kedua kelopak matanya sebelum dengan lirih dia mengatakan, ”bagus Kamil, gambarmu.” Sangat lirih hingga tak terdengar dari jarak semeter. Untungnya indra pendengaranku ini masih awas.

Tangan bu guruku yang bernama Indriani itu kecil dan halus. Orangnya juga kecil dan kurus. Alisnya selebat hutan tropis. Mulutnya tipis dan kulitnya coklat tua. Warna kesukaannya adalah coklat. Hari ini dia juga memakai kerudung warna coklat muda. Bajunya coklat tua. Rok panjangnya coklat agak muda sedikit dan sepatunya coklat agak krem. Kurasa sudah waktunya ganti sepatu. Kremnya itu berasal dari selaput kulitnya yang mengelupas atau kulitnya yang mengelupas itu akibat gigitan binatang nocturnal pengerat. Entahlah, andai sepatunya itu bisa berkata pada tuannya pasti dia sudah merasa lelah.

Rumus mengajar bu guruku yang beralis lebat ini adalah sedikit-sedikit. Pertama, sedikit-sedikit harus berhemat. Jadi meski sepatu sudah bulukan dibiarkan saja sampai solnya mangap baru diganti. Meski alasan sebetulnya karena memang gajinya itu sedikit-sedikit juga. Lalu yang kedua, sedikit-sedikit matanya mendelik. Baginya anak nakal harus diberi bahasa tubuh yang jelas. Entah itu melotot atau mengepalkan tangan seperti orang mau meninju. Lantas yang ketiga, sedikit-sedikit berteriak pada kami kami. Apalagi kalau aku dan Ergi sedikit merayakan kegembiraan di dalam kelas.

Bu guru Indriani sebetulnya banyak tersenyum. Namun meskipun sering tersenyum tapi juga sering marah. Sebentar senyum, lima detik kemudian marah. Sebentar mulutnya melengkung ke atas, kemudian sekejab bisa melengkung ke bawah. Apalagi kalau apa yang kulakukan dengan Ergi tidak disukainya. Aku ingat sekali waktu Bu Indriani marah besar hingga alisnya kulihat bertaut. Saat itu aku hanya meletakkan permen karet di tempat duduknya. Padahal aku hanya ingin tahu apakah permen karet itu bisa menempel di roknya yang berwarna coklat atau tidak.

Satu lagi ibu guruku. Namanya bu guru Dyah. Orangnya lembut, pendiam tak pernah marah. Wajahnya bersih dan nyaris tanpa riasan. Hampir sedikit pucat. Bu Dyah lain dengan bu Indriani, senakal apapun kami, dia hanya mencoba untuk menerima keadaan kami semua. Rupanya rumusnya mengajar adalah nrimo alias menerima. Nrimo menghadapi kelakuan anak muridnya yang suka membantah. Nrimo untuk menunggu gajiannya yang tak tentu tanggalnya. Nrimo mengantar anak muridnya yang ingin pergi ke toilet. Bahkan nrimo jua untuk melipat dan membungkus rapi celana anak-anak yang masih sering pups di tempat. Bungkusan rapi itu terkadang juga memakai kertas kado. Sehingga sampai di tangan orang tuanya di rumah mereka sangat senang hati menerimanya. Sekalinya dibuka, tahulah bahwa bungkusan rapi dengan kertas kado itu memang ”kado” bagi mereka di rumah. Meski tanpa tulisan di secarik kertas, ada pesan yang ingin disampaikan Bu Dyah lewat buah karya bungkusan tangannya. Kira-kira bunyinya seperti ini; kau punya anak ini merepotkan sekali!

Jam sepuluh pagi lewat lima belas menit waktunya pulang. Semua kaki-kaki kecil kami berjalan melewati jalanan kecil desa yang beraspal asal-asalan. Sebab asal tahu saja, meski tuntutan kepala desa dipenuhi oleh pemerintah untuk memperbaiki lubang-lubang yang menggerogoti lapisan terluar jalan. Tetap saja dalam beberapa pekan setelah jalan ditambal, air kembali menggerus permukaannya yang tadinya licin. Plus kontur tanah di dataran tinggi yang naik turun.

Namun entah kenapa aku takut jika pengerjaan jalanan kembali dilakukan. Selain pembakaran aspal yang berkobar membuat paru-paru kecilku terpenuhi dengan racunnya. Rupanya ketakutanku dengan panas bara api luar biasa itu akibat megingat tentang cerita neraka jahanam dari Bu guru Indriani. Apalagi setelah bercerita tentang neraka, imbuhan kalimat penutupnya selalu jelas, ”makanya jangan suka membantah pada Bu Guru!”. Sebuah pelajaran moral yang paling disukai Bu guru Indriani.

Jarak dari sekolah menuju rumahku tak lebih dari seratus langkah. Aku pernah mencoba menghitungnya. Itu kalau hitunganku tak salah. Sebab biasanya hitunganku selalu melompat-lompat dari 35 ke 37 atau dari 82 langsung menuju ke 84. Tapi untuk ukuran anak seusiaku di desa, menghitung hingga 100 itu sudah luar biasa. Aku pulang bersama teman-temanku seperti hari-hari yang lalu. Mereka adalah jagoan robot si Ergi, Jihan yang cerewet melebihi cerewetnya emak-emak, Eziz yang pendiamnya macam patung Ken Dedes, dan Lucky si cadel yang punya kebiasaan aneh berjalan dengan satu kaki.

Kami bergandengan tangan bersama. Kadang bermain baris-barisan di jalan bersama. Dan kadang harus lari bersama. Apa pasal? Rupanya si legenda hidup Bik Yah sudah menunggu kami di perempatan sial. Perempatan sial adalah sebutan kami untuk perempatan jalan satu-satunya yang menghubungkan rumah-rumah kami dengan sekolahan. Di situlah biasa Bik Yah duduk termenung di pinggir jalan dengan cara ngesot. Sebenarnya sama sekali dia tidak membuat gerakan tambahan meski kami berlari dan membuat gaduh di depannya. Namun memang penampakannya saja membuat kami rasanya sudah mau pingsan. Aku malah mengkhawatirkan Eziz yang hampir pingsan betulan jika kami tengah panik bersama.

Dan pagi setengah siang ini apakah ada Bik Yah menunggu kami dan duduk di perempatan sial itu. Kuharap tidak. Kubuang jauh-jauh sudah pikiran itu. Kuhitung rata-rata dalam seminggu hanya dua kali dia ngesot di situ. Paling banyak tiga kali. Pokoknya kuharap hari ini dia tidak di situ. Karena tadi aku sudah bicara bahwa aku tak takut dengan Bik Yah. Aku bahkan menantang Ergi yang merasa jagoan itu kalau aku tak akan berlari jika Bik Yah ternyata benar-benar ada di sana. Di tepi jalan, di tepian got yang bau jamban. Aku heran apa orang seperti Bik Yah tak bisa membedakan bau jamban dan bau bunga. Mengapa dia mau duduk berlama-lama menghirup aroma yang berasal dari got terbuka itu.

Tetapi hari ini dari jauh kami sudah melihat sosok penampakannya ada di sana. Mati aku. Hati kecilku berseru. Kenapa doaku tidak dikabulkan. Mengapa Bik Yah tidak berada di sungai, atau di sawah, atau di pasar atau di mana saja tempat yang sering dikunjunginya. Asalkan jangan di perempatan jalan ini. Sebab empat temanku mulai mengacungkan jari telunjuknya. Pertanda apakah omonganku yang menantang Ergi kalau aku tak akan lari jika berpapasan dengan legenda hidup itu bisa dipercaya apa tidak. Kalau aku sampai lari dan tak menepati perkataanku berarti aku seperti orang munafik. Ayah bilang tak boleh jadi munafik. Lain di mulut lain di hati. Harus benar-benar menepati janji.

Tapi aku sangat takut. Tentu saja takut. Tangan Bik Yah sebesar pisang batu. Apa jadinya jika aku berjalan di depannya lantas dia tiba-tiba menyambar tubuhku dengan cepat memakai jari-jari tangannya yang sebesar pisang batu itu. Apa jadinya jika kemudian dia memelukku dengan erat dan tak mau melepaskannya lagi. Dan apa jadinya jika dia lantas menciumku meski hanya dengan sekali kecupan yang sangat spesial. Membayangkan runcing giginya yang kuning kehitaman dan sangat kotor saja membuat perutku terguncang hebat mual. Dan jika sampai terjadi dia mencium, maka seluruh racun dan bisa yang berada di dalam tubuhnya itu dipindahkan padaku. Meski hanya setetes, kami semua meyakini jika air liur Bik Yah sangat beracun. Melebihi racun dari ular black mamba Afrika terganas sekalipun.

Tidak mungkin aku tidak berlari. Aku harus mengikuti gerakan teman-teman yang mengambil posisi jurus Jerry tikus yang akan disantap Tom kucing dengan mengambil langkah seribu yang tercepat. Keempat temanku sudah mengambil ancang-ancang. Coba perhatikan gaya mereka kala mau melarikan diri dari seseorang yang paling mereka takuti di dunia saat ini.

Ergi mulai cekatan melipat celananya sampai ke paha. Hingga bekas-bekas hitam membentuk peta akibat jatuh di lututnya bisa kuhitung ada lima buah. Ia ingin berlari meninggalkan kawan-kawannya yang lain. Jihan menggembol erat tas warna merah mudanya yang sangat disayanginya itu. Padahal tadinya tas itu ada di pundaknya. Dia tak mau tas pemberian neneknya itu sampai terjatuh atau tergores. Buat Jihan tas itu adalah nyawanya yang kedua.

Eziz tak mau kalah, meski pendiam dia mulai membetulkan roknya. Dia angkat tinggi-tinggi roknya yang mulai kehilangan warna cerah tersebut. Ibunya terlalu lama menyeterika. Ibunya tak mau ada sedikit kusut di baju Eziz. Dan si Eziz tak mau roknya itu nanti bisa menghalanginya berlari secepat mungkin. Jika Eziz sudah pada tahap klimaks ketakutan yang menyerang otaknya. Aku yakin meskipun pelari pemenang juara porseni tingkat SD se-kabupaten pun akan dia kalahkan.

Si Lucky tak ketinggalan. Dia menanggalkan sepatunya. Dia memastikan untuk tidak berjalan dengan kebiasaannya memakai satu kaki jika ingin selamat. Dan anehnya ketika dalam posisi seperti sekarang cadelnya bisa hilang. Sehingga kata ”lali” bisa dilafalkannya dengan sempurna menjadi ”lari”.

Aku pun juga sama meniru mereka semua. Biasanya aku mulai melipat lengan bajuku jika akan berpapasan Bik Yah di perempatan paling sial itu. Gara-gara seringnya memerhatikan ayah yang jika bekerja di rumah selalu terlebih dahulu melipat lengan baju itu kemudian aku kerap menirunya. Akibatnya, gayaku terlihat lebih maskulin dibandingkan dengan Jihan yang mengapit tasnya atau Eziz yang mengangkat roknya saat itu.

Namun belum sempat kubetulkan lipatan lengan bajuku, semua mata sudah kembali tertuju ke arahku. ”E..e…e…e…. tadi kamu bilangnya tidak takut. Ayo buktikan! Kamu harus berani berjalan sendirian melintas Bik Yah. Kami akan menunggumu di rumah Mbah Karjo seberang sana,” ucap Ergi mengungkit janjiku. Telunjuknya yang kecil mengarah ke hidungku.

Sejenak aku memandang mata mereka satu per satu. Semua tampak begitu tega dan kejam ingin membiarkan bocah perempuan kecil tak berdaya seorang diri berjalan di depan orang yang paling kami takuti itu. Mereka seolah ingin diriku ini benar-benar direngkuh dalam pelukan orang yang paling kami takuti itu. Semuanya tidak berperasaan. Hanya Eziz saja yang sendu memandangku. Dari sorot matanya yang sayu sepertinya dia mau berkata agar aku tidak bermain-main dengan Bik Yah, kembali sorot matanya itu bicara agar aku membatalkan dan meralat semua sesumbarku tadi sewaktu di sekolah.

”Ayo bagaimana, belani tidak?!” Kini Lucky mulai mengusik hatiku.

Dan sebagai anak yang paling pemberani di antara empat sahabat kecilku ini. Sekali lagi tanpa ragu kukatakan, ”Tidak! Siapa takut?! Sudah lari duluan sana. Tunggu aku di depan rumah Mbah Karjo. Kalian bisa lihat kalau aku akan tetap berjalan di perempatan sial itu.” Ungkapku mantap sembari menunjuk pada rumah Mbah Karjo.

”Kamu benar yakin dan berani, Mil?” Tangan Eziz meraih jemariku. Rasanya dia masih ingin mengatakan agar aku membatalkan ucapanku dan mengajakku untuk berlomba lari seperti yang sering kuhadapi bersama mereka.

”Yakin, aku yakin berani.” Kembali kubusungkan dada. Eziz tak dapat lagi membujukku.

Mereka kini bersiap-siap. Semuanya membentuk barisan memanjang. Persis seperti lomba lari agustusan. Disertai dengan degup jantung yang berpacu. Serta hembusan nafas yang memburu. Mereka kini memiliki satu tujuan untuk mencari keselamatan. Hitungan satu, dua, tiga akan segera dikomando. Pada hitungan ke tiga, keempat teman kecilku ini akan berlari sekuat-kuatnya dan sekencang-kencangnya. Dan komandan yang menghitung adalah Ergi. Berat nafas Ergi kini mulai terdengar. Lalu mulailah dia menghitung dengan suara yang cukup didengar oleh lima pasang telinga. ”Satu…, dua…, tiga…” Pada hitungan ke tiga berlarilah mereka sejadi-jadinya. Kalau setiap hari kejadian ini berlangsung, barangkali aku dapat memastikan kalau kami berlima akan menjadi pelari estafet profesional nantinya.

Lalu malangnya aku kini sendirian. Saat Ergi, Lucky, Jihan dan Eziz ada di sampingku, kepercayaan diriku masih sangat kuat untuk menghadapi Bik Yah. Aku begitu merasa seperti wonder woman. Namun saat mereka mengambil langkah pertama mereka dan mulai meninggalkanku, kini ada perasaan galau yang menyelimutiku. Aku jadi takut. Sumpah, aku sebetulnya takut sendirian berpapasan dengan Bik Yah. Dengan segala cerita yang melingkupinya. Bukan saja karena ketidakwarasannya, juga tentang hobi ganjilnya yang kata penduduk desa dia suka makan ular mentah, ulat mentah, cacing mentah dan segala jenis binatang melata lainnya. Aku hampir saja membayangkan kalau dia akan melahapku mentah-mentah juga.

Aduhai, bagaimana ini. Deru jantungku semakin menggebu. Tatapan mataku kuyu dan kakiku rasanya bergetar hebat ketika maju. Satu-satu aku melangkah. Sampai ada keinginan hatiku untuk balik ke sekolah saja. Mungkin Bu guru Indriani atau Bu Dyah masih ada di belakang sehingga dia akan mendampingiku untuk pulang. Keringat dingin mulai bermunculan dari punggung dan leherku. Malah dari pelipisku juga mengalir agak deras. Padahal aku sedang berjalan dan tidak berlari seperti teman-temanku yang lain.

Sementara tanpa menoleh sedikitpun keempat kawanku tadi kini sudah tepat di depan Bik Yah. Dan semakin kuat pula dorongan tubuh mereka agar cepat beranjak. Kupandang orang yang paling kami takuti itu tak menggubris sedikitpun dengan kehadiran anak-anak yang membawa serta angin dan debu yang berhamburan. Orang itu masih menikmati bau sedap jamban yang berasal dari got di sampingnya. Matanya hampa. Jalanan berkerikil itu saja yang ditatapnya.

Kini dari jauh aku melihat keempat temanku sudah berada jauh dari tempat Bik Yah duduk. Semuanya sudah berada tepat di depan rumah Mbah Karjo. Rumah dengan halaman yang ditumbuhi banyak pepohonon mangga. Mereka menanti kehadiranku yang harus berjalan kaki. Dan aku belum tahu apakah masih kuat untuk berjalan kaki lagi. Rasa-rasanya otakku sudah menyuruh seluruh otot di kaki dan tangan agar mengayuh secepatnya. Agar berlari sekencangnya. Semakin dekat dengan Bik Yah, semakin kuat dorongan agar aku mempercepat langkah. Tapi ketika mengingat janji, lagi-lagi aku tak mau surut.

Aku semakin dekat dengan Bik Yah. Bahkan kini dengan jelas aku bisa melihat baju yang dikenakannya. Modelnya daster dengan warna krem bermotif bunga akasia. Tambalan-tambalan besar ada di sepanjang bajunya. Betisnya yang sedikit tersingkap penuh dengan luka koreng. Rambutnya yang dipotong pendek sedikit menggimbal dengan kotoran dan ketombe yang berjatuhan. Bisakah kecoa juga bersarang di sana? Kukira bisa juga. Matanya masih tajam memandang jalanan. Tak pernah mata hampanya itu tercabut dari satu titik yang dari tadi ditatapnya. Dan dua tangan dengan jemarinya yang sebesar pisang batu itu yang kuperhatikan sekarang. Kuku-kukunya panjang dan berwarna hitam. Bu guru Indriani pernah bilang kalau kuku yang hitam adalah tempat bersarangnya kuman, penyakit dan cacing. Jadi mungkin di sepuluh jari orang itu mengandung penyakit pes dan typhus. Jadi jangan sampai dia terpancing dengan kehadiranku. Jangan sampai tangannya menyentuh tubuhku. Atau seluruh penyakit akan berpindah tempat ke dalam tubuhku melalui satu sentuhannya saja.

Empat anak yang baru saja berlari kencang di depannya saja tidak dihiraukannya, Semoga juga diriku. Apalagi diriku yang berjalan lambat. Bahkan kusengaja untuk tidak menjejakkan telapakku kuat-kuat ke tanah agar tak mengganggu konsentrasi perempuan itu yang mengembara di alamnya.

Semakin dekat aku semakin bimbang. Apakah aku masih akan berjalan dengan tenang ataukah sekarang sudah waktunya kabur melesat. Aku tetap berharap Bu guru Indriani segera lewat untuk pulang karena ini adalah satu-satunya jalan untuknya kembali ke rumah. Atau setidaknya ada orang lain yang melalui perempatan sial yang sepi ini, sehingga bebanku tidak terlalu berat untuk bisa tetap berdiri dengan tegak melewatinya. Sedangkan ketika semakin dekat, bau badan Bik Yah mulai tercium juga olehku. Baunya kurasa sedikit lebih ringan dari bau domba peliharaan kakekku.

Kupandang awas matanya yang masih bertemu di satu titik di jalanan. Sesekali aku juga melihat keempat temanku yang melambai-lambaikan tangannya. Aku tak mengerti apa arti lambaian mereka. Menyuruhku untuk berlari atau menyemangati agar aku lebih berani. Aku tak harus memikirkannya. Sebab kini aku benar-benar tepat berada di depan orang yang paling kami takuti. Mendadak apa yang terjadi. Sesaat setelah diriku berada persis di depannya. Perempuan berbadan besar itu menggeser badannya. Mukanya berpaling padaku. Dan lebih dari pada itu. Matanya kini juga menatap ke mataku. Wuusss…

Aku melonjak. Kaget setengah mati. Seperti orang yang kesetrum listrik. Dalam beberapa detik kami beradu pandang. Dalam beberapa detik itu juga aku sepertinya tersirap. Tanganku kaku. Kakiku kejang. Jantungku berdetak tak karuan. Dan mulutku menganga lebar. Hanya mataku saja yang melihat bias mata Bik Yah yang menyorot kuat. Kuceritakan satu hal, bahwa ternyata matanya itu sendu. Sama sekali tak ada niat jahat di kedua bola matanya itu.  Namun tetap saja dua bola matanya itu seolah menjadi jendela yang kian membesar yang ingin mengajakku untuk merasuki dunianya.

Oh, jangan. Aku sangat merinding. Bulu kudukku bahkan tak ada yang tak berdiri. Semuanya tegak seperti tentara yang upacara bendera. Aku sangat takut. Melebihi takutku pada cerita-cerita horor temanku tentang hantu penunggu sungai di desa kami. Beberapa detik kemudian Bik Yah mulai mengembangkan senyumnya perlahan. Secara sadar aku masih dapat mengingatnya dengan gerakan yang amat pelan. Giginya runcing dan siap untuk menerkam. Warnanya persis seperti yang kuduga. Kuning kehitaman dengan karang gigi yang menyebar.

Dan kali ini aku tak bisa lagi tinggal diam. Tepat setelah dia tersenyum kepadaku dengan senyumnya yang menawan itu otak amigdala kembali bekerja cepat. Tanganku yang sebelumnya kaku langsung bisa bergerak. Kaki yang tadinya kejang kini mulai melemas. Dan perintah otakku mulai ditaati oleh otot keduanya. Aku langsung berlari tunggang langgang. Tak lagi aku mau menoleh ke belakang. Tak tahu lagi aku apakah Bik Yah terus mengejarku, atau masih terpaku di tempatnya. Dia tertawa terbahak atau menangis meraung-raung. Dia berteriak atau masih terdiam. Karena hanya satu yang kutuju. Yakni teman-temanku. Aku ingin segera cepat merasakan aman. Hampir saja aku ingin melolong meminta tolong. Tapi leherku tercekat oleh ketakutan.

”Hebat! Kamil hebat! Ha…ha…ha…” Itu adalah sambutan pertama yang diberikan oleh Ergi sembari mengacungkan dua jempolnya ke atas. Dia berada persis depan rumah Mbah Karjo yang terlindung karena pohon mangganya yang berdaun sangat rindang.

”Kamu memang bukan penakut.” Tukas Jihan menyalamiku.

”Tadi kamu tidak melihat kami melambai-lambaikan tangan. Aku berharap kamu segera lari dan tidak berjalan lagi sejak kami tiba di depan rumah ini.” Eziz menambahkan. Namun raut mukanya masih penuh dengan kekhawatiran.

”Aku sekalang pelcaya kalau kamu adalah anak paling pembelani di antala kita bellima.” Sahut Lucky.

Aku tidak menghiraukan mereka semua. Tubuhku masih tegak beku. Bahkan seolah aku baru bangun dari mimpi buruk di siang hari bolong.

”Iih… bau pesing!” Ergi tiba-tiba menutup hidungnya. Semua anak mengikuti menutup hidung mereka.

Aku memandang ke bawah. Celanaku basah. Aku benar-benar seperti bangun dari tidur. Aku ngompol. Lututku masih gemetaran.

♥ Cerita Budaya Lokal Indonesia Cerita Budaya Lokal Indonesia Cerita Budaya Lokal Indonesia

♥ Cerita Budaya Lokal Indonesia Cerita Budaya Lokal Indonesia Cerita Budaya Lokal Indonesia

♥ Cerita Budaya Lokal Indonesia Cerita Budaya Lokal Indonesia Cerita Budaya Lokal Indonesia

♥ Cerita Budaya Lokal Indonesia Cerita Budaya Lokal Indonesia Cerita Budaya Lokal Indonesia

Kembali aku berdiri di depan gedung ini sesudah 30 tahun. Kini aku bukan makhluk kecil yang suka berlari-lari, ingus yang menempel hingga kering di atas bibir, dan kulit yang gosong karena saban hari berkeliling desa. Diriku sudah berkumis, bercambang, bersih, dan gemuk. Dulu gedung ini terasa kecil kumuh. Namun di penglihatanku sekarang sudah bertingkat dua dengan aula besar di depannya.

Aku baru saja masuk ke dalamnya. Terkadang menjadi orang tua tidak lagi terlalu mengasyikkan seperti anak-anak. Dulu aku selalu berlari dan berlompatan di sekolah ini. Sekarang aku harus menunjukkan rasa hormat dan menghargai. Rasanya masa kanak-kanak ini musnah hanya dalam sekedip mata.

Lalu sekarang kulihat di dalam TK ini semua serba wah. Mainan, bangku-bangku, tempelan, semua produk impor. Semuanya kekinian. Lain betul dengan masaku sewaktu TK dulu yang serba apa adanya.

Satu yang tak berubah adalah para guruku. Bu sari, Bu Indriani, dan Bu Dyah masih mengajar. Mereka amat sepuh. Keriput menggerogoti kulit dan suara yang dulu lantang membentak anak-anak kini nyaris tak terdengar lagi. Aku heran mengapa guru TK tak pernah pensiun. Mungkin mereka sudah dikontrak yayasan untuk seumur hidup mengabdi. Mungkin juga pekerjaan inilah yang paling mereka sukai di dunia ini.

Sudah kubawakan beberapa parcel untuk mereka. Lalu dengan wajah berseri mereka menyambutku ke dalam kantor yang ber-ac. Dua, tiga guru muda kulihat mondar-mandir di kantor ini. Barangkali ada yang ingin berkenalan denganku. Mungkin diriku juga ingin berkenalan dengan mereka. Cantik, lembut, dan penyayang pada anak-anak. Namun tentu bingkisan ini bukan untuk guru yunior. Ini terkhusus untuk guru senior, zamanku dulu.

Tiga guru sepuh mengelilingiku setelah kukatakan bahwa aku alumni TK Bunda itu. Namun mereka saling berpandangan mata. Lalu Bu Sari berkata, ”kamu Kamil yang mana?”

Sudahlah, memutar sejarah 30 tahun yang lebih amatlah susah. Terutama untuk para guru yang setiap tahun menangani anak-anak yang berbeda. Barulah setelah aku mengatakan bahwa dulu diriku, Ergi, Eziz, Jihan, dan Lucky suka mengganggu Bik Yah di perempatan sial, lantas mereka pun mengangguk dengan guratan yang tak ku lupa. Benar, mereka para guruku. Diantara guru jenjang sekolah selanjutnya, para guru TK ini paling membekas. Paling menyentuh memori dan hidupku.

”Sayang, Bik Yah sudah puluhan tahun tidak lagi menempati perempatan sial itu. Kasihan, katanya dia pergi dari desa ini setelah saudara-saudaranya sudah tak lagi mau menerimanya,” ungkap Bu Indriani. Alisnya yang tebal dan bertaut saat marah tak hilang hingga sekarang.

Kucium tangan mereka. Aku pergi dari gedung yang megah itu dengan banyak ingatan yang penuh gembira.

”Oh, aku baru ingat kamu! Kamu anak yang paling berani itu kan, pernah hanyut di sungai dan pernah dikejar sama Bik Yah sampai naik pohon kedondong,” Bu Dyah tiba-tiba saja menepuk-nepuk pundakku. Astaga, dari tadi kupikir mereka bertiga sudah ingat denganku, nyatanya ingatannya baru pulih saat aku sudah akan meninggalkan gerbang sekolah ini.

Namun aku tertunduk saat ibu guruku mengatakan diriku ini anak yang amat pemberani. Bukan, bukan bu. Mungkin aku anak paling pengecut di seluruh desa ini. Setelah menamatkan sekolah dasar aku sudah bersekolah di kota lain hingga kuliah dan memiliki usaha sendiri. Namun aku bukan seperti Kamil yang kecil dulu.

Sekarang bisa kukatakan diriku tidak kekurangan. Aku membantu permodalan Lucky supaya usahanya berjalan. Aku memasukkan Ergi menjadi satpam di salah satu kantor cabangku. Aku juga menolong Eziz yang katanya terlilit hutang. Namun aku tidaklah anak pemberani seperti yang dulu.

Seminggu lalu kulihat Bik Yah berada di sebuah trotoar di dekat kantorku. Aku tidak lupa. Itu benar Bik Yah. Meski wajahnya makin berdebu dan amat terlunta-lunta. Aku yakin wanita gila itu di sana. Aku ingat senyumnya yang menyeringai tajam. Aku berhenti sejenak memerhatikannya, lalu dia juga memandangku. Tatapannya yang seluas jendela dunia masih seperti dulu. Dia ngesot di jalanan dengan hanya berbekal sebuah daster yang menghitam. Badannya bergetar, entah karena sakit atau kelaparan.

Aku bukan lagi anak yang pemberani. Seharusnya aku bawa wanita yang dulu sering kugoda ini ke sebuah warung makan, atau kuantar lagi dia bertemu saudara-saudaranya yang lain di desa ini, atau kuantar dia ke rumah sakit jiwa terdekat. Namun aku tak melakukan itu semua. Bahkan aku belum juga memberinya uang karena kupikir dia tak akan mengerti jika kuberi beberapa lembar kertas rupiah.

Lantas kutinggalkan dia di sana, di trotoar dekat kantorku. Pandangannya masih menyertaiku hingga masuk ke tempat kerjaku yang dingin seperti taman surga. Aku tak bisa tenang duduk di balik meja kantorku. Dimana sisi kemanusiaanku ini bila kubiarkan Bik Yah ada di trotoar yang panas. Mungkin dia menahan perih lapar dan sakit yang dalam. Padahal aku dulu sering sekali mengganggunya bersama teman-teman. Seharusnya kuhapus dosa ini senyampang wanita itu masih ada.

Aku bergegas turun ke bawah. Kulihat trotoar tadi sudah kosong. Kutengok kanan kiri dan tidak kutemui lagi Bik Yah. Aku tanya satpam yang berjaga. Katanya wanita gila itu sudah pergi setelah mereka mengusirnya. Katanya wanita itu mau mengikutiku hingga akan masuk ke pintu kantor yang terbuat dari kaca.

Aku terdiam. Aku seorang pengecut. Aku masih berdiri di depan gedung TK ini. Sejarah melintas-lintas lagi di keningku. Kami berlima lomba balap lari untuk menghindari wanita gila di perempatan itu.

Tuhan, aku titip bidadari itu. Semoga ada orang atau dinas sosial yang mau peduli untuk Bik Yah. Tuhan, bila dia ingin Kauambil lagi, maka ambillah. Rasanya tak tega lagi kulihat dia ngesot di jalanan. Aku yakin wanita gila semacam Bik Yah tak akan menanggung lagi yang namanya dosa.

♥ Cerita Budaya Lokal Indonesia Cerita Budaya Lokal Indonesia Cerita Budaya Lokal Indonesia

♥ Cerita Budaya Lokal Indonesia Cerita Budaya Lokal Indonesia Cerita Budaya Lokal Indonesia

♥ Cerita Budaya Lokal Indonesia Cerita Budaya Lokal Indonesia Cerita Budaya Lokal Indonesia

♥ Cerita Budaya Lokal Indonesia Cerita Budaya Lokal Indonesia Cerita Budaya Lokal Indonesia

Terimakasih telah mengunjungi website kami

salam TRANSNADA sewa mobil Malang

sewa mobil di malang sewa mobil murah malang rental mobil malang sewa mobil di malang sewa mobil murah malang rental mobil malang sewa mobil di malang rental mobil malang murah

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Call Now
WhatsApp chat WhatsApp kami