Sewa mobil malang RAMAH, MURAH dan NYAMAN

cerita budaya fiksi indonesia KODOK YANG BERNASIB BAIK


cerita budaya fiksi indonesia KODOK YANG BERNASIB BAIK

cerita budaya fiksi indonesia

Suatu hari, seekor kodok yang berwarna hitam, berkulit kasar dan berkutil muncul dari semak-semak. Ia berusaha melompat tenang di area rawa-rawa yang berair. Kecipak-kecipuk air menyambut kaki-kakinya yang berselaput.

Meski ternyata kehadirannya tidak disukai oleh temannya yang lain. Kawan-kawan si kodok hitam merasa tidak perlu bersahabat dengannya. Hanya karena ia memiliki bentuk yang tidak serupa.

“Teman-teman saya ingin bergabung dan bermain bersama kalian.” Ujar kodok hitam sambil tersenyum ramah. Namun apa jawaban dari kawan-kawannya itu.

“Ah, kami tidak mau bergaul denganmu. Lihat dirimu!. Kamu berwarna hitam. Sedang kami berwarna hijau. Kamu berkulit kasar. Sedang kami berkulit halus dan licin. Lebih baik kita pergi saja teman-teman.” Jawab seekor kodok hijau yang diikuti oleh teman-temannya yang lain.

Betapa sedihnya si kodok hitam mendengar penuturan kawan-kawannya tersebut.. Ia tidak punya teman untuk bermain hanya gara-gara ia berbeda. Padahal dirinya ingin sekali bermain bersama. Bergembira bersama.

Si kodok hitam termenung. Ia berkata dalam hati. Mengapa saya tidak sama saja dengan mereka. Agar kawan-kawan itu mau mengajakku berenang dan bernyanyi riang.

Akhirnya kodok hitam itu pulang dan mengadu kepada ibunya di rumah.

“Ibu, kenapa saya berbeda dengan teman-teman. Sehingga mereka tidak mau mengajakku turut serta dalam permainan mereka.” Tanya si kodok hitam.

Ibu si kodok iba terhadap anaknya. Namun ia menjelaskan kepada anaknya

“Tuhan menciptakan makhluknya berbeda-beda, sehingga apa yang sekarang ada padamu selayaknya kamu syukuri sebagai anugerah yang diberikan oleh-Nya.” Jawab ibunya dengan mantap.

“Tapi bu, mereka tidak mau bergaul denganku. Mereka selalu mengejekku sebagai kodok yang buruk rupa.” Kata si kodok hitam masih ingin jawaban yang memuaskannya.

“Sabarlah nak, suatu saat nanti kamu akan mengetahui jawabannya. Asalkan kamu harus tetap bersabar.” Demikian yang ibu kodok hitam itu katakan. Dan itulah yang terus menyemangati si kodok hitam untuk terus bergaul dengan kodok-kodok sawah yang lain. Meski mereka teman-temannya yang berwarna hijau itu malas dan enggan mendekatinya.

Di malam yang tenang itu semua kodok dengan riang keluar dari persembunyian mereka. Bulan purnama telah menampakkan sinarnya yang lembut. Rintik hujan yang tadinya menetes pelan sekarang sudah sirna bersamaan dengan munculnya sang rembulan.

Semua kodok bernyanyi dengan riang di area persawahan. Mereka saling melompat, menari dan bekejar-kejaran satu sama lain.

Si kodok hitam juga tak mau ketinggalan. Ia kemudian muncul di tempat yang sama dimana kawannya yang lain sedang bermain.

“Bolehkah saya ikut turut serta bermain bersama kalian?” Tanya si kodok hitam itu lagi kepada kawannya.

“Kita sudah bilang tidak akan mau berteman denganmu.” Teriak seekor kodok hijau.

Dengan perasaan yang sangat sedih kodok hitam hanya bisa memperhatikan teman-temannya itu dari pematang sawah.

Namun tiba-tiba dari kejauhan ada seberkas sinar yang tampak. Sinar itu makin lama makin jelas dan menuju ke arah kodok-kodok yang sedang bermain. Ketika semakin jelas sinar tersebut kini kodok-kodok baru menyadari bahwa seberkas sinar yang menyorot mereka adalah cahaya lampu senter yang dibawa oleh orang yang mencari kodok di sawah untuk dijual.

Baru sekarang mereka semua mengetahui adanya ancaman bagi mereka. Namun sudah terlambat. Dengan cekatan si pencari kodok tersebut langsung memungut satu persatu kodok yang tidak siap untuk melompat pergi. Dalam hitungan menit hampir semua kodok hijau yang ada di tempat tersebut sudah dimasukkannya ke dalam keranjang sang pencari kodok.

Kodok hitam yang melihat adegan itu hanya mematung dam diam di tempatnya. Ia betul-betul bingung melihat temannya yang lain minta tolong dari dalam keranjang yang dibawa oleh sang pencari kodok.

Maka dengan sekali tangkap oleh sang pencari kodok, kodok hitam pun berada dalam genggaman tangan orang yang mencari kodok.

Kodok hitam meronta-ronta agar dapat lepas dari cengkeraman orang tersebut. Namun genggamannya sangat kuat. Kodok hitam hanya bisa pasrah saja menanti takdir nasibnya.

Ketika ia sudah akan dimasukkan ke dalam keranjang bersama teman-temannya. Sekali lagi senter dari sang pencari kodok diarahkan pada si kodok hitam.

“Wah, ini kodok hitam daan jelek. Pasti tidak laku dijual.” Sang pencari kodok berkata sendiri.

Akhirnya kodok hitam dilepaskan begitu saja oleh orang itu. Lalu dengan sangat ketakutan si kodok hitam pulang ke dalam persembunyian dimana ibunya tinggal di dalamnya.

Si kodok hitam lantas menceritakan semua yang dialaminya pada sang ibu. Dan berkatalah ibu kodok hitam.

“Itulah mengapa ibu menyuruhmu bersabar. Karena ternyata dengan keadaan dirimu yang seperti ini kamu jadi selamat dari cengkeraman sang pencari kodok. Seandainya tubuhmu hijau dan licin tentu kamu sudah dibawa orang itu untuk dijual.” Ujar sang ibu.

cerita budaya fiksi indonesia cerita budaya fiksi indonesia cerita budaya fiksi indonesia cerita budaya fiksi indonesia cerita budaya fiksi indonesia cerita budaya fiksi indonesia cerita budaya fiksi indonesia

Terimakasih telah mengunjungi website kami

salam TRANSNADA sewa mobil Malang

rental mobil malang sewa mobil di malang sewa mobil murah malang rental mobil malang sewa mobil di malang sewa mobil murah malang rental mobil malang sewa mobil di malang rental mobil malang murah rental mobil malang

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Call Now
WhatsApp chat WhatsApp kami