Sewa mobil malang RAMAH, MURAH dan NYAMAN

Cerita Anak Seru Indonesia


cerita anak seru indonesia

Judul “ANAK KUCING YANG LUCU”

Cerita Anak Seru Indonesia

Adi senang sekali dengan hewan peliharaan. Setiap berkunjung dari rumah kakeknya di desa ia selalu membawa serta ayam, bebek, dan burung. Namun sayangnya karena tidak ada yang merawat, maka binatang-binatang peliharaan tersebut cepat atau lambat akan mati.

Pada suatu hari Adi mendapati induk kucing di sekolahnya yang sedang hamil besar. Ia kemudian mengikuti induk kucing itu kemanapun pergi. Di jam-jam istirahat Adi selalu mengintip induk kucing itu mencari tempat untuk melahirkan.

Pada hari sabtu perut induk kucing itu sudah kempes. Pertanda ia sudah melahirkan anak-anaknya. Adi kemudian mencari-cari dimana kucing-kucing kecil itu bersarang. Dan benar dugaannya. Anak-anak kucing itu ada di belakang kantin sekolahnya. Mereka ada di kardus kosong yang beralaskan kain.

Adi segera memberitahu teman-temannya. Dan berbondong-bondonglah mereka melihat kucing yang kecil-kecil tersebut. Mereka tampak sangat lucu dan menggemaskan. Anak kucing tersebut berjumlah 5 ekor.

“Coba lihat yang kecoklatan. Itu yang paling banyak tingkah.” Kata Adi.

“Benar, tapi yang belang hitam putih ini yang paling bagus warnanya.” Kata Roy, temannya.

Anak-anak ini juga kelihatan senang dengan anak-anak kucing itu. Mereka menggendong anak kucing tersebut satu persatu. Sampai pak Harjo, guru mereka mengetahui perbuatan mereka.

“Anak-anak, kucing itu baru saja lahir. Mereka belum terbiasa digendong dan diremas oleh manusia. Kecuali dengan induknya sendiri. Lebih baik kalau kalian biarkan dahulu anak-anak kucing itu dalam kardusnya. Nanti mereka bisa stress dan mati.” Ujar pak Harjo mengingatkan murud-muridnya.

Dengan segera anak-anak ini kemudian meletakkan kucing-kucing itu lagi ke dalam kardusnya. Namun mereka tetap memandang kucing-kucing itu sampai bel tanda masuk kelas berbunyi.

Diam-diam Adi yang memang suka dengan hewan peliharaan ingin mengambilnya. Ia berniat untuk mengambil anak kucing itu tiga ekor. Dan siang ini ketika jam pelajaran usai, ia akan melaksanakan niatnya tersebut.

Maka pada saat pulang sekolah tersebut Adi benar-benar mengambil tiga ekor anak kucing tersebut. Diambilnya anak kucing yang berwarna belang hitam putih, kecoklatan dan yang belang tiga. Mereka semua lucu-lucu. Bulu-bulu di tubuhnya halus dan lembut. Adi membawa kardus yang agak kecil yang ia minta dari kantin sekolah.

Sesampai di rumah ia baru memberitahukan tentang perihal anak kucing tersebut pada ibunya. Karena kebetulan ayahnya belum pulang bekerja, sedangkan ibunya siang hari sudah pulang dari mengajar.

“Ibu, aku bawa tiga ekor anak kucing dari sekolah. Mereka semua bagus dan lucu deh bu.” Kata Adi kepada ibunya.

Perlahan kemudian dibukanya kardus yang ia bawa. Namun ibunya segera bergidik seperti orang ketakutan.

“Iihh, Adi itu masih sangat kecil. Ibu geli kalau sama anak kucing yang terlalau kecil macam itu. Jangan bawa ke rumah. Ibu geli dan takut, hiihh.” Ujar ibunya dengan ekspresi orang yang kegelian.

“Ah, ibu. Masak begini saja geli. Ini kan lucu bu.” Adi bicara lagi.

Tiba-tiba kakaknya yang sekolah di SMP datang. Ia langsung menengok isi kardus yang dibawa oleh Adi.

“Kak Farhan, aku bawa anak kucing. Coba lihat ini bagus-bagus.” Adi berkata sambil memamerkan kucing-kucing kecil pada kakaknya.

“Bagus ya, nanti jatah makan kamu yang separuh harus dikasihkan sama kucing-kucing itu. Kakak juga tidak suka kalau nanti kucing-kucing itu masuk kamar kakak. Nanti kakak bisa bersin-bersin. Alergi.” Ujar kakak Adi yang langsung menuju ruang tengah untuk makan siang.

Kenapa sih semua orang tidak ada yang suka aku memelihara kucing. Tanya Adi sendiri dalam hati.

Ketika sore ayahnya baru pulang dari kantor, segera Adi memperlihatkan anak kucing itu padanya. Adi berpikir pasti ayahnya mendukung dengan keputusan Adi untuk memelihara anak kucing tersebut.

“Adi anak kucing itu masih terlalu kecil. Mereka seharusnya masih menyusu sama induknya. Kan kasihan. Seharusnya kalau agak besar baru kamu boleh memeliharanya.” Jawab ayah Adi.

“Tapi kan Adi mau memberikan susu yang Adi minum pada anak kucing ini.” Kembali Adi bicara pada ayahnya. Ia tampak sungguh-sungguh ingin memelihara kucing-kucing itu.

“Ya, sudah kalau memang itu sudah niatmu. Tapi jangan lupa memberi minum susu.” Jawab ayahnya lagi.

Adi senang sekali dengan jawaban ayahnya tersebut. Walaupun ayah Adi tidak yakin apakah Adi dapat memelihara anak kucing yang baru beberapa hari lahir.

Dan benar dugaan ayahnya. Pada hari kedua satu anak kucing yang kecoklatan mati. Pada hari berikutnya anak kucing yang belang tiga juga mati. Sekarang tinggal satu ekor kucing yang dirawat oleh Adi.

Ayahnya segera menyuruhnya agar anak kucing itu dikembalikan lagi kepada induknya. Namun Adi bersikukuh untuk tetap memeliharanya sendiri. Ia dengan begitu rajin memberi susu pada kucing tersebut. Pagi-pagi sekali ia sudah bangun untuk menyuapi kucing tersebut. Namun kucing terakhir yang ia punyai juga tidak bisa bertahan. Alhasil, pada hari ke empat kucing itupun mati. Kini Adi tampak sedih sekali.

 “Adi, anak-anak kucing itu memang terlalu kecil kamu bawa pulang. Ayah kemarin dulu sudah bilang seperti itu kan. Sudah tidak apa-apa. Kalau Adi ingin memelihara binatang sebenarnya ayah membolehkan kok. Asal dirawat dengan baik.” Ayahnya mencoba menasehati anak bungsunya itu.

“Dulu juga Adi minta ayam kakek, kemudian bebek kemudian burung. Semua mati karena Adi kurang bisa merawatnya. Lupa tidak memberi makan dan minum. Ayah kan tidak bisa mengontrol terus peliharaan Adi. Karena ayah sering dinas luar. Sedangkan kakakmu juga tidak suka dengan binatang peliharaan, apalagi ibu.” Ujar ayah lagi.

“Tapi anak kucing ini kan dikasih minum susu terus yah.” Jawab Adi membela diri.

“Benar. Cuma mereka terlalu kecil untuk dipelihara. Coba kalau agak besar.” Ayah menjawab sambil tersenyum.

“Jadi dua ekor anak kucing yang ada di sekolah boleh Adi bawa pulang kalau agak besar dan tidak menyusu sama induknya ya?” Tanya Adi dengan semangat.

Ayahnya hanya mengangguk tanda menyetujui. “Hore.” Adi berteriak senang

***

Cerita Anak Seru Indonesia Cerita Anak Seru Indonesia Cerita Anak Seru Indonesia Cerita Anak Seru Indonesia Cerita Anak Seru Indonesia Cerita Anak Seru Indonesia Cerita Anak Seru Indonesia Cerita Anak Seru Indonesia Cerita Anak Seru Indonesia Cerita Anak Seru Indonesia

Terimakasih telah mengunjungi website kami

salam TRANSNADA sewa mobil Malang

rental mobil malang sewa mobil di malang sewa mobil murah malang rental mobil malang sewa mobil di malang sewa mobil murah malang rental mobil malang sewa mobil di malang rental mobil malang murah rental mobil malang

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Call Now
WhatsApp WhatsApp kami