Sewa mobil malang RAMAH, MURAH dan NYAMAN

Meminang Pria Budaya Lamongan


MEMINANG PRIA

Oleh: Redhite Kurniawan

BUDAYA MEMINANG PRIA

Meminang Pria. Kekayaan budaya pernikahan Indonesia membentang sejauh Aceh hingga Papua. Setiap suku yang bermukim di suatu wilayah pastilah memiliki tradisi pernikahan yang memesona beserta kearifan lokal yang mengikutinya. Membentuk kepingan-kepingan kisah kehidupan manusia sejak seseorang mulai jatuh cinta, meminang, sampai pada puncak acara pernikahan itu sendiri yang disakralkan.

Namun dari sekian banyak tradisi tentang acara meminang dan pernikahan tersebut meninggalkan satu persamaan, yakni peminang adalah pihak laki-laki dan yang dipinang adalah pihak perempuan. Sebab tradisi di Indonesia masih menempatkan lelaki sebagai pihak penentu dalam segala sesuatunya. Termasuk jika dia menginginkan seorang wanita dalam kehidupannya.

Jika ada pengecualian tentang adat pernikahan dimana pihak lelaki yang dipinang dan pihak perempuan yang melamar, tentu semua orang akan menoleh pada adat Minangkabau di Sumatera Barat yang kental dengan paham matrilineal. Matrilineal sendiri adalah mengenai hubungan keturunan melalui garis kerabat wanita. Sehingga pihak wanita adalah pihak yang lebih mendominasi dalam banyak hal.

Sementara itu masih belum banyak orang yang mengetahui bahwa di Kabupaten Lamongan, sebuah daerah di pesisir utara Jawa juga mempunyai adat meminang lelaki dalam prosesi pernikahan (meski pada masyarakatnya tidak mengenal paham matrilineal). Suatu tradisi langka di tanah air yang sampai sekarang masih dipertahankan di beberapa kecamatan yang tersebar di Kabupaten Lamongan.

Lamongan adalah salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Timur di pesisir utara Jawa yang beberapa kawasannya merupakan perbukitan kapur. Ini merupakan rangkaian dari perbukitan kapur utara. Di bagian tengah merupakan dataran rendah dan rawa. Sedang di bagian selatan adalah perbukitan Kendeng. Bengawan Solo mengalir di bagian utara. Kabupaten dengan motto Memayu Raharjaning Praja (berusaha dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya dengan bekerja keras dan ulet untuk kesejahteraan dan keselamatan rakyat, masyarakat, dan negara) ini berbatasan di sebelah timur dengan Kabupaten Gresik, sebelah Barat dengan Kabupaten Tuban dan Bojonegoro, sebelah selatan dengan Kabupaten Mojokerto dan Jombang, serta berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah utara.

Terdapat 27 kecamatan di Kabupaten Lamongan dan beberapa kecamatan diantaranya masih memegang teguh tradisi meminang lelaki. Kecamatan itu adalah Kedungpring, Paciran, Brondong, Mantup, Karanggeneng, Sambeng, Kembangbahu, Bluluk, Sukorame, Modo, Ngimbang, Sugio, Tikung, dan sebagian Kecamatan Kota Lamongan.

Melamar pria sendiri merupakan satu rangkaian awal dari adat pengantin Lamongan yang bernama adat bekasri. Bekasri berasal dari kata bek yang bermakna penuh dan asri yang berarti indah atau menarik. Jadi bekasri adalah pengantin yang penuh dengan keindahan dan menarik perhatian.

Tahapan dalam bekasri terdiri dari tiga kegiatan, yaitu kegiatan melamar, persiapan menjelang pernikahan, dan pelaksanaan peresmian. Kegiatan melamar (melamar pria) dibagi menjadi 7 tahap, antara lain: (1) ndelok/nontok atau madik/golek lancu, (2) nyotok/ganjur atau nembung gunem, (3) nothog/dinten atau negesi, (4) ningseti/lamaran, (5) mbales/totogan, (6) mboyongi, (7) ngethek dina. Tahap persiapan menjelang peresmian pernikahan meliputi: (1) repotan, (2) mbukak gedhek atau mendirikan terop/tenda pengantin, (3) ngaturi atau selamatan. Tahapan pelaksanaan peresmian pernikahan terdiri 4 tahap, yakni (1) ijab kabul atau akad nikah, (2) memberikan tata rias atau busana pengentin, (3) upacara temu pengantin, (4) resepsi. Tahapan setelah peresmian pernikahan yang merupakan tahapan terakhir adalah sepasaran yang biasanya diisi dengan menghantarkan makanan pada tetangga dan handai taulan juga pelaksanaan acara pernikahan pada pihak lelaki.

Kegiatan melamar merupakan tahapan yang paling panjang dalam adat pengantin bekasri. Dimulai dari ndelok/nontok atau melihat calon mempelai pria yang akan dilamar. Biasanya ada semacam makcomblang atau pengantar yang mulai mengenalkan antara gadis dan jejaka. Jika pihak perempuan setuju dengan keadaan/kondisi jejaka serta latar belakang keluarga dan lainnya, maka tahap lamaran pertama nyotok/ganjur atau nembung gunem pun akan dilakukan. Pihak perempuan akan datang ke rumah calon besan (keluarga lelaki) dengan membawa gula kopi. Gula dan kopi bermakna penyatuan dua keluarga berbeda yang akan menjadi satu keluarga besar. Pada tahap ini pihak perempuan menyatakan diri untuk melamar lelaki yang diinginkan.

Jika pihak lelaki menerima pinangan dari pihak perempuan, maka tahap berikutnya dari pihak perempuan adalah nothog/dinten atau negesi, menegaskan kembali maksud pihak perempuan yang menginginkan adanya ikatan pernikahan. Pada tahap ini pihak perempuan kembali mendatangi ke rumah keluarga lelaki dengan membawa beras dan jajanan khas yang terbuat dari bahan ketan.

Tentu masyarakat Indonesia sudah kenal betul dengan kuliner khas Lamongan semisal soto Lamongan, tahu campur, tahu thek, juga warung tenda lalapan yang berembel-embel Lamongan di spanduk mereka. Tapi pada lamaran pria, jajanan yang dibawa pihak perempuan adalah ketan salak, gemblong, bugis, tetel, dan wingko. Biasanya semua jajanan ini diberikan dalam porsi yang sangat besar hingga membuat orang yang pertama melihat adat melamar pria pasti geleng-geleng kepala.

Ketan salak terbuat dari ketan yang dicampur dengan gula kelapa dengan tekstur lengket dan rasa legit yang manis. Biasanya berwarna merah kecoklatan atau diberi pewarna hijau pandan. Gemblong terbuat dari ketan yang ditumbuk dengan parutan kelapa sehingga sangat lengket dan terasa gurih. Kemudian diberi balutan gula pasir yang dipanaskan. Bugis terbuat dari ketan dengan parutan kelapa manis di dalamnya dan dibungkus dengan daun kelapa. Jangan bayangkan bugis ini berukuran segi empat sekepalan anak kecil seperti yang dijumpai pada jajanan tradisional. Sebab bugis untuk lamaran berukuran jumbo hingga mirip seperti bantal. Tetel juga terbuak dari ketan yang ditumbuk hingga kalis dengan kelapa parut dan sedikit garam. Jadi rasanya gurih. Wingko terbuat dari tepung ketan yang dicampur dengan kelapa dan gula, dicampur menjadi satu kemudian dipanggang. Bentuk hantaran wingko bulat sebesar piring atau lebih besar lagi. Makanan-makanan berbahan dasar ketan yang legit dan lengket ini memiliki arti semoga kelak kedua pengantin tetap lengket dan bersatu, begitu pula kedua besan dari pihak perempuan maupun lelaki.

Tahap lamaran berikutnya adalah ningseti atau lamaran ketiga pihak perempuan. Pada tahap ini kembali pihak keluarga perempuan mendatangi pihak lelaki dengan membawa kain, sarung, perlengkapan sholat, dan lainnya. Juga bahan-bahan mentah seperti beras, ketan, kelapa, gula, mie, minyak, dan sebagainya. Pihak perempuan juga akan membawakan hantaran ini dengan jumlah yang sangat banyak. Sehingga orang dari luar yang tak biasa melihat adat meminang pria pasti akan bergumam, ”Wah, mengapa perempuan yang harus menyediakan seserahan sebanyak ini?” Tetapi itulah memang yang lazimnya terjadi.

Sementara itu tahapan lamaran berikutnya adalah hasil kesepakatan antara dua belah pihak. Biasanya keluarga lelaki yang akan membalas pinangan dengan datang ke rumah keluarga perempuan. Hingga saatnya hari pernikahan yang sudah dibicarakan pada saat tahap ngetek dina atau mencari hari yang dianggap baik untuk acara akad nikah.

Tradisi meminang pria bagi masyarakat Lamongan sebenarnya tak lepas dari sebuah lakon cerita tentang Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris. Sebuah cerita yang dianggap sebagai bagian sejarah dari abad ke-16 yang menjadi buah bibir turun temurun di Lamongan.

Panji Laras dan Panji Liris adalah putra kembar dari Bupati ketiga Lamongan Raden Panji Puspokusumo (1640-1665). Raden Panji Puspokusumo sendiri masih keturunan  ke-14 dari raja termasyhur Majapahit, Hayam Wuruk. Raden Panji Puspokusumo ini kemudian diambil menantu oleh Sunan Pakubuwono II, raja Surakarta Hadiningrat. Karena letak Lamongan berada di timur laut atau utara dari Kartosuro, maka Raden Panji Puspokusumo dikenal juga dengan sebutan Dewa Kaloran (penguasa yang berada di sebelah utara). Pernikahan antara Raden Panji Puspokusumo dengan putri Sunan Pakubuwono II tersebut membuahkan dua putera kembar berparas menawan yang diberi nama Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris.

Disamping ketampanannya, Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris juga dikenal masyarakat mempunyai perangai yang berbudi. Maka dari itu banyak gadis-gadis yang jatuh cinta dan berusaha memikat hati kedua putera kembar Bupati Lamongan tersebut.

Meskipun tingkah lakunya baik tetapi keduanya mempunyai kegemaran yang kurang bagus, yaitu berjudi dengan menyabung ayam. Meskipun ibu mereka sudah sering melarang kebiasaannya yang tidak terpuji tersebut, tetapi keduanya tetap tidak dapat meninggalkan kegemaran yang bagi mereka amat mengasyikkan.

Bahkan untuk menghindari kemarahan ibunya, keduanya bila menyabung ayam tidak lagi di wilayah Kabupaten Lamongan, tetapi dilakukan di luar wilayah kabupaten yang cukup jauh. Terutama di Kabupaten Wirosobo, daerah dekat Kediri (sekarang daerah Kertosono).

Bupati Wirosobo saat itu ternyata juga memiliki dua orang puteri kembar yang menginjak usia remaja. Dan keduanya sangat cantik. Mereka adalah Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi. Sebagai anak gadis, pada waktu itu kedua puteri Bupati Wirosobo ini juga dipingit. Sehingga tidak pernah tahu keadaan di luar kediaman mereka. Untuk dapat mengetahui keadaan di luar rumah keduanya hanya dapat mengintip melalui celah jendela kamarnya.

Pada suatu hari, Andansari dan Andanwangi dikejutkan oleh suara beberapa orang yang bersorak-sorai di halaman rumah kabupaten. Karena rasa ingin tahunya, keduanya mengintip keluar melalui celah jendela kamarnya. Ternyata yang tampak oleh dua gadis ayu tersebut adalah orang-orang yang sedang menyabung ayam. Diantara kerumunan orang yang menyabung ayam tersebut terlihatlah dua orang pemuda yang sangat tampan, yaitu Raden Panji laras dan Raden Panji Liris. Melihat ketampanan kedua jejaka kembar tersebut Andansari dan Andanwangi berbisik-bisik sambil tertawa kecil. Rupanya mereka sangat tertarik pada dua pemuda tersebut dan bahkan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.

Malam harinya kedua gadis kembar ini tidak dapat tidur lantaran selalu terbayang wajah dan ketampanan Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris. Begitu pula malam-malam berikutnya, wajah jejaka pujaan hatinya sulit dilupakan. Mau menemui kedua jejaka tersebut jelas tidak mungkin, karena kedua puteri Bupati Wirosobo ini sedang dalam pingitan.

Keadaan ini mengakibatkan kedua gadis kembar ini menjadi sakit. Dan meskipun kedua orangtuanya telah berusaha mendatangkan dukun dan tabib untuk mengobati penyakit kedua puterinya, tetapi penyakit Andansari dan Andanwangi tidak kunjung terobati. Akhirnya ibunya dengan penuh bijaksana mencoba bertanya kepada kedua puteri kembarnya, apa yang menjadi penyebab keduanya sakit.

Berkat kesabaran dan pendekatan ibunya dari hati ke hati, maka Andansari dan Andanwangi mengutarakan dengan jujur bahwa sebenarnya keduanya menderita sakit cinta. Keduanya merasa jatuh cinta kepada kedua jejaka tampan yang sering menyabung ayam di halaman rumah kabupaten Wirosobo, yaitu Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris.

Mendengar pernyataan kedua puterinya tersebut, Nyai Bupati Wirosobo sangat terkejut dan memberitahu kedua puterinya agar keinginannya diurungkan saja. Karena menurut adat yang berlaku, sebagai perempuan hanya dapat menerima kedatangan laki-laki yang meminangnya.

Namun Andansari dan Andanwangi tidak mau mengikuti nasihat ibunya. Mereka bahkan mengatakan lebih baik mati daripada tidak kesampaian menjadi isteri putera kembar Bupati Lamongan tersebut. Akhirnya masalah ini oleh Nyai Bupati Wirosobo disampaikan kepada Bupati Wirosobo. Setelah melalui perundingan keluarga, dan demi rasa sayangnya kepada kedua puterinya, Bupati Wirosobo mengirim utusan ke Lamongan untuk menyampaikan perihal lamaran.

Lamaran kedua putri itu pun telah disampaikan oleh utusan Bupati Wirosobo kepada Bupati Lamongan. Setelah mengetahui pinangan dari Bupati Wirosobo, Raden Panji Puspakusumo memanggil kedua puteranya. Bupati Lamongan menanyakan apakah mereka sudah kenal dengan Andansari dan Andanwangi puteri kembar Bupati Wirosobo. Tapi Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris hanya menggeleng. Mereka menyatakan bahwa meskipun keduanya sering menyabung ayam di halaman rumah Bupati Wirosobo tetapi belum pernah bertemu dengan Andansari dan Andanwangi karena keduanya dipingit. Jadi rasanya tidak bisa menerima pinangan wanita yang sama sekali belum mereka kenal. Selain itu Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris masih berkeinginan membujang dan belum mau menikah secepatnya.

Namun untuk menjaga hubungan baik antara Kabupaten Lamongan dengan Kabupaten Wirosobo, Raden Panji Puspokusumo menyarankan agar kedua puteranya tidak menolak lamaran kedua puteri kembar Bupati Wirosobo secara terang-terangan. Sebaiknya ditolak secara halus dengan cara mengajukan persyaratan yang sulit diwujudkan.

Setelah berpikir sejenak, Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris akhirnya mengajukan beberapa persyaratan. Pertama, kedua puteri kembar Bupati Wirosobo ini datang ke Lamongan sambil masing-masing membawa sebuah genuk/gentong yang dibuat dari batu berisi air penuh. Dan kedua membawa kipas dari batu yang akan dijadikan prasasti tentang pernikahan jejaka kembar putera Bupati Lamongan dengan gadis kembar puteri Bupati Wirosobo. Lalu barang-barang yang tentu berat tersebut harus ditaruh di alun-alun Kabupaten Lamongan. Selanjutnya persyaratan ini disampaikan kepada utusan dari Wirosobo agar disampaikan kepada Bupati Wirosobo.

Setelah mendapat pemberitahuan dari utusannya tentang hasil pinangan mereka, maka Bupati Wirosobo memenuhi persyaratan tersebut dan mengirim utusan kembali ke Kabupaten Lamongan agar kedua putera Bupati Lamongan menjemput kedatangan Andansari dan Andanwangi di seberang sungai Lamong. Sungai yang merupakan perbatasan bagian selatan wilayah Kabupaten Lamongan dengan Mojokerto (Desa Babadan, Kecamatan Mantup). Sesuai dengan janjinya kepada utusan dari Kabupaten Wirosobo, maka Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris menjemput kedatangan Andansari dan Andanwangi di tepi sungai Lamong, meski dengan berat hati.

Setelah waktu yang disepakati tiba, Andansari dan Andanwangi yang telah dibekali kesaktian oleh ayahnya, berangkat ke Lamongan. Mereka masing-masing membawa sebuah genuk dari batu berisi air penuh dan sebuah kipas dari batu dengan disertai beberapa orang pengawal. Sesampainya mereka di sebelah selatan sungai Lamong, tampak di seberang sungai, yaitu di sebelah utara sungai, rombongan Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris juga telah menunggu kedatangan rombongan dari Wirosobo. Pada waktu itu sungai Lamong tersebut belum ada jembatannya.

Beberapa waktu ditunggu-tunggu, ternyata Raden Panji Laras dan Raden panji Liris tidak juga menyeberang menjemput kedatangan Andansari dan Andanwangi. Kedua jejaka ini masih tetap berada di atas kuda tunggangannya. Karena didorongkan rasa rindunya segera ingin bertemu dengan jejaka pujaan hatinya, maka Andansari dan Andanwangi mengalah. Mereka segera memulai menyeberangi sungai Lamong. Karena air sungai makin ke tengah makin dalam, mereka menyingkap kain panjang yang dikenakannya. Andansari dan Andanwangi pun terpaksa menyingsingkan kainnya, sehingga kedua betis gadis-gadis ini kelihatan.

Namun apa yang terjadi, Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris yang sejak tadi memperhatikan dari seberang sungai sangat terkejut setelah mendapati bahwa betis kedua puteri cantik itu penuh ditumbuhi rambut layaknya betis kuda. Raden panji Laras dan Raden Panji Liris yang sebenarnya memang tidak tertarik dengan keduanya kemudian secara kontan tidak dapat menerima Andansari dan Andanwangi. Meski keduanya cantik tetapi betisnya penuh ditumbuhi rambut lebat.

Sesegera mungkin Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris memutar kudanya dan melarikan dengan kencang menuju pendapa Kabupaten Lamongan. Tapi Andansari dan Andanwangi belum merasa bahwa Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris  menjauhi dan menolak mereka. Mereka masih mengira bahwa kedua jejaka itu masih merasa malu-malu atas kedatangan kedua puteri itu. Kedua puteri itu pun lalu berinisiatif menyusul ke pendapa Kabupaten Lamongan dengan tetap membawa gentong dan kipas sebagai persyaratan pernikahan mereka.

Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris kemudian melapor kepada ayah dan ibunya apa yang dilihat ketika menjemput Andansari dan Andanwangi. Dua pangeran itu menyatakan tetap tidak mau menerima kedua puteri tersebut. Dan menolak secara tegas pernikahan mereka.

Bupati Lamongan menyadari bahwa hal ini akan berakibat fatal. Tentu peperangan antara Lamongan dengan Wirosobo tidak akan terelakkan. Apalagi Andansari dan Andanwangi merasa sangat tersinggung karena harga dirinya dilecehkan. Terlebih mereka lalu melaporkan kepada ayahnya karena kedatangan keduanya di pendapa Kabupaten Lamongan tidak mendapatkan sambutan layaknya tamu terhormat.

Bupati Wirosobo segera mengerahkan pasukan untuk menggempur Lamongan. Bupati Wirosobo juga minta bantuan pasukan dari Kabupaten Kediri dan Kabupaten Japanan. Pasukan Kabupaten Lamongan juga menyiapkan diri dengan dipimpin panglima perangnya yang bernama Ki Sabilan. Setelah pasukan Kabupaten Wirasaba bersama sekutunya sampai di Lamongan, segera terjadi pertempuran yang sengit.

Dalam pertempuran tersebut Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris gurur. Demikian juga Andansari dan Andanwangi mati terbunuh. Panglima perang Lamongan Ki Sabilan juga gugur dalam pertempuran itu. Akhirnya Bupati lamongan Raden Panji Puspokusumo saling berhadapan dengan Bupati Wirosobo. Dan berakhir dengan kematian Bupati Wirosobo yang ditusuk dengan keris pusaka Kyai Jimat oleh Raden Panji Puspokusumo. Prajurit Wirosobo dengan sekutunya dari Kediri dan Japanan dengan bercerai-berai kemudian kembali ke daerah masing- masing.

Kedua buah genuk batu dan dua buah batu berbentuk kipas yang terbuat dari bebatuan andesit tersebut sampai sekarang masih disimpan di halaman Masjid Agung Kabupaten Lamongan. Bahkan sewaktu kecil saya (penulis) sering menaruh sandal ke dalam gentong setiap sholat Jumat. Sedangkan nama Panji Laras-Liris serta Andansari dan Andanwangi ini diabadikan menjadi nama jalan yang lokasinya berada di sekitar Masjid Agung Kabupaten Lamongan.

Cerita tentang Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi puteri Adipati Wirosobo yang melamar Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris putera Raden Panji Puspokusumo Bupati ketiga Lamongan ini dianggap sebagai cerita yang mempengaruhi adanya tradisi wanita melamar pria di Lamongan. Juga sebagai legitiminasi adanya tradisi wanita melamar pria di Lamongan.

Tadinya saya juga tidak terlalu menganggap serius adanya tradisi meminang pria. Pinangan pihak perempuan pada pihak laki-laki juga cerita Andansari-Andanwangi sudah diturunkan secara lisan oleh nenek moyang. Saya berpendapat bahwa zaman sudah berubah dan tradisi ini sepertinya banyak ditentang oleh para gadis yang memiliki gengsi tinggi untuk memulai melamar laki-laki.

Namun pada pertengahan tahun 1995, saya dikejutkan oleh beberapa orang dari sebuah keluarga di Desa Maindu, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan yang meminang kakak lelaki saya. Padahal kakak lelaki saya tidak terlalu kenal dengan gadis yang keluarganya meminang tersebut. Wah, benar-benar seperti Raden Panji Laras-Liris.

Meskipun waktu itu ibu belum terlalu yakin untuk melepaskan kakak lelaki saya yang belum memiliki pekerjaan tetap, tetapi tetap saja keluarga tersebut memaksa untuk meminang kakak. Mereka juga tak mempermasalahkan apapun keadaan yang berkaitan dengan kakak saat itu.

Dan benar saja, pada saat lamaran hingga acara pernikahan, keluarga dari pihak perempuan memberikan banyak sekali seserahan. Dari bahan mentah hingga makanan. Padahal biasanya setahu saya, untuk acara pernikahan tetangga misalnya, hanya beberapa orang saja yang membawa dondang atau seserahan yang biasanya terdiri dari kue-kue atau makanan. Tapi untuk pernikahan kakak lelakiku yang dilamar oleh keluarga  istrinya itu membawa makanan sepenuh mobil bak terbuka. Selain hantaran yang dipegang oleh beberapa kerabat dari pihak perempuan. Hingga rumah kami yang kecil dipenuhi dengan banyak sekali makanan. Ini benar-benar adat Lamongan. Dan keluarga kami yang kebetulan bermukim di kawasan kota bingung dengan semua itu.

Sampai sekarang pernikahan mereka langgeng dan sudah dikaruniai dua anak yang salah satunya sudah remaja.

Sementara itu, pernikahan saya tidaklah seperti Raden Panji Laras-Liris. Jodoh memang tidak bisa diprediksi. Calon istri saya berasal dari Malang yang tentunya tidak mengenal adat meminang pria seperti yang ada di daerah asal saya. Meski kakak lelaki saya memaksa agar prosesi pinangan seperti halnya yang berlaku di Lamongan, keluarga calon istri saya pun menolaknya dengan tegas. Terjadilah tarik ulur antara keluarga saya dan keluarga calon istri saya waktu itu.

Namun akhirnya memang keluarga saya pun yang mengalah. Adat meminang pria ini memang berlaku di dalam lingkup Kabupaten Lamongan saja, bahkan hanya di beberapa kecamatan saja. Jadi keluarga saya pun dengan rela mendatangi keluarga calon istri saya terlebih dahulu. Ya, tradisi di suatu tempat tidak bisa dipaksakan ada pada tempat yang lain.

Tradisi meminang pria memang tergolong unik di dunia. Tapi jelas adat ini pun tidak bertentangan dengan agama Islam yang mayoritas dianut oleh penduduk negeri ini. Bukankah menurut riwayat dahulu Nabi Muhammad juga dipinang oleh Khadijah?

Budaya meminang pria

Budaya meminang pria

Budaya meminang pria

Budaya meminang pria

Budaya meminang pria

Budaya meminang pria

Sumber

  • Wahjudhi Dwidjowinoto, Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.
  • Pemerintah Kabupaten Lamongan Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan, 2006. Upacara Tradisi Pengantin Bekasri: Upacara Pernikahan Khas Lamongan.

Terimakasih telah mengunjungi website kami

Salam TRANSNADA

 

 

 

 

 

 

Have any Question or Comment?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Call Now
WhatsApp chat WhatsApp kami