Sewa mobil malang RAMAH, MURAH dan NYAMAN

Baca Cerita Sambil Traveling Yuk


Baca Cerita Sambil Traveling sangatlah menyenangkan. karena itu kami Transnada Travel sewa rental mobil malang murah selalu menyajikan artikel artikel cerita untuk menemani anda sobat transnada yang sedang dalam perjalanan. semmoga bacaan ini dapat menghibur anda sambil menunggu perjalanan.

selamat membaca…

Baca Cerita Sambil Traveling

GURU BARU

Hari ada bapak guru baru di sekolah Agus. Karena kemarin kepala sekolah mengumumkan pada saat upacara bendera jika ada seorang guru baru yang akan menggantikan ibu Indah karena pindah tempat tugas.

Semua anak-anak bertanya-tanya, siapakah guru baru yang akan mengajar tersebut. Sebagian anak membayangkan kalau guru baru mereka adalah orang yang baik hati dan saying kepada semua muridnya. Tapi sebagian lagi bertanya-tanya, jangan-jangan guru baru ini lebih galak dari bu Indah.

Tentu Agus senang jika guru baru nanti baik orangnya. Tapi semua anak hanya dapat mengira-ngira karena orangnya juga belum kelihatan di kelas mereka.

Tapi kemudian seorang guru baru yang dibicarakan itu masuk ke dalam kelas. Ia didampingi oleh bapak kepala sekolah.

“Anak-anak semuanya, ini adalah guru baru seperti yang bapak katakana kemarin. Bapak guru ini akan menjadi wali kelas kalian.” Kata kepala sekolah singkat mengenalkan guru baru itu. Kemudian kepala sekolah meninggalkan guru baru dan anak-anak.

Guru baru itu ternyata masih muda. Seumuran dengan kakak Agus yang baru saja menyelesaikan kuliahnya. Orangnya kelihatan serius.

“Anak-anak, perkenalkan nama bapak adalah Suparman. Bapak diserahi amanah untuk menjadi wali kelas menggantikan bu guru sebelumnya.” Kata bapak Suparman mengenalkan dirinya.

“Siapa pak namanya? Superman?” Tanya Nico yang duduk di bangku pojok paling belakang. Kontan saja semua anak tertawa lucu mendengarnya.

Pak Suparman terlihat diam. Matanya yang tajam langsung menatap ke arah Nico. Membuat Nico yang tadinya tertawa langsung terdiam salah tingkah.

“Siapa namamu? Tidak sopan sekali!” Ujar pak Suparman dengan tegas. Semua anak yang tertawa cekikikan kini ikut terdiam. Suasana kelas menjadi senyap.

“Nama saya Nico.” Jawab Nico.

“Pantas ya kamu menghina saya. Hanya karena nama saya Suparman nama orang desa. Sedangkan namamu Nico seperti nama kebarat-baratan begitu?!” Hardik pak Suparman. Membuat Nico langsung ciut nyalinya.

“Maaf pak, saya tidak bermaksud demikian.” Kata Nico.

“Baik. Saya maafkan. Tapi lain kali saya ingin semuanya belajar dengan serius dan tidak boleh ada bermain-main di dalam kelas.” Terang pak Suparman lagi.

Ketika waktu istirahat semua anak saling berbisik mengenai guru baru mereka.

“Wah, ternyata pak guru baru orangnya ketat ya. Masak bercanda sedikit di dalam kelas tidak boleh.” Kata Nuri bercerita pada temannya.

“Iya, masih baik bu Indah.” Sambung Mila lagi.

Baca Cerita Sambil Traveling Baca Cerita Sambil Traveling Baca Cerita Sambil Traveling Baca Cerita Sambil Traveling Baca Cerita Sambil Traveling Baca Cerita Sambil Traveling

TIDAK ADA HANTU DI SINI

Semenjak sering melihat sinetron misteri dan hantu di televisi, Bagas menjadi anak yang sangat penakut. Jika hendak ke kamar mandi ia selalu minta ditemani oleh kakak perempuannya. Jika tidak ada kakak perempuannya itu maka ia akan memanggil ibunya agar mengantar ke kamar mandi. Dan tidak berhenti di situ. Bagas juga menyuruh mereka menungguinya sampai ia keluar dari kamar mandi.

Ibu dan ayahnya selalu menasehati agar ia tidak lagi takut di rumah sendiri. Namun entah mengapa baying-bayang tentang film horror yang dilihatnya di tv itu selalu muncul pada anak yang duduk di kelas 4 SD ini. Terlebih jika malam mulai datang.

Sebenarnya ibu dan ayahnya juga jarang melihat film tentang misteri. Hanya kakak perempuannya yang sudah kelas satu SMU itu yang suka. Sehingga Bagas pun tanpa sadar melihat tayangan tv jenis tersebut, karena tv di rumah mereka hanya ada satu. Dan kini jadilah Bagas menjadi anak yang penakut. Meski ia sedang berada di dalam rumahnya sendiri.

Malam itu jam menunjukkan pukul 12 malam. Mendadak Bagas terbangun dari tidurnya. Ia kebelet pipis. Tapi pikiran dan bayangannya tentang hantu menyelinap. Ia bimbang apakah ia berani sendirian masuk ke dalam kamar mandi ataukah tidak.

Biasanya pada saat-saat seperti itu ia akan membangunkan kakak perempuannya yang tidur di sebelah kamarnya. Namun kakaknya hari ini menginap di rumah nenek. Jadi Bagas bingung mau membangunkan siapa.

Sementara kebelet pipisnya sudah tidak dapat ia tahan lagi. Bagas tentu malu sekali jika harus ngompol. Apalagi dalam keadaan sadar. Ia juga tidak tega untuk membangunkan ibunya yang sejak kemarin sakit. Kalau membangunkan ayahnya, tentu ia tidak berani.

Diantara kebimbangannya, akhirnya anak lelaki itu mencoba membuka kamar tidurnya. Ia celingukan ke kanan dan ke kiri.

Jangan-jangan ada pocong, kuntilanak, gendruwo atau tuyul. Iihhh, seram. Begitu batin Bagas. Tapi sekali lagi pipisnya ini sudah mau keluar. Jadi dengan terpaksa dilangkahkan kaki kecilnya itu menuju kamar mandi. Kamar mandi keluarga itu terdapaat di bagian paling belakang. Tepatnya di sebelah dapur. Sedangkan kamar Bagas terdapat di depan, setelah ruang tamu.

Bocah lelaki itu tanpa menengok kanan kiri atau belakang langsung menuju ke kamar mandi.

Ah, ternyata tidak ada apa-apa. Pikir Bagas lagi.

Setelah selesai pipis. Bagas pun beranjak akan membuka pintu kamar mandi untuk kembali ke kamar tidurnya. Tapi belum sempat ia memegang pintu tiba-tiba terdengar suara dari dapur.

Braakkk. Bagas seakan mau meloncat dari tempatnya berdiri karena terlalu terkejutnya.

Aduh, apa itu. Jantung Bagas mulai berdebar kencang. Jangan-jangan itu adalah …..  Pikiran Bagas mulai bermacam-macam lagi.

Ia terdiam sejenak di dalam kamar mandi. Tapi kemudian ia bergerak maju lagi. Kalau di sini terus bagaimana, masak mau tidur di kamar mandi. Kalau kemudian hantu itu menuju ke kamar mandi?. Bagas mulai berpikir untuk keluar saja dari situ.

Dan kini dengan mengerahkan segala keberaniannya ia lantas keluar. Dibukanya pintu kamar mandi lebar-lebar agar ia dapat melihat dengan bebas ke ruangan dapur.

Astaga, ternyata ada tikus di sebelah tempat piring. Mungkin tikus itu telah menjatuhkan panci yang dilihatnya di lantai sehingga menimbulkan bunyi yang keras tadi.

Bagas menghela nafas panjang. Gara-gara seekor tikus ia jadi ketakutan. Kini ia merasa lega dan akan melangkahkan kakinya menuju ruangannya.

Namun tiba-tiba Bagas melihat sosok bayangan hitam yang muncul dan menuju ke arahnya. Bayangan itu semakin lama semakin besar. Ditambah dengan sinar lampu yang temaram di ruang itu. Bagas tidak tahu akan berbuat apalagi. Karena bayangan itu seperti….

Tenggorokan Bagas terasa kering. Keringat dinginnya langsung mengucur deras. Ingin rasanya ia berteriak memanggil ibu atau ayahnya, namun tenggorokannya seperti tertutup. Ketika semakin dekat bayangan itu kepadanya ia tidak dapat berbuar apa-apa kecuali menutup mata dengan kedua telapak tangannya.

Dan tiba-tiba bayangan itu berkata.

“Bagas, sedang apa di situ?”

Bagas sepertinya tidak asing dengan suara tersebut. Dibukanya mata dan…

“Ayah!, kenapa ayah terbangun.” Ternyata bayangan hitam yang dikiranya hantu itu adalah ayahnya sendiri.

“Ayah mendengan bunyi benda jaatuh, makanya ayah mau melihatnya.” Jawab ayah Bagas.

“Ayah membuat saya takut saja, saya pikir ayah tadi adalah hantu.” Sahut Bagas sambil memegang dadanya yang masih berdegup kencang.

“Bagaimana kamu mengira jika ayah hantu?” Tanya ayah Bagas lagi.

“ Karena bayangan ayah sebelum memasuki dapur ini tampak besar dan menyeramkan.” Cetus Bagas.

“Oh, habisnya kamu tidak menyalakan lampu sih.” Kata ayah Bagas yang langsung menyalakan lampu dapur sehingga menjadi terang benderang.

“Nah, kalau begini apa kamu masih mengira ada hantu di rumah kita.” Ujar ayah sambil mendekati tempat Bagas.

“Iya. Ternyata tidak ada hantu di sini. Tadi yang berbunyi krompyang panci yang jatuh karena tikus. Lalu bayangan yang membesar adalah bayaangan ayah karena cahaya yang memantul sedikit di ruang ini. Jadi benar tidak ada hantu di sini.” Kembali Bagas menyimpulkan sendiri kejadian demi kejadian yang baru saja ia alami.

“Maka, jangan melihat sinetron haantu-hantuan lagi ya. Dan yang paling penting kenapa kamu tidak berdoa kepada Allah. Karena toh yang menciptakan dan menguasai alam semesta dan isinya ini hanya Allah semata.” Ayah Bagas kembali berkata.

Kini Bagas mulai tersenyum.

“Sudah kamu kembali tidur. Jangan lupa berdoa ya.” Ujar ayah Bagas lagi.

Bagas hanya melangkahkan kakinya menuju kamar dengan perasaan yang tidak takut lagi.

***

Baca Cerita Sambil Traveling Baca Cerita Sambil Traveling Baca Cerita Sambil Traveling Baca Cerita Sambil Traveling Baca Cerita Sambil Traveling Baca Cerita Sambil Traveling

PEMBERIAN YANG IKHLAS

Di kelas 5 yang ribut di SD Harapan itu seorang anak duduk sendiri. Seolah ia tidak menghiraukan teman-temannya yang sedang asyik berbicara. Eman nama anak itu diam seribu bahasa. Matanya jauh menerawang. Seperti ada sesuatu yang ia pikirkan.

Iwan ketua kelas 5 yang selalu melihat keadaan mencoba menenangkan teman-temannya di  kelas.

“Teman-teman tolong jangan gaduh. Walaupun bu guru Ida tidak masuk, sebaiknya kita belajar sendiri.” Suaranya keras memecah keramaian.

Sebagian temannya ada yang mendengarkan. Mereka kemudian membuka buku IPS dan mencoba membacanya. Tapi sebagian yang lain tidak menggubris dan masih saja ribut dengan teman sebangkunya.

Namun bagaimanapun usaha Iwan sebagai ketua kelas cukup mampu untuk menjadikan suasana kelas lebih sedikit tenang dari sebelumnya.

Kini pandangan Iwan tertuju pada Eman yang duduk di bangku tengah paling belakang. Ketua kelas yang bertubuh tinggi ini ingin tahu lebih jauh tentang keadaan Eman yang dari tadi hanya diam melulu. Tidak seperti halnya anak-anak lainnya.

“Eman kamu ada apa? Sakit?” Tanya Iwan.

Eman hanya menggelengkan kepala. Dirinya memang tidak sakit.

“Lantas ada apa?” Tanya Iwan lagi. Ia benar-benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Eman.

Kini bocah yang ditanya itu mulai berkata pelan. Hampir saja Iwan tidak dapat mendengar karena suara ramai di dalam kelasnya.

“Ini, sepatuku.” Jawab Eman.

Sekarang Iwan tidak bertanya lagi. Ia hanya memandang sepatu yang dikenakan oleh Eman.

Sepatu itu kumal dan usang. Dan ternyata bagian alasnya sudah terbuka sehingga jari-jari kaki Eman menyembul diantara lubang yang menganga tersebut.

Eman memang anak orang tidak mampu. Bapaknya hanya bekerja sebagai tukang bakso keliling. Adik-adiknya ada empat orang. Tentu dengan penghasilan bapaknya yang kecil tidak mampu untuk mencukupi seluruh anggota keluarganya yang lain. Apalagi harus membelikan sepatu baru buat Eman. Sedangkan untuk makan saja sudah susah.

Iwan merasa iba dan berempati pada Eman. Ia tidak lagi menanyakan ini dan itu lagi pada anak itu. Ia sudah merasa tahu mengapa dari tadi Eman hanya duduk terdiam di bangkunya. Bahkan ia juga tidak bermain di luar kelas ketika jam istirahat. Ternyata ini berkaitan dengan sepatu yang dipakainya.

Pasti Eman malu dengan keadaan sepatunya yang sudah terbuka. Gumam Iwan sendiri.

Siang hari ketika kelas usai, Iwan mengumpulkan beberapa orang temannya. Meskipun yang lain sudah langsung berhambur keluar saat bel pulang berbunyi. Namun sekarang dengan beberapa teman Iwan sudah merasa cukup untuk membicarakan tentang apa yang menimpa pada Eman.

“Teman-teman, seorang diantara kita tampaknya ada yang kesusahan dan perlu bantuan dari kita.” Iwan mulai membuka pembicaraannya.

“Siapa maksudmu Wan?” Tanya Dani. Teman-temannya yang lain juga mengekspresikan hal yang sama. Mereka belum mengetahui maksud Iwan.

“Teman kita Eman perlu bantuan.Sepatu  yang ia pakai sudah jebol bawahnya dan tidak layak lagi digunakan. Makanya saya perlu mengajak teman-teman berbicara mengenai hal ini.” Ujar Iwan lagi.

Temannya yang lain tampak sudah manggut-manggut tanda mengerti.

“Ah, itu kan bukan urusan kita. Saya tahu Eman anak orang miskin, namun seharusnya sekolah dong yang membiayai dia.” Kata Hendrik. Namun temannya yang lain kelihatan tidak suka dengan pernyataan Hendrik tersebut.

Hendrik terkenal sebagai anak yang nakal di sekolah. Kerjanya hanya main kompas teman-temannya. Jika temannya tidak memberi uang biasanya dia akan mengancamnya. Sekalipun Hendrik juga tidak berani dengan Iwan si ketua kelas.

“Begini saja, kita patungan uang seikhlasnya buat Eman untuk dibelikan sepatu baru.” Demikian seru Dani.

Kali ini semua teman-teman Iwan menyetujui usulan Dani. Besok mereka berencana akan patungan dan membelikan Eman sepatu baru untuk meringankan beban penderitaannya.

Keesokan harinya sudah terkumpul uang yang cukup untuk dibelikan sepatu baru. Meskipun bukan yang harganya mahal dan bermerk. Tapi pantaslah untuk dipakai ke sekolah.

Sore harinya dengan dikomando Iwan dan Dani, sebagian teman-temannya menuju rumah Eman. Rumah Eman kecil dan terbuat dari papan. Siang itu bapaknya belum pulang dari jualan bakso. Sedangkan di rumah hanya terlihat adik-adiknya dan Eman.

Eman sendiri hari ini tidak masuk sekolah. Ia juga tidak memberitahu alasan mengapa ia tidak masuk kelas hari ini. Tapi mungkin ia sudah merasa malu dengan keadaan sepatunya yang butut.

“Eman, ini dari kami untuk kamu. Semoga kamu senang dan bisa kembali bersekolah.” Kata Iwan. Wajah Eman tampak berseri-seri dengan sepatu pemberian dari teman-temannya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau teman-temannya tersebut sangat perhatian kepadanya yang miskin itu.

“Terimakasih teman-teman. Sekali lagi terimakasih.” Jawab Eman dengan perasaan bahagia yang tidak dapat disembunyikannya.

Setelah beberapa saat ngobrol, akhirnya mereka pulang semua.

Tiba-tiba dari arah depan muncul Hendrik dengan dua orang temannya.

“Kenapa aku ditinggal sih. Aku kan juga mau menengok rumah Eman.” Kata Hendrik dengan roman muka yang sinis.

“Oke, silahkan. Tapi kita sudah selesai. Jadi kita pulang duluan ya.” Ujar Iwan.

Akhirnya mereka meninggalkan Hendrik dan dua temannya di rumah Eman. Sedangkan Iwan dan Dani langsung pulang menuju rumah masing-masing.

Esok harinya tatkala Iwan bersekolah ia mencari-cari sesuatu. Iwan mencari Eman. Karena dia tidak menemukan anak itu ada di sekolah. Sampai bel pelajaran dimulai juga Eman tidak menampakkan batang hidungnya.

Berbagai tanda Tanya mulai menyelinap di pikiran Iwan. Mengapa Eman tidak masuk hari ini. Padahal ia sekarang sudah mempunyai sepatu baru. Apakah Eman tidak suka dengan sepatu barunya, atau Eman sakit hari ini, atau yang lain.

Namun dengan berjalannya waktu itu, Iwan telah melupakannya. Iwan hanya merasa bahwa besok ia akan mencoba menengok Eman lagi di rumahnya. Untuk mengetahui kenapa Eman tidak masuk sekolah hari itu.

Tetapi sore itu ketika Iwan hendak berangkat menuju ke tempat Eman, ternyata Eman sudah ada duluan ada di halaman rumahnya.

“Eman, saya baru saja mau pergi ke rumahmu. Kenapa kamu tidak sekolah hari ini?” Tanya Iwan kepada Eman.

Eman terdiam sejenak. Kemudian dia berkata kepada Iwan.

“Saya kembalikan sepatu darimu dan teman-teman. Saya mengucapkan terimakasih banyak atas perhatianmu.” Jawab Eman polos sambil menyodorkan sepatu yang kemarin sudah diberikan oleh Iwan dan teman-teman.

“Ada apa ini? Saya benar-benar tidak tahu maksudmu?” Tanya Iwan dengan nada yang bingung. Sebentar kemudian ia melanjutkan perkataannya.

“Apa ada yang salah dengan sepatu ini?” Tanya Iwan lagi.

Eman hanya menggeleng.

“Lalu kenapa? Kami semua memberikan ini dengan ikhlas. Kami ingin kamu dapat bersepatu yang layak dan bersekolah kembali bersama kami.” Ujar Iwan dengan pelan. Dan rupanya kalimat Iwan barusan telah membuat hati Eman terketuk. Eman pun mulai bercerita mengapa ia mengembalikan sepatu itu lagi.

“Kemarin setelah kalian pulang, Hendrik masih ada di rumahku. Ia mengatakan bahwa uang jajannya terpaksa direlakan untuk patungan membeli sepatu ini. Ia juga mengatakan jika aku yang meminta dibelikan sepatu baru ini kepadamu. Lantas lamu menyuruh paksa Hendrik untuk menyerahkan uangnya agar dapat dibelikan sepatu baru buatku.” Eman menundukkan kepala. Nampaknya ia berusaha membendung airmatanya yang hampir saja tumpah.

“Maka aku kembalikan saja sepatu ini, daripada ada perkataan yang menyakitkan dari teman kepadaku.” Ujar Eman lagi.

Iwan mengernyitkan dahi. Ia sungguh marah mendengar pengakuan Eman tadi. Ingin segera ia menemui Hendrik dan membicarakan apa yang terjadi pada anak tersebut.

“Baiklah kalau begitu ceritanya. Sepatu ini tetap milikmu, jadi besok pakailoah ke sekolah. Nanti saya yang akan bicara sama Hendrik. Kalau kamu merasa bahwa temanmu hanya Hendrik kembalikan sepatu ini kepadanya. Tapi kalau kamu merasa bahwa teman-temanmu adalah Iwan, Dani, Sukri dan yang lainnya, lebih baik kamu terima lagi sepatu ini.” Kali ini Iwan bicara dengan nada yang sungguh-sungguh.

Maka tidak ada pilihan lain buat Eman untuk menolak pemberian tersebut. Diambilnya lagi sepatu itu dan dengan pelan ia berkata kepada Iwan terimakasih.

Esok hari di sekolah Iwan langsung mencari Hendrik. Kebetulan Hendrik ada di kantin sekolah bersama teman-temannya.

Iwan langsung mendekatinya dan berkata.

“Berapa uang patunganmu yang kamu beri untuk membeli sepatu buat Eman?” Tanya Iwan dengan sedikit marah.

“Sepuluh ribu, kenapa memangnya?” jawab Iwan.

“Oke, ini uang sepuluh ribu. Ambillah. Daan jangan pernah bicara apa-apa lagi kepada Iwan soal sepatu barunya. Kamu ini kalau niat memberi orang yang ikhlas dong. Kalau tidak tulus tidak nyumbang juga tidak apa-apa. Daripada kamu membuat orang kecewa. Pemberian yang ikhlas itu lebih berguna dan mendapat pahala dari Allah. Daripada mengungkit-ungkitnya lagi.” Iwan terus saja berkata banayak sekali sampai jam belajar masuk terdengar.

Tapi setelah mendapat uangnya kembali dan ceramah dari Iwan rupanya membuat Hendrik tidak lagi mengganggu Eman. Meski ia tetap saja menjadi anak yang bandel.

Setelah hari itu Eman sudah bisa ceria di depan teman-temannya kembali. Eman juga rajin bersekolah bahkan mendapat nilai yang baik di raportnya.

Hal itulah yang menjadikan Iwan senang. Ternyata dengan keikhlasan, Allah memberikan kebaikan pada diri seseorang yang ditolongnya.

***

Baca Cerita Sambil Traveling Baca Cerita Sambil Traveling Baca Cerita Sambil Traveling Baca Cerita Sambil Traveling Baca Cerita Sambil Traveling Baca Cerita Sambil Traveling

Terimakasih telah mengunjungi website kami

artikel ini dipersembahkan oleh TRANSNADA sewa mobil Malang

rental mobil malang sewa mobil di malang sewa mobil murah malang rental mobil malang sewa mobil di malang sewa mobil murah malang rental mobil malang sewa mobil di malang rental mobil malang murah rental mobil malang sewa mobil malang sewa mobil malang

Sewa Mobil Malang Murah Disini Aja !

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Call Now
WhatsApp WhatsApp kami