Sewa mobil malang RAMAH, MURAH dan NYAMAN

kebun binatang “Tamasya ke BonBin”


kebun binatang “TAMASYA KE KEBUN BINATANG”

kebun binatang

Liburan semester kali ini membuat keluarga Nia semakin ceria. Itu karena ayah Nia mengajak seluruh anggota keluarga untuk bertamasya ke kebun binatang. Sebenarnya dua tahun yang lalu mereka sudah pernah ke kebun binatang. Tapi adik Nia yang baru berumur tiga tahun suka sekali melihat macam-macam hewan. Maka ayah Nia memutuskan liburan semester ini mereka pergi ke kebun binatang (Bonbin)

Pagi-pagi sekali semua orang sudah mempersiapkan diri. Nenek Nia sudah memasukkan makanan dalam rantang. Ibu mengambil beberapa pakaian dan popok bayi untuk adik bungsu Nia yang baru berumur kurang dari setahun. Sedangkan ayah memeriksa mobil yang akan digunakan untuk pergi ke sana.

“Ayo lekas mandinya Nia.” Teriak ibu dari luar. Rupanya mereka sudah siap dan menunggu Nia yang sedang mandi.

Tak seberapa lama mereka pun sudah pergi meninggalkan rumah. Menyusuri jalanan yang ramai. Maklum hari ini hari minggu. Tentu banyak orang yang melewatkannya untuk berlibur dengan keluarga mereka.

Di sepanjang jalan Nia selalu bicara dan bertanya ini itu. Nia memang cerdas. Apa saja yang belum ia ketahui selalu ingin ditanyakan. Bocah yang baru duduk di kelas satu ini mempunyai hobby bertanya. Misalkan di jalanan itu ia melihat mobil bak terbuka. Maka ia akan bertanya mengapa mobil itu bagian belakangnya terbuka, untuk mengangkut apa saja, berapa orang yang bias dimuat di dalamnya dan sebagainya.

Ketika sampai di kebun binatang, ternyata orang sudah antri di depan loket masuk untuk membeli karcis. Karena setiap orang harus membeli tiket masuk dahulu.

“Ayah, kenapa orang harus membeli tiket masuk ke dalam kebun binatang. Kenapa tidak gratis saja sih?” Nia mulai bertanya lagi.

“Soalnya kebun binatang ini kan menghidupi banyak hewan dan juga karyawan. Mereka juga perlu makan. Jadi uang dari penjualan tiket ini nanti dipakai untuk itu.” Terang ayah Nia.

“Hewan apa saja yang perlu dikasih makan? Apa semuanya?” Tanya Nia lagi.

“Ya semuanya, masak cuma gajah saja.” Jawab ayahnya.

“Kalau gajah makannya apa sih?” Tanya Nia, sambil terus menyusuri arena kebun binatang. Kini semua binatang sudah banyak yang tampak.

“Nah, itu dia gajahnya. Kamu bisa lihat sendiri kan gajah itu makan apa.” Jawab ayah Nia. Sementara adik Nia yang berumur tiga tahun kelihatan senang sekali memperhatikan binatang-binatang yang dikandangkan tersebut.

“ Ayah, satu hari gajah bisa makan buah-buahan sampai berapa kilo?” Tanya Nia. Lagi-lagi ayahnya pusing dibuatnya.

“Nanti kamu Tanya ke petugas kebun binatang ya. Ayah kan tidak pernah menjadi petugas kebun binatang yang memberi makan gajah.” Jawab ayah sekenanya saja. Ibu Nia hanya tersenyum mendengar jawaban sang ayah.

“Ayah, gajah itu yang paling besar apanya sih?” Tanya Nia lagi.

“Ya tentu, perutnya dong. Lihat perutnya yang besar itu. Pasti ia habis makan banyak.” Sahut ayah Nia.

“Salah. Masak perutnya.” Ujar Nia menyalahkan ayahnya. Lantas ayah Nia balik bertanya pada putrid kecilnya itu.

“Lalu apanya gajah dong yang paling besar?”

“Yang paling besar ya kandangnya. Coba lihat kandang gajah besar. Kalau tidak besar gajah tidak akan bisa masuk ke dalamnya.” Jawab Nia sambil terkekeh.

“Pintar juga ya kamu.” Puji ayah Nia.

Mereka lantas melanjutkan jalan-jalannya. Melihat monyet yang berebut kacang. Kuda Nil yang sedang berkubang. Dan harimau yang mondar-mandir di dalam sarang besinya.

“Kenapa sih harimau itu mondar-mandir di sarangnya? Ia mau keluar? Nanti kalau keluar bisa menggigit kita ya?” Tanya Nia lagi. Kali ini Nia menggenggam erat tangan ayahnya. Ia sungguh takut dengan auman harimau yang keras dan taringnya yang panjang.

Tapi ayahnya tidak menjawab. Diam saja.

“Ayah, kenapa taringnya harimau itu kuning? Tidak pernah gosok gigi ya?” lagi-lagi Nia terus bertanya yang aneh-aneh.

Namun ayahnya masih diam saja. Padahal Nia sudah menggerak-gerakkan tangan ayahnya tersebut.

Nia juga merasa aneh. Biasanya kalau ditanya ayahnya akan menjawab apa saja. Sekalipun kadang jawaban ayah belum memuaskan hatinya.

Karena belum dijawab akhirnya Nia mendongakkan kepalanya menatap wajah ayahnya itu.

Namun betapa terkejutnya Nia. Ternyata tangan yan dipegangnya dari tadi itu bukan tangan ayahnya. Dan yang diajaknya berbicara sejak tadi itu ternyata orang lain.

“Astaga.” Nia bengong sendiri. Sejurus kemudian gadis kecil itu menengok ke kanan dan ke kiri.

Ternyata ayah, ibu, nenek, tante dan kedua adiknya sedang duduk menggelar tikar tak jauh dari kandang monyet.

Orang yang dipikir ayah Nia itu masih tersenyum pada gadis kecil itu.

“Om maaf ya, saya pikir om tadi ayah Nia.” Kata Nia dengan nada malu-malu.

“Nggak apa-apa kok.” Ujar om yang punya kumis tebal itu.

Aduh, malunya Nia. Tapi sebentar kemudian Nia langsung berlari menuju tempat keluarganya berkumpul.

“Siapa orang yang kamu ajak ngobrol Nia, kok serius sekali kelihatannya?” Tanya ibu sambil mengambil kue yang disiapkan nenek tadi.

“Ah, ibu, saya pikir tadi om itu adalah ayah. Makanya Nia Tanya-tanya sama orang itu. Tapi orangnya diam saja.” Jelas Nia seraya cemberut. Semua orang tertawa mendengar celoteh gadis cilik itu.

kebun binatang kebun binatang kebun binatang kebun binatang kebun binatang kebun binatang kebun binatang kebun binatang kebun binatang kebun binatang kebun binatang

Terimakasih telah mengunjungi website kami

salam TRANSNADA sewa mobil Malang

rental mobil malang sewa mobil di malang sewa mobil murah malang rental mobil malang sewa mobil di malang sewa mobil murah malang rental mobil malang sewa mobil di malang rental mobil malang murah rental mobil malang

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Call Now
WhatsApp chat WhatsApp kami